
Seminggu berlalu. . .
Khanza sudah memyelesaikan urusannya ditempat kerjanya, hari ini ia akan pergi kepesantren untuk tinggal dan belajar disana, ia membawa pakaian pakaian muslimnya saja serta beberapa keperluan lain
Soal daniel, ia masih saja membututi khanza seperti biasanya dan khan memperhatikan itu, ponsel yang daniel berikan kepada khanza, ia simpan baik baik, ia sudah tidak menggunakannya lagi, ia membeli ponsel biasa saja dari uang tabungannya, sedangkan ponsel pemberian daniel ia simpan kembali ditempatnya dan ia menyembunyikannya di lemari miliknya, ia tidak membawa kenangan daniel bersamanya, ia benar benar ingin melupakan daniel secara perlahan
Nomer ponsel yang diketahui oleh daniel juga ia ganti dengan yang baru, ia hanya memberikan nomer ponsel barunya kepada orang orang terdekatnya saja, yaitu kedua orang tuanya dan aluna, ia ingin membuka lembaran baru dihidupnya, ia ingin benar benar belajar tanpa gangguan dari luar apa lagi gangguan dari daniel
Hari ini khaza pergi bersama ayah dan ibunya, ia akan tinggal disana selama ia masih ingin belajar, khanza melihat sekeliling kamarnya, ia menghela nafasnya dan sedikit tersenyum, ia akan meninggalkan kamarnya yang ia tempati dari kecil, terasa berat bagi khanza apa lagi ia akan meninggal kedua orang tuanya yang sudah paruh baya, namun orang tua khanza meyakinkan khanza jika mereka lebih setuju jika khanza belajar dipondok bersama ustad dan ustadzah
"Bismillah khanza, kamu pasti bisa, Allah akan menolongmu Allah akan lancarkan niat baikmu" ucap khana bermonolog dalam hati
Sekali lagi khanza menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan, ia keluar dari kamarnya dengan gamis simple dan hijab yang sepadan dengan bajunya
"Ayah ibu khanza sudah siap" ucap khanza tersenyum kaku melihat ayah dan ibunya yang menatapnya
"MasyaAllah anak ibu cantik sekali menggunakan gamis ini" ibu memegang kedua bahu anaknya, ia memperhatikan baju anaknya
"Jangan gugup begitu, kamu kan sudah terbiasa sama umi dan khalisa, ibu yakin kamu pasti bisa, kamu akan betah disana, hmmm" sambug ibu tersenyum, ia memeluk anaknya dan khanza tanpa sengaja menangis dipelukan ibunya
"Loh anak ayah kenapa menangis? Ini lagi ibu ikut ikutan nangis" ucap ayah meledek kedua ibu dan anak itu
Ibu juga menangis melepaskan kepergian anaknya ke pesantren, itula seorang ibu, bagaimanapun kuatnya seorang ibu tetapi jika sudah masalah anak ia akan mudah rapuh
"Ibu cuma terharu kok, anak ibu mau tinggal dipondok" ngeles ibu dan khanza serta ayah hanya tersenyum mendengat alasan ibu
__ADS_1
"Ya sudah ya sudah, mari kita berangkat, biar g kesiangan" ucap ayah memutuskan suasana haru, ayah juga akan ikut menangis jika suasana haru berlangsung lama
Ayah ibu dan khanza pun memulai perjalanan mereka, ini kali kedua ayah dan ibu pergi ke pondok pesantren,
mereka akan melepaskan anaknya untuk tingggal dipesantren, sebagai orang tua tentu saja senang mengantarkan anak ke jalan Allah, namun tidak bisa dipungkiri dilubuh hati yang paling dalam ada perasaan tidak rela jika orang tua berjauhan dari anak
Namun ayah dan ibu menahannya, mereka tidak menampakkannya kepada khanza, karena takut jika khanza akan merubah pikirannya
Ayah mulai melajukan mobilnya menuju pondok pesantren, seperti biasa mereka menempuh perjalanan yang lumayan jauh lebih kurang memakan waktu 3 jam perjalanan
Diperjalanan ayah dan ibu banyak memberikan wejangan untuk khanza, sebelumnya mereka tidak pernah berpisah, perpisahan kali ini lebih ibu ridhoi karena khanza menuntut ilmu, bukan hanya ilmu dunia namun juga ilmu akhirat
