Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
108


__ADS_3

Mendengar pertanyaan istrinya, atthar sangat terkejut dan beristigfar didalam hatinya, ia bertanya tanya ada apa dengan istrinya, kenapa istrinya lupa jika semua itu diatur oleh Allah SWT


"Sayang......please, jangan seperti ini" atthare merangkul istrinya


"Tapi kenapa mas, kenapa Allah belum mengabulkan doa kita hiks hiks hiks" tangis khanza semakin menjadi dan membuat atthar bingung


"Kita sedang diuji sayang, bukankah sudah banyak nikmat yang Allah berikan untuk keluarga kita? Apa itu belum cukup untuk kita bersyukur? Apa itu belum cukup untuk tidak mempertanyaan kuasaNya?" atthar mencoba membuat istrinya mengerti, ia berbicara sangat lembut sambil merangkul istrinya


Khanza terdiam, ia hanya bisa menangis dipelukan suaminya


"Allah sudah menhadirkan cinta yang begitu suci dan tulus diantara kita berdua, Allah juga sudah mencukupi kehidupan kita Alhamdulillah, Allah juga memberikan mas keluarga besar yang peduli dan saling menyayangi, Allah juga memberikan kita kesehatan, dan masih banyak lagi sayang" ucap attar mengingatkan istrinya betapa besar nikmat yang Allah berikan


"Kita sedang diuji sayang, kesabaran kita sedang diuji oleh Allah, selama ini apa yang kita minta Allah kabulkan dan permintaan kita kali ini Allah menundanya higga kita siap dan mampu, Allah lebih tahu apa yang terbaik utuk umatnya, dia maha tahu sayang, percaya dan yakinlah jika Allah akan menghadirkan buah hati kita tepat pada waktunya, bukankah rencana Allah lebih baik?" atthar dengan sangan lembut mengingatkan istrinya dan khanza mengangguk


"Maaf mas, maafkan khanza jika khanza lepas kendalu, khanza hanya ingin" ucap khanza


"Minta ampunlah kepada Allah sayang, tidak baik mempertanyakanNya seperti tadi, kita harus percaya dan yakin jika rencana Allah akan lebih indah, Dia maha tahu apa yang tidak kita ketahui" atthar tersenyum mnghapus air mata istrinya dan khanza mengangguk tersenyum, namun percayalah, ucapan dan hati khanza berbeda, ia masih sangat menginginkan zuriat dan ia akan terus berdoa dan meminta kepada Allah untuk memberian zuriat kepadanya sesegera mugkin


"Bagimana kalau kita kekantin dulu, jika kita kembali kekeluarga maka mereka akan tahu jika istri mas yng soleha ini habis menangis, ntar mas lagi yang disalahin" atthar menggoda istrinya


Khanza tertawa cemberut, ia setuju dengan suaminya, mereka menuju kekantin untuk sekedar menghilangkan jejak air mata khanza


...****************...


Aluna sudah berpindah kamar, dari kamar bersalin menuju kamar untuk perawatan, semua keluarga ingin menggendong cucu pertama mereka tak terkecuali kedua orang tua khanza, mereka juga sangat menginginkan cucu, namun mereka tahu itu adalah kuasa Ilahi


Tak lama kemudian khanza dan atthar masuk keruangan rawatan aluna, sebelumnya mereka kehilangan keluarganya dan mereka menanyakannya kepada salah seorang nurse yang mereka jumpai disana dan akhirnya mereka diaragkan keruang rawatan aluna


"Assalamualaikum" ucap atthar dan khanza


"Waakaikumussalam" jawab semua orang yang berada di dalam ruangan


Khanza melihat jika ibunya sedang menggendong bayi aluna dan khanza tersenyum menghampiri

__ADS_1


"MasyaAllah Tabarakallah, tampan sekali kamu nak" ucap khanza, sementara sang suami terus memperhatikan istrinya, tak sekalipun pandangannya lepas dari istrinya


Sebenarnya atthar iba melihat istrinya namun ia harus tetap kuat dan terus mendukung serta membimbing istrinya, ia tidak mau istrinya lupa jika smua yang ada didunia ini Allah lah yang mengaturnya bahkan daun yang jatuh sekalipun itu atas kehendak Allah


"Apa boleh khanza yang menggendongnya bu?" ucap khanza lagi dan ibu tersenyum lalu memberikannya kepada khanza


Melihat khanza yang menggendong bayi, khalisa yang tidak tahu betapa sensitifnya hati kakak iparnya sekarang, terus menggoda khanza


