Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
40


__ADS_3

Sore sudah tiba, khanza dan aluna sudah menyelesaikan kerjaanya, mereka bersiap untuk pulang, aluna merangkul khanza dengan tersenyum, sepanjang jalan ia menggandeng khanza yang tampak lesu


Sesampainya dibawah, aluna dan khanza sedikit terkejut melihat baim dan daniel sudah menunggu didepan lobby


"Dek itu daniel bukan?" tanya aluna yang melihat kearah lobby


Khanza terkejut melihat daniel yang sudah menunggunya, tidak seperti biasanya


"Iya mbak itu daniel, tumben banget dia uda nunggu" ucap khanza


"Ya sudah temuin dulu gih sana, hati hati pulangnya ya dek" ucap aluna setelah keduanya sampai dilobby


"Daniel?? kenapa sudah disini?" tanya khanza


"Oya kenalin ini mbak aluna dan ini suaminya mas baim" aluna dan baim tersenyum, baim menyambut uluran tangan daniel sementara aluna hanya mengatupkan tangannya didepan dadanya


"Baiklah kita pamit duluan ya" ucap mas baim


Khanza dan daniel tersenyum mengangguk, aluna dan baim sudah menjauh mengendarai mobil mereka, tinggallah khanza dan daniel yang dilobby


"Yuk sayang kita pulang" ucap daniel


"Ada yang perlu aku bicarakan, kita makan dulu ya" sambung daniel


"Baiklah tapi g lama lama ya, keburu maghrib" ucap khanza dan daniel mengangguk


Daniel melajukan mobilnya untuk mencari tempat makan yang sesuai, sepanjang jalan merrka hanya berdiam tanpa ada sepatah katapun yang terucap dari mulut keduanya, daniel hanya sesekali melihat kekasihnya yang termenung melihat kearah luar jendela


"Sayang, ngomong donk jangan diem aja" ucap daniel


Khanza hanya tersenyum tipis melihat kearah daniel, lalu ia kembali melihat kearah luar jendela

__ADS_1


"Aku hanya bingung dan pusing, kita g baisa bersatu daniel g akan pernah bisa, jika setiap hari kita masih bertemu bagaimana kita bisa melupakan satu sama lain?" ucap khanza


"Siapa bilang aku ingin melupakanmu?" ucap daniel tegas


"Trus kamu maunya apa? masalah hubungan kita bukan masalah sepele daniel, masalah keyakinan, dan itu g main main" ucap khanza menegaskan


"Aku akan berjuang khanza, aku...." belum selesai daniel mengutarakan apa yang ingin ia ucapkan, khanza terlebih dulu memotong ucapan daniel


"G ada yang bisa diperjuangkan, kita sama sama tau jika hubungan ini mustahil, aku g mau mengorbankan keyakinanku hanya demi cintaku" ucap khanza


"Aku siap mengikuti keyakinanmu demi cintaku padamu" ucap daniel, suasana sedikit memanas dengan perdebatan mereka


"Please daniel...mengikuti keyakinan umat lain bukan hanya kata sekedar mengikuti, banyak hal yang harus kamu pelajari dan kamu harus benar benar yakin dengan apa yang kamu anut, bukan hanya mengikutiku karena cintamu padaku" khanza mulai berang dengan jalan pikiran daniel


"Jika kamu mengikutiku hanya karena rasa cintamu, bagaimana jika suatu saat cintamu berkurang padaku, bahkan hilang, kamu mungkin mencintai wanita lain, bagaimana? keyakinan bukan lelucon daniel dan menurut keyakinanku, cintaku pada penciptaku harus lebih besar dari cintaku kepada umatNya, jadi mulai sekarang untuk cintaku aku pasrahkan kepada pencintaku" sambung khanza menegaskan


Mendengar ucapan khanza yang berarti khanza akan meninggalkannya, emosi daniel memuncak, ia sudah pusing sejak awal dan ia juga sudah berusaha untuk berbicara kepada kedua orang tuanya walaupun tidak ada hasilnya, dan sekarang khanza semakin membuatnya stress dengan kata katanya, khanza sama sekali tidak ingin memperjuangkan hubungan mereka pikir daniel


Daniel mempercepat kelajuan kendaraannya, ia tidak tahu lagi harus bagaimana, ia tidak mau meninggalkan khanza dan ia tidak ingin ditinggalkan oleh khanza


