Kesetiaanmu

Kesetiaanmu
Masa lalu Bian


__ADS_3

Try out jam kedua di isi dengan pelajaran bahasa inggris. Satya terlihat sangat anteng dengan kertas yang di milikinya. Sedangkan Bian terlihat tidak tenang dengan duduknya. Satya merasakan ada yang terjadi pada istrinya pun hanya mampu memperhatikan saja.


Bell  berbunyi untuk menandai berakhirnya batas waktu bagi semua murid kelas dua belas untuk berjuang dengan bahasa asingnya.


“Kenapa elu kayak gak tenang gitu sih Bi?” Tanya Sasa yang sedari tadi sudah memperhatikan sang teman.


“Gue tembus,” ujar Bian sambil memperhaikan sekitar.


“Ya sudah, tunggu sini gue mintain dulu pembalut di UKS. Biasanya di sana tersedia,” ucap Sasa yang mengerti situasi Bian saat ini.


“Satya, gue nabeng elu ya. Tadi papa gue bilang di suruh ikut elu,” Nurul menghampiri Satya di bangkunya.


Rumah Nurul memang tidak terlalu jauh dari rumah Vano yang juga pasti melewati jika hendak ke sekolah.


“Ya sudah, tapi bentar nunggu Bian dulu.” Satya masih setia duduk di samping istrinya yang tak berani berdiri.


“Kalian pulang aja, nanti biar gue pulang sama Sasa,” ucap bian yang terlihat tak ingin jika suaminya melihat dirinya yang seperti ini.


“Ya sudah, pakai jaket gua. Nanti gua langsung ke cafe setelah nganterin Nurul,” Satya membelai pipi Bian yang membuat Nurul sepertinya tidak suka.


“Ati-ati, nanti gue langsung pulang kok.” Bian dan Satya memang kurang peka dengan sekeliling.


Setelah Satya dan Nurul sudah meninggalkan kelas. Sasa datang dengan membawa beberapa lembar pembalut untuk Bian.


Bian dan Sasa pergi ke toilet untuk mengganti pembalut sebelum akhirnya pulang.


“Bi, elu sama Satya udah baikan?” Tanya Sasa takut-takut.


“Iya, tapi dia gak bakalan suka kalau gue deket sama Pandu,” ucapBian merapikan penampilannya.


Dengan mengikat jaket Satya di pinggang. Bian sudah menyembunyikan yang di anggap aib bagi kaum wanita.


Sasa memaksa untuk mengantarkan Bian. Padahal gadis berkulit putih rada kekuningan seperti buah langsat  sudah menolaknya dengan berbagai macam alasan. Salah satu tempan perempuan yang di miliki meski tidak terlalu dekat, memang berteman baik dengan Satya sejak masih SMP. Bersama dengan Pandu Nurul dan juga Michael.


Sasa sangat terkejut saat taksi yang membawa mereka berhenti di sebuah rumah sederhana milik salah satu sahabatnya, Sasa memastikan kembali akan kebenaran teman yang baru beberapa bulan di kenalnya.


“Bener elu akan turun di sini?” Tanya Sasa memastikan kembali.


“Iya Sa, mulai dari kemarin gue tinggal disini.” Bian mengajak masuk sasa ke dalam rumah.


“Anak Bunda sudah datang, oh sama Sasa juga. Lama gak main ke sini neng?” Tanya Vindya yang memang sudah mengenal semua teman-teman putranya.


“Iya Bunda, Sasa sibuk mempersiapkan buat masuk universitas yang sama dengan Michael juga Satya. Biar samaan lagi Bunda,” Sasa memang terkesan sudah mengenal sangat dekat, bahkan tak sungkan untuk bermanja pada wanita cantik meski sudah tak muda lagi.


“Kalian ini, kenapa Pandu bisa musuh banget sih sama Alwa. Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Vindya ingin tau penyebab kedua sahabat karip itu bisa bermusuhan.


