
Hari hari berlalu begitu saja dengan aktivitas yang monoton menurut Fariz dan juga Wina. Jenuh menyerang kedua orang ini, hanya diam di rumah. Menonton televisi, makan, rebahan dan juga belajar sebentar sebentar.
Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Sedangkan untuk kelas dua belas menunggu untuk menerima kabar kelulusan mereka.
Fariz duduk di antara Wina dan Rojali yang lagi makan di cafe milik orang tua Wina. Bersama dengan teman teman yang lain, rupanya Wina dan Fariz tengah menyusun rencana liburan mereka.
“Gimana kalau kita liburan ke Bali saja?” usul Rojali yang kini menenggak minuman yang ada di depannya.
“Aku setuju saja,” jawab Fariz.
“Yang lain bagaimana?”
Setelah semuanya setuju, mereka kembali merencanakan keerangkatan. Tapi saat tengah asik dengan pembahasan rencana mereka. Datang seorang laki laki yang mereka kenal sebagai guru BK.
“Kalian lagi bahas apa?” Tanya Mustafa yang baru saja datang dengan istrinya Almas.
“Kami mau ke Bali pak, bapak mau ikut?” Yohanes menawari gurunya untuk bergabung.
“Boleh juga itu,” Almas yang tiba tiba menyahut dengan sesekali melirik Fariz.
“Emmm, Fariz. Sepertinya kita harus ke Jerman deh, kamu gak lupa kan kalau kita harus ketemu kakek dan nenek di sana?” WIna seakan tak mau jika liburan kali ini di manfaatkan oleh Almas untuk mendekati sang suami.
“Aku ikut saja,” Fariz menunduk seperti mengerti apa yang lagi di fikirkan Wina.
“Cih, takut bener kamu sama pacar. Udeh biarin Wina ke Jerman sendiri, kamu ke Bali sama kita kita. Masalah duit ane yang tanggung buat ente,” celetuk Rojali.
“Silahkan pilih Riz,” kini WIna angkat bicara.
“Aku ikut ke Jerman,” masih dengan menundukkan kepala Fariz terlihat sangat lemah di hadapan Wina.
“Gak asik lu Riz,” Rojali seperti tak suka dengan keputusan Fariz pun memilih untuk pergi meninggalkan semua termasuk Arin, kekasihnya.
Fariz merasa bersalah karena Rojali meninggalkan mereka begitu saja. Tapi Fariz tak tau harus bagaimana lagi dengan apa yang terjadi. Mau tak mau Fariz memilih istrinya ketimbang menyakiti hati istrinya.
“Sudah, biar aku nanti yang ngasih pengertian,” Fariz menyusul Rojali di susul dengan Wina.
Rupanya, Rojali kini tengah duduk di bangku taman yang tak jauh dari cafe. Fariz dan Wina datang menghampiri lelaki yang lagi ngambek itu.
“Kaya cewek lagi PMS aja kamu Jal,” ucap Fariz yang tiba tiba duduk di samping Rojali.
“Ngapain kamu ke sini? Sudah sana pergi cari pacarmu,” sambil mendorong, Rojali menyuruh Fariz pergi.
“Bukan pacar, tapi istri.” jawab Fariz dan Wina duduk di samping Rojali.
“Istri?” Rojali memandang Fariz dan Wina bergantian. “ bagaimana bisa?”
Masih dalam tak mengerti, Rojali kembali mengulang pertanyaannya dengan pertanyaan lain.
“Aku dan mentari juga Wina sudah menikah hampir satu tahun lalu. Tapi kami rahasiakan, itu semua permintaan mereka berdua. Aku menikahi mereka berdua di hari dan di tempat yang sama,” jelas Fariz
Fariz dan Wina mengakui pernikahan mereka. Menceritakan semua tanpa meninggalkan satu cerita pun. Bahkan Fariz menceritakan tentang dirinya dengan Almas yang membuat Wina tak mau jika dirinya kembali bersama dengan wanita yang kini sudah bersuami itu.
“Bukankah bu Almas sudah menikah sama pak Mustafa? Terus apa yang kamu takutkan WIna?” kini Wina yang menundukkan kepalanya.
