
Malam ini khanza sama sekali tidak beristirahat, ia terus memegang tangan anaknya dan membaca yasin, atthar dan keluarga lainnya ikut menemani khanza yang tidak ingin sedetikpun meninggalkan anaknya
Ia membaca surah yasin sambil sesekali menghapus air matanya, ya air mata khanza seakan tak bisa berhenti walau telah banyak yang menghiburnya
Keesokan harinya pada pukul 06.00 wib khanza dan atthar serta yang lain bersiap untuk memandikan jenazah anaknya, setelah mandi mereka akan membawanya ke TPU (Tempat Pemakaman Umum) yang tidak jauh dari pesantren atthar
Kali ini atthar sebagai ayahnya yang menggendong bayi mungilnya menuju keperistirahatan terakhirnya, khanza dan atthar masih saja menangis, mereka benar benar merasakan kesedihan yang teramat dalam setelah yang dinantikan mereka hanya singgah sebentar saja
Setelah sampai di tempat pemakaman umum tibalah atthar kembali mengadzankan anaknya, ini kali kedua ia mengadzankan anaknya ditempat peristirahatan terakhirnya, suara adzan atthar sangat sendu seakan tak tela melepas kepergian putra pertamanya, begitupun khanza saat melihat bayinya dimasukkan kedalam liang lahat tiba tiba tubuh khanza lemas dan hampir pingsan namun ia ditopang oleh ibu dan ummi yang senantiasa berada disamping khanza, untungnya khanza bertahan hingga proses pemakaman selesai
Setelah melakukan doa dan para penziarah surah pulang, khanza terduduk lemas dimakan anaknya yang sangat mungil, ia mengusap batu nisan anaknya yang ia beri nama 'Abdullah'
Tangisan khanza tak lagi bersuara, air matanya tak pernah berhenti mengalir, ia sangat terpukul dan tidak ikhlas dengan ketentuan Allah, ia meratapi kepergian anaknya
"Kenapa begitu cepat ninggalin umma naaakk hiks...hiks" khanza menangis diatas pemakaman anaknya sambil memeluk batu nisan anaknya
"Umma begitu mengharapkanmu sayang hiks..hiks umma sudah lama menantimu tapi kenapa kamu pergi lagi hiks...hiks" sambung khanza
Atthar langsung memeluk istrinya, ia sangat sakit melihat istrinya seperti itu, ia juga sangat merasa kehilangan anaknya, namun ia harus kuat untuk istrinya
"Sudah sayang, tidak boleh meratap seperti itu, ikhlas sayang, terima apa yang sudah ditakdirkan Allah" ucap atthar menenangkan istrinya
"Tapi kenapa maaaasss hiks..hiks.. kenapa Allah tega sama kita, Allah sudah memberikan harapan kepada kita dengan memberikan seorang anak hiks..hiks" jawab khanza sambil tersedu
"Istigfar sayang, tidak boleh berkata seperti itu, jangan menyalahkannya, kita tidak tahu rencana Allah kedepannya" atthar kembali menenangkan istrinya
"Khanza sayang, sudah ya nak ayo kita pulang" ajak ibu sambil mengusap bahu anaknya
"Istigfar sayang, Allah tidak memberikan ujian kepada kamu jika kamu tidak sanggup, percaya sama Allah nak, akan ada pelangi setelah badai" sambung ummi
"Astagfirullah..hiks hiks maafkan umma nak jika umma seperti ini hiks..hiks, pasti kamu sedih ya liat umma seperti ini hiks..hiks" khanza masih mengusap batu nisan bayinya, ia enggan beranjak dari pemakaman anaknya
"Ayo sayang, benar kata ummi nak, percaya sama Allah, Allah akan menggantinya lebih dari ini sayang" ibu berusaha membantu khanza untuk bangun dan perlahan khanza mengangguk dan turut bangun
__ADS_1
Khanza dituntun oleh ibu dan suaminya, mereka kembali kerumah, sepanjang jalan hanya terdiam lemas, sesampainya dirumah atthar meminta istrinya untuk makan sedikit karena sudah dari kemaren khanza tidak makan
Khanza tetap saja menolak dengan dalih ingin istirahat, atthar tidak mau memaksa dan menekan istrinya, ia membiarkan istrinya istirahat dan menenangkan diri
Sampai sore tiba khanza tak kunjung keluar dari kamarnya, atthar dan ibu serta ummi khawatir melihat khanza mengurung diri, atthar berinisiatif untuk melihat istrinya