“Masalah awalnya itu sepele Bunda. Si Satya mengajukan sebuah pendapat saat mengerjakan tugas kelompok. Pandu juga mengemukakan pendapatnya. Tapi kami lebih suka dengan pendapat yang di ajukan Satya. Nah di sana si Pandu gak terima. Setelah itu masalah demi masalah terus tercipta di antara keduanya, Bunda. Terakhir kali masalah Ayumi, Satya sempat pacara dengan Ayumi. Pandu dengar, eh si Ayumi di goda Pandu sampai di tiduri. Satya di kirimin vidio mereka berdua berhubungan intim, makanya Satya benci banget dengan kedua orang itu Bunda.” Jelas Sasa pada Bunda Satya yang sudah di anggapnya sebagai Bundanya juga.


“Oh, jadi begitu ceritanya. Kalau kasus kemarin apa kamu tau Sa?” Tanya Vindya menyelidiki.


“Kasus apa Bunda?”


“Yang Ayumi kabur ke sini?” Jelas Vindya.

__ADS_1


“Lah? Kan Ayumi sudah tunangan sama Pandu.” kaget Sasa mendengar penuturan Vindya.


“Kemaren, Pandu sempet melamar gue, makanya Ayumi kabur.” Jelas Bian yang sedari tadi mendengarkan cerita Sasa.


“Hah, yang bener? Terus elu di apain Sama si Pandu?” Tanya Sasayang masih tidak percaya.


“Gue kabur ke sini,” ucap Bian yang membuat Sasa mengetahui kenapa bisa Teman barunya itu bisa tinggal di rumah salah satu sahabatnya.


“Udah bener lu kesini. Cuma, kalau Pandu tau sudah pasti akan ada bencana lagi.” Sasa kini merasa takut akan kemungkinan yang akan terjadi.


“Gak bakalan bisa Pandu menyentuh menantuku ini,” ucapan Vindya membuat Sasa tersentak.


“Apa Bunda?” Tanya Sasa kaget.


“Bukan apa-apa, sekarang kalian berdua makan sana. Bunda sudah angetin sayurnya,” kata Vindya yang membuat Bian berbinar.


Setelah makan Siang, Sasa pamitan untuk pulang. Rumah Sasa hanya berjarak lima rumah dari rumah Satya. Sedangkan Bian mencuci seragam juga jaket yang di berikan oleh Satya tadi.


“Bian, kamu mau Bunda kasi tau apa saja yang membuat Satya marah besar?” tanya Vindya hati-hati.


“Boleh Bunda. Tapi sebelum itu, boleh Bian minta tolong sama Bunda?” Vindya dan juga Bian duduk di samping jemuran yang masih basah di siang yang terlihat sangat terik.


“Apa itu Sayang?” Tanya Vindya.


“Bunda, Bian pengen mengaku sesuatu. Tapi Bian mohon jangan benci Bian seperti yang lain.” Bian seperti merasakan kesedihan yang sangat mendalam.


Bian menundukkan kepala seperti seorang yang tengah melakukan sebuah kesalahan. Bian sudah memikirkan semua baik buruk yang akan dia dapatkan setelah pengakuannya.


“Alasan Bian pindah dari Kalimantan ke Jakarta itu karena sesuatu hal yang membuat marah seluruh keluarga Bunda,” ucap Bian dengan tangis yang seperti orang sangat tertekan.


“Ceritakan saja sayang, sebisa mungkin Bunda akan menerima semuanya dan gak akan pernah membencimu.” Vindya menguatkan Bian yang kini terlihat sangat rapuh.


“Kejadiannya sebulan sebelum Bian pindah ke sini Bunda. Kakak Zizah dan Zahira punya tunangan dan hampir menikah. Tapi di suatu malam, Bian main ke rumah kawan Bian. Saat masuk ke dalam rumah, melihat abang Fais sedang berciuman dengan kawan Bian. Bian pulang dan mengabarkan hal itu Bunda. Tapi abang Fais mengatakan jika abang sudah melakukan hubungan suami istri sama Bian. Bian di usir oleh keluarga besar di kalimantan. Dan malam sebelum keberangkatan, abang Fais berusaha memperkosa Bian dengan cara memukul dan menghajar Bian.” Bian menunjukkan bekas luka di punggungnya yang sudah di jahit karena luka dari belati Fais sangat dalam.


