
"Ke..kenapa kamu berpenampilan seperti ini?" tanya daniel spontan
Khanza memandang daniel dengan pandangan datar
"Aku muslim daniel, bukankah seharusnya kamu menyukai calon istri yang berhijab, yang menutup auratnya dari pandangan laki laki lain, hanya suaminya kelak yang akan melihatnya, ya walaupun aku sudah agak terlambat" ucap khanza panjang lebar
Daniel tersenyum kecut, ia mulai menjalankan mobilnya, lama mereka saling diam, saling berperang dengan pikiran masing masing
Khanza belum mempertanyakannya karena ia masih menunggu, jika daniel benar berbeda dengannya, seharusnya sudah sejak lama daniel berbicara, karena daniel pasti tahu setelah melihat ibu yang menggunakan hijab saat daniel bertamu kemaren
Sedangkan daniel, berperang dengan batinnya, ia masih berpikir khanza belum mengetahuinya, melihat khanza yang berhijab maka pikirannya akan kacau setiap hari, bagaimana jika khanza tau, apa yang akan lakukan padanya, bagaimana jika khanza menjauh, dirinya harus bagaimana dan banyak lagi pertanyaan pertanyaan yang ada dibenaknya
Mereka masih berdiam diri, tak terasa air mata khanza jatuh, ia memikirkan hal hal yang tak bisa ia ucapkan, bagaimana jika benar merek berbeda, sementara ia sudah sangat mencintai daniel, khanza melihat kearah luar jendela, air matanya terus mengalir hingga daniel sadar jika kekasihnya sedang menangis
"Heeii sayang, ada apa? Kenapa menangis?" ucap daniel memegang kepala kekasihnya yang tertutup kain hijab
Khanza hanya menggeleng, ia masih melihat kearah luar jendela
"Ayola sayang, beri tahu aku, kamu kenapa? Apa aku berbuat salah?" ucap daniel lagi
Khanza melihat kearah daniel, ia menghapus air matanya kasar
"Aku...aku minta kamu jujur, apa kita ada perbedaan?"
Deg.....
Daniel spontan menoleh kearah khanza, ia hanya melihat khanza
1 detik......
2 detik......
3 detik......
Daniel kembali fokus menyetir mobilnya, ia sedikit melajukan mobilnya, lalu ia melihat jam ditangannya, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan khanza
__ADS_1
"Jawab aku...." ucap khanza yang sedikit menegang melihat daniel melajukan mobilnya, air matanya semakin deras mengalir, sesekali ia mengusap air matanya
Daniel tidak memperdulikan ucapan khanza, ia terus melajukan mobilnya, khanza mulai berpegangan dihandle hand grip mobil, air matanya semakin deras
"Hiks...hiks...hiks...ja..jawab a..akuuuuu hiks....hiks...hiksss" ucap khanza terbata, ia menangis sejadi jadinya
Daniel tersadar jika ia membuat khanza takut, daniel mulai memperlambat mobilnya, ia mencari tempat pemberhentian di taman kota dan untung saja ia menemukannya, ia berhenti dan melihat jam ditangannya masih ada waktu untuk mereka bicara
"Sayang maaf....." ucap daniel
"Ja...jawab aku...hiks..hiks..a..apa kita ber..beda hiks..hiks..." ucap khanza memotong ucapan daniel, ia masih terus menangis
Daniel gusar dan gelisah, ia beberapa kali membuang nafasnya kasar
"Oke...jika benar kita berbeda, lalu kita harus apa? Aku...aku harus bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpamu khanza, aku sangat mencintaimu, please" ucap daniel dengan suara bergetar
Duaarr......
