Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
43


__ADS_3

Tiga hari berlalu. . .


Khanza melewati harinya seperti biasa, ia pergi bekerja dengan menggunakan buss, begitupun dengan pulangnya, tak dipungkiri khanza merasa kehilangan yang teramat sangat, ia kehilangan kekasihnya, temannya, dan tempatnya bercerita, walaupun hubungan mereka belum terhitung lama, tetapi kedekatan mereka sudah sangat dekat dikarenakan mereka bertemu setiap hari


Tak jarang daniel menghubungi khanza, setiap kali daniel menghubungi khanza baik itu melalui sambungan telefon ataupun hanya berkirim pesan khanza selalu meneteskan air matanya, ada rindu yang sangat dalam yang ia rasakan pada mantan kekasihnya itu, namun ia berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak terlalu berkomunikasi dengan daniel


Ia takut jika ia tidak bisa lepas dari daniel, sejak ia berpisah ia selalu menumpahkan air matanya diatas sajadah, ia melepaskan rasa sakitnya dengan cara menangis dan bercerita kepada Sang Penguasa, ia merasa lega jika sudah melakukan hal seperti itu dan itu terus berulang


...****************...


Pagi ini khanza sedang menunggu dihalte buss, sudah tiga hari ini ia seperti melihat mobil daniel dari kejauhan setiap ia hendak menaiki buss, ia selalu memperhatikannya namun ia tidak bisa memastikan jika itu benar daniel atau tidak


Perasaannya kuat mengatakan jika itu daniel, khanza yang penasaran memberanikan diri untuk menghubungi daniel melalui pesan singkat, ia akan menanyakan hal tersebut, jika itu bukan daniel maka ia perlu berhati hati karena ada penguntit yang mengikutinya


"Morning daniel, maaf menganggu waktumu, aku hanya ingin bertanya apakah selama ini kamu mengikutiku naik buss?? Bukan maksud apa apa, hanya saja jika itu bukan kamu maka aku perlu berhati hati"


Lama khanza menunggu daniel membalas pesan singkatnya, hingga ia mencapai kantornya pun daniel belum membalas pesan singkatnya, khanza pun tidak memperdulikan itu, ia berjalan menuju keruangannya untuk bertemu aluna


"Pagi mbak" ucap khanza tersenyum, ia melihat aluna yang tergesa gesa merapikan meja dan tasnya


"Pagi juga dek" jawab aluna singkat, ia sibuk mengemasi barang barangnya


"Ada apa mbak? Kenapa cemas begitu?" tanya khanza


"Mbak harus pulang dek, mbak harus kepondok, abi...abi terjatuh lagi dan kali ini sedikit parah, mbak barusan mendapat panggilan dari mas baim"


"Astagfirullah mbak, ya sudah, aku bantu beresin ya mbak" tawar khanza dan aluna mengangguk


"Makasi ya dek, mbak harus ke HRD untuk izin dulu" ucap aluna


"Ya sudah mbak pergi aja ke HRD, biar ini aku beresin" aluna mengangguk mendengar ucapan khanza, khanza tersenyum sambil membereskan berkas berkas yang ada dimeja aluna


Tak lama kemudian aluna kembali, ia mendekat kearah khanza


"Gimana mbak? Dikasi izin?"

__ADS_1


"Alhamdulillah dikasi dek, mbak pamit dulu ya" ucap aluna mereka berpelukan sebentar


"Hati hati mba salam sama umi dan abi, InsyaAllah nanti khanza jengukin abi" ucap khanza mengantar aluna sampai kedepan pintu ruangannya


"Makasi ya dek, assalamualiakum" ucap aluna pergi meninggalkan khanza


"Waalaikumussalam" jawab khanza melambaikan tangannya, khanza pun kembali masuk keruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya


Saat sedang asik bekerja, ponsel khanza berbunyi dan itu ternyata pesan daniel, daniel baru membalas pesan dari khanza


" Morning juga nona, maaf aku baru bisa membalasnya, tidak perlu terlalu berhati hati, aku hanya memastikanmu sampai dengan selamat baik dikantor maupun dirumah"


