Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
12


__ADS_3

Khanza merasa malu berada ditengah tengah kluarga aluna, khanza berbisik kepada aluna, ia meminta aluna untuk kekamar bersamanya dan aluna mengikutinya


"Mbak...aku...boleh minjem baju g mbak?"


"Baju?? Memangnya kenapa dek?" tanya aluna heran


"Aku malu mbak, hijabku cuma seadanya begini, pake celana pula, bajunya juga g panjang panjang banget"


Aluna terharu, ia memeluk khanza


"MasyaAllah dek, mbak seneng banget dengernya, kamu masih merasa malu, padahal kamu sudah menutup auratmu" ucap aluna


Aluna melepaskan pelukannya, ia memanggil khalisa adik iparnya, ia membicarakan sesuatu, tak lama khalisa pergi dan kembali lagi membawa sesuatu dan memberikannya kepada aluna


"Dek ini baju khalisa, bukannya mbak g mau minjemin baju mbak ke kamu, tapi hijab mbak terlalu panjang buat kamu, takutnya bikin kamu g nyaman karena belum terbiasa" aluna mengeluarkan baju yang dibawa khalisa dari paper bag ditangannya


"Ini baju khalisa tidak terlalu panjang, mbak rasa ini cocok untuk kamu, coba dulu aja ya" sambung aluna dan khanza mengangguk mengerti


Ia pun berganti baju dan MasyaAllah ia terlihat sangat anggun dan sangat cantik, aluna kembali masuk kekamar dimana khanza berada, ia tersenyum lebar melihat khanza yang begitu anggun dan cantik dengan gamis khalisa yang ia kenakan


"MasyaAllah cantik banget kamu dek, anggun sekali, adem banget liatnya" ucap aluna kagum


Khanza tersipu malu "Mbak bisa aja, lebih anggun dan cantikkan mbak kemana mana tau"


"Ya sudah yuk keluar, sekarang uda g malu lagi kan? Umi ngajakin makan"


"Baik mbak ayo"


Aluna membawa khanza keluar dari kamar dan bergabung bersama ayah umi mas baim dan juga mas atthar, atthar pangling melihat khanza yang menggunakan gamis, ia sangat anggun, sanking cantiknya atthar lupa menjaga pandangannya, umi memperhatikan anak laki laki bungsunya


"Ehem.." umi berdehem, umi sengaja mengeraskan suaranya agar atthar menyadari kesalahannya


"Astagfirullahal'adzim" ucap atthar dalam hati sambil menundukkan kepalanya, ia sadar akan kesalahannya


Umi dan aluna saling menatap dengan senyuman, mereka merasa lucu dengan tingkah atthar, tetapi khanza tidak menyadarinya


"MasyaAllah cantik sekali nak khanza" ucap umi memuji

__ADS_1


"Makasi umi, maaf khanza meminjam baju khalisa umi, khanza tidak ada baju seperti ini umi" khanza merasa tidak enak hati


"Tidak apa apa nak, mari kita siapkan makanannya" khanza mengangguk mengiyakan ajakan umi


Para wanita pergi kedapur untuk menyiapkan makan, bisa disebut juga sebagai sarapan karena waktu masih menunjukkan pukup 09.00 wib


"Maaf khalisa merepotkan kamu, kakak pinjem dulu ya bajunya" ucap khanza pada khalisa


"Tidak apa apa kak, pakai dulu saja, selama disini kakak pakai saja baju khalisa" ucap khalisa ramah, khanza tersenyum lembut ia mengusap bahu khalisa


"Umi...apa abi sedang tidur? Khanza belum menyapa abi umi" ucap khanza, ya sedari khanza sampai ia memang sama sekali belum menyapa abi karena khanza sangat sungkan takut jika menganggu abi yang sedang istirahat


"Tidak usah g enak begitu, abi memang seperti itu, ia terus memejamkan matanya berdzikir, tapi jika nak khanza menyapanya maka ia akan membuka matanya, umi juga salah belum memperkenalkan kamu sama abi" jelas umi