"Sayang....uda donk istirahatnya, makan yuk, mas khawatir lo dek" ucap atthar pelan memasuki kamar
Khanza tidak menjawab sapaan suaminya, atthar mendekati istrinya dan dilihatnya istrinya sedang tidur sambil memegang ponsel yang berisikan foto foto anak mereka
"Hheeehhhh..." atthar menghela nafas, ia tahu ini sangat berat bagi istrinya
Ia mengambil ponsel dari tangan istrinya, namun ia merasakan hal yang tak biasa, tangan khanza terasa sangat panas, atthar pun beralih memegang dahi istrinya, dan benar saja istrinya terkena demam
"Dek...sayang.. bangun sayang.. makan dulu yuk kamu demam sayang, please sayang jangan begini, mas sangat khawatir" ucap atthar membangunkan istrinya
Atthar menepuk pelan lengan khanza namun khanza tak kunjung bangun, ia juga menepuk pelan istrinya, tetapi khanza juga belum bangun
"Sayang please jangan seperti ini, bangun dulu yuk, kita minum obat, dek..khanza" atthar mengeraskan suaranya dan terdengar suara lenguhan dari istrinya
"Bangun dulu sayang, please kamu belum makan dari kemaren sayang dan sekarang kamu sedang demam" ucap atthar tetap membangunlan istrinya
"Khanza tidak lapar mas, nanti saja khanza makannya, kepala khanza pusing" ucap khanza lemah
"Mas ambilin obat ya, tapi sebelum itu makan dulu sedikit ya dek, please" atthar memohon
Khanza mengangguk setuju dan itu membuat atthar senang, ia ingin keluar mengambil makanan untuk istrinya, namun khanza kembali memanggilnya
"Mas..." panggil khanza
"Mau apa lagi sayang?" Atthar kembali berbalik mendekati istrinya
"Payud*ra khanza sakit banget mas" keluh khanza
__ADS_1
"Subhanallah sakit kenapa sayang?" Atthat kembali mendekati istrinya
Atthar memegang dan merasakan payud*ra istrinya dan benar saja payud*ra khanza sangat keras seperti batu dan sangat panas, atthar segera keluar untuk memanggil ummi dan ibu
"Tunggu sebentar ya sayang" ucap atthar dan berlalu pergi
Khanza semakin menggigil, payud*ranga sungguh sangat sakit, ia sampai meneteskan air mata menahan sakitnya
Tak lama ummi dan ibu serta atthar kembali masuk kekamar khanza, atthar membawa sepiring nasi untuk istrinya
"Kenapa nak?" Tanya ibu dan ibu memegang kepala anaknya yang memang panas
"Kita kedokter yuk nak yuk, payud*ra kamu bengkak karena g dikeluarin nak, jika dibiarkan akan bertambah sakit" ucap ummi dan ibu membenarkan apa yang dikatakan ummi
"Ayo sayang kita kerumah sakit, kalau g sanggup jalan mas gendong ya" ucap atthar suaminya dan khanza mengangguk
Atthar menggendong istrinya untuk pergi kedokter, atthar sangat iba melihat istrinya, ia merasakan sakit yang luar biasa, melahirkan hingga rahim robek, kehilangan bayi yang dinanti dan sekarang kembali sakit karena asi tidak tersalurkan
Atthar berjanji dalam hatinya, ia akan selalu mendampingi istrinya dan selalu mencintai istrinya dalam keadaan apapun, ia akan selalu disisi istrinya selagi nafasnya berhembus
"Ya Allah berikanla kesembuhan untuk istriku ya Allah, jangan kau biarkan dia sakit sendirian ya Allah teruslah bersamanya dan teruslah berada disisinya, karena hanya Engkau yang mampu menyembuhkan sakit yang ia derita ini ya Allah, jangan meninggalkannya ya Rabb" ucap atthar dalam hati
Ya sesungguh jauh didalam hati atthar ia takut istrinya seperti dulu yang selalu bertanya kepada Allah dan bahkan cenderung menyalahkan Allah karena Allah belum mengabulkan doanya
Atthar harus bekerja ekstra dalam membimbing istrinya, ia takut istrinya tidak menerima rencana Allah, tapi semoga saja tidak, semoga khanza sudah lebih banyak belajar
.
.
.
...Bersambung...
__ADS_1
...jangan lupa like, koment dan vote...
...terimakasih readers π«Άπ»π...