
"Nad... gue baper denger puisi lo. sumpah ngenak banget." ucap Rista yg merupakan adik dati Riska.
"Lo baper, tapi orangnya gak baper. kan bisa gila guenya. hmm punya perasaan gini amat yak." Sindir Nadin sambil monyongin bibirnya beberapa senti.
"Gak usah di monyong monyongin tu bibir. kalo gue geregetan abis tu bibir." Celetuk Vano yg membuat kaget temen temennya yg menganggap Vano sebagai gunung es.
"Halalin eneng bang" Sahut Nadin dengan nada menggoda.
"Ayo dek dimana dah" Vano pun membalas sambil melempar kertas.
"Di sini aja dah bang" Ucap Nadin san Vano masih membuat temen temen di kelas tak habis fikir dengan Vano yg terlihat datar itu bisa bercanda sedemikian rupa.
"Goyang dek.... iiiihhhhaaa." Vano mengambil hpnya dan menghidupkan musik dangdutan yg biasa dia stel di rumahnya ketika setres melanda.
Vano yg bergoyang di ikuti temen temen yg lain. Nadin pun ikut bergoyang dangdutan. Keributan di dalam kelas mengudang rasa penasaran murid murid lain kelas yg tak sengaja melewati pintu kelas itu.
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Vano dan Nadin berjalan ke parkiran. Di sana Vano bertemu dengan Vindya yg tengah menunggui suaminya di dalam mobil. Ya Vindya sudah di dalam mobil Affandi tapi pemilik mobil itu tak terlihat di sana.
"Abang mana Kak?" Tanya Vano
__ADS_1
"Tuh" Vindya menunjukkan dengan dagungan.
Suaminya tengah membeli siomai di pinggir jalan. Vano melihat Affandi ngambil dari dandang langsung measikkan ke dalam mulutnya.
"Bang lo gila ya? Itu panas lo." Teriak Vano
"Abang pengen Van penasaran." Affandi dengan mulut penuh dan kepanasan membuat Vindya keluar dari mobil dan menyuruh suaminya memuntahkan makanan panas itu.
Vano tak habis fikir dengan kelakuan abang iparnya itu. Nadin berfikir sejenak dan mengagetkan Vano.
"Jangan jangan abang ngidam lagi." Vano tekejut
"Lo nanti kalo hamil jangan yuruh gue ngemilin bara api ya sayang. Ngeri gue." Tambah Vano.
"Bang lo gitu amat sih ngidamnya. masak nyomot di dandang langsung masuk mulut. ngebul gitu pasti panas." Ucap Vano ketika abangnya sudah di depannya.
"Namanya juga pengen dek. Gie ngiler liat yg kebul kebul gitu." Ucap Affandi.
"Kak lo jauhin deh bara api dari ni orang."
__ADS_1
"Lah ngapa emang?" Tanya Vindya heran
"Takut gue, entar saking kepengennya malah di cemilin ma abang." Gidik Vano sontak membuat Affandi melayangkan jitakan di kening adik iparnya itu.
"Anjir lo." Umpat Affandi.
"Van, lo udah kerja di kantor papa ya?" Tanya Vindya yg kini berada di cafe milik Affandi bersama dengan Vano juga Nadin.
"Iya lah kak. kan Vano sekarang punya tanggung jawab. kalo Vano gak kerja siapa yg ngasi duit buat dia shoping?" Jawab Vano sambil melirik sang istri.
"Bangga gue punya adik tanggung jawab kaya lo. Gue kira lo bakalan nolak Nadin, secara dulu lo kan sok jual mahal." Ledek Vindya yg tengah asik mengaduk aduk jus alpukatnya.
"Siapa jual mahal kak?" Nadin terkaget.
"Tuh" Tunjuk Vindya dengan sedotan di mulutnya.
"Cih jual mahal, padahal mah dia yg ngejar ngejar Nadin." Nadin berdecih mendengar ucapan sang kakak.
"Loh katanya kamu yg ngejar ngejar dia sampek ngirim gombalan gombalan gitu." Vindya jadi bingung.
__ADS_1
"Apa? Yg ada Vano yg ngejar ngejar Nadin kak dari kelas 1 SMP terus kaloooo"Nadin berpikir sejenak." Oh tau sekarang, Vano bilang dia minta di bikinin gombalan gombalan mau di tujuin ke gebetannya kak. gak taunya gini ternyata. yg pas ketemu pertama sama kakak kan?" Vindya mengangguk
"Oohhh gitu Van." Vindya paham.