“Ya ampun nak, terus papa sama mama kamu gimana?” Tanya Vindya merasa ibah.


“Mama sama papa gak menyangka jika, apa yang Bian katakan di awal memanglah benar dan abang Fais lah yang salah. Setelah membawa Bian ke rumah sakit Mama sama Papa juga kakak Zahira meminta maaf karena tidak percaya pada Bian. Dan kak Zizah lah yang mempercayai Bian ikut bahagia, dan mengusulkan kami pindah ke sini Bun.”


“Tapi naas, saat Bian pergi pagi itu. Bian bertemu kembali dengan Bang Fais di terminal. Bian di kasi obat bius bunda. Setelah Sadar, Bian sudah tak berbusana dan juga abang Fais tidur di samping Bian. Bian gak tau harus apa lagi dengan diri Bian sekarang. Bian malu sama Satya Bunda,” tangis Bian semakin pecah ketika tangan lelaki menyentuh kepalanya, membelai lembut rambut panjang yang jarang di ikat dan hanya di hiasi dengan bandana kain.


“Alwa bukanlah orang yang pernah memikirkan hal sepele macam itu. Sayang, dengerin Ayah, sayang kami tulus terhadapmu. Ya meski kamu memberi kesan pertama yang memusingkan. Tapi yakinlah, kami percaya jika kamu gadis baik. Alwa itu bukan orang yang memandang dari segi itu, tapi memandang hatinya dan juga kenyamanan yang kamu kasi ke dia.” Tutur lelaki tampan di samping Bunda mertuanya duduk.


“Tapi Satya terlalu mesum Ayah,” Rengek Bian yang membuat Affandi dan Vindya tertawa terbahak dengan sisa air mata di pipi Vindya. “Bian kadang takut,” imbuhnya.


“Hahaha anak itu,” Affandi menggeleng-nggelengkan kepalanya.


“Baru kali ini Bunda denger kalau Alwa itu mesum. Biasanya Bunda denger dari Sasa juga Nurul kalau Alwa itu gak punya ekpresi. Dan membosankan,” ucap Vindya dengan masih membelai Bian yang ada di pelukannya.


“Masa Bunda?” Bian masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Bunya mertuanya.


“Huum, kadang Sasa ngadu ke Bunda sambil nangis. Dia yang sering di jahili Alwa tapi itu anak gak pernah merasa bersalah,” ucap Bundanya sambil mengusap sisa air mata di pipi menantu cantinya.


Setelah melepas beban yang selama ini mengganjal di dalam benaknya pun Bian seperti terlahir kembali. Keisengan seorang Bian kembali lagi seperti awal kenal. Bian ternyata memang menyukai memasak, membuat Vindya memberinya nilai plus padanya,

__ADS_1


Tepat jam setengah tujuh malam, Satya sampai di rumah sederhana namun sangat hangat. Satya di sambut oleh keceriaan Bian yang tengah asik bercanda dengan Ayahnya.


“Kenapa malah lebih deket sama Ayah sih? Kan Alwa suaminya Bian.” Gerutu Satya saat melihat kedekatan mereka bertiga.


“Cie cemburu cie,” goda sang Ayah membuat Satya jengkel dan menarik Bian hingga duduk di sampingnya.


“Mandi dulu, bauk. Lagian kenapa masih pakai seragam sekolah sih?” Protes Bian yang saat ini mengambil alih penuh mengurusi Satya.


“Maaf, tadi lupa bawa baju ganti, oh iya ini Satya bawain makanan buat semuanya,” Satya mengeluarkan bungkusan yang berisi jajanan yang di belinya di pinggir jalan.


“Gorengan,” teriak histeris Vinya yang memang menyukai gorenga.


Satya dan semua orang menikmati makan malam. Setelah makan malam, Satya dan Bian masuk ke kamar untuk belajar untuk menghadapi Try out esok pagi.