"Baiklah umi, tidak apa apa, masih ada waktu nanti" umi tersenyum pada khanza


Setelah menyiapkan makan pagi mereka, umi mengajak seluruh anggota keluarganya untuk makan dimeja makan, mas baim dan mas atthar menggendong abi untuk naik ke kursi roda yang digunakan abi selama kaki abi masih keseleo


Aluna menghidangkan makanannya, ia mengambil nasi dan laok pauk lainnya untuk seluruh anggota keluarga, umi mengenalkan khanza kepada abi


"Abi ini temannya aluna, tadi ia datang bersama aluna dan atthar" ucap umi


Aluna dan atthar tersenyum memperhatikan khanza, karena mereka tahu kemaren khanza tidak seperti itu


"Duduk nak khanza, jangan sungkan, anggap saja seperti rumah sendiri" jawab abi, khanza tersenyum mengangguk


Merekapun memulai makannya dengan hening, ya dikeluarga atthar memang menerapkan sunnah sunnah, makan tidak boleh berbicara dan tidak boleh berdiri


Setelah makan, khanza membantu khalisa dan aluna membereskan sisa sisa makanan, ia tidak canggung sama sekali karena dirumahnya ia juga seperti itu bahkan ia yang memasak


Setelah membereskan semuanya, mereka kembali berkumpul menemani abi, mereka berbincang bincang, abi menanyakan beberapa pertanyaan kepada khanza, seperti pertanyaan pada umumnya


"Nak khanza ini tinggal dimana?"


"Khanza tinggal di kota *** abi"


"Tinggal bersama ayah dan ibukah?"

__ADS_1


"Iya abi, khanza tinggal bersama ayah dan ibu, kami hanya tinggal bertiga karena khanza anak satu satunya abi" jawab khanza menjelaskan panjang lebar, abi pun mengangguk mengerti


"Sering seringlah main kesini ya nak"


"InsyaAllah abi" jawab khanza, yang lainnya hanya mendengarkan saja, mereka sangat menghormati abi, jika abi berbicara tidak ada yang berani untuk bersuara


Bukannya takut, tetapi mereka sangay menghormati abi mereka, mereka sangat mengedepankan adab


Kini giliran umi yang berbicara, umi meminta aluna untuk membawa khanza beristirahat terlebih dahulu


"Aluna ajakla khanza untuk beristirahat, kalian pasti lelah bukan"


"Tidak apa apa umi, khanza tidak lelah" ucap khanza tersenyum


"Iya umi, aluna akan membantu umi memasak..hari ini kita akan masak apa?"


"Kita akan masak yang spesial untuk tamu kita nak, kita harus menjamu tamu dengan baik bukan? sesuai sunnah yang dianjurkan"


"Iya umi, tapi umi, tamu kita pintar sekali memasak umi, kemaren aluna dan atthar juga dijamu oleh tamu kita, masakannya sangat lezat dan atthar juga mengakui itu" aluna menggoda khanza


"Mbak una bisa aja, jangan terlalu memuji mbak una" ucap khanza malu


"MasyaAllah selain cantik juga bisa memasak ya nak khanza, beruntung sekali yang akan menjadi suami nak khanza nantinya" umi melirik atthar dan atthar ternyata juga melihat kearah umi, umi tersenyum lembut


"Umi bisa saja, khanza masih belajar memasak umi, khanza juga akan membantu umi memasak nanti" ucap khanza


Umi tersenyum lembut begitu juga dengan aluna, mereka merasa senang dengan sikap khanza yang lembut dan santun


Umi terus memperhatikan atthar yang sesekali melihat kearah khanza, umi senang anaknya atthar masih menjaga pandangannya, ia tidak menatap khanza tetapi hanya sesekali memperhatikan, bisa dibilang 'curi curi pandang'


...Berambung...


...Jangan lupa like, vote, koment dan hadiahnya...


...terimakasih readers 🥰💐...


...Jangan bosan bisan ya...

__ADS_1


...Baca juga cerita novel lainnya di profil aku...


..."Menunggu cinta" dan "Ameera"...


__ADS_2