
Hari senin seperti biasanya di lalui oleh Fariz. Upacara bendera kegiatan rutin yang di lakukan oleh pihk sekolahnya Yang membuat lain adalah salah satu temannya di hukum oleh guru akibat telat masuk sekolah.
Gerbang tutup jam tujuh kurang lima belas menit. Sedangkan dirinya datang jam tujuh lebih lima menit. Fariz sebagai ketua keamanan sekolah pun bertanggung jawab atas teman temannya yang melanggar peraturan.
“Kamu tau kalau peraturan itu di buat untuk di taati, bukan untuk di langgar seperti ini!!” teriak Fariz degan nada yang tak terlalu tinggi.
“Fariz jangan terlalu keras pada temen. Yang ada kamu akan di benci lo sama mereka.” ucap Eka salah satu teman Fariz menasehatinya.
“Aku gak butuh teman teman seperti mereka. Toh mereka senang kalau aku di hukum guru,” ucapan Fariz memang benar.
Setelah Fariz menghukum temannya yang melanggar peraturan. Maka Fariz pun harus mempertanggung jawabkan perbuatan temannya di hadapan guru BK.
Tak ada yang bisa menghindar dari guru killer yang sering di sebut Hitler ini. Karena kekejamannya tak memandang bulu, pak Mustafa selalu menjadi musuh para murid. Pak Mustafa sebenarnya tak kejam jika sudah mematuhi peraturan, hanya disiplin yang di mau olehnya.
“Kamu dendam pada kami kah Riz?” Tanya seorang siswi yang saat ini tengah di hukum mengambili sampah di lapangan oleh raga.
“Aku gak menyimpan dendam. Tapi aku hanya ingin kalian semua itu patuh dengan peraturan sekolah,” jawab Faris yang membatu temannya yang tengah di hukum itu.
“Jujurlah padaku, aku akan memaklumimu,” kembali gadis itu mengatakan keraguan pada kejujuran pemuda yang membantunya.
“Aku tak pernah membohongimu Mentari.” Faris menyudahi mengambil sampahya ketika teris sudah mulai membakar kulitnya.
“Sekarang pergilah kamu ke kelas,” Faris mengambil peralatan yang di gunakan untuk megambili sampah.
Mentari sudah memasuki kelasnya, namun Fariz yang sekelas Mentari pun belum memasuki kelas. Fariz menuju ruang BK karena mendapat panggilan dari Pak Mustafa guru BKnya.
“Iya pak ada apa?” Tanya Fariz ketika sudah masuk ke dalam ruangan guru killer itu.
“Hukuman apa yang kamu berikan pada gadis manja itu?” Teriak pak Mustafa memarahi Fariz karena kecewa.
“Maaf pak, biar saya yang menggantkan hukuman Mentari.” Fariz mengambil alih hukuman gadis manja itu.
“Sampai kapan kamu akan melindungi dia Fariz? Setiap terlamabat atau di hukum, kamu menggantikan dia. Kamu tau hal itu tidak akan membuatnya berubah?” kini ucapan lembut keluar dari mulut Pak Mustafa yang hampir tak pernah memelankan suaranya.
Faris berdiri di bawah terik matahari menghadap tiang bendera dan memberi hormat. Tak berapa lama seorang gadis menemaninya hormat di tengah terik atahari pagi.
“Untuk apa kamu mengganti hukumanku jika kamu masih harus menggantikan aku menerima hukuman yang sebenarnya?” Tanya Gadis yang tadi di bantu menyelesaikan hukumannya.
“Ini memang hukumanku jika ada yang melanggar peraturan ya aku harus bersedia menggantikannya.” Masih dalam ketidak jujurannya Fariz menjawab asal pertanyaan Mentari teman kelasnya.
“Aku gak mau berhutang apapun padamu, terutama berhutang budi padamu,” ucap sinis Mentari pada pemuda yang sering menolongnya secara sembunyi sembunyi.
“Aku paham,”
Belum sempat menjelaskan lebih rinci, gadis yang ada di sampingnya itu telah roboh ke samping. Secepat kilat Fariz mengangkat teman sekelasnya ke UKS sekolahan. Fariz menunggui gadis itu hingga siuman.