“Aku mendengar cerita dari orang yang paling aku percaya. Almas terobsesi dengan Fariz, bahkan sering dirinya lagi bersama lelaki lain tapi fantasinya ke Fariz.” itulah rahasia yang di simpan Wina selama ini.
“Gila juga itu ibu ibu,” kali ini Rojali yang lebih geram dari pada Wina.
“Sudah lah, kalau mau kita bersama tolong jangan ajak pak Mustafa. Biar kita bisa menikmati liburan ini,” ujar Fariz.
“Gila, bagaimana aku bisa mengatakan itu? Kamu tau aku cinta mati sama adeknye,” Rojali terlihat sangat Fruztasi.
__ADS_1
“Kita ke Jerman saja lah, di sana juga gak kalah seru dari Bali kok. Atau kita ke Hongkong saja?” usul WIna.
“Bener juga itu, kita ke disneyland saja,”
Akhirnya liburan mereka pun di rubah ke disneyland. Yohanes dan Imey yang mendapat pesan pun langsung datang ke taman. Bersama dengan Arin dan Arvy.
“Ck, di sini aku aja yang jomblo we,” gerutu Arvy yang merasa seperti nyamuk di antara adik dan teman temannya yang sudah memiliki pasangan.
“Ajak Maria saja,” usul Wina.
“Hais, bisa lepas kendali aku. Gak bisa aku sama orang nyebelin itu,” Arvy rupanya sangat membenci Maria.
“Sudah lah, itu masalah anak bayi Ar, sensi amat sih kamu itu. Lupakan kejadian itu, kalian sudah dewasa juga” Wina mengomel meski sedang tertawa.
“Iye, tapi kalo dianya mau. Lagian gak ada yang lain apa? Kenapa harus dia sih?” Rupanya Arvy masih belum sepakat untuk mengajak adik dari si kembar tiga.
“Ya sudah cari sendiri lah kamu mas,” Arin kini jengkel dengan kakanya itu.
“Hmm!! punya adik kok gak guna,” gerutu Arvy yang di dengar oleh adiknya.
“Guna guna aja saya mas biar berguna. Heran aku, terus aja bilang gitu. Emangnya emas itu suka manfaatin Arin tanpa rasa kasian,” jengkel Arin.
“Apaan guna guna? Gak ada gak ada!! enak aja adek kembarnya di guna guna. Terus aku sama siapa sayang???” geram Rojali yang malah mengundang tawa para teman yang lainnya.
“Dih, ogah!!” kini Arvy lebih memilih diam saja dari pada harus mengeluarkan kata tapi malah kena gaplok dari adik kembarnya.
Rencana demi rencana telah di susun oleh sekawanan pelajar itu. Namun di saat keberangkatan, Fariz harus mengadiri meeting meakili BIRMA dan SATYA sekaligus. Pertemuan para CEO muda dan juga para penerus kerajaan bisnis keluarga mereka.
Kecewa dan juga sedikit marah pada keadaan. Wina hanya bisa mengikuti apa yang di pilih oleh sang suami.
Ketika semua tengah menikmati liburan serunya di Hongkong. Wina harus menghadiri pertemuan mendampingi Fariz sebagai istri dan penerus BIRMA. Sedangkan Fariz hadir sebagai orang kepercayaan dari SATYA bersama Satya tentunya. Selain itu juga Fariz datang sebagai suami penerus BIRMA.
Pertemuan di adakan di Bali, Tepatnya di Nusa dua. Wina dan Fariz menghadiri pertemuan itu sekitar tiga hari.
Wina beruntung karena Bian juga ikut bersama dengan mereka. Idham yang sudah sedikit besar namun tak di ijinkan untuk ikut ke bali. Vindya merasa takut, karena cerita tetangganya.
Anak yang baru lahir di bawa ke Bali, pulang pulang kena sawan. Bian lebih memilih untuk mengalah dan meninggalkan Idham bersama dengan Vindya dan juga ibu dari Fariz.
Di saat jenuh mendengarkan cerita di depan. Wina iseng melihat lihat stori WhatsApp miliknya. Di sana Wina tertarik melihat milik Imey.
