Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
107


__ADS_3

Malam harinya, khanza, atthar serta ayah dan ibu melakukan sholat berjamaah dimasjid pesantren, setelah sholat mereka mampir kerumah abi dan umi untuk hanya sekedar berbincang


Khanza kembali duduk bersebelahan dengan aluna, dalam duduknya ia sembari mengelus perut aluna, semua mata tertuju pada tangan khanza, terutama atthar suaminya, ia tersenyum melihat istrinya, ntah kenapa khanza sangat menginginkannya, ia sangat ingin hamil dan mempunyai keturuan


Waktu menunjukkan pukul 21.00 wib, ayah ibu serta khanza dan atthar berpamitan untuk pulang dan beristirahat, sesampainya dikamar atthar menanyakan perihal tingkah istrinya yang tadi dirumah umi


"Sayang, kenapa suka sekali memegang perut mbak aluna?" ucap atthar sambil berganti baju didepan kaca lemari bajunya


Khanza tersenyum penuh arti, ia menatap suaminya sambil tersenyum


"Pengen hamil juga sayang, pengen punya anak yang soleh dan soleha, yang tampan seperti kamu abinya dan cantik seperti aku uminya" khanza berbicara riang sambil membayangkan apa yang ada dipikirannya


Atthar menghampiri istrinya, ia mendekat dan memeluk istrinya


"Jangan terlalu dipikirkan sayang, kita jalani saja dan berdoa karena itu kuasa Allah SWT kita hanya bisa berusaha dan berdoa sayang" atthar melepaskan pelukannya


Khanza mengangguk tersenyum lembut


"Iya mas, khanza tidak memikirkannya kok, khanza hanya menginginkannya, khanza juga mengerti itu semua adalah pemberian Allah, kita usaha ya mas" pinta khanza bersemangat


"Jelas donk sayang, malam ini juga boleh kita usaha" atthar mengernyitkan sebelah matanya pada khanza dan khanza tertawa memukul dada suaminya


Hari demi hari yang dilalui khanza dan atthar sangat membahagiakan mereka, mereka saling mencintai, mereka saling menyayangi, saling mengerti dan saling mendukung, tak ada celah untuk khanza mengingat masa lalunya, perlakuan atthar yang begitu lembut dan penuh kasih sayang membuang masa lalunya hingga tak bersisa, kini mereka hidup bahagia dan bahkan khanza sangat menginginkan zuriat yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan mereka


Pernah suatu hari, saat ia bekerja, ia selalu mendapatkan pertanyaan dari beberapa teman kerjanya dan juga teman suaminya perihal anak, ditambah lagi ia mendengar jika salah satu karyawan dipesantren suaminya, sudah hamil padahal umur pernikahan mereka baru 3 bulan, sedangan ia yang sudah hampir satu tahun belum juga dikarunia seorang anak


Hal itu membuatnya sangat sensitif dan sering menangis diam diam, pertama atthar tidak mengetahuinya, ia mengetahui setelah menemukan beberapa testpack di tong sampah kamar mandinya

__ADS_1


Saat atthar ingin membuang sampah yang berada didalam kamar mandinya, ia menemukan beberapa testpack dengan hasil negatif, ia memejamkan matanya, ia tidak menyangka jika khanza sangat menginginan seorang anak


Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, yang ia tahu saat ini istrinya pasti sangat sensitif jika mengenai anak, ia hanya bisa terus berada disamping istrinya, mendukungnya dan berusaha selalu ada untuk istrinya


...****************...


Waktu berlalu begitu cepat, hari demi hari, bulan demi bulan hingga tibalah saatnya aluna akan melahirkan, seluruh anggota keluarga abi datang untuk melihat aluna, begitupun juga ayah dan ibu, disana sudah ada kedua orang tua aluna yang mendampingi aluna dan baim


Kedua orang tua aluna tinggal diluar kota yang lumayan jauh dari kota aluna bekerja, kini mereka hadir untuk melihat proses persalinan anaknya


"Alhamdulillah aluna sudah melahirkan pa, ma, umi abi" ucap baim tiba tiba, ia baru saja menemani istrinya melahirkan dengan normal