Bak disambar petir disiang bolong khanza mendengar jika benar mereka memang berbeda, tangis khanza semakin menjadi, daniel mengelus punggung kekasihnya
"Sayang....tenangla, kita akan bisa mengatasinya" ucap daniel, air matanya berlinang ia teramat mencintai khanza
"Ntahla nanti kita akan pikirkan bagaimana caranya, kita jalani saja dulu seperti biasa, ok, please jangan menjauh dariku, aku...aku benar benar tidak mau kehilanganmu khanza shaqeena"
Mendengar ucapan daniel yang seperti menganggap enteng permasalahan mereka, khanza mulai kesal, ia menghapus air matanya dan melihat kearah daniel
"Jalani? Hiks...hiks...semakin kita menjalaninya cinta kita akan semakin tumbuh, kamu pikir aku tidak mencintaimu? Aku juga sangat mencintaimu hiks...hiks...kenapa kamu tidak jujur dari pertama kamu tahu jika kita berbeda?" tanya khanza menatap daniel
Lama daniel terdiam, ia berkali kali membuang nafasnya kasar, khanza menggoyangkan tangan daniel dan kembali bertanya dengan anggukkan kepala
"Aku...aku takut jika kamu tahu kita berbeda kamu akan menjauhiku dan tidak ingin lagi bersamaku, aku sudah mencoba khanza, sudah mencoba mencari celah untuk memberitahumu tapu aku tidak bisa dan aku tidak tahu caranya...ka..kamu tahu dari mana?" tanya daniel mengerutkn keningnya
"Aku melihatmu kemaren ditempat ibadahmu, kamu tahu? Kamu adalah cinta pertamaku, aku baru saja merasakan manisnya cinta...dan sekarang ntahla, sangat sakit memikirkan jika kita harus berpisah...sangat sakit hiks...hiks..." khanza kembali menangis, daniel mencoba menenangkannya dengan kembali mengusap punggung kekasihnya
"Sejak melihatmu disana hatiku, perasaanku tidak karuan, yang aku takutkan ternyata benar, dan sekarang aku tidak tahu harus apa hiks..hiks" sambung khanza
__ADS_1
"Tenangla sayang, kita akan tetap bersama, diluar sana juga banyak yang menikah dengan perbedaan, yang penting kita saling mencintai bukan?"
Khanza mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepala, ia tak habis dengan jalan pikiran daniel
"Daniep dengar...." khanza menghembuskan nafasnya agar tetap tenang
"Diagamaku tidak memperbolehkan jika menikah dengan perbedaan, itu termasuk dosa besar dan pastinya ayah dan ibu akan menentang itu" sambung khanza
Daniel menggusar rambutnya, ia terlihat sangat stress, ia menggenggam kedua tangan khanza erat
"Khanza please jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu khanza, please..please..please..." daniel mengiba air matanya berlinang
Khanza kembali meneteskan air matanya melihat daniel bersikap demikian, ia juga sangat mencintai daniel tetapi apakan daya mereka tidak bis bersatu
"Daniel.....aku juga sangat mencintaimu, sangat daniel sangat, kamu berhasil masuk jauh direlung hatiku, tapi aku bisa apa? Semakin aku dekat denganmu, semakin kita mencoba untuk jalani, kita akan semakin tersiksa dengan rasa cinta kita, mungkin benar kata orang orang cinta tak seharusnya memiliki" khanza menghapus air mata daniel yang akhirnya menetes
"Jangan seperti ini, jangan menangis, nanti aku juga nangis lagi hiks...hiks..." ucap khanza yang juga ikut menangis
"Aku tidak mau kita berakhir khanza, please...aku....aku sangat mencintaimu" ucap daniel meyakinkan khanza, berulang kali ia mengucapkan kata cinta pada khanza
"Aku tahu daniel aku pun juga begitu, tapi kita tidak bisa bersatu daniel, terlalu besar tembok yang menghalanginya, keyakinan kita berbeda" ucap khanza lembut
"Sudahlah, kita sudah telat kekantor, kita bahas lagi nanti" ucap khanza, ia menghapus air mata daniel dipipi yang sebenarnya sudah tidak ada, ia juga membenarkan hijab dan riasnya
"Sekarang mari kita kekantor, belum begitu terlambat untuk kekantor, ok" sambung khanza dengan senyumnya
Daniel hanya mengangguk menuruti khanza, ia kelihatan sangat kusut dan selama perjalanan mereka kekantor mereka tidak saling bicara, mereka larut dalam pikiran masing masing, memikirkan bagaimana caranya mereka bisa bersatu namun itu tidak mungkin terjadi kecuali dengan satu cara
.
.
.
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya...
...Terimakasih readers 🥰🙏...