Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
70


__ADS_3

Tiga Hari Berlalu. . .


Sabtu ini atthar dan keluarganya akan pergi kerumah ustad bahar, mereka akan menunggu baim dan aluna tiba dirumah pagi ini, lalu mereka akan menyampaikan rencana atthar yang akan berkunjung kerumah ustad bahar


Pukul 10.00 wib barat, baim tiba dirumahnya, setiap minggu ia akan menginap dirumah kedua orang tuanya


"Assalamualaikum " ucap aluna dan keluarga mertuanya menyambutnya dengan baik dan penuh kasih sayang


"Loh kenapa abi tidak dirumah sakit? Bukankah hari ini harusnya abi melaksanakan terapi?" ucap baim


"Sudah nak, hari senin dan kamis kemaren, Alhamdulillah abi sudah semakin baik, abi juga sudah bisa berjalan dengan menggunakan tongkat" ucap abi gembira


"Ahamdulillah, senang mendengar kemajuan abi yang begitu pesat" ucap baim yang merangkul abi gembira


"Iya Alhamdulillah abi berangsur pulih seperti semula" ucap aluna tersenyum


Umi dan abi mengajak anak dan menantunya untuk masuk, didalam rumah atthar menyambut baim dengan pelukan hangat


"Duduk dulu mas, atthar mau bicara" ucap atthar dan baim menuruti atthar


Umi, abi dan aluna juga duduk mendengarkan, sementara khanza dan khalisa sedang berada dipesantren


"Jadi bagaimana? Mas dengar kamu sudah memutuskan pilihanmu" tanya baim


"Alhamdulillah sudah mas, InsyaAllah sore ini atthar dan abi akan kerumah ustad bahar, mas ikut ya sama mbak" ucap atthar


"Baiklah, semoga tidak memutuskan silahturahmi kita dengan ustad bahar" ucap baim


"Aamiin, abi rasa ustad bahar akan mengerti jika atthar dan aina tidak berjodoh, yang penting kita ada itikad baik nak InsyaAllah Allah memudahkan urusan kita sore ini" ucap abi


...****************...


Dipesantren khanza kembali dibuat galau oleh daniel yang semakin hari semakin sering menghubungi dan mengirim pesan


Khanza dibuat kesal oleh sikap daniel, sikap daniel sedikit merubah moodnya dalam bekerja, ia jadi kesal dan sedikit pendiam


"Khanza, apa g bosan mendengar ponselmu berdering terus?" tanya ziyan lembut


Khanza meletakkan pulpen yang sedang ia pegang, ia menghembus nafasny kasar


"Bosan zii, tapi aku harus apa?" ucap khanza sedikit merengek karena kesal


"Ya diangkat aja, katakan kepada daniel jika kamu tidak bisa diganggu dan berhenti mengganggumu" ucap ziyan


"Kalau orang sudah dibutakan cinta, mana bisa diomongin zi, yang salah aja jadi benar" timbal anisa dan itu membuat khanza sedikit tersenyum


"Kamu suka bener ya nis" ucap khanza

__ADS_1


"Benerkan? Kamju juga seperti itu bukan?" anisa bertanya memicingkan matanya dan khanza mengangguk memanyunkan bibirnya


"Memangnya apa yang kamu benarkan?" tanya anisa ingin tahu


"Ya sering pergi berdua, pergi kantor, pulang kantor berdua dan terkadang aku sampai lupa kewajibanku jika sudah bersamanya" ucap khanza merenung kesal


"Yang berlalu biarlah berlalu, sekarang waktunya bertaubat dan memperbaiki diri, kita doain sakitmu akan segera terobati ya" ucap ziyan mendoakan khanza


Khanza tersenyum mengaminkan ucapan ziyan, mereka kembali fokus bekerja hingga waktu kerjanya berakhir dan mereka segera pulang kerumah masing masing


"Gimana istikharahmu? Apa sudah mendapat jawaban?" ziyan kembali bertanya


Khanza terdiam berpikir, ia mengingat mimpi yang datang padanya tadi malam


"Ntahla zii, aku hanya bermimpi jika aku berada dipesantren bersama seorang laki laki, tapi aku tidak tahu itu siapa, yang pastinya bukan daniel, dia menggandeng tanganku erat dan membawaku kesebuah taman yang sangat indah dipesantren ini" ucap khanza mengangguk yakin dengan mimpinya


"Bisa saja itu petunjuknya, jika kamu lebih baik tidak bersama daniel dan semoga mimpiimu menjadi kenyataan, akan ada pangeran soleh yang membawamu ketaman surga" anisa tersenyum dengan hayalannya


"Yang mimpi siapa yang ngayal siapa ya?" ucap ziyan menggoda anisa


"Apa benar zii itu petunjuknya?'' tanya khanza


"Bisa jadi iya, tapi coba aja kamu tanyakan sama pak kiyai, umi atau ustad atthar" ucap ziyan dan khanza mengangguk setuju


Khanza akan menanyakan mimpinya kepada atthar jika mereka bertemu nanti dan ada kesempatan untuk bicara


...****************...