Tak terasa sudah hampir 3 jam perjalanan, yang artinya sebentar lagi mereka akan tiba dipondok pesantren, khanza sudah mengabari aluna jika ia akan kepesantren
Sesampainya dipesantren, umi abi serta keluarga lainnya menyambut keluarga khanza dengan hangat, mereka seperti sudah sangat akhrab, umi mempersilahkan keluarga khanza untuk masuk kerumahnya, begitu juga abi, meskipun ia hanya berada dikursi roda tetapi abi juga ingin menyambut keluarga khanza
"Terimakasih umi, umi dan keluarga apa kabar?" ucap ibu basa basi, ibu menyalami umi mereka saling berpelukan
"Alhamdulillah kami semua sehat walafiat" balas umi
"Alhamdulillah, ini ada sedikit kue hasil tangan saya dan khanza, semoga suka ya umi" ibu memberikan kue hasil buatannya dan khanza subuh hari, ya dikarenakan kedatangan yang lalu mereka hanya membawakan hasil dari membeli disupermarket, kali ini ibu membawakan kue buatan tangannya dan putrinya
"Alhamdulillah, repot repotin saja bu, kalau buatan ibu dan khanza sudah pasti enak, khanza memang pintar memasak" puji umi
Ibu dan umi terus berbincang tanpa, mereka semakin akrab saja dipertemuan kedua ini, sementara ayah dan abi juga berbincang namun perbincangan mereka lebih ke menitipkan khanza kepada abi, ayah meminta abi untuk mengajar khanza dan juga menegurnya jika khanza melakukan kesalahan
__ADS_1
"Saya titip khanza anak saya abi, mohon ditunjuk ajar abi, dan jangan sungkan untuk menegurnya jika ia melakukan kesalahan, saya juga menitipkannya kepada umi, maklum anak saya baru mau belajar, ia masih sangat kurang mengenai ilmu agama dan ini juga salah saya yang kurang mendidiknya" ucap abi
"Bapak ini bicara apa, kita orang tua tidak ada yang sempurna pak, kita hanya bisa mengajarkan dan mendoakan anak anak kita, selebihnya kita serahkan pada Allah SWT, semoga khanza istiqomah dan ilmunya selama belajar disini berkah" jawab abi
Khanza dan lainnya hanya mendengarkan perbincangan abi dan ayah, khanza menundukkan kepalanya, ia merasa ia sudah sangat terlambat untuk berubah, tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali pikir khanza
Melihat khanza yang tertunduk, atthar terus memperhatikan khanza, ntah apa yang ia pikirkan tentang khanza, ia melihat khanza yang tertunduk seakan menyesali sesuatu, ia melihat khanza tanpa berkedip dan baim yang sadar akan hal itu menyenggol atthar pelan dengan sikunya
Atthar yang merasa ditegur oleh baim kakaknya, langsung menundukkan kepalanya dan sesaat kemudian ia melihat kearah baim, baim hanya menggerakkan alisnya keatas sebagai tanda tanya, dan atthar menggeleng pelan dengan senyum kakunya
Setelh obrolan panjang, kini khalisa dan aluna mengajak khanza untuk berberes dan meletakkan barang barang bawaan khanza kekamar yang akan ditempatinya, ia akan menempati kamar khalisa, ya ia akan sekamar berdua dan khanza serta khalisa tisak keberatan akan hal itu
Khalisa malh senang, jika ia tidur ditemani oleh khanza, begitupun sebaliknya, mereka melanjutkan obrolan ringan mereka dikamar khalisa, dan sementara para tetua masih berbincang diruang tamu
Khalisa meminta khanza untuk jangan sungkan meminta bantuannya jika menginginkan sesuatu, dan khanza mengangguk mengerti, khanza berterimakasih kepada aluna dan khalisa karena telah menerimanya dan memperlakukannya layaknya seperti saudara sendiri
.
.
.
...Bersambung...
...Jangan lupa komen, like, vote dan hadiahnya...
__ADS_1
...Terimkasih readers 🥰🤣...