Banyak foto rupanya yang di ambil oleh teman temannya. Wina melihat dengan rasa iri di hati. Dirinya yang mengusulkan, dirinya lah yang tertinggal. Sungguh sial nasip dari Wina, yang menjadi seorang istri dan juga seorang pewaris tunggal.
“Baiklah, karena disini ada pemandangan baru dari BIRMA dan SATYA. Bagai mana kalau kita minta dari para pewaris untuk memperkenalkan diri,” kata dari orang yang tadi bercerita.
Wina menggandeng Fariz dan Satya juga menggandeng Bian untuk maju ke depan. Aula Grand Hyatt hotel yang terletak di BTDC Nusa Dua Bali itu memang sangat luas. Membuat Wina semakin gugup karena ini adalah kali pertamanya mengenalkan diri sebagai pewaris BIRMA.
“Perkenalkan, nama saya Wina Alibaba Sahid. Dan ini suami saya Alfarizi yang menjalankan perusahaan bersama dengan papa saya.” Wina memberanikan diri.
“Saya Fajar Alwa Satya putra dari bapak Affandi Satya yang meneruskan perusahaan SATYA bersama adik saya Alfarizi,” Satya kembalii memperkenalkan Fariz.
Keadaan sedikit ramai karena Fariz bekerja di dua perusahaan. Setelah mendapat pejelasan dari seorang Satya. Akhirnya semua mengerti, dan tak sedikit yang kagum dengan Fariz.
Muda dan juga berpengalaman di bidang bisnis. Sungguh sangat beruntung keluarga Satya memiliki Fariz. Meski sudah memiliki BIRMA masih saja mau membantu usaha keluarganya.
Selama tiga hari pertemuan itu berlangsung. Bian dan juga Satya memilih untuk lekas pulang, demi Idham sang buah hati. Sedangkan Wina dan juga Fariz memilih untuk menghabiskan waktu liburan di bali.
Wina dan juga Fariz memilih daerah Ubud untuk berbulan madu yang tertunda mereka. Padahal banyak yang menyarankan untuk berbulan madu di daerah Nusa Dua atau Kuta, namun Wina kekeh ingin ke Ubud.
Setelah dua jam perjalanan menggunakan mobil. Melewati daerah sukawati yang terkenal dengan kerajinannya. Akhirnya sampai juga di sebuah hotel yang menawarkan keindahan alam nan asri.
Memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Wina memilih hotel bernuansa rumah pohon dan pemandangan air di bawahnya. Terlihat sangat sejuk, bahkan terkesan dingin bagi orang yang terbiasa tinggal di daerah kota yang panas.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Wina memesan makan siang untuk mereka di dalam kamarnya. Menikmati berdua dengan susah sinyal, membuat Wina merasa menang dari pekerjaan Fariz.
Wina tak menyia nyiakan waktu berdua dengan sang suami sama sekali. Bermanja adalah tujuan utama Wina menjauhkan sang suami dari ponsel dan kerjaannya. Waktu tiga hari sudah cukup puas untuknya.
“Wina, apa kamu tidak merasa sepi? Tanpa handphone juga tanpa internet?” Fariz memancing Wina.
“Aku lebih merasa bahagia saat ini tanpa itu semua sayang,” dengan berani Wina mendekati Fariz yang tengah merebahkan diri di kursi.
Duduk di samping sang suami yang sedang menikmati pamandangan luar. Wina terus tersenyum dengan memperhatikan suaminya.
“Aku takut gak kuat Win, kita pinda hotel saja gimana?” Tanya Fariz yang membuat Wina sedikit jengkel.
“Aku tak mau Fariz,” kini Wina sudah masuk ke dalam kamar.
Fariz mengikuti istri yang tengah ngambek. Berjalan mengikuti sang istri yang memilih tengkurep di ranjang besar mereka.
Belum sehari sudah mengajak untuk pindah hotel. Sungguh menjengkelkan sekali kau. Batin Wina yang kesal pada suaminya.
