
"Kenapa kamu tidak memilih anak bayi saja untuk diadopsi?" Tanya atthar dan khanza menatap suaminya seperti sedang berpikir
"Iya juga ya sayang" pikir khanza
"Tapi ntah kenapa khanza sangat menyukai sheina dari pertama kali khanza melihatnya, matanya menyimpan banyak kesedihan sayang, dan sikapnya yang terbuka serta sopan membuat khanza menyayanginya mas" sambung khanza
Atthar mengangguk mengerti, ia pun merasakan hal yang sama, ia dengan begitu saja menyayangi sheina
"Mas, nanti kapan kapan kita kesana lagi ya, siapa tau sheina berubah pikiran" ucap khanza tersenyum
Atthar mengangguk membalas senyuman istrinya, ia menggenggam tangan istrinya dan menciumnya, khanza tersenyum senang karena perlakuan suaminya terhadapnya tidak pernah berubah
"Oya satu lagi mas, juka mas ada waktu kita kedokter yuk, untuk cek rahim khanza, siapa tau khanza bisa hamil lagi" harap khanza
"Boleh sayang, terusla berharap pada Allah, dokter hanya menganalisa menurut ilmunya, namun ilmu Allah berbeda sayang, tidak ada yang tidak mungkin, maka teruslah berharap" atthar membelai istrinya lembut
Cukup lama mereka melakukan penerbangan, setelah tiba ditempat tujuan mereka yaitu kampung halamannya, atthar dan khanza sudah ditunggu oleh keponaan mereka yaitu uwais
Mereka tidak menginap dirumah uwais melainkan dirumah ibu khanza, khanza menceritakan semua perjalanannya semasa liburan, ayah dan ibu serta aluna dan baim merasa khanza sangat bahagia dengan liburannya
Tidak lupa khanza juga menceritakan soal sheina, ia juga bercerita jika sheina menolak untuk diadopsi, khanza senang karena keluarganya dan keluarga atthar mendukung apa yang ingin ia lakukan, tidak seorangpun mencegahnya, keluarga mereka malah meminta atthar dan khanza untuk terus membujuk dan berusaha agar sheina menjadi bagian dari keluarga mereka
Terlebih lagi keluarganya juga mengetahui jika khanza sulit untuk hamil lagi, setelah menginap dirumah ibu satu malam, khanza dan atthar pulang kepondok pesantren, atthar harus kembali bekerja
"Assalamualaikum" ucap khanza yang sedang melakukan panggilan diponselnya
"Waalaikumussalam, dengan siapa ini?" Ucap ibu panti
"Ini khanza bu, Alhamdulillah khanza sudah sampai dirumah bu bersama mas atthar" khanza memberi kabar kepada ibu panti
"Alhamdulillah sampai dengan selamat, salam sama nak atthar ya nak" balas ibu panti
"InsyaAllah bu, mas attharnya lagi diluar bu, oya bu apa sheina sedang sibuk?" Tanya khanza
"Ooh tidak bak, sebentar ya ibu panggilkan" ibu pergi memanggil sheina yang sedang bermain
"Assalamualaikum tante khanza" ucap sheina riang
__ADS_1
"Kapan tante kesini lagi? Sheina kangen" sambung sheina
"Hahahaa.. baru juga tante nyampe dirumah sayang, masak sudah kembali kesana" ucap khanza lembut
"Hihihii, tante apa kabar? Cepetan kesini lagi ya" sheina benar benar merindukan khanza
"Tante Alhamdulillah baik, kamu gimana? Jangan sering sendirian lagi ya, kalau butuh teman cerita hubungin tante saja, ok" khanza tersenyum senang mendengar suara sheina yang riang gembira
"Doain tante dan om agar segera kembali kesana, tante juga kangen sheina, kangen banget malah" sambung khanza
"Tante jaga kesehatan ya, biar tante dan om bisa kesini lagi secepatnya, aamiin" ucap sheina berharap
"InsyaAllah ya sayang, eh apakah anak tante udah makan? Makan apa?" Khanza bertanya seolah olah sheina benar benar adalah anaknya yang sedang tinggal berjauhan dengannya
Lama mereka mengobrol hingga atthar bisa mendengar beberapa obrolan mereka, atthar tersenyum, sekarang istrinya ada teman untuk bercerita, atthar berdoa jika lain kali ia pergi kesana, sheina berubah pikiran untuk ikut tinggal bersama bersama
Khanza menyudahi panggilan telefonnya bersama sheina, atthar melihat jika istrinya tersenyum dan ianpun menyapanya
"Senyum senyum sendiri ada apa sayang?"
