Ku Terima Takdir Ku

Ku Terima Takdir Ku
72


__ADS_3

Keesokan harinya. . .


Pagi pagi sekali khanza sudah membantu umi didapur begitu juga dengan aluna, ia terlihat senang sekali karena menunggu kedua orang tuanya yang akan berkunjung


Khanza sudah sangat rindu kepaada kedua orang tuanya, setelah selesai, merekapun menikmatinya bersama dimeja makan


"Dek apa ayah dan ibu jadi berkunjung?" tanya aluna yang suudah menyelesaikan makannya


"Alhamdulillah jadi mbak, mereka sudah dijalan barangkalai sebentar lagi sampai" jawab khanza


Aluna mengangguk tersenyum


"Umi sudah membuatkan beberapa cemilan untuk kedua orang tuamu, nanti tinggal disajikan saja" ucap umi


"Kenapa repot repot umi, ayah dan ibu hanya berkunjung biasa saja" ucap khanza


"G ada salahnya menjamu tamu nak, itu sangat dianjurkan oleh Rosulullah SAW" ucap umi dan khanza tersenyum lembut


"Terimakasih umi, sudah baik sama khana dan keluarga khanza" ucap khanza


"Kita kan keluarga" sambung aluna


"Apa lagi sebentar lagi, kita benar benar akan menjadi keluarga" ledek khalisa tertawa ringan


Mendengar gurauan dari khalisa, abi, umi dan yang lainnya juga tertawa, sementara khanza juga ikut tersenyum dengan wajah polosnya yang tidak mengerti ucapan khalisa


Sedang asik tertawa khalisa mendengar suara deruan mobil yang singgah didepan rumahnya


"sepertinya ada suara mobil didepan, kemungkinan itu calon besan umi" ucap khalisa lantang dan atthar menatap tajam kearah adiknya


Umi berlalu melihat siapa yang datang sambil memukul khalisa pelan mendengar anak gadisnya yang terus saja mengganggu masnya, abi pun mengikuti umi dengan tongkatnya


Khalisa yang mendapatkan tatapan tajam hanya tersenyum menunjukkan giginya, sementara khanza wajahnya masih dalam keadaan bingung, lagi lagi ia tidak mengerti apa yang dikatakan khanza


"Orang tua mbak juga datang ya?" tanya khanza polos


Aluna dan khalisa tertawa mendengar pertanyaan polos khanza, atthar dan baim pun demiikian, mereka tersenyum lalu beranjak menuju pintu untuk menyambut kedua orang tua khanza


"Bukan dek" jawab aluna tersenyum


"Kata khalisa besannya umi" ucap khanza lagi, dan mereka berdua semakin tertawa


"Iiiihh mbak una, khalisa kenapa terus terusan tertawa sih?" ucap khanza kesal


Tiba tiba umi datang dan membuat tawa mereka terhenti


"Sudah sudah berhenti mengganggu khanza, khanza itu orang tuamu sudah ada didepan" ucap umi

__ADS_1


"Baikla umi, terimakasih" khanza melihat kearah alina khalisa dengan bibir manyun karena masih kesal dengan tawa mereka


"Khalisa nanti bikin air dan bawa juga cemilannya ya" ucap umi dan khalisa mengangguk


Khanza menyapa kedua orang tuanya dengan pelukan erat, ia benar benar sudah sangat merindukan kedua orang tuanya


"Ayah ibu apa kabar?" ucapnya hendak menangis


"Loh kenapa sedih? Ayyah dan ibu baiik kok, g mau tuh sama keluar umi, suah besar masih saja nangis" ucap ibu mengeluas kepala khanza yang senantiasa tertutup oleh hijab


Keluarga umi tersenyum melihatnya begitu juga dengan atthar yang curi curi pandang kearah khanza


"Ibu senang anak ibu sekarang sudah soleha, hijabnya g pernah dilepaskan ya?" tanya ibu menggoda khanza


"Ya g bu, khanza lepasinnya disaat tidur saja" ucap khanza


"Alhamdulillah, anak ayah sudah jauh lebih baik, terimakasih abi" ucap ayah


"Bukan karena saya pak, khanza memang anak yang baik dan sangat konsisten ingin berubah menjadi lebih baik" ucap abi


"Saya sangat senang khanza berada disini, ia bisa belajar agama lebih dalam lagi, sudah tidak bolong bolongkan sholatnya nak?" tanya ayah pada khanza


"Alhamdulillah tidak yah" jawab khanza


"Khanza Alhamdulillah sholatnya tepat waktu, bahkan ia bangun untuk tahajud sekarang" ucap umi yang tahu khanza dari khalisa


