Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
71


__ADS_3

Setelah sampai dirumah ustad bahar, atthar mulai gugup dan gelisah, ia khawatir jika ustad bahar tidak menerima alasannya dan pembatalan ta'aruf yang dilakukan atthar pada putrinya


"Assalamualaikum" ucap abi didepan pintu ustad bahar


"Waalaikumussalam wr.wb mari mari pak kiyai silahkan masuk" ucap ustad bahar ramah, ia memeluk abi dan meminta abi serta keluarga abi masuk


Sedangkan istri dari ustad bahar menyambut umi dan aluna, aina yang tahu akan kedatangan tamu, sudah menyiapkan air untuk para tamunya dan juga beberapa cemilan lainnya


"Apa kabar pak kiyai? saya lihat sudah banyak kemajuan, Alhamdulillah" ucatad bahar bertanya ramah


"Alhamdulillah, saya sudah bisa berjalan kembali walaupun memakai tongkat" jawab abi


"Jangan memanggilku kiyai bahar, seperti sama siapa saja" lanjut abi lagi


"Hahahaaa..." usatad bahar hanya tertawa


Umi dan istri pak kiyai juga mengobrol ringan dan saling bertanya kabar, terlihat dari arah dapur seorang wanita berjalan membawa nampan yang berisi air untuk para tamu


"Jadi bagaimana pak kiyai? Ada kabar apa hari ini?"


Aina meletakkan air yang ia bawakan diatas meja, aina melihat atthar yang sedikit gugup, aina juga duduk ikut bergabung dengan para tamunya yang merupakan calon mertuanya


"Sebelumnya saya minta maaf bahar, atthar anak saya akan menyampaikan sesuatu padamu dan keluargamu" ucap abi dan ustad bahar tersenyum mengangguk


"Baiklah ustad, saya...saya akan menyampaikan sesuatu hal yang mungkin membuat ustad dan keluarga terkejut dan bahkan mungkin membenci saya" ucap atthar


"Saya dan keluarga saya datang kesini...." atthar yang gugup menjeda omongannya, ia mengatur nafasnya dan berdoa dalam hati agar dilancarkan ucapannya dan yang mendengarkan juga mengerti apa yang ia bicarakan


"Sekali saya mohon maaf kepada usatad, dan keluarga terutama aina" ucap atthar melirik kearah aina sebentar, terlihat aina hanya menunduk


"Saya...saya ingin membatalkan ta'aruf pada aina ustad" ucap atthar gugup


Ustad bahar menghela nafasnya, ia sudah tahu jika atthar akan membatalkan ta'arufnya dari ustad hasyim, bahkan alasannya pun ustad bahar sudah mengetahuinya


Hanya saja, ustad bahar sengaja berpura pura tidak tahu dan ia juga tidak memberitahukan kepada anaknya aina, ia berpikir biarlah aina menerima kepahitan diawal yang langsung dari mulut atthar


Ia mengajarkan anaknya untuk kuat menerima kenyataan, ia juga mengajarkan anaknya untuk menerima setiap yang ditakdirkan Allah untuknya, walaupun itu pahit


Ustad bahar melihat sebentar kearah aina, aina hanya terdiam menunduk, ustad bahar tersenyum melihat kearah atthar


Melihat ustad bahar yang melihat kearah aina, atthar pun melihat aina yang hanya terdiam menunduk

__ADS_1


"Saya mohon maaf aina" ucap atthar


Aina menegakkan pandangannya dan melihat kearah atthar


"Tidak apa apa mas, kita hanya berencana dan Allah lah yang menentukan semuanya, aina ikhlas dan sudah memaafkan mas atthar" ucap aina


"Aina juga minta maaf jika ada dari diri aina yang membuat mas tidak berkenan" sambung aina


"Apa boleh aina tahu alasan mas membatalkan ta'aruf kita?" tanya aina lagi


"Sudahlah nak, kamu tidak perlu apa alasannya, yang penting kamu sudah menerima keputusan atthar dan memaafkannya" ucap abi


Aina tersenyum mendengar ucapan abinya, ia tahu jika abi tidak ingin ia terluka terlalu dalam jika mendengar alasan pembatalan dari atthar


"Aina tidak apa apa abi, aina siap mendengarnya" ucap aina, aina kembali melihat atthar dengan anggukan


