Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Hari lamaran


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, dan keputusan sudah di ambil dari Fariz dan juga Satya. Hari ini adalah hari pertunangan Fariz, Wna dan juga Mentari. Acara yang di adakan di adakan di hotel BAGANTA.


Pertunangan yang termasuk aneh itu di hadiri oleh keluarga besar Wina. Keluarga Satya yang berada di pihak Fariz karena saudara mereka sendiri jauh semua. Dan juga keluarga besar Mentari.


“Bang, aku gugup. Ini mana untuk Mentari terus mana untuk WIna?” saking gugupnya Fariz melupakan cincin mana yang untuk masing masing.


“Tenang dulu Fariz, jangan panik. Yang merah itu Mentari, dan kotak yang ungu itu Wina,” Satya sebenarnya kepingin sekali menertawakan adik angkatnya itu, tapi kok ya kasihan.


Keadaan Fariz memang sangat memprihatinkan dulu, namun sekarang keberuntungan tengah berpihak padanya. Fariz tidak melamar, tetapi dirinyalah yang di lamar oleh kedua calon mertuannya.


Fariz memang pemuda polos dan juga jujur. Dirinya lebih baik di tolak dari pada berpura pura.


Di dalam acara yang tengah berlangsung dengan hikmat itu, tiba tiba Almas keluar dari ruangan. Almas tak tahan menyaksikan brondong yang memikat hatinya menyematkan dua cincin tunangan di hari dan tempat yang sama.


“Aku tak sanggup lai melihat ini semua Gas, bawa aku pergi dari sini.” Bahu dan dada biadang Agas selalu ada untuk adik sepupunya itu.


Seandainya tak memikirkan adat istiadat jawa yang terlalu kolot. Mungkin kini Agas sudah mempersunting sepupunya sendiri.


Rasa cinta itu memang datangnya tak pernah di duga juga tak pernah bisa di minta. Cinta hadir seenak nya dan untuk siapa saja sesukanya.


Agas membawa wanita lulusan universitas AX jurusan seni tarik suara itu menjauh dari hotel. Agas tau rasanya hati hancur tanpa terungkap, karena itu yang dirinya rasakan saat ini. Agas membawa Almas ke danau buatan yang ada di rumah pamannya, Rama di Bandung.


***


Setelah upacara pertunangan usai, rupanya orang tua kedua wanita itu meminta waktu seminggu untuk persiapan pernikahan.


“Apa tidak terlalu cepat pak? Saya bahkan masih belum memiliki tempat tinggal pribadi. Karena selama ini saya tinggal di rumah bang Satya,” ucap Fariz menunjukkan keberatannya.


“Masalah Rumah, kami sudah menyiapkan untuk kalian tinggal,” ucap santai Revan.


“Saya menolak,” hati Fariz sangat terluka akan hal ini.


“Mau kamu bagaimana?” Tanya Revan terkejut karena menerima penolakan.


“Ketika saya menikahi anak anak bapak, berarti saya harus bisa memberikan semua kepada mereka. Tapi kalau bapak bapak masih memfasilitasi mereka setelah menjadi istriku. Bukankah itu sama dengan menginjak harga diri saya sebagai seorang suami?” tegas Fariz.


“Baik kalau begitu, aku punya permintaan untuk kamu. Menangkan teder ini, dan terima itu sebagai hadia. Saya akan menganggap itu bonus dari kerja kerasmu,” tawar Revan.


“Saya akan meminta ijin dulu pada bos saya sebelum saya menerima pekerjaan di luar tempat kerja saya,” ucap Fariz penuh tanggung jawab.


“Hehehe, setia juga kamu pada perusahaan yang menaungimu,” ucap Revan sedikit ada rasa bangga padanya.


“Saya tidak setia pada perusahaan, tapi saya mencoba berterima kasih pada majikan saya. Pak Satya dan juga pak Affandi,” memang kesetiaan itu di tujukan pada kedua majikannya yang membawanya dari jalanan menuju kursi asisten pribadi.


“Lakukan untuk proyek ini saja Fariz, jangan mencoba mengikat kemampuanmu,” ucap Satya dengan senyuman.


“Apa tidak apa apa bang? Aku seperti tak setia padamu,” ucap Fariz dengan nada suara melemah.