"Ibu khanza bukan anak madrasah lagi ibu yang harus ditanyain seperti itu" khanza merasa malu diperlakukan seperti anak madrasah


Ayah dan ibu tertawa mendengar ucapan anaknya begitu juga keluarga umi


"Ayah dan ibu hanya ingin tahu kegiatan kamu disini"timpal ayah


Keluarga umi dan ibu mengobrol hingga datangnya waktunya dzuhur, merndengar adzan berkumandang merekapun sholat berjamaah dimasjid yang ada dipondok dan


Keluarga umi juga mengajak keluarga khanza untuk makan siang bersama


Setelah mereka makan siang, keluarga umi dan abi menyarankan kepada ayah dan ibu khanza untuk beristirahat, namun mereka menolak, mereka lebih memilih untuk mengobrol menghabiskan waktu sekaligus bersilaturahmi


Abi ingin mengutarakan keinginannya untuk berbicara kepada kedua orang atthar namun abi menundanya karena ada khanza disana, abi mencaricara agar bisa berbicara kepada kedua orang tua khanza


"Apa bisa abi berbicara dengan ayah khanza sebentar?" ucap abi melihat khanza


"Maksudnya kami orang tua hanya ingin berbicara sebentar" lanjuta abi yang melihat wajah khanza kebingungan


"Oohh boleh abi, baikla kami permisi dulu abi" ucap khanza


Khanza pun beranjak pergi bersama khalisa dan aluna, mereka pergi kekamar khalisa, setelah khanza dan yang lainnya pergi abi mulai mengutarakan maksudnya

__ADS_1


"Mau bicara apa abi? Apa khanza berbuat sesuatu?" tanya ayah khawatir


Abi dan umi serta atthar tersenyum melihat kekhawatiran seorang ayah kepada anaknya


"Tidak pak, khanza sangat baik, dia tidak berbuat apa apa, kami senang dengan keberadaannya disini" ucap umi lembut


"Alhamdulillah, saya hanya khawatir khanza merepotkan keluarga abi" ucap ayah sungkan


"Tidak pak, khanza malah banyak membantu kami disini terutama membantu istri saya" ucap abi tersenyum


"Alhamdulillah jika begitu" ucap ayah lega tersenyum kearah ibu


"Saya....saya ingin mengatakan jika saya ingin menjadikan khanza sebagai anak saya" ucap abi


"Dengan kata lain saya ingin meminang khanza untuk anak saya, atthar" sambung abi tersenyum


Ayah dan ibu terdiam, mereka saling pandang, melihat kebungkaman ayah dan ibu hati atthar menjadi khawatir, ia takut ia ditolak oleh kedua orang khanza, atau mungkin saja ayah dan ibu sudah memiliki calon untuk khanza


Wajah atthar begitu terlihat jika ia sangat khawatir menunggu jawaban kedua orang khanza, baim menepuk bahu atthar menenangkan adiknya


"Jadi bagaimana pak?" tanya abi lagi, ayah dan ibu seperti shock mendengar lamaran abi untuk anaknya


"Maaf...maaf abi, saya...saya merasa senang sekali mendengarnya, sehingga saya tidak bisa berkata kata" sangking senangnya ayah menjadi gugup menjawab pertanyaan abi


"Apakah benar nak atthar kamu akan melamar khanza?" ucap ibu meyakinkan dirinya


"Iya bu, InsyaAllah jika bapak dan ibu setuju, minggu hadapan kami akan berkunjung kerumah ibu, itupun jika khanza menerima saya" ucap atthar tersenyum lembut


"MasyaAllah nak, perempuan mana yang akan menolak kamu, sudah tampan, soleh lagi" ucap ibu


"Doa ibu terkabul yah" ucap ibu senang menepuk paha ayah dan itu membuat abi, umi, baim dan atthar tersenyum melihat kegembiraan ibu


"Iya bu, doa seorang ibu memang mustajab, Alhamdulillah ya Allah" ucap ayah


"Kami senang sekali mendengarnya abi, kami berdoa siang dan malam agar khanza mendapatkan jodoh yang soleh yang bisa membimbingnya" ucap ayah


"Terus terang abi sejak melihat atthar dan menjadi makmumnya saat sholat saya sangat tertarik dengan anak abi, dan berdoa agar suatu saat saya dapat menantu seperti nak atthar dan Allah mengabulkan doa saya" sambung ayah terharu


.


.


.


...Bersambung...


...Jangan lupa like, vote, koment dan hadiahnya...

__ADS_1


...Sambung besok ya readers,, Terimakasih...


__ADS_2