Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
36


__ADS_3

Khanza terus memperhatikan adik daniel yang baru saja keluar dari tempat ibadah tersebut, lama ia memperhatikan adik daniel dan tak lama kemudian ia semakin dibuat shock dengan apa yang dilihatnya, gelas yang ia pegang hampir saja terjatuh, ia melihat daniel yang baru saja keluar dari tempat ibadah tersebut bersama seorang lelaki paruh baya yang kemungkinan itu papanya daniel


Lama khanza memperhatikan daniel yang berada dihalaman gereja, ia ingin benar benar memastikan apakah itu benar daniel kekasihnya


"Sedang apa dia disana? Dia muslim bukan? ya dia pasti muslim, dia mengatakan jika ia sholat, tidak mungkin daniel berbohong padaku" khanza terus bertanya dalam hati


Pandangannya tak luput dari daniel yang sedang berbincang serta bergurau disana hingga aluna berbicara pun khanza tidak mendengarkannya


Aluna melihat khanza yang terdiam terpaku mengikuti arah pandangan mata khanza, aluna menyentuh pelan bahu khanza dan itu membuat khanza tersadar


"Ada apa hmmm? Kenapa melihat mereka seperti itu" tanya aluna


"Ti..tidak ada mbak, a..aku seperti me..melihat daniel mbak" ucap khanza gugup, hatinya berdebar ia takut jika apa yang ia pikirkan benar adanya, lalu bagaimana kedepannya, sementara ia sudah sangat begitu mencintai daniel


"Tenang...tenang dek...ini diminum dulu" aluna mengambil gelas cendol khanza dan menukarnya dengan air putih


Khanza pun meminumnya hingga habis, ia sangat gugup dan jantungnya sungguh berdebar kencang


"A..apa aku harus ke...kesana untuk memastikannya mbak?" tanya khanza


"Apa kamu mau jadi pusat perhatian banyak orang dek? Kamu sedang berhijab, jika kamu menyusulnya kesana kamu akan jadi pusat perhatian banyak orang, seorang wanita berhijab masuk kerumah ibadah agama lain" ucap aluna pelan dan sangat lembut, ia tidak mau orang orang disekitarnya mendengar pembicaraannya


Khanza menggeleng, sebenar ia sangat yakin jika itu daniel, matanya masih berfungsi dengan baik dan ia juga mengenal gelagat daniel cara berpakaian dan gaya daniel, hanya saja ia ingin benar benar melihat daniel dan daniel melihatnya


"Ja..jadi aku harus a...apa mbak?" tanya khanza terbata, air matanya berlinang, rasanya ia sangat kacau


"Besok kalian ketemu bukan?" tanya aluna dan khanza menganggukkan kepalanya

__ADS_1


"Kamu bisa menyakannya besok, sedang apa dia disana, semoga saja bukan seperti yang kita pikirkan" sambung aluna


"Apa kita bisa pulang sekarang mbak?" khanza sudah meneteskan air matanya


"Baiklah, mari kita pulang, ayo mas" ucap aluna mengajak suaminya yang sudah menyelesaikan minumnya


Aluna menghapus air mata sahabatnya yang menetes hampir deras, aluna juga membekalkan khanza tisu, khanza menerimanya dan mereka masuk kedalam mobil


"Mas aku duduk dibelakang g apa apa ya? Kasian khanza" ucap aluna pada suaminya sebelum memasuki mobil dan suaminya menyetujuinya


Dimobil khanza masih saja terus memperhatikan daniel yang masih berbincang dengan keluarga dan mungkin kerabatnya, aluna yang duduk bersebelahan dengan khanza hanya memperhatikannya, tak lama kemudian baim mulai melajukan mobilnya


Setelah pandangan khanza tidak bisa melihat daniel lagi, khanza menoleh kearah aluna, aluna yang juga melihat khanza langsung mendekat memeluk khanza, tangis khanza pecah, air matanya sudah tak terbendung lagi


"Itu....i...itu be..benar benar da..daniel mbak..hiks hiks hiks....." ucap khanza, aluna mengusap punggung khanza untuk menenangkannya