Membaca pesan singkat dari daniel membuat khanza tertunduk berpangku tangan dimeja, ia terharu namun juga sedih, sebegitu cintanya daniel padanya hingga melakukan hal hal seperti itu, khanza menghela nafasnya


"Mulai besok jangan lagi seperti itu, kamu hanya membuang waktumu daniel, aku sudah terbiasa naik buss dan Insya Allah aku akan baik baik saja, terimakasih sudah menjagaku tapi please jangan lakukan lagi, kamu menyakitiku daniel, aku sangat sakit melihatmu seperti ini...please"


Ya khanza merasa dengan daniel, ia sama sepertu daniel, juga sangat mencintai daniel namun ia berusaha menahannya dan mencari kesibukan lain seperti mengaji dan membantu ibu atau ayah dirumah agar ia tidak larut dalam kesedihannya


Ting ponsel khanza kembali berdenting, daniel membalasnya lagi, kalau sudah soal daniel khanza melupakan kerjaannya


Balasan pesan singkat dari daniel membuat air mata khanza berlinang, ia tak kuasa membalas pesan daniel lagi


"Sungguh beruntung yang akan menjadi istrimu daniel, pasti kau akan mencintainya melebihi kau mencintai aku dan kau akan memperlakukannya dengan sangat manis, kau begitu menjagaku padahal kau tahu kita berbeda, bagaimana dengan istrimu nanti, pasti dia akan sangat bahagia" khanza berbicara pelan seorang diri sambil menatap pesan singkat yang dikirim oleh daniel


Khanza menghela nafasnya dan menghapus air matanya yang jatuh, ia meletakkan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya, ia harus profesional jika masih ingin bekerja, jangan terlalu larut dalam kesedihan hingga ia melupakan kerjanya


...****************...


Siang hari dipondok pesantren, abi sedang berada dirumah sakit, baim dan aluna sudah sampai dirumah sakit, mereka langsung berkunjung kerumah sakit untuk melihat abi, sementara atthar masih dijalan karena ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya dulu


"Assalamualaikum umi, abi" sapa baim dan aluna ketika mereka tiba di rumah sakit


"Waalaikumussalam" umi berdiri menangis memeluk anak dan menantunya, aluna mengusap punggung umi menenangkan umi


"Kenapa abi bisa jatuh umi?" tanya baim membawa umi kembali duduk

__ADS_1


"Abi kamu sedang demam nak, ia mau kekamar mandi dan ntah bagaimana ia terjatuh" ucap umi sedih


"Apa lantainya licin umi? Atau bisa jadi kepala abi mungkin pusing" ucap baim


"Umi juga tidak tau nak, umi sedang memasak didapur dan khalisa sedang dipondok, umi mendengar seperti suara benda terjatuh kuat lalu umi segera melihat ketempat tidur abi kamu ternyata ia tidak ada lalu umi mendengar suara ketukan dari kamar mandi dan umi melihat abi kamu sudah tergeletak nak, ia mengetuk ngetuk pintu dengan tongkatnya agar umi tahu ia berada dikamar mandi"


"Ya Allah umi, lalu bagaimana umi? Siapa yang membantu umi mengangkat abi?" tanya baim lagi


"Umi membenarkan posisi abah kamu yang terbentur bak kamar mandi lalu umi memanggil anak anak pondok dan ustad untuk membantu dan mereka membantu umi" aluna terus mengelus punggung umi saat umi bercerita, ia tahu umi sangat terpukul melihat abi terbaring lemas


"Apa abi sudah pernah sadar umi?" tanya aluna


"Belum nak, abi kamu pingsan saat diperjalanan kerumah sakit dan sampai sekarang belum sadar" jawab umi semakin sedih


"Apa sudah dilakukan pemeriksaan umi?" tanya baim


"Sudah nak, sekarang hanya menunggu hasilnya saja" jawab umi


Khalisa datang dengan terburu sambil menangis, ia memasuki ruangan yang ditempati abi dan umi


"Umiiii...abi kenapa? Kenapa tidak memanggil khalisa? Hiks...hiks..."


"Sudah dek abi tidak kenapa napa, doakan abi ya" jawab baim menenangakan khalisa


.


.


.


...Bersambung...


...Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya...


...Terimakasih readers 🥰🙏...

__ADS_1


__ADS_2