Seluruh anggota yang hadir turut bahagia, tak terkecuali khanza, khanza mengucap syukur dan menggenggam erat tangan suaminya, suaminya tahu benar perasaan istrinya yang tiba tiba saja 4 bulan terakhir ini sangat menginginkan kehadiran zuriat, ia memandang istrinya yang berlinang air mata, ntah itu air mata terharu atau apa, atthar kembali menggenggam tangan istrinya, pandangannya tak lepas dari pada khanza, ia mencoba memahami dan mencari tahu apa sebenarnya yang istrinya rasakan


"Alhamdulillah bayinya laki laki lengkap dan sehat" sambung baim, ia kembali masuk keruang bersalin untuk melihat istri dan anaknya


Setelah ia melihat istrinya, ia mengadzani anak laki lakinya, ia menggendongnya dan membawanya dihadapan istrinya, aluna mendekap anaknya haru, sudah sekian lama ia menantikannya dan akhirnya Allah mempercayakan amanah besar ini padanya, aluna dan baim tak henti mengucapkan syukur kepada Allah SWT


"Terimakasih sayang, sudah berjuang dan kembali sehat untuk kami berdua" ucap baim mengucapkan terimakasih kepada istrinya


"Terimakasih juga mas sudah sabar menunggu dia hadir, Alhamdulillah akhirnya Allah mempercayakan dia pada kita" balas aluna


"Iya sayang, kita akan menjaganya dengan baik dengan penuh kasih sayang" baim mencium keduanya, ia mencium putranya lalu mencium istrinya lama, ia juga mencium tangan istrinya, ia sangat mencintai aluna terlepas dari mereka sudah punya anak atau belum


Diruang tunggu yang kini tempat berkumpulnya keluarga, atthar membawa istrinya menjauh dari keluarganya sebentar, ia mengerti jika istrinya mungkin sangat ingin menangis saat ini, khanza hanya diam saja dibawa oleh suaminya, ia tidak bertanya sedikitpun


Dan kini mereka duduk diruang tunggu lainnya, hanya mereka berdua, atthar mendudukkan istrinya dikursi dan sementara dirinya berlutut dihadapan istrinya

__ADS_1


"Sayang......" ucap atthar dengan lembut menggenggam tangan istrinya, ia juga mencium tangan istrinya


Tak perlu berkata banyak, atthar benar istrinya memang ingin menangis, dan saat ini tangis khanza pecah, ia tidak tahu kenapa ia begitu sangat ingin menangis


"Menangisla jika itu menenangkan kamu sayang" atthar bangun dari hadapan istrinya dan berpindah duduk bersebelahan dengan istrinya, ia merangkul istrinya dan kini istrinya menangis didadanya


Lumayan lama khanza menghabiskan waktunya untuk menangis, atthar hanya diam mendengarkan tangisan istrinya yang juga membuatnya begitu pilu, ia ingin sekali membuat istrinya kembali tersenyum, ia takut istrinya akan stress dengan apa yang tidak ia dapatkan


Setelah tangiaan khanza mereda, atthar tersenyum dan melihat wajah istrinya, ia menghapus air mata istrinya


"Apa sudah lebih baik?" tanya atthar dan khanza mengangguk mengiyakan, atthar tersenyum melihat istrinya, ia mengajak istrinya untuk makan dikantin rumah sakit sebelum kembali menjenguk ponaannya


"Apa mas boleh tahu kenapa istri mas yang cantik ini tia tiba menangis?" tanya atthar sesampainya mereka dikantin, khanza hanya menggelengan kepalanya


"Sayang, mas tahu kok, kamu sangat menginginkan seorang anak, tapi please sayang, jangan seperti ini" ucap atthar lembut sambil mengelus tangan istrinya yang berasa diatas meja


"Urusan anak itu bukan urusan kita sayang, seperti yang mas katakan kita hanya bisa berusaha dan selebihnya kita serahkan ada Pencipta, Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat bagi kita untuk dititipkan amanah yang luar biasa" sambung atthar, dan khanza hanya diam mendengarkan


"Khanza tahu mas, tu urusan Allah, tapi kenapa? kenapa kita belum dititipkan amanah yang besar? Padahal kita sudah mengerjakan segala perintah Allah SWT, bukankah Allah berjanji akan mengabulkan setiap doa hambaNya?"


Mendengar partanyaan istrinya, attare sangat terkejut dan beristifhfar didalam hatinya, ia bertanya tanya ada apa dengan istrinya


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung...


...Terimakasih pembaca setiaku 🥰...


__ADS_2