Lama atthar menjawab pertanyaan aina, ia juga memikirkan perasaan aina, ia tidak ingin menyakiti aina lebih dalam lagi, ia melihat aina lalu melihat ustad bahar seakan meminta izin ke[ada ustad bahar


Ustad bahar mengangguk pelan disaat atthar meminta izin hanya dengan tatapan


"Maafkan mas aina, mas dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit dan mas berada disini hari ini setelah melakukan istikharah" jelas atthar


Atthar menunduk setelah menjelaskan kepada aina dan ia berharap aina mengerti dengan penjelasan yang ia berikan


Aina tersenyum mendengar alasan pembatalan ta'aruf dari atthar, ia mengerti dengan apa yang disampaikan atthar


"Baiklah mas, jika Allah sudah menentukan kita bisa apa, aina sudah memaafkan mas" ucap aina


Umi menghampiri aina dan memeluk aina, umi tidak tega melihat aina tapi mau bagaimana lagi semua sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa


"Maafkan umi juga aina, maafkan keluarga umi, kamu anak yang baik dan soleha, umi doakan kamu mendapatkan yang jauh lebih baik nantinya nak" umi mengelus punggung aina, aina mengangguk


"Iya umi, aina sudah memafkan semuanya, tidak usah sepertiini umi, aina baik baik saja" ucap aina berbohong


Wanita mana yang tidak patah hati jika rencana pernikahan yang sudah diimpikan batal, walaupun mereka belum menyiapkan apapun, namun dengan berta'aruf seakan membuat pernikahan sudah didepan mata


Umi juga meminta maaf kepaada istri ustad bahar, begitu juga abi, ia sangat merasa tidak enak hati dengan apa yang terjadi saat ini, abi dan ustad beahar berharap silaturahmi mereka tetapp terjalin walaupun tidak menjadi besan


Setelah meyelesaikan masalah atthar, merekapun pamit undur diri, Alhamdulillah ustad bahar dan keluarganya menerima apa yang sudah menjadi kehendak Allah, mereka menerima dengan lapang dada permintaan maaf dari atthar dan keluarga


"Alhamdulillah sudah selesai dan ustad bahar berbesar hati menerima keputusanmu nak" ucap abi saat mereka sudah berada didalam mobil dan akan segera pulang

__ADS_1


"Iya abi, Alhamdulillah" ucap atthar


"Abi, umi atthar minta maaf jika atthar sudah membuat abi dan umi menanggung malu dengan pembatalan ta'aruf atthar" sambung attthar merasa tidak enak hati kepada kedua orang tuanya


"Sudahlah nak, tidak apa apa, kita tidak pernah tahu jika akan jadi seperti ini, semua kehendak-Nya nak, tidak ada yang bisa disalahkan dari kejadian ini" ucap umi mengelus bahu anaknya yang menyetir mobil


"Terimakasih umi, terimakasih abi" ucap atthar


"Sekarang tinggal urusan khanza saja yang harus kamu selesaikan, besok kita akan bicara kepada kedua orang tua khanza" ucap abi dan atthar mengangguk tersenyum menoleh kearah abi


"Apa kamu sudah pernah mengatakannya kepada khanza dek?" tanya aluna yang sedari hanya diam mendengarkan


"Belum mbak, memangnya atthar harus bilang apa?" ucap atthar


Mendengar ucapan polos dari atthar baim dan alunna tertawa begitu juga abi dan umi


"Kenapa tertawa?" tanya atthar polos


"Khanza lagi bimbang mbak, daniel menghubunginya kembali dan ingin menjadi mualaf" sambung atthar


Mendengar ucapan atthar aluna dan baim menceritakan bagaimana bisa daniel mendapatkan nomer ponsel khanza


Abi dan umi serta atthar sangat terkejut mendengarnya, sebegitu terobsesinya daniel kepada khanza, ya menurut abi itu bukan lagi cinta namun obsesi


.


.


.


...Bersambung...


...Jangan lupa like, vote, komen dan hadiahnya...


...Kasi biintang juga ya readers ...


...Terimakasih...


...Malam up lagi...


...Baca juga novel novelku yang lainnya ya dan follow...

__ADS_1


__ADS_2