Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
126


__ADS_3

Alhamdulillah khanza tidak perlu untuk dirawat inap, dokter memberikan beberapa obat diantaranya obat demam, obat anti nyeri dan antibiotik serta vitamin


Khanza diperbolehkan pulang oleh dokter namun jika setelah obat habis sakitnya tidak berkurang maka khanza harus kembali kedokter


Atthar bersyukur istrinya tidak kembali nginap dirumah sakit, itu pasti akan berat bagi khanza, khanza diminta beristirahat dan tetap tenang, selama khanza sakit ayah dan ibu menunda kepulangan mereka, mereka benar benar merawat anaknya dengan penuh kasih sayang yang tidak pernah berubah dari dulu


"Ibu..maafkan khanza ya yang sampai sekarang masih merepotkan ibu dan ayah" ucap khanza pelan


"Kamu anak kami sayang, bagaimana mungkin seorang ibu direpotkan oleh anaknya, kami akan menjagamu hingga nafas kami terhenti" ibu menjawab kekhawatiran khanza dengan mengusap kepala anaknya


Khanza tersenyum, ia senang kembali merasakan hangatnya kasih sayang ibu yang seperti dulu, ya seperti ia belum bersuami dulu


"Makasi ibu, khanza sayang ibu dan ayah, jika ayah dan ibu pulang tidak apa apa, pulangla..khanza sudah sedikit membaik lagi pula mas atthar ada bu, dia selalu siaga untuk khanza" khanza tidak ingin membebani kedua orang tuanya dan khanza juga tidak ingin jika nanti ibu dan ayahnya sakit karena kecapean


"Iya sayang, kamu beruntung sekali bisa menjadi suami atthar, dia selalu ada disaat kamu butuh, ibu juga melihat dia sangat mencintai kamu dan agama top banget" ibu memuji menantunya


"Iya bu, khanza sangat beruntung menjadi istri mas atthar" khanza tersenyum pada ibu


"Mas atthar saja yang tidak beruntung bu beristrikan khanza, khanza tidak bisa memberi apa apa padanya, khanza hanya merepotkannya saja" ucap khanza tersenyum masam


"Siapa bilang mas g beruntung beristrikan kamu" atthar tiba tiba datang dengan membawa nampan yang berisikan makanan


Ibu tersenyum mendengar atthar berbicara, ibu pamit untuk keluar dan membiarkan sepasang suami istri itu untuk berbicara


"Mas sangat beruntung beristrikan kamu sayang, cantik, pintar, soleha, bisa melayani suami dengan baik, dan memberikan mas seorang anak surga, masyaAllah nikmat mana lagi yang mas dustakan" atthar berucap pelan memegang tangan istrinya


Khanza tersenyum mendengar akhir kalimat suaminya, sunggu atthar suaminya benar benar pengobat segala rasa sakit, atthar selalu bisa menghiburnya

__ADS_1


"Beneran mas? Tapi anak kita g dipelukan kita, khanza g bisa membuat dia berada dipangkuan kita sekarang" ucap khanza lembut, ia kembali bersedih mengenang anaknya


"Sayang, hidup mati jodoh dan rezeki itu Allah yang atur, sekeras apapun kita berusaha jika itu bukan jodoh kita maka tidak akan pernah bersama, Allah telah mengatur kehidupan kita sebaik mungkin dan itulah yang terbaik baginya, Dia maha mengetahui sayang, ikhlaskan walau sulit dan terima walau pahit" atthar memberikan kultum kepada istrinya


"Anak kita telah menjadi anak surga yang kelak akan membawa kita ke surga Nya Allah InsyaAllah, jadi jangan disesali sayang dan jangan menyalahkan diri sendiri, ini sudah ketentuan Nya dan sudah takdir kita" sambung atthar memeluk istrinya, khanza kembali mengeluarkan air matanya


"Nah sekarang umma abdullah tidak boleh menangis lagi, mas suapin makan ya trus minum obat biar cepat sembuh dan kita bisa berkunjung kemakan abdullah" atthar membujuk istrinya dan beruntung istrinya menurutinya


...**********...