“Tidak, kamu berjuang untuk masa depanmu. Kamu itu adikku bukan bawahanku atau karyawanku,” Satya kembali mengulas senyumnya untuk Fariz.


Dengan senang hati Fariz melakukan hal yang di mau oleh Revan, demi kedua wanita yang akan di nikahi. Revan merasa menang untuk memberikan kontribusinya kepada BIRMA sebagai syarat untuk mendapatkan pewaris tunggal yang di persuntingnya.


Setelah melangsungkan pertunangan kemarin, Fariz dan Wina kembali kesekolah. Sedangkan Mentari homescooling karena kondisinya yang tak memungkinkan untuk kembali ke sekolah. Di tambah lagi akan bertemu dengan Mustafa seseorang yang menjadi duda dalam waktu sehari.


Wina dan Fariz berada di kelas lain, karena adanya pengacakan kelas. Fariz yang memiliki IQ lebih tinggi dari pada Wina, dia berada di kelas IPA 1 sedangkan Wina yang memiliki kemampuan di bawah Fariz berada di kelas IPA 2.


Di kelas yang baru berjalan tiga bulan itu membuat Frais sedikit pusing kepala. Bukan karena penghuniya yang tak mematuhi peraturan. Tapi kelas IPA 1 terkenal akan kebobrokannya.


“Fariz, kau itu ketua keamanan tahun lalu. Kira kira tahun ini kepilih lagi apa enggak?” Tanya Yohanes ketua kelas yang juga seorang wakil ketua OSIS.


“Gak nyalon aku, emangnya kenapa?” Tanya Fariz santai yang kini tengah sibuk mengurusi buku tebal catatan hitam para teman temannya.


“Aku sudah nyalonin kamu sebagai ketua OSIS, Fariz.” kali ini Rojali sebagai ketua OSIS tahun lalu, angkat bicara.


“Gak mau aku!” seru Fariz.


“Aku mau fokus kerja, kerjaanku buanyak asal kau tahu,” protes Fariz pada Rojali yang mengambil keputusan tanpa bertanya.

__ADS_1


“Hilih, kerjaan apa sih kamu? Sok sibuk sekali kau jadi orang.” cibir Rojali yang tak terima jika kebijakannya di tolak mentah mentah oleh sang kandidat.


“Bukan sok sibuk Jal, tapi emang lagi sibuk sibuknya ini aku. Apa lagi sebulanan ini mau ada pemilihan perwakilan cerdas cermat antar sekolahan.” ujar Fariz


“Eh iya juga ya, kamu mewakili sekolah?” Tanya Rojali.


“Iya kayaknya, tapi mau di adakan seleksi ulang. Itu Imey juga maju kayaknya untuk mewakili kelas. Gak tau nanti deh,” ucap Fariz yang mendengar langsug dari yang bersangkutan.


“Imey? Wah saingan kamu itu ya?” Goda Yohanes yang suka menjodoh jodohkan orang.


“Sudah jangan mulai lagi deh,” tegus Fariz yang mulai menangkap gelagat tak enak dari teman sebangkunya itu.


“Hahaha, tapi bener loh ya. Kalau sering menjadi rival itu biasanya akan berjodoh.” Yohanes semakin menjadi saat menggoda Fariz.


“AKu sudah berjodoh, dan gak akan ada yang bisa memisahkan kami selain Tuhan,” tegas Fariz pada teman berdara China sunda itu.


“seriusan kamu sudah berjodoh? Dengan siapa?” Tanya Rojali yang akhirnya kepo juga.


“Kalian tau Wina anak kelas sebelah?” Tanya Fariz.


“WIna? Anak sultan itu?” Tanya Rojali kaget.


“Kamu tau dia anak sultan?” Tanya Faris kaget, apa sebenarnya hanya dirinya saja yang tak tau kalau Wina itu keturunan sultan dari awal?


“DIa itu kan sepupunya Arvy Baganta kan?” tanya Rojali lagi.


“Iya,”


“Adeknya dia kan pacar ane sob,”kini Rojali mengatakan apa yang di sembunyikan selama setengah tahun.


“Gila, kamu pacaran sama anak Singa Baganta itu?” Tanya Fariz karena merasa tidak percaya.


