
"Eh iya nak, kalau kamu tinggal disini gimana daniel? katanya mau kerumah" sambung ibu
Deg. . . .
Khanza langsung terdiam mendengar pertanyaan dari ibunya, ia tidak tahu bagaimana memulai ceritanya
Lama khanza diam tidak menjawab pertanyaan dari ibunya, ia sedang berpikir ia harus mulai cerita dari mana? Apa yang harus ia katakan
"Khanza" panggil ibu
"Ya bu?" jawab khanza
"Ya dijawab toh pertanyaan ibuuu, kalau kamu tinggal disini gimana dengan daniel? Katanya daniel mau kerumah tapi g ada tuh, g baik pacaran deketan terus, g dianjurkan dalam islam nak, berdosa dan takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan" jelas ibu
"Iya bu, khanza......" ucapan khanza terhenti, ia kembali diam
"Bu khanza pengen cerita, tapi ibu jangan kaget ya" sambung khanza, mereka masih terus berjalan menyusuri pesantren yang sangat luas itu
Ibu menganggul tanda mengiyakan
"Khanza dan daniel hanya berteman bu, g lebih"
"Loh, jika hanya berteman kenapa kemaren dia mau kerumah sama orang tuanya? Dan kenapa juga kamu berduaan pergi pergian sama daniel? Meskipun teman g baik nak" ibu kembali menjelaskan kepada khanza
"Maksudnya iya kemaren yang dikatakan daniel bener, tapi khanza baru aja tahu jika daniel itu berbeda dengan kita bu" jawab khanza sendu sambil menunduk
"Berbeda maksudnya? Apanya yang beda?"
Khanza menghela nafasnya berat, ia masih terluka dengan kenyataan yang ada dan ia masih sedang berusaha melupakan cintanya
"Daniel berbeda keyakinan dengan kita