“Karena ini yang membuat aku gak mau menghukum teman temannku melebihi kekuatan fisiknya,” kalimat pertama yang di ucapkan Fariz ketika teman sebangkunya itu baru membuka mata.
“Seberapa jauh kamu mengenal teman teman yang lainnya?” Tanya Mentari berusaha untuk bangun dari tidurnya.
“Jangan memberiku pekerjaan lagi. Tetaplah kamu beristirahat, Mbak Monik akan menjagamu,” Fariz hendak meninggalkan temannya itu.
“Kamu mau kemana?” Tanya Mentari dengan memegang tangan Fariz yang hendak meninggalkannya.
“Ke kelas lah, Pak Mustafa sudah mengijinkan aku kekelas.” Mendengar penjelasan Fariz, Mentari berniat ikut dengan temannya itu namun di cegak oleh Monik pengurus UKS.
__ADS_1
Bel istirahat pun berbunyi. Merasa enakan Mentari ijin untuk ke kelas karena di jam ketiga dan ke empat akan di adakan ulangan matematika.
“Mau kemana kamu?” Tanya Farizyang membawa teh hangat untuk temannya itu.
“Aku mau kekelas, kamu lupa kalau akan di adakan ulangan setelah jam istirahat?” Mentari berjalan tertatih menuju ke kelasnya.
Fariz masih mengkuti Mentari dari belakang dengan teh hangat di tangannya. Fariz menyodorkan teh yang di bawanya ketika Mentari sudah duduk di bangkunya. Setelah meminum teh hangat yang di bawakan oleh Fariz, Mentari mengambil bukunya untuk berlatih soal sebelum ulangan.
Fariz meninggalkan Mentari sendiri di dalam kelas berteman dengan buku matematika. Fariz memang tegas, namun memiliki hati yang lembut terhadap teman temannya. Setiap kali teman kelasnya ang lainnya di hukum, dengan senang hati dia mengganti hukuman dengan yang lebih ringan. Meski tak jarang guru BK melimpahkan hukuman mereka pada Fariz.
Jam pelajaran di mulai setelah bel masuk berbunyi. Bu Laras masuk dengan membawa buku buku tebalnya. Tak melupakan lembaran soal yang sudah di siapkan dari beberapa hari sebelumnya.
“Kalian bisa menggunakan kertas buram yang ada di dalamnya untuk menghitung. Langsung jawab di lembar soal dan jangan melupakan nama kalian. Kalian bisa membuka buku kalau masih belum mengerti rumusnya,” sesantai itu lah Bu Laras ketika mengajar.
Guru itu tau jika pelajaran yang di ajarkan itu sangat sulit untuk di hafal, karena matematikan bukan pelajaran hafalan. Tapi pelajaran yang hanya bisa di pelajari pelan pelan, karena hasil perhitungam matematika itu pasti. Bukan seperti sejarah yang hanya mengulang kejadian sebelum kita.
Tak memerlukan waktu hingga menghabiskan jam pelajaran. Semua murid sudah menyelesaikan ulangan matematikanya. Mentari yang masih terlihat pucat pun membuat Fariz merasa iba padanya.
“Bersandarlah di lenganku kalau kamu masih merasa pusing,” Fariz memberikan lenganya yang terlihat berisi pada gadis di sampingnya.
“Kalian ini pacaran saja kerjaannya,” celetuk Wina yang terlihat tak suka pada kedekatan keduannya.
“Kalau kamu mau, kamu bisa tidur di lengan sebelahku,” Fariz terlihat mengerlingkan matanya sekilas pada gadis manis duduk di depannya.
“Ck, jangan menggodaku terus Fariz. Aku bisa jatuh cinta padamu nanti,” decak sebal Wina.
“Kalau itu tujuanku kamu mau apa?” Fariz semakin menggoda Wina karena gadis di depannya itu sudah menunjukkan wajah memerahnya.
Godaan Fariz tak berhenti hanya di sana saja. Fariz bahkan sesekali membelai rambut panjang dan lurus milik Wina. Gadis itu tahu jika temannya menyukainnya. Tapi Wina selalu merasa perbedaan yang ada di antara mereka itu sangat mencolok.