Daniel hanya diam tanpa bicara, ia semakij melajukan mobilnya, khanza mencari pegangan dihandle hand mobil


"Daniel please, ini bukan menyelesaikan masalah, berbahaya daniel....daniel...please" khanza sangat ketakutan dan rasanya ia ingin menangis namun daniel seakan tuli


"Daniel!!! Daniel aku takut daniel....daniel!!!" khanza berteriak dan baru kali ini khanza melihat sisi daniel yang sedikit menakutkan bagi khanza


Daniel menoleh kearah khanza, ia melihat khanza meneteskan air matanya, daniel mulai memperlambat mobilnya, air mata khanza adalah kelemahan daniel, ia paling tidak bisa melihat khanza menangis


Daniel menepi, ia memarkirkan mobilnya dipinggiran trotoar jalan yang tidak mengganggu pengguna jalan lain


"Maaf...maafkan aku...aku...aku sedang stress, aku sudah berusaha mempertahankan hubungan kita khanza bahkan aku sudah memberitahu kedua orang tuaku jika aku akan mengikutimu, walaupun mereka tidak setuju, tidak bisakah kamu menunggu sedikit lagi khanza untuk aku meyakinkan kedua orang tuaku, dan untuk aku meyakinkan diriku jika aku benar akan mengikutimu" daniel berbicara mengiba

__ADS_1


Khanza menghembus nafasnya panjang, ia mengerti dengan perasaan daniel yang juga sama dengannya


"Daniel ini bukan masalah menunggu atau tidak menunggu, ini masalah besar bukan masalah main main, akupun berharap begitu kita bisa bersama ntah bagaimana caranya, tapi setelah aku pikir itu tidak mungkin, ada tembok besar yang menghalangi kita dan jika kamu memgatakan kamu akan mengikutiku hanya demi cinta kita aku tetap tidak bisa terima, bagaimana dengan keluargamu? dan bagaimana dengan keluargku? Apakah merek setuju? Aku rasa tidak" ucap khanza menjelaskan


"Aku tau kamu mencintaiku dan akupun begitu, aku sangat mencintaimu dan aku juga hampir gila daniel memikirkannya, kamu cinta pertamaku aku baru merasakan manisnya cinta saat bersamamu dan sekarang kita harus dihadapkan dengan masalahbyang begitu rumit, masalah yang jalan keluarnya hanyalah berpisah, ini memang sulit daniel bagi kita, tapi akan lebih sulit lagi jika kamu memaksa untuk mengikutiku, keyakinan bukan main main daniel, please... tenangkanlah hati dan pikiranmu" sambung khanza panjang lebar


"Ternyata kamu g mencintaiku khanza, hhmmfff" daniel menghela nafasnya


"Dengan mudahnya kamu mengatakan kita akan berpisah dan jalan kita sudah buntu? Kamu belum berusaha khanza, setidak katakan kepada orang tuamu jika aku berbeda keyakinan denganmu dan aku siap untuk mengikuti keyakinanmu dan kita akan tetap menikah!!" daniel terlihat emosi dalam bicaranya


Khanz menggelengkan kepalanya, ia tersenyum sinis, ia tidak habis pikir dengan apa yang daniel bicarakan, ia terlalu memganggap enteng sebuah keyakinan, ia berpikir dengan mudahnya seseorang akan berpindah pindah keyakinan


"Kamu terlalu menganggap enteng sebuah keyakinan daniel, sudahlah aku mau kita pulang dan kamu tenangkanla pikiranmu, pergilah ketempat ibadah dan berdoalah kamu akan mendapatkan jawabannya" khanza sudah tidak tahu bagaimana menjelaskan pada daniel jika mereka tidak akan pernah bisa bersatu


"Baiklah kita pulang sekarang, dan besok aku akan menjemputmu seperti biasanya, aku akan mengantarkanmu kekantormu dan aku akan mengantarmu pulang, aku ingin kita sepertu biasanya" pinta daniel


"Kamu menyiksaku daniel" ucap khanza malas, ia melihat kearah luar jendela


"Dan aku akan lebih tersiksa jika tidak melihatmu sehari saja" jawab daniel yang tidak mau kalah


.


.


.


...Bersambung...


...Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya...


...Terimakasih readers 🥰🙏...

__ADS_1


...Nantikan episode selanjutnya...


...Dan jangan lupa baca juga novelku yang lainnya ❤️...


__ADS_2