Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
65


__ADS_3

Atthar dan khanza pergi membawa abi kerumah sakit, abi dibawa dengan menggunakan kursi roda, karena kaki abi belum begitu menumpu berat tubuhnya


Diperjalanan khanza hanya mendengarkan atthar dan abi berbicara, mereka lebih membahas tentang pondok pesantren, abi hanya bertanya sesekali saja pada khanza


"Bagaimana pekerjaanmu nak? Apa menyenangkan tinggal dan bekerja dipondok abi?" tanya abi


"Alhamdulillah khanza senang abi, dan khanza sangat betah disini abi, terimakasih abi karena sudah mengizinkan khanza bergabung dipondok pesantren abi" jawab khanza sungkan


"Sama sama nak, alhamdulillah jika kamu betah, siapapun bisa bergabung untuk bekerja atau belajar dipondok abi tanpa terkecuali, selama abi bisa membantu abi akan bantu, karena jika membantu dan memudahkan urusan orang lain maka Allah SWT akan berlaku demikian juga kepada kita" jelas abi tersenyum


"Iya abi" jawab khanza


Tak lama kemudian mereka dirumah sakit, atthar membantu abi untuk turun dari mobilnya sementara khanza memegang kursi roda milik abi, setelah abi menaiki kursi rodanya khanza mendorong dan membawa abi masuk kedalam rumah sakit


"Sudah, sini mas saja yang dorong abi" tawar atthar pada khanza


"Tidak apa apa mas, mas pergi mendaftar saja, biar khanza yang membawa abi masuk, dan kami akan menunggu diruang tunggu" ucap khanza


"Baiklah khanza terimakasih" ucap atthar, kemudian atthar berlalu mendahului khanza untuk mengantri dipendaftaran


Khanza dengan senang hati mendorong abi masuk ke ruangan tunggu, ia mendorong dengan pelan


"Abi...apa boleh khanza bertanya?'' ucap khanza, mereka sudah berada diruangan tunggu


"Ya nak khanza, mau bertanya apa?'' ucap abi mempersilahkan khanza bertanya


"Bagaimana dulunya abi dan umi mendidik anak anak abi? Sehingga menjadi anak soleh dan soleha seperti sekararang?" tanya khanza penasaran


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" abi balik bertanya dan khanza tersenyum


"Tidak ada abi, khanza hanya merasa sangat berat abi, bangun jam 3, sholatnya banyak, sholat sunah dan sholat wajib, senin dan kamis harus berpuasa, apa khanza berdosa abi jika merasa seperti itu?"


Abi tersenyum melihat khanza, abi merasa khanza hanya belum terbiasa karena ia baru saja bergabung dipesantren dan mungkin sedikit kaget dengan aturan dipesantren juga dirumahnya


"Jika ingin menjadi baik, rintangannya memang berat nak, dan itula cobaannya, tanda Allah menyayangi kita adalah dengan memberikan kita ujian, kita diminta untuk bersabar dan tidak menyerah, teruslah berharap pada-Nya minta diberi kemudahan dalam segala urusan dan mintalah agar kita tetap istiqomah" jelas abi


"Jika surga itu murah, maka akan mudah untuk kesana, dan mungkin saja tak seindah yang Allah janjikan"


"Karena Allah menjanjikan surga itu sangat indah bahkan indahnya tidak bisa kita bayangkan, maka dari itu untuk masuk kesana juga tidak mudah, bayangkan saja disana tersedia apa yang kita mau, dan segalanya akan kita dapatkan disana"

__ADS_1


"Tapi islam tidak pernah menyulitkan umatnya nak, sholat wajib yang berdosa untuk kita tinggalkan hanyalah sholat 5 waktu, sedangkan sholat sunat dan puasa sunat, jika dikerjakan berpala dan ditinggalkan tidak apa apa, kita bisa memilih"


"Namun jika kita memilih untuk sholat sunat, maka itu akan menambah amal baik ditimbangan kita nanti, dan juga yang sunat akan menutupi kekurangan yang wajib, misalnya sholat kita belum khusyuk maka sholat sunatlah yang akan jadi penyempurnanya"


"Allah tidak butuh sholat kita nak, kitalah yang membutuhkannya, kita sholat dan melakukan ibadah lainnya untuk mendapat ridho Allah dan kita mengejar surgaNya, surga dan neraka itu kita yang tentukan, jika ingin ke surga Allah maka patuhila perintahnya, jika ingin neraka ya kita bisa hidup suka suka kita" jelas abi panjang lebar