Obrolan mereka pun berlanjut hingga bell istirahat berakhir. Rojali yang duduk di depan Fariz dan Yohanes pun masih asik bercerita tentang suka dukanya memacari puttri dari keluarga Baganta itu.


Rojali, memang bukan orag kaya yang suka pamer atau menunjukkan kekayaannya. Tapi kenyataan bahwa dirinya itu anak dari seorang pengusaha Lilin pun tidak bisa di pungkiri. Sedangkan Yohanes itu putra tunggal pemilik toko kain di sebuah pasar besar di kota itu.


“Tumben kamu ikut ke kantin?” Tanya Rojali dan Yohanes yang memang selalu bersama.


“Laper, aku gak bawa bekal ini,” ucap Fariz yang bergabung dengan kedua temannya berjalan di sepanjang lorong kelas menuju kantin.


Di setiap meja sudah penuh oleh para siswa siswi yang sedang menikmati makan siangnya. Dari arah belakang Fariz rupanya ada seorang gadis yang kini sudah resmi sebagai tunangannya.


“Ayo maju, jangan diem di tengah pintu gini dong,” Wina mendorong Fariz hingga di tempat yang menjajakkan bakso dan mie ayam.


“Iya, kamu mau makan apa?” Tanya Fariz setelah memutar posisi gadis di belakangnya.


“Mau bakso,”


“Aku mie ayam sama Yohanes katanya Bakso,” teriak Rojali yang ada di bangku tak jauh dari tempat Fariz memesan makanan.


“Iss kalian ini,”


Fariz datang dengan membawa makan pesanan kereka berdua. Sedangkan miliknya dan Wina di bawakan oleh gadis itu.


“Jadi kalian beneran sedang pacaran?” Tanya Rojali masih tak percaya.


“Sudah jangan di bahas ini lagi. Aku gak mau banyak orang yang tau,” jelas Fariz.


“Ok, ok. Win, Arin mana?” Tanya Rojali yang tengah merindukan kekasih hatinya.


“Gak tau tadi sama Arvy entah kemana,” jawab Wina santai dengan memasukkan beberapa butir pilus ke dalam mulutnya.


“Jangan kaya keykey gitu dong ah, jadi geli liatnya.” celetuk Yohanes yang menghidupkan suasana yang sedikit damai itu.


“Aaaaanjir di samain dengan key key. Eh liah apa enggak kamu? Tinggiku itu seratus enam puluh lima, berat badannku itu empat puluh lima. Bisa di bilag kalau bodyku itu bodi model, tahu tidak kau itu?” Tak terima di samakan dengan seorang artis dadakan, Wina menonjoklan semua yang ada di badannya.


“Hahaha, untung bodymu aja yang kaya model. Bukan profesi kamu yang jadi model,” cibir Yohanes yang lagi dalam mode jail on.

__ADS_1


“Emangnya kenapa?” tanya Wina masih belum menyadarinya.


“Ya masak iya model otaknya soak kek kamu gini,” Yohanes tertawa puas.


“Yoahanes sukanya mayones di tampah dengan meses, kalao aku deketen kaya gini kamu ser seran juga kan?” Wina memepet Yohanes yang berada di depan Fariz.


“Gak usah macem macem,” Fariz langsung menghalangi aksi Wina karena merasa cemburu.


“Hais, posesif sekali kau ini,” Rojali mencibir kelakuan teman sekelasnya.


“Harus itu, apa kamu gak lihat itu muka merahnya Yohanes? Aku takut itu bawah sudah tegang,” gantian Fariz yang meledek Yohanes setelah dia puas menertawakan Wina tadi.


“Sialan kamu Fariz, eh itu Imey Riz,” Yohanes rupanya tak sadar jika telah membangunkan macan yang tengah tertidur.


“Ada apa dengan Imey?’ Tanya Wina dengan tatapan yang seakan siap menerkam.


“Anu, itu…. eeemmmmm anu, ah elah banguin ngomong apa Riz,” Yohanes seakan kebingungan mencari alasan yang tepat.


“Bantuin apaan? Aku kan gak ngerti kamu mau ngapain ngasih tau ada Imey,” jawab Fariz dengan menyimpan senyumannya.