Fariz tak pernah terbuka masala kehidupan pribadinya.terutama masalahnya. Wina hanya satu dari beberapa orang yang beranggapan Fariz terlahir dari orang kaya. Padahal Fariz tinggal di rumah mewah itu untuk bekerja, dan ke cafe untuk menjadi cleaning service.
“Mentari, mulai besok aku akan menjemput kamu agar tak telat lagi ke sekolah,” ucap Fariz setelah pelajaran terakhir usai.
“Suka sukamu lah Riz, yang jelas aku sangat lemas hari ini,” Mentari yang masih terlihat pucat pun membuat Fariz khawatir.
“Apa mau aku antar pulang dulu?” tawar Fariz pada teman duduknya itu.
“Apa gak merepotkan kamu?” Faris mengeleng dengan masih merapikan buku pelajaran terakhirnya.
Fariz memapah Mentari berjalan ke parkiran. Tubuh Mentari memang ringkih, dan orang tuannya juga menitipkan Mentari pada Fariz. Kebetulan sekali jika rumah Mentari tak jauh dari rumah Satya.
Fariz mengantarkanMentari pulang setelah mendapatkan ijin datang telat pada bosnya. Satya mengetahui jika putri dari Ali tetangga berjarak lima rumah dari tempat tinggalnya itu mengidap penyakit jantung. Karena orang tua Mentari mendatangi secara langsung Fariz ke rumahnya untuk menitipkan putrinya.
“Baiklah Mentari aku akan mengantar kanmu sampai ke rumah. Tapi berjanjilah untuk selalu meminum obatmu dengan teratur dan jangan lakukan hal seperti tadi lagi,” panjang lebar Fariz menasehati gadis yang nampak sangat jenuh mendengar omelan pemuda yang memapahnya ke parkian.
“Diamlah sebentar Fariz, aku pusing mendengarkan ocehanmu di setiap kali kondisiku tengah drop.” Mentari memukul pelan lenganFariz.
“ Diam lah menurut padaku, jika kau masih tidak mau menurut maka aku akan meninggalkanmu di tengah jalan yang sepi dan tak di lewati angkot bahkan taksi,” Fariz merasa tak perlu lag berbaik hati pada gadis yang suka sekali memotong ucapannya.
“Kau lah yang diam Fariz, kau itu sudah seperti burung beo milik papa, tahu tidak?” wanita tak pernah salah itu memang benar adanya.
“Jelas aku seperti burung beo, aku kan seorang laki laki.”
“Karena kau laki laki makanya tutup mulutmu. Kalau kau tak mau berhenti mengoceh maka aku akan memotong kepala burung mu,” kata ambigu yang Mentari lontarkan membuat Fariz terdiam dan membatu di tempatnya.
__ADS_1
“Kenapa kau menjadi patung di situ?” Tanya Mentari yang merasakan jika dirinya tak lagi di pegangi oleh pemuda di sampingnya, eh bukan kini sudah ada di belakangnya.
“Kalau kau memotongnya, apa yang harus aku berikan kepada istriku nanti?” partanyaan bodoh yang terlontar begitu saja dari mulut pemilik bibir merah tanpa pewarna itu.
“Kasi ampas saja, lagian apa yang ada di otak kamu saat ini? Apa jangan jangan kepalamu tak berisi? Sehingga kau sampai memikirkan hal sekotor itu?” Mentari menggeleng gelengkan kepala tak mengerti dengan apa yang di fikirkan oleh teman sebangkunya ini.
“Sungguh kasihan Wina jika aku di kebiri olehmu,” kembali Fariz berkata dengan mimik wajah yang tak mencerminkan seorang yang masuk dengan jalur prestasi.
“Diamlah atau kau akan mendapat omelan dari mama yang mengantarku telat,” ucapan pamungkas dari Mentari membuat Fariz terdiam hingga rumah gadis yang duduk di boncengan motor maticnya.
Benar saja, mama Mentari sudah menunggunya di depan rumah. Fariz di hujani pertayaan kekhawatiran selayaknya seorang ibu. Fariz hanya mampu tersenyum dan menggangguk atau menggelengkan kepalanya.
Belum sempat Fariz menyalakan morotnya, Satya sudah menelfonnya.