Atthar pun demikian, ia menanggapi cerita istrinya dengan senyum bahagianya, meliht istrinya yang bahagia mengenal sheina atthar benar benar berharap mereka bisa kembali kepanti asuhan secepatnya untuk membawa sheina pulang kerumahnya
"Secepatnya kita kesana ya sayang, tapi sebelum itu kita akan kedokter dulu nanti" ucap atthar
"Gimana jika kita sudah kedokter kita langsung terbang kepanti, apapun yang dikatakan dokter InsyaAllah khanza ikhlas mas, khanza ikhlas dan ridho dengan ketentuan Allah SWT, InsyaAllah" ucap khanza tenang
"Makasi ya mas sudah menerima khanza dengan keadaan khanza yang seperti ini, takdir Allah memang sangat indah" sambung khanza
"Dari mulai kita yang dipertemukan, dijodohkan, bahkan..." ucapan khanza terhenti
"No sayang, kita tidak dijodohkan, mas lah yang meminta kamu, ntah kenapa mas sangat menyukai istri mas ini dulu, padahal mas sudah tunangan dan mas membatalkannya, untung saja mereka tidak marah, dan lagi lagi bukan jodoh, semuanya tidak luput dari pengaturan Allah" atthar menyela ucapan istrinya
"Ooh beneran mas? Mas batalin tunangan dulu itu gara gara ingin menikahi khanza?" Khanza sedikit terkejut dan atthar mengangguk membenarkan ucapan istrinya
"Mas sidah istikharah sayang, tahajud dan berdoa kepada sanga pemilik takdir, Allah meyakinkan hati mas untuk memutuskan pertunangan itu, Alhamdulillah keluarga mas mendukung mas, ummi juga sangat mendukung karena ummi sudah menyukai kamu diawal kalim bertemu" jelasn atthar menceritakan masa lalu mereka
"Yang waktu itu khanza diajak mbak una ya mas, ya Allah mas khanza g tahu loh mas memutuskan pertunangan gara gara khanza" ucap khanza terkejut
__ADS_1
Atthar tersenyum lalu memeluk istrinya, ia mencium kening istrinya, lalu kedua matanya, turun kehidung lalu kedua pipinya dan atthar mengecup manis bibir istrinya, turun lagi kedahu dan terakhir atthar mencium leher istrinya, atthar memeluk istrinya erat, ia memutar tubuh khanza agar ia bisa memeluk istrinya dari belakang untuk melanjutkan cerita, atthar menopangkan dagunya dibahu khanza
"Mas menyukai kamu sudah sejak lama, mendengar kamu sudah ada pasangan, mas mundur dan berpikir bahwa kamu bukanlah jodoh mas, mas pun berniat untuk ta'aruf karena ummi sudah terus bertanya kapan mas nikah" atthar tertawa geli
"Ustad itu mempertemukan mas dengan aina, mas sudah berusaha sayang untuk menyukai aina" khanza memalingkan wajahnya untuk melihat suaminya
"Itu dulu sayang" jelas atthar yang paham dengan tatapan istrinya
Khanza tersenyum geli, attharpun melanjutkan ceritanya
"Mas sama sekali tidak bisa menyukainya, yang ada dipikiran mas dari dulu hingga sekarang adalah kamu, mas tidak mau menikahinya tapi menyakiti hati aina nanti, mas tidak mau berdosa sepanjang pernikahan mas" sambung atthar
"Mendengar kamu berpacaran dengan daniel yang tidak seagama, mas rasa mas ada peluang dan disitula mas ingin menyelamatkan kamu, setiap malam mas memintamu kepada Allah dan karena yang minta bukan istri orang, Alhamdulillah Allah memudahkan semuanya sayang hingga sekarang dan sampai akhir hayat mas nanti" atthar bercerita panjang lebar
Khanza memutar tubuhnya, ia memeluk suaminya erat, bahkan ia meneteskan air mata
"Terimakasih sudah memilih khanza mas, dan sudah menerima segala kekurangan khanza yang sampai sekarang belum bisa memberikan zuriat untuk mas"
"Kita punya Abdullah sayang, jangan lupakan anak surga kita" atthar kembali menyela ucapan istrinya
"Maksud khanza" belum sempat khanza menyelesaikan ucapannya atthar sudah membungkam mulut istrinya dengan ciuman hangatnya, khanza tersenyum menerima ciuman dan sentuhan suaminya
.
.
.
...Bersambug...
...Maaf lama up lagi ada urusan bestie...
...Terimakasih sudah menunggu...
...beberapa episode lagi kita end ya...
...terimakasih readers πΉπ«Άπ»...
__ADS_1