"Abi rasa kamu hanya belum terbiasa, nanti jika sudah terbiasa, kamu akan merasa kekurangan jika meninggalkan satu sholat sunat saja, bersabarla nak" abi tersenyum


"Berubah itu gampang nak, dari yang belum menutup aurat menjadi tertutup, namun yang susah itu istiqomah, menjaga agar ia selalu tertutup" abi kembali tersenyum menasehati khanza yang masih belajar


"Terimakasih abi, maafkan jika khanza mengeluh abi"


"Tidak apa apa nak, namanya juga belajar dan kamu lama lama kamu akan terbiasa nantinya, menjadi memang berat nak, godaannya sangat banyak" ucap abi dan khanza mengangguk tersenyum


Tak lama kemudian, terlihat atthar datang menemui abi dan khanza


"Itu mas atthar abi" ucap khanza melihat atthar yang berjalan kearahnya


"Sudah abi, mari kita menunggu ditempat terapi abi" ucap atthar


"Sini mas khanza saja yang mendorong abi" ucap khanza ingin meraih kursi roda abi namun kalah cepat dengan atthar


Mereka menuju ketempat terapi untuk menunggu giliran terapi


"Apa kamu sudah mendapatkan jawaban dari istikharahmu nak?" tanya abi dan khanza mendengar itu


Atthar melihat kearah khanza sejenak, tatapan mereka bertemu walau hanya tiga detik


"Sudah abi, atthar sudah mendapatkan jawabannya" tanpa atthar jawabpun abi sudah tahu jawabannya


"Lalu apa yang akan kamu katakan kepada ustad bahar dan aina?'' tanya abi


"Atthar masih bingung abi, atthar tidak tahu harus berkata apa kepaa ustad bahar dan aina" atthar kembali melirik khanza sebentar, khanza hanya menunduk mendengarkan obrolan kedua ayah dan anak itu


"Terus teranglah nak, jika berbohong kamu akan berdosa dan Allah akan murka" ucap abi


"Atthar juga terfikirkan seperti itu abi, atthar akan jujur dan menceritakan semuanya, atthar juga tidak sembarangan mengambil keputusan, atthar sudah melakukan sholat istikharah dan atthar yakin itu adalah petunjuk dari Allah" ucap atthar panjang lebar


"Allah lebih tahu apa yang baik untuk umatnya, pergilah secepatnya kerumah ustad bahar, minta maafla kepadanya dan aina, mungkin kalian memang belum berjodoh" ucap abi

__ADS_1


Mendengar ucapan abi, khanza melihat kearah atthar sesaat dan ia kembali menunduk, ia sangat ingin bertanya namun sungkan dan tidak mau ikut campur


"Mas atthar dan mbak aina belum berjodoh? Apakah mereka membatalkan ta'arufnya?" ucap khanza dalam hati


Khanza lagi lagi melihat kearah atthar dengan wajah yang penuh tanda tanya, atthar juga melihat kearah khanza dan khanza kembali menunduk


Atthar tersenyum melihat tingkah khanza, sepertinya ia tahu jika khanza ingin bertanya sesuatu namun sungkan, attharpun hanya diam saja


Tak lama kemudian nama abi dipanggil oleh seorang perawat terapi untuk melakukan terapi, atthar dan khanza mengikuti abi untuk melihat bagaimana perkembangan abi saat diterapi


Khanza dan atthar duduk dikursi khusus pendamping pasien, khanza ingin sekali bertanya namun ia masih ragu


"Mas....." panggil khanza


"Ya..ada apa" jawab atthar


"Apa khanza tidak salah dengar? Jika tadi abi mengatakan bahwa mas dan mbak aina belum berjodoh?" tanya khanza


"Memangnya kenapa?" atthar sengaja balik bertanya


"Apa mau menggantikan posisi aina?" ucap atthar tersenyum menggoda khanza


Belum sempat khanza menjawab, atthar dipanggil oleh petugas terapi untuk memberitahu keadaan abi saat ini


Atthar pun meninggalkan khanza yang terdiam tercengang mendengar ucapan atthar


.


.


.


...Bersambung...


...jangan lupa like, vote, koment, dan hadiahnya...


...Malam up lagi ya...


...Terimakasih readers...

__ADS_1


__ADS_2