“Sat, kenapa elu sangat mesum sih ke gue?” tanya Bian yang membuat Satya menoleh ke arahnya dengan mengerutkan keingnya.


“Gua juga gak tau, sebenernya denger lu ngomong aja gua udah bisa konek. Liat ini,” Satya menunjuk ke arah bawah.


“Ck, kenapa terus begitu sih?” Tanya Bian merasa jengkel.


“Gua gak tau Bian, tapi satu hal yang harus elu tau. Biar gua seperti ini, gak akan pernah gua memaksa elu jika lu buat ngelayanin gua.” Satya mencium pucuk kepala Bian yang tengah menunduk.


“Tapi, jika aku sudah gak prawan lagi. Kamu kecewa memangnya?” Kini Bian menatab lekat sang suami kedalam matanya.


“Lu sudah bicara akan hal ini berapakali? Dan apa tujuan kamu untuk mengatakan ini?” Tanya Satya sedikit merasa jengkel.


“Lu gak akan ninggalin gue kan Sat?”


“Ucapan macam apa itu? Gua menghalalkan elu bukan cuma buat gua sentuh atau cukup meniduri mu. Tapi gua mau membangun rumah tangga sakinah mawadah warahma sama elu. Kalo cuma nikain elu untuk ena-ena doang, mending gua cari cewek di pinggir jalan atau bahkan bisa gua pakek Ayumi saat ini juga. Tapi gua berusaha buat kerja dan menafkahi elu. Cari duit buat beliin lu skin care biar tetep cantik kaya tuntutan elu. Udah jangn ngomong macem-macem lagi,” ucap Satya yang malah membuat Bian menangis.


“Ngapa elu jadi malah menangis?” Bian malah tersenyum meski matanya mengeluarkan air mata.


“Gue terharu Satya.” Tiba-tiba Bian mencium kembali bibir Satya.


“Dua kali lu nyosor ke gua ya,” Satya menarik hidung Bian manja.


“Hehe, nunggu elu juga sampai gue ngiler juga gak bakalan lu kasih.” Bian merapikan buku-buku yang ada di atas meja sebelum menyusul sang suami ke kasur untuk beristirahat.


“Oh iya, tadi itu kamu yang masak?” Tanya Satya menanyakan masakan rumahannya yang semakin enak.


“Iya, Bunda tadi kerumah Om Vano, kenapa emangnya?” Tanya Bian yang menyusul sang suami duduk di tempat tidur dan bersiap mengarungi mimpi.


“Enak, besok siang kirim ke Cafe ya, kalo harus pulang dulu gua bisa males untuk kerja,” Bisik Satya yang membuat merinding di kulit Bian terlihat jelas.


“Iya, ya sudah besok masih ada try out. Kita tidur yuk,” Satya memeluk Bian saat tidur.


Entah sejak kapan kenyamanan itu terasa saat memeluk gadis yang belum lama ini mengisi hari-harinya. Satya seakan tersihir oleh senyuman gadis berisik ini.


Banyak sekali pertanyaan yang masih ada di dalam diri Satya pada gadisnya. Kenapa bisa mengikat dunianya dalam sekejap? Kenapa Bisa membuatnya gila saat tak bersama? Kenapa bisa senyuman itu menenangkan hatinya? Dan kenapa Bisa pelukannya memberikan kenyamanan padanya dalam sesaat? Apa wajah, hati dan tubuhnya sudah di baluri dengan bubuk narkoba? Sehingga membuat ketagihan? Dan sakau jika tidak menyentuhnya.


Sungguh hiperbolah sekali jika sudah terkena panah asmarah tepat di jantung hati. Bukan terpanah kena di pantat ya.


Satya dan Bian mengarungi mimpi selayaknya pasangan suami istri, tapi jangan di tanya kalau masalah hati mereka sudah cinta apa belum. Karena pada sejatinya, mereka berdua belum mengenal apa itu cinta. Tapi hanya kenyamanan dan saling memberi dukugan yang mereka butuhkan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2