Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
110


__ADS_3

Mendengar cerita atthar aluna tersenyum, ia sangat mengerti perasaan khanza, karena ia sesama wanita dan juga pernah di fase seperti khanza


"Mbak juga pernah diposisi khanza, rasanya memang sakit dan kecewa thar, kita bertanya tanya kenapa Allah belum mengabulkan doa doa kita, kenapa Allah menundanya dan sebagainya" ucap aluna menjelaskan kepada atthar, atthar hanya diam dan mengangguk


"Mbak sangat mengerti apa yang dirasakan khanza, seperti kita tidak yakin dengan Allah dan kecewa, mbak juga pernah seperti itu, tetapi mas mu" aluna tersenyum


"Mas mu selalu mengingatkan mbak jika Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi umatnya, mbak ini ibaratkan khanza yang baru saja belajar mendalami agama jadi kami butuh bimbingan, dulu mas mu sering membawa mbak ke pengajian hampir setiap malam, mbak disibukkan dengan ibadah dan ibadah serta bekerja sehingga mbak berserah kepada Allah dengan sendirinya" aluna menepuk bahu atthar pelan


"Bersabarlah, ajak khanza untuk lebih mendalami agama kita, ajak dia kepengajian dan tausiah tausiah sehigga dia belajar dan benar benar berserah diri kepada Allah" atthar mengangguk mengerti


"Makasi ya mbak, aku akan ikutin saran mbak, aku hanya takut khanza stres mbak, dia tidak seperti biasanya" keluh atthar


"Atthar, dengan khanza begitu dia sudah dikategorikan stres loh, dan setau mbak waktu mbak kedokter kemaren dokter juga nyaranin calon ibu dan ayah tidak boleh stres" jawab aluna


"Oh iya mbak, kemaren mbak kedokter mana? Kebetulan kita juga mau kedokter" seketika atthar langsung kepikiran ia ingin memita rekomendasi dokter dari kakak iparnya


"Mbak kemaren kerumah sakit **** menurut mbak dokternya bagus dan dia perempuan, mbak hanya periksa 2x, kenapa g dilanjutin? Karena saat itu mbak uda berserah sama Allah, kalian coba aja siapa tau perantara rezeki Allah melalui dokternya" aluna tersenyum dan ia mengajak atthar untuk kembali bergabung bersama istrinya


Sementara khanza ia memeluk ponaannya erat, sangat telihat jelas dimata aluna jika ia sangat menantikan buah hatinya

__ADS_1


"Dek..." tegur aluna sambil meletakkan minuman dan cemilan yang ia buat tadi


Khanza menoleh dengan tersenyum namun ada jejak air mata di matanya dan aluna serta suaminya melihat itu, aluna mendekat dan mengambil anaknya dari pelukan khanza, khanza semacam tidak ingin lepas dari ponaannya, aluna hanya tersenyum


"Uwais main sama uncle dulu ya" aluna memberikan anaknya kepada atthar dan atthar membawanya ntah kemana, atthar paham betul jika aluna ingin berbicara berdua saja bersama khanza


Setelah atthar menghilang dari pandangan, aluna tersenyum melihat kearah khanza, ia mendekati khanza dan memeluknya


"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya aluna pelan


Khanza menjawab pertanyaan aluna dengan tangisannya yang semakin deras, aluna menepuk punggung iparnya, mereka masih berpelukan, aluna menenangkan khanza


"Menangislah, lepaskan, jangan dipendam tidak baik bagi kesehatan dan pikiran" ucap aluna lagi, ia terus memeluk dan mengusap punggung khanza


"Mbak menangis setiap malam, melihat orang orang yang sudah mempunyai anak diusia muda, membuat mbak berpikir kenapa Allah belum memberikan zuriat diusia mbak yang sudah hampir 30 tahun, terlebih lagi jika ada orang orang bertanya, sugguh itu sangat memilukan" sambung aluna, khanza mengangguk membenarkan ucpan aluna, aluna melepaskan pelukannya, ia menggenggam tangan khanza dan khanza mendengarkan apa yang aluna bicarakan namun ia masih saja menangis


"Percayalah dek, Allah maha tau apa yang tidak kita ketahui, mbak diberi amanah yang besar ini diumur mbak 33 tahun, mbak menunggunya hampir 6 tahun dan itu bukan waktu yang sebentar, mas baim terus menyadarkan mbak untuk selalu percaya dan menerima ketetapan Allah, kita tidak tahu kapan wakth yang terbaik menurut Allah, dengan umur mbak yang 33 tahun ini mbak sudah benar benar siap menjadi ibu InsyaAllah" terang aluna panjang lebar, ia tersenyum lembut pada khanza lalu menghapus air mata khanza yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri


"Menjadi ibu itu akan menyita waktu kita dek dan itu tidak mudah, jika mbak diberikan zuriat diawal pernikahan bisa saja mbak belum siap seperti sekarang, mbak bisa setres, baby blues dan lainnya karena diawal pernikahan dulu mbak juga sna seperti kamu mbak masih dalam tahap awal, mengenal dan belajar untuk mempekuat iman dan takwa mbak, dan sekarangpun mbak juga masih belajar, Allah bukannya tidak menjawab doa kita tapi Ia menundanya, Ia lebih tau yang terbaik untuk umatnya"

__ADS_1


"Kamu tau, saat mbak hamil uwais mbak sudah lama sekali pasrah dengan ketetapan Allah, dan disaat kita benar benar berserah pada-Nya dan percaya jika ketetapan-Nya lebih baik disaat itula ia memberikan apapun yang kita inginkan dan mengalami hal itu, beberapa doa mbak terdahulu mulai diijabah Allah, jadi berserahla pada-Nya jangan menghakimi-Nya dan jangan berburuk sangka pada-Nya" aluna mengakhiri ucapannya dengan tersenyum, ia memberikan minuman kepada khanza dan khanza menerimanya dan meminumnya


"Makasi ya mbak, benar apa yang mbak katakan, aku kecewa tapi ntah dengan siapa, terkadang mas atthar jadi imbasnya, apa lagi mendengar orang orang disekitar pondok menanyakan 'apa sudah isi' dan selalu pertanyaan itu" khanza menghela nafasnya


"Kita tidak bisa kontrol mulut dan ucapan orang orang dek, hati dan emosi kitalah yang harusnya kita kontrol, tidak apa apa mereka bertanya itu artinya mereka perduli dengan kita, diaamiinin aja dek, bukankah ucapan itu doa" jawab aluna tersenyum dan khanza mengangguk


Tak lama kemudian atthar dan uwais kembali bergabung bersama aluna dan khanza, atthar memberikan uwais kepada istrinya dan istrinya menyambutnya dengan riang, atthar melirik aluna sepintas dan aluna menganggukkan kepalanya mengartikan jika semua baik baik saja


Khanza dan atthar pun berpamitan, mereka akan segera kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kedokter kandungan


.


.


.


...Bersambung...


...Maaf banget readers tercintakuh...

__ADS_1


...Lagi rempong bener bener.....


...Doain ya next up setiap hari ❤️...


__ADS_2