Tanpa di sadari, punggung yang terekpos kini sudah di kecup oleh Fariz. Lelaki itu juga mencium sekilas aroma sampo yang menempel pada rambutnya. Berbisik kata cinta yang membuatnya dirinya semakin malu.
Gadis itu meyakini jika dirinya kini sudah pasti memerah, karena malu. Tak berhenti di sana, rupanya Fariz juga mencium telinga yang baru saja menerima kata cintanya. Memainkan anting yang menempel pada daun telinga sang istri.
Tangan yang menyengkeram lembut di pundak Wina pun sesekali membelai lengan ramping gadis itu. Fariz mengubah posisi Wina untuk menghadap ke arahnya. Membangunkan gadis itu dan membantunya duduk di tempat tidur berukuran besar itu.
“Aku takut Khilaf sayang, kita masih sekolah. Apa kamu tak takut jika hamil masih menempuh pendidikan?” Kata Fariz sambil menatap mata Wina tajam.
“Aku bersedia menikah saat masih sekolah, berarti juga sudah siap dengan segaa resikonya sayang,” ucap Wina yang seakan memberi lampu hijau pada suaminya.
“Benarkah?” tanya Fariz tak percaya.
“Apa yang membuatmu ragu?” tanya Wina yang membuat Fariz tersenyum puas.
Perlahan Fariz mendekatkan wajahnya pada kekasih hatinya. Bidadari hatinya yang kini tengah menanti datangnya pahala datang. Ciuman yang bermula dari sekedar kecupan pun berubah menjadi sebuah lumatann yang menuntut untuk balasan.
Belaian tangan Fariz di rasa Wina sangat memabukkan. Kedua pemuda yang tengah mabuk tanpa minum pun kini berusaha mencari kenikmatan. Tanpa ada pengetahuan atau pembelajaran sebelumnya.
Fariz dan Wina nekat melakukannya. Hampir satu jam kedua orang itu hanya menyiksa diri mereka sendiri. Tak tau harus melakukan apa selain saling mencium dan menikmati satu sama lain.
Ingin membuka youtube? Kan gak ada sinya. Mau tanya? Tanya sama siapa? Yakin gak malu?
Ok kedua orang itu pun akhirnya mengakhiri dengan saling menertawakan diri sendiri. Betapa bodohnya mereka yang tak tau harus mengawali dari mana. Hubungan yang seharusnya di lakukan dulu.
Jangan munafik, anak SD pun sekarang sudah tau. Masak kalian gak tau sih? Padahal kan sudah masuk sekolah menengah atas.
Mereka tau teori, tapi tidak pernah praktek. Harus di apain pun mereka berdua masih bingung. Di tambah dengan pemikiran pemikiran negatif dari diri mereka masing masing.
Pingsan, mugkin akan terjadi karena Wina pernah mendengar jika pertama itu sakit. Kurang pengalaman membuat mereka seperti anak TK yang di tinggal pulang mamanya saja.
Pengen nangis, tapi malu. Pengen bangun itu melihat ke samping, pasangan masih diem aja. Ah sumpah ini perasaan yang tak di suakai siapapun.
Canggung dan bahkan merasa gagal juga. Wina melihat ke samping dengan rasa bersalah. Karena sudah gagal menjadi seorang istri.
Fariz yang merasa di perhatikan pun menoleh ke arah Wina. Fariz memberanikan diri untuk menangkup wajah ayu sang istri.
“Jangan di fikirkan lagi. Kita bisa belajar nanti kalau sudah di rumah ya sayang.” tanpa ragu kini Fariz lebih berani untuk mencium sang istri.
Merasa tengang, wina pun tidur dalam dekapan sang suami. Masih tanpa menggunakan baju atau hanya sekedar baju dalam. Wina memejamkan mata mengarungi mimpi. Dengan harapan segera melupakan kejadian yang baru saja di alami olehnya.
Lucu memang kalau di ingat, tapi ya…. begitukah kehidupan anak remaja. Hati ingin, kemampuan tak sampai. Berharap kedepannya tak ada ragu lagi di antara mereka. Karena sang istri juga sudah memberikannya lampu merah.
Fariz tersenyum memperhatikan sang istri lalu mencium sebelum menyusulnya tidur.
__ADS_1