Khanza bukan tidak ingin ikut, namun ia merasa jika ia hanyalah orang luar bukan keluarga inti jadi khanza tidak ingin ikut campur urusan keluarga abi


"Kamu g ikut dek?'' tanya aluna


"G lah mbak, g enak, khanza dirumah aja" ucap khanza


"Khal...jika kamu ingin ikut pergi aja g apa apa, mbak bisa kok tinggal sendiri dirumah" sambung khanza


"G lah mbak, urusan orang tua, khalisa dirumah aja deh" ucap khalisa


"Baiklah kalau begitu, baik baik dirumah ya" ucap aluna


Khanza dan khalisa mengantar abi, umi dan yang lainnya hingga didepan pintu rumah, khanza tersenyum melihat atthar, ia ingin menyemangati atthar seperti atthar yang juga peduli dengan masalahnya


Khanza tersenyum dan mengangkat sedikit kepalan tangannya saat atthar melihat kearah dirinya, dan attharpun membalas dengan hal yang sama


Sikap atthar dan khanza tak luput dari penglihatan abi dan yang lainnya, ketika atthar masih melihat kearah khanza, baim menepuk bahunya dan atthar tersadar malu


Semua keluarga tersenyum melihat kekonyolan sikap atthar yang tidak pernah ia tunjukkan dikeluarganya

__ADS_1


Diperjalanan, atthar yang mengemudi mobil, dan disambing atthar ada abi yang duduk dengan tenang, baim, aluna dan umi berada dibangku tengah


"Sepertinya kamu benar benar uda jatuh hati sama khanza ya thar" ucap baim


"Hmmm??? Biasa aja mas" ucap atthar mengelak


"Biasa gimana, mas g pernah lo melihat kamu bersikap konyol seperti tadi, kecuali dulu waktu kecil" ucap baim lagi


Atthar hanya diam saja menahan malunya, sesekali ia hanya berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya yang diintrogasi oleh masnya


"Segerakan nak, jangan berlama lama, umi dengar jika besok kedua orang tua khanza akan kesini" ucap umi


"Apa tidak lebih baik kita yang kesana umi? Kita dipihak laki laki umi" timpal atthar


"MasyaAllah apa kamu akan langsung melamar khanza pada kedua orang tuanya?" tanya baim tersenyum


"Bukankah hal baik harus disegerakan mas?" atthar membalas senyuman baim, ia melihat baim melalui kaca spion


"Abi setuju dengan atthar, hal baik harus disegerakan jangan ditunda, karena kalian satu rumah, abi khawatir akan terjadi fitnah" ucap abi


"Iya abi, baim juga berpikir seperti itu, lebih baik disegerakan dari pada jadi fitnah" ucap baim


"Baikla abi, InsyaAllah atthar menyegerakannya abi, atthar akan menjaga nama baik keluarga kita dan keluarga khanza abi" ucap atthar meyakinkan abi


"Besok abi akan bicarakan kepada kedua orang tua khanza, jika kita akan berkunjung kerumahnya minggu hadapan" ucap abi


"Baik abi, terimakasih abi" ucap atthar tersenyum


Atthar merasa senang jika semua keluarganya mendukung rencananya yang akan menikahi khanza, sekarang hanya satu yang ia khawatirkan yaitu penolakan dari khanza


Jika hanya ditolak tidak masalah bagi atthar, berarti khanza bukan untuknya, ia lebih khawatir khanza akan keluar dari pesantren disebabkan oleh lamaran darinya, ia tidak ingin hal itu terjadi


Atthar akan terus berdoa dan meminta pertolong dari yang Maha Menolong dan minta dimudahkan kepada yang Maha Memudahkan


.


.


.


...Bersambung...


...Jangan lupa like, vote, koment, dan hadiahnya...


...Terimakasih readers...


... ...

__ADS_1


__ADS_2