“Ada apa boss?” Tanya Fariz melalui telefon genggamnya.
“Kamu bantuin di rumah saja, Mbak Bian masih bendel sepertinya. Sekarang aku lagi ada di rumah mending kamu pulang saja jangan ke cafe,” tanpa menjawab Fariz langsung memutus saluran telfonnya lalu bergegas pulang menemui bosnya.
Hanya membutuhkan waktu lima menit dari rumah besar dan mewah milik Mentari. Fariz sudah berada di halaman luas rumah majikannya. Terburu buru Fariz menemui bossnya di dalam rumah.
“Ada apa pak?” Tanya Fariz pada Satya.
“Aku minta tolong untuk menjaga Mbak Bian dan juga ibumu sekalian. Tadi Mbak Bian sangat merepotkan dengan meminta ini itu yang tak jelas. Ngidamnya sangat parah, jadi aku menghawatirkan ibumu juga Mbak Bian.” ucap Satya.
“Baiklah boss, tapi kerjaan saya gimana? Paling enggak kasi saya membersihkan cafe sebentar baru aku ke sini, bagai mana?” Fariz melakukan negosiasi untuk tetap mendapatkan gajinya.
Satya paham dan sangat peka dengan apa yang di khawatirkan pemuda di depannya.
“Jangan khawatirkan masalah gajimu, kamu di rumah itu membantu ibumu untuk bersih bersih dan melayani Mbak Bian itu juga sudah merupakan pekerjaan. Aku masih akan menggajimu sama seperti yang kamu dapatkan di cafe. Dan lagi aku tegaskan ke kamu, tugas utamamu adalah mempertahankan nilaimu. Aku gak mau ada keluhan sedikitpun mengenai anjloknya nilaimu. Paham?” Satya mengingatkan
Setelah mengerti apa yang di maksud oleh bosnya itu. Fariz masuk ke dalam kamarnya dan mengganti bajunya dengan baju santai. Satya pergi ke cafe setelah menitipkan semuanya pada Fariz.
Memang dasarnya Fariz tak bisa diam, setelah membatu ibunya dan menuruti apa yang di mau oleh bumil. Kini Faris ke taman belakang untuk menanap mawar yang di belinya tadi di pasar ketika mencarikan siomay untuk istri bossnya yang tengah ngidam.
“Fariz, istirahat dulu nak. Jangan terlalu kecapekan nanti kamu sakit.” Ibunya membawakan minuman segar untuknya.
“Terimakasih ibu, tapi Fariz sungkan jika harus berdiam diri Bu. Pak Boss sama Mbak Bian itu sudah sangat baik pada kita. Fariz gak bisa bayangin jika kita tidak bertemu dengan pak Satya saat di jalan mencari kontrakan Bu,” Fariz selalu saja mengingat kebaikan majikannya.
“Fariz, bisa tolongin Embak?’ Teriak Bian dari sofa depan tv.
Setelah menghabiskan minuman segar buatan sang ibu pun Faris menemui majikannya.
“Apa yang bisa Fariz bantu Mbak?” Tanya Fariz penuh dengan kesopanan.
Fariz tak jarang dirinya bercanda dengan kedua majikannya yang sudah menganggapnya sebagai adik. Tapi Fariz tak pernah melupakan batasan dan mengedepankan kesopananya pada kedua majkannya.
“Bisa belikan saya mawar sembilan puluh sembilan tangkai?” Tanya Bian yang juga sedikit tak enak karena sudah menyuruhnya kesana kemari.
“Gak bisa di tawar satu aja?” Fariz memberikan setangkai mawar yang baru saja di petik dari tanaman barunya.
“Wah, bisa bisa. Segar sekali aku suka Fariz, istrimu nanti pasti sangat beruntung mendapatkan kamu.” Bian memuji kecekata pembantunya.
“Maaf Mbak kalau masih mau bunga dengan jumlah yang segitu biat aku carikan sekarang mumpung masih belum malam,” ucap sopan Fariz yang di angguki senang oleh Bian.
“Tapi carikan sembilan puluh delapan saja ya, ini yang satunya. Aku menyukai ini,” Bian tak berhenti menciumi mawar yang baru saja di petik oleh Fariz.
__ADS_1