
Khanza dan atthar sudah memasuki ruangan IGD, untung saja jarak dari rumah ke rumah sakit tidak begitu jauh sehingga atthar tidak perlu menanggung kesakitannya begitu lama
Atthar telah ditangani oleh dokter IGD yang berada di rumah sakit, atthar diberi oksigen agar ia tidak lagi merasa sesak, dokter dan perawat juga sudah melakukan tidakan sutikan, ntah apa yang mereka lakukan khanza hanya pasrah dan mengikutinya saja
Alhamdulilah setelah dilakukannya tindakan oleh dokter dan teamnya nafas atthar mulai teratur tidak seperti tadi, namun atthar belum sadarkan diri, ia masih seperti orang tidur
"Dokter, apa suami saya tidak apa apa? Kenapa dia tidak bangun dan membuka mata?" tanya khanza panik, ia masih menesteskan air matanya, ia sangat takut meliat suaminya terbaring lemah seperti itu
"InsyaAllah suami ibu akan membaik, kita tunggu saja, apa suami ibu ada riwayat alergi?" tanya dokter
Khanza menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu apa pun tentang suaminya menurutnya, sesekali khanza masih menghapus air matanya yang membasahi niqabnya
"Maaf setahu saya suami saya tidak memiliki alergi apapun, memangnya kenapa dok?" tanya khanza
"Sepertinya ia alergi, dari gejalanya ada pembengkakan disekujur tubuhnya, juga ada ruam merah, dan bengkak ini bukan saja terjadi diluar tubuh tetapi juga didalam sehingga membuat saluran pernafasannya sempit, beruntung ibu segera membawanya, jika tidak bisa membahayakan suami ibu" ucap dokter menjelaskan
"Kita liat perkembangannya ya bu, untuk sementara saran saya suami ibu harus dirawat inap untuk perawatan lebih lanjut" sambung dokter dan khanza mengangguk tanpa bisa berkata kata, ia sedikit terkejut dengan apa yang dokter katakan
Mendengar penjelasan dokter yang mengatakan kondisi suaminya bisa mengancam nyawa membuat tangis khanza semakin menjadi namun ia tak henti berucap syukur pada Allah SWT suaminya bisa ditangani dengan baik
Khanza mengucapkan terimakasih kepada dokter dan teamnya, ia kembali duduk disamping suaminya dan menggenggam tangan suaminya, ia menangis tersedu, ia tidak tahu kenapa suaminya bisa seperti ini, ia masih bertanya tanya
Tak lama kemudian, umi, abi dan khalisa datang, khanza yang melihat umi, langsung berdiri memeluk umi
"Umi...hiks hiks hiks...khanza...khanza tidak tahu kenapa mas atthar bisa seperti ini umi hiks hiks..." khanza menangis dipelukan umi
__ADS_1
"Sudah nak, tenang, Alhamdulillah suami kamu selamat, InsyaAllah dia tidak apa apa" ucap umi menenangkan menantunya
"Umi sudah menghubungi ayah dan ibu kamu, kemungkinan mereka akan sampai sore ini, umi langsung kepikiran kesana nak, umi ikut panik kamu datang dengan tangis dan kepanikan yang luar biasa, " sambung umi, umi melepaskan pelukannya
Khanza mengangguk sambil melihat suaminya, khanza menyalami abi yang juga sedang duduk disamping atthar begitu juga dengan khalisa, mereka berpelukan sejenak
"Apa sebelumnya mas atthar pernah seperti ini umi?" khanza bertanya dengan nada sendu
Umi mengangguk mendengar pertanyan khanza
"Waktu itu kalau g salah umi saat ada jamuan makan bersama di pondok, tiba tiba dia mual dan muntah lalu tubuhnya bengkak dan umi hanya memberikannya obat saja di UKS pondok, tapi tak lama kemudian ia menjadi sesak nafas dan kami membawanya ke rumah sakit sama seperti sekarang nak" ucap umi menjelaskan
"Ini kali kedua atthar seperti ini setelah sekian lama alerginya tidk kambuh" sambung umi
"Suamimu alergi kerang nak" jawab umi, mendengar jawaban umi tangis khanza kembali pecah, ia terduduk dikursi, ia mengingat saat makan siang, atthar sempat menghentian makannya sebentar dan saat ia menanyakannya kepada suaminya, atthar malah menutupinya
"Shuuutt sudah sayang, InsyaAllah atthar tidak apa apa nak" umi mengusap punggung menantunya
"Khanza....khanza memasak kerang umi dan mas attar memakannya dengan lahap hiks...hiks" khanza terus menangis
"Apa mas atthar tidak memberitahu mbak jika ia alergi mbak?" kini khalisa yang bertanya dan khanza menjawabnya hanya dengan gelengan kepala
"MasyaAllah mas atthar g mau menyakiti mbak kali mbak jadi dimakannya saja atau bisa jadi mas atthar tidak menyadari apa yang makan mbak" ucap khalisa
"Mbak jangan merasa bersalah gitu, mas atthar g apa apa kok mbak, kita doa sama sama ya mbak" sambung khalisa, umi masih menenangkan menantunya dengan mengusap punggung khanza
__ADS_1
"Benar nak, sudah jangan merasa bersalah gitu, kita berdoa saja untuk kesembuan suamimu" ucap abi yang iba kepada menantunya yang terus saja menangis
Sudah hampir empat puluh lima menit khanza dan keluarga atthar menuggu atthar diruang igd, tak lama kemudian dokter dan perawat kembali datang dan menginfokan kepada khanza dan keluarga jika atthar sudah boleh dipindahkan keruangan rawat inap
Khanza dan keluarganya setuju lalu mereka mengikuti perawat yang mendorong brankar atthar, sebentar lagi waktu sudah memasuki sholat ashar, mereka sudah tiba dikamar rawat inap atthar, atthar masih juga belum bangun dari tidurnya
"Umi dan abi jika ingin pulang tidak apa apa umi, abi, biar khanz yang nungguin, kasian abi capek umi" ucap khanza , sudah tidak menangis lagi
"Baiklah nak, umi dan abi juga khalisa pulang dulu ya nak, nanti jika ada apa apa jangan lupa kabarin umi ya nak" umi memeluk khanza untuk pamit begitu juga dengan khalisa, khalisa menenangkan kakak iparnya
Kemudian khanza menyalami abi yang setuju sekali untuk pulang, akhirnya abi umi dan khalisa beranjak dari ruang rawat inap atthar, khanza kembali duduk disamping atthar
"Mas, kenapa g bilangin kekhanza sih jika mas alergi kerang?" khanza berbicara pada suaminya meskipun suaminya, meskipun masih belum sadar
Khanza kembali menangis melihat atthar suaminya yang rela sakit hanya untuk tidak menyakiti hatinya
.
.
.
...Bersambung...
...Jangan lupa like, vote, koment dan hadiahnya ...
__ADS_1