"Jangan berpikir yang aneh aneh dulu dek, siapa tahu dia hanya bermain disana" ucap aluna menenangkan khanza, khanza mendongakkan wajahnya melihat aluna


"Mbak" panggil khanza dan aluna tersenyum ia masih mengelus punggung khanza


"Memangnya boleh mas main ketempat ibadah orang lain?" dikarenakan aluna tidak menjawab pertanyaannya, kini khanza bertanya kepada bai suami aluna


"Sejatinya tidak boleh, haram kita memasuki tempat ibadah orang lain, kecuali urgent, misalnya ntah kita dikejar penjahat dan yang ada hanya tempat ibadah orang lain untuk berlindung, mau tidak mau kita masuk kesana untuk melindungi diri, nah jika kita memasuki tempat ibadah orang lain tetapi kita menentang dengan apa yang mereka puja dan mereka lakukan itu sudah masuk ketingkat hipokrit yang paling tinggi, untuk apa kita mengikuti acara mereka sementara hati dan pikiran kita bertentangan dengannya, munafik bukan?" jelas baim panjang lebar dan khanza serta aluna hanya diam mendengarkan


Penjelasan baim sungguh masuk diakal, air mata khanza kembali menetes, ia sangat sedih dan merasa sangat bodoh, kenapa dari awal ia tidak mengetahuinya, kenapa dia tidak memperhatikan sedetail itu, jika sudah begini dia sangat menyesalinya


"Kenapa a..aku sangat bo..bodoh mbak hiks hiks hiks....kenapa aku ti...tidak menanyakannya terlebih dahulu hiks hiks hiks...." ucap khanza tersedu, aluna tersenyum mendengar akhir dari ucapan khanza, begitu juga baim

__ADS_1


"G gitu juga dek, jika memang benar daniel berbeda keyakinan dengan kita, kamu harus berbesar hati dan bersabar, ini ujian dari Allah untuk kamu, Allah ingin menegurmu, Allah tidak mau hambanya begitu sangat mencintai umatnya melebihi cintanya pada Penciptanya" ucap aluna lembut sambil terus mengusap punggung khanza untuk menenangkannya karena air mata khanza tidak berhenti mengalir


Mendengar ucapan aluna tangis khanza semakin deras, ia memang sangat mencintai kekasihnya daniel karena kebaikan dan sikap manis daniel padanya


"Hiks...hiks...hiks...mbak be..benar, a..aku sangat mencintainya hingga terkadang a..aku lalai dengan kewajibanku sebagai umat muslim" ucap khanza tersedu


"Sudah..sudah biarkan itu jadi pelajaran buatmu, jika benar ia berbeda dengan kita jangan membencinya, Allah melarang umatnya untuk saling membenci, tidak ada yang salah diantara kalian, sudah jangan menangis lagi, kita hampir sampai dek, apa kata ibu dan ayah melihat wajah anak cantiknya yang sudah berhijab sembab karena menangis?" aluna melepaskan pelukannya lalu ia menghapus air mata khanza, aluna benar benar memperlajukan khanza seperti seorang adik


Khanza ikut menghapus air matanya, ia memperbaiki sedikit riasan tipisnya agar tidak ketauan oleh ayah dan ibunya jika ia habis menangis


"Apa aku harus menhubunginya secepatnya mbak?" tanya khanza


"Besok saja jika berjumpa, hal penting seperti ini tidak baik dikatakan lewat ponsel dek, sebaiknya kamu tenangin diri dulu, besok bicarakanla dengan baik baik" ucap aluna lembut


"Baiklah mbak, makasi ya mbak, makasi juga ya mas baim, maaf jika hari ini aku...aku" ucap khanza merasa malu


"Sudahlah tidak apa apa, wajar saja kamu seperti itu dek, sudah berencana mau menikah bukan? Untung saja diberi petunjuk sebelum terlalu jauh" ucap aluna


"Iya mbak, besok aku menyelesaikan semuanya, aku harus memastikannya" ucap khanza dan aluna mengangguk setuju


.


.


.


...Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa like, vote, koment dan hadiahnya...


...Terimakasih readers 🥰🙏...


__ADS_2