"Ayo mbak khanza, uda cocok itu jadi ibu, kapan donk ngasi aku ponaan lagi biar deket, ponaan yang ini akan jauh" ucap khalisa tanpa dosa


Mendengar hal itu khanza hanya tersenyum kecut melihat kearah khalisa dan atthar memejamkan matanya ia tahu perasaan istrinya sekarang


"Iya bener, kapan rencananya punya momongan nak? Semoga disegerakan ya" ucap ibu aluna


"Aamiin" hanya itu yang keluar dari mulut khanza, khanza sangat sensitif dan terkesan ketus jika ia dihadapkan dengan pertanyaan soal anak


Aluna memperhatikan khanza yang sedikit berbeda, tidk biasanya ia berbicara seperti itu terlebih lagi dengan orang yang lebih tua


"Mas uda dikasi nama belum?" tanya atthar ada baim, ia sengaja sedikit mengeraskan suaranya agar smua orang didalam ruangan teralihkan dengan pertanyaannya


"Khanza" ucap aluna, sontak kanza melihat kearah aluna dan aluna melambaikan tangannya memita khanza untuk mendekatinya


Khanza berjalan menuju aluna dan duduk dikursi samping aluna sambil menggendong bayi


Aluna meliat kearah mata khanza, walaupun khanza memakai cadar, aluna tetap melihat jejak air mata dimata khanza, lalu aluna tersenyum


"Mbak dulu menantikannya sangat lama dek, sempat seperti kamu juga yang sering menangis jika dipertanyakan kapan punya anak" ucap aluna tiba tiba namun aluna berbicara sangat pelan sehigga yang lain tidak mendengarnya, yang lain sibuk berbincang


Hanya atthar yang memperhatikan interaksi aluna dan khanza, atthar berharap jika aluna tahu kalau khanza sedang stress


"Namun perlahan stres itu hilang, karena mas baim terus mengingatkan mbak jika itu bukan urusan kita, Allah tahu yang terbaik untuk kita, Dia akan menghadirkannya tepat pada waktunya" sambung aluna


Khanza kembali menangis, ia terus menunduk sambil sesekali mengangguk mengiyakan ucapan aluna, ia menunduk agar tidak ada yang tahu jika ia sedang menangis

__ADS_1


"Soal omongan orang, jangan dihiraukan, urusan kita cukup meminta pada Allah, kita berdoa agar diberikan anak yang soeh soleha, urusan kapan akan diberi biarkan itu menjadi urusanNya" ucap luna dan khanza kembali mengangguk, aluna tahu jika khanza sedang menangis, ia mendengar suara lirih khanza, begitupun dengan atthar


Atthar mendatangi istrinya, ia akan mengambil anak yang digendong oleh istrinya, atthar tersenyum pada aluna sebagai ucapan terimakasih


"Sayang, pergilah kekamar mandi, sini bayinya mas yang gendong" ucap atthar, ia juga tidak ingin jika keluarga besar mereka mengetahui jika khanza sedang menangis


Khanza berdiri dan berjalan menunduk menuju kekamar mandi, rupanya khalisa memperhatikan interaksi kakak kakanya dan masnya, ia mendatangi aluna dan mas atthar


"Mas, mbak khanza menangis?" tanya khalisa polos


"Shuuuttt" ucap atthar dan aluna serentak


"Jangan kuat kuat dek, ntat yang lain tahu, mbak mu hanya terharu saja mbak aluna sudah melahirkan, ia juga menginginkan hal yang sama" ucap atthar


Seketika pikiran khalisa langsung terkoneksi


"Mas, apa ucapan khalisa tadi keterlaluan? Biasanya yang khalisa denger jika seseorang menginginkan anak maka ia akan sangat sensitif dengan pertanyaan yang menyiggung soal anak" ucap khalisa


"Ya begitula dek, mbak sudah merasakannya, kamu harus hibur mbakmu, jangan lagi mempertanyakan hal hal yang menyinggungnya, setahu mbak, khanza sangat menyukai dan menyayangi anak anak" ucap aluna pelan


"Iya mbak benar, aku sudah melihatnya waktu baksos dipantu asuhan dulu" sambung atthar


"Ya Allah mbak khanza, maafkan khalisa" ucap khalisa merasa bersalah


"Sudah tidak apa apa" ucap mas atthar


.


.


.


...Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa vote, like dan koment...


...Maaf jarang up maklum rempong ibu anak 3 readers 🥰...


__ADS_2