Seminggu sudah waktu berlalu, khanza sudah sembuh dari sakit payud*ranya, ibu dan ayah juga sudah pulang begitupun dengan aluna dan baim, rumah ummi kembali seperti biasa, sepi dikarenakan mereka hanya tinggal bertiga, sedangkan atthar dan khanza sudah kembali kerumah mereka lagi


Sejak kepergian anaknya abdullah, khanza memang sedikit berubah, ia lebih banyak diam dari pada bicara, masih terlihat jelas diwajahnya kesedihan yang masih sangat dalam


Setiap sebelum tidur, khanza selalu mengulangi video video anaknya berserta foto yang ia abadikan, itula sebagai pelepas rindunya pada anaknya


Atthar berusaha menghibur istrinya, sejak ia sembuh dari sakit payud*ranya khanza selalu meminta untuk berkunjung kemakan anaknya setiap pagi sebelum suaminya bekerja


Atthar sangat khawatir jika khanza terus terusan seperti ini, setiap ia ingin bekerja ia selalu mengajak khanza untuk bertemu teman temannya, itu dilakukan atthar agar khanza tidak mengalami stres berada dirumah sendirian dengan suasana hati yang masih bersedih, namun khanza selalu menolak ajakan suaminya, ia beralasan jika ia akan beres beres rumah dan memasak


Melihat khanza yang selalu menolak ajakannya, atthar pun meminta bantuan ummi untuk mengajak khanza kerumah ummi agar supaya khanza yidak kesepian dan terus menangisi anaknya, setiap hari atthar harus mencari cara agar istrinya tidak terus meratap dan kesepian


Ummi yang khawatir melihat khanza pun langsung menuju kerumah menantunya, ia mengajak khanza agar duduk dirumahnya, namun lagi lagi khanza menolak


"Khanza dirumah saja ummi, khanza bisa beres beres rumah" ucap khanza menolak halus


"G usah beres beres lagi sayang, bantu ummi aja yuk dirumah, ummi g mau kamu sendirian dirumah nak" ucap ummi lembut

__ADS_1


"Suamimu mengkhawatirkanmu sayang, ia tidak ingin melihat istrinya terus bersedih, ummi tau kehilangan anak yang sangat kita nantikan, itu sangat menyakitkan namun itu diluar kuasa kita sayang, Allah sedang menguji kamu dan atthar, Allah dan anak kamu juga tidak menginginkan kamu terus seperti ini, abdullah pasti sedih melihat ummanya selalu menangis, abdullah melihat ummanya dari surga bersama Allah" ummi berucap lembut sambil mengelus tangan menantunya


Khanza menangis mendengar ucapan ummi, ia memeluk ummi sambil menangis, ia melepaskan semua kesedihannya kepada ummi


"Khanza rindu abdullah ummi, hiks..hiks walaupun hanya sebentar khanza bisa menggendongnya tapi khanza benar benar merindukannya hiks..hiks" ucap khanza sambil menangis


"Khanza bisa merasakannya selama ia berada di dalam perut ummi, hiks..hiks.. 9 bulan ummi khanza merasakannya dan sekarang abdullah sudah pergi lagi, hiks..hiks khanza rindu ummi hiks..hiks khanza rinduuu" sambung khanza melepas kesedihannya


Ummi yang mendengar penuturan khanza pun turut menangis, ia turut merasakan kesedihan dan kerinduan menantunya


"Menangislah nak, jika rindu berdoalah, jika ingin menangis, menangislah, jangan memendam kesedihan karena hanya ingin menjaga perasaan suamimu, tidak ingin melihat suamimu khawatir karena kamu terus bersedih, lalu kamu memendam kesedihamu, itu tidak baik nak, jika ingin menangis, menangislah dibahu suamimu" ucap ummi mengusap punggung khanza


"Ia lebih senang jika kamu menangis dihadapannya sayang dari pada kamu menangis saat hendak tidur hingga tertidur, menangis sangat wajar dan tidak salah nak, ia khawatir karena kamu terlihat baik baik saja namun disaat hendak tidur bantalmu selalu basah ileh air mata" ummi menasehati menantunya


Khanza melepaskan pelukan ummi, ia berpikir dan menunduk merasa bersalah pada suaminya, ummi tersenyum mengelus kepala khanza


"Terimakasih sudah melepaskan kesedihanmu kepada ummi, ummi sangat senang sayang, tapi lain kali jangan menyembunyikannya dari suamimu, ia sangat khawatir nak" ucap ummi dan khanza mengangguk setuju, ia kembali memeluk ummi


.


.


.


...Bersambung...


...terimakasih readers...

__ADS_1


...jangan lupa like, koment dan vote...


__ADS_2