“Nah bener itu di Fariz. Emangnya kamu ngapain manggil Imey?” Tanya Rojali seakan menghidupkan kompor di antara Wina dengan Yohanes.


Yahanes seketika terdiam karena merasa tak mampu menjawab pertanyaan Wina. Rojali dan Fariz merasa puas dengan apa yang di lakukan oleh Wina, melibas Yohanes dengan tatapan.


“Makanya jangan suka mancing di air keruh. Mancing itu di kolam ikan aja, dapetnya sudah pasti ikan bukan masalah.” tutur Rojali.


“Kita mancingnya di meeting aja yang sayang, udah pasti dapetnya tender.” Kata romantis yang di ucapka Fariz seolah membuat Yohanes dan juga Rojali akan muntah.


“Iya sayang abis itu kita dapet bonus gede ya,” Wina menimpali ucapan Fariz.


“Kalian ini ngomongin apa sih? Jadi bingung aku,” ucap Yohanes yang merasa kepalanya muter muter mendengar percakapan kedua orang di sampingnya.


“Sudah kalian gak usah ngerti.ya sudah kalau begitu aku mau ke kelas, bentar lagi juga bell masuk,”


Wina meninggalkan Fariz dengan kedua temannya yang masih memikirkan ucapannya. Tak berselang lama mereka bertiga pun juga memilih untuk kembali ke kelas.


Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan pak Mustafa, guru BK mereka.


“Fariz, bagaimana kabar Mentari?” Tanya Mustafa yang sepertinya masih mengharap mantan istrinya itu kembali kepadanya.


“Sudah mau ikut kemo sekarang pak, kalau bapak mau menjengknya juga gak apa apa. Mentari juga pasti akan menyukainya,” ucap Fariz dengan menahan diri untuk tidak cemburu kepada guru BK sekaligus mantan suami calon istrinya.


“Nanti deh Riz, kalau hatiku sudah bisa menerima dia sebagai murid yang pernah bersanding di samping tidurku.”


Mendengar hal itu, hati Fariz seolah mendidih namun ak mampu meluapkan amarahnya. Fariz memilihpamit meninggalkan gurunya yang tengah galau dengan membawa sakit hatinya.


Aku bisa pastikan, sebentar lagi aku yang akan menemani Mentari tidur. Bukan bapak lagi! Itulah ucapan dalam hati Fariz ketika terbakar api cemburu pada guruya sendiri.


Fariz merasa hatinya masih panas pun memilih untuk menghubungi tunangannya itu.


“Hallo, lagi apa kamu?” Tanya Fariz ketika telfonnya di angkat oleh wanitanya.


“Lagi istirahat sebentar, baru saja gurunya pulang. Boleh aku vidio call” Tanya Mentari dengan suara yang sedikit ngos ngosan.


Mendengar nada bicara Mentari yang menghawatirkan, Fariz menyetujui panggilan telfonnya meski sudah bel masuk.


“Tapi jangan berisik ya, sebentar lagi gurunya masuk kelas,” ucap Fariz yang memperingati mentari.


“Siapa girinya?” tanya Mentari.


“Pak Jayen. Pelajaran biologi,” jawab Fariz singkat karena pak Mujayen atau lebih akrab di sapa pak jayen.


Selama pelajaran berlangsung Mentari ikut mendengarkan denga memandang wajah serius Fariz. Senyum yang terulas tipis terlihat dari bibir Mentari. Perlahan Mentari menutup matanya karena kelelahan.


Belakangan ini Mentari memang sering mengeluh lelah dan juga terus merasa mengantuk. Fariz merasa sedikit aneh, namun segera di tepis karena Mentari kali ini tengah mengonsumsi obat. Fariz hanya akan lebih sering untuk berkomunikasi melalui ponsel seperti aat ini.


Semua ini karena Fariz benar benar tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya dan juga berusaha untuk memenangkan tender untuk BIRMA. Fariz sendiri juga terkadang lebih memilih untuk mengerjakan dengan vidio call kedua calon istrinya.

__ADS_1


Tak jarang juga Fariz meminta Wina untuk menemani Mentari yang saat ini memerlukan perhatian lebih dengan senang hati tentunya Wina melakukan apa yang di minta calon suaminya.


__ADS_2