
Waktu menunjukkan pukul 11.00 wib setelah mengobrol , para wanita akan memasak untuk makan siang, umi mulai berjalan kedapur untuk memasak dan diikuti oleh aluna, khanza dan khalisa
Khanza sangat pandai dalam urusan dapur, ia sudah terbiasa melakukannya begitupun aluna dan khalisa, umi tersenyum senang melihatnya
"Apa nak khanza selalu mengurusi pekerjaan rumah nak?" tanya umi
"Iya umi, kalau dirumah khanza memasak dan membereskan rumah, kasian ibu sudah tua suka kecapean" jawab khanza lembut, umi melihat kearah aluna, aluna tersenyum, aluna sangat paham sekali dengan tatapan umi
"Nak khanza maaf umi bertanya, apa nak khanza sudah mempunyai pendamping?" tanya umi, mereka memasak sambil berbincang bincang
"Kalau pendamping belum umi, tapi teman sudah ada, bukan begitu dek" khanza tersenyum tersipu, melihat khanza yang malu malu untuk menjawabnya aluna berinisiatif untuk menjawab pertanyaan umi, aluna paham betul dengan tatapan dan pertanyaan umi
"Ooh begitu" jawab umi, ada sedikit raut kekecewaan diwajah umi
"Jodoh sudah ada yang ngatur ya dek, kalau jodoh tidak kemana" aluna kembali berbicara, kali ini aluna berbicara sambil memegang kedua bahu umi dari belakang, umi tersenyum dan memegang pipi aluna, umi senang aluna sudah mengingatkannya dengan sang maha penguasa dan maha berkehendak, umi kembali tersenyum
Tiba tiba khanza mengingat sesuatu, ia lupa memberi kabar kepada ayahnya dan daniel, ia menghentikan pekerjaannya dan meminta izin kepada umi dan aluna
"Umi khanza kekamar sebentar umi mbak una, khanza lupa ngabarin ayah jika kita sudah sampai, khanza takut ayah dan ibu khawatir"
"Iya nak, tidak apa apa, segeralah memberi kabar kepada ayah mu, jangan membuatnya khawatir" jawab umi
"Baiklah umi, khanza permisi sebentar" umj mengangguk dan khanza pun berlalu pergi
Sepeninggalan khanza, aluna kembali memegang bahu umi, aluna berbicara dengan sangat lembut ia sangat menghormati dan menyayangi ibu mertuanya seperti ibunya sendiri
"Sudah umi jangan khawatir, bukankah jodoh maut rezeki sudah diatur oleh-Nya?" aluna tersenyum lembut
"Iya nak, umi percaya bahkan sangat percaya kepada-Nya" umi membalas senyuman aluna
Umi sangat menyukai khanza, khanza sudah memikat hati umi tanpa ia sadari, rupanya umi berharap khanza untuk menjadi menantunya, namun umi sedikit kecewa mendengar jika khanza sudah punya teman lelaki alias pacar, tetapi umi sadar setelah diyakinkan oleh aluna bahwa segala yang ada didunia ini sudah ditentukan oleh Sang Pencipta termasuk jodoh
...*****...
Dikamar khanza baru saja menghubungi ayah dan ibunya, ia mengabarkan bahwa ia sudah tiba dipondok pesantren mertuanya aluna, ia juga bercerita bahwa keluarga mbak una menyambutnya dengan sangat baik, mereka sangat lembut dan ramah seperti ayah dan ibu
Setelah menghubungi ayah dan ibunya, tidak lupa khanza menghubungi daniel kekasih hatinya, ia sedang bucin sebucinnya
__ADS_1
"Hallo nona, maaf tadi aku tidak menjawab panggilanmu, aku ketiduran" jawab daniel, khanza yang hendak mengucapkan salam tertawa mendengar panggilan khas daniel untuk dirinya sehingga ia tidak jadi mengucapkan salam pada daniel
"Iya tidka apa apa, maaf juga aku baru bisa ngabarin, aku sudah dirumah mertuanya mbak una dari 3 jam yang lalu"
"Apa kau sudah melupakanku?" ucap daniel yang berpura pura sedih
"Hehehee...mana mungkin aku melupakanmu, aku hanya sungkan saja bermain ponsel ditengah tengah keluarga mbak una"
"Baiklah kalau begitu cepatla pulang, aku sudah merindukanmu"
Khanza selalu tersenyum jika mendengar gombalan dari daniel " Gombal terus" jawab khanza
"Baikla sudah dulu ya, aku mau membantu mbak una memasak, g enak lama lama dikamar sendirian, nanti aku hubungi lagi" sambung khanza
"Waaah kau bisa memasak? Kapan kapan aku harus mencicipi masakanmu" daniel bersemangat
"Baikla nanti aku akan memasak untukmu"
"Kau brnar benar calon istri idaman" mendengar daniel berkata calon istri hati khanza semakin berbunga, ia tidak menyangka daniel akan berkata seperti itu
"Sudah donk, aku sudah matang dan keburu busuk"
Khanza kembali tertawa mendengar gurauan daniel
"Baiklah kalau begitu segera jumpai ayahku" khanza berbicara to the point, ia ingat pesan ayahnya bahwa jika ada lelaki yang sudah siap menikahinya bawalah ia kerumah
"Baiklah nona aku sudah siap"
"Baiklah aku tutup dulu oke"
"Baikla nona i miss u"
"Hehehee i muss u too" balas khanza dan daniel menutup panggilannya dan lagi lagi khanza tidak sempat mengucapkan salamnya
"Selalu saja tidak mengucapkan salam" khanza bermonolog melihat ponselnya, ia kembali tersenyum mengingat ucapan daniel bahwa ia sudah siap menikahi khanza, ia tidak sabar membagikan ceritanya kepada aluna
Didapur khanza kembali menemui umi dan aluna serta khalisa
__ADS_1
"Maaf umi mbak una kelamaan, sini biar khanza bantu umi" khanza melihat umi yang sedang memotong wartel mengambil alih dari tangan umi, umi tersenyum
Mereka melanjutkan pekerjaan merek hingga selesai, mereka sudah terlihat seperti sebuah keluarga, berbincang, bercerita dan tertawa
...*****...
Waktu dzuhur akan tiba, setelah memasak, umi mengajak aluna dan khanza bersiap untuk sholat berjamaah dimasjid pondok pesantren, mereka pun segera bersiap
khanza sedang bersiap dikamar khalisa, ia ditemani oleh khalisa, ia membersihkan dirinya dan berwudhu, ia kembali meminjam baju khalisa
"Hmmm khalisa... mbak minjem baju lagi boleh? Mbak g ada gamis khalisa, mbak malu mengenakan celana disini"
"Boleh mbak khanza, sebentar ya" khalisa mengambilkan baju untuk khanza dilemarinya
"Makasii khalisa" ucap khanza setelah khalisa memberikan baju miliknya kepada khanza
"Mbak boleh khalisa bertanya?" ucap khalisa
"Boleh dek mau tanya apa?" ucap khanza sambil mengenakan pakaiannya
"Apa mbak akan segera menikah? Maaf tadi khalisa sedikit mendengar percakapan mbak dan teman mbak ditelefon" ucap khalisa jujur, ia sedikit menunduk tanda ia menyesali perbuatannya
Ya khalisa mendengar percakapan khanza dan daniel, saat ia hendak kekamar untuk mengambil sesuatu ia tidak sengaja mendengar jika khanza meminta daniel untuk bertemu orang tuanya, sementara khalisa tau bahwa umi menginginkan khanza untuk berjodoh dengan mas atthar, jadi khalisa memberanikan diri untuk bertanya kepada khanza, semoga saja apa yang ia dengar tadi salah, harapnya
"Hehehe tidak apa apa dek, doain ya semoga mbak segera menikah" jawab khanza memegang pundah khalisa agar khalisa tidak lagi merasa bersalah
"Iya mbak, maaf ya mbak jika khalisa menguping pembicaraan mbak, khalisa tidak sengaja, khalisa ingin menunggu mbak selesai telfonan tetapi karena khalisa pikir mbak masih lama ya sudah khalisa tidak jadi masuk kekamar" khalisa menjelaskan semuanya
"Iya khalisa, sudah tidak perlu merasa bersalah begitu, mbak tidak apa, baikah ayo kita keluar sebentar lagi sudah mau adzan" ajak khanza dan khalisa mengangguk menuruti perkataan khanza, khalisa pun sedikit kecewa mendengar kebenaran tentang pernikahan khanza karena ia juga sangat menyukai khanza yang baik hati dan lembut
...Bersambung...
...Jangan lupa vote, like, koment, dan follow...
...Semoga menghibur readers semua...
...Jangan bosan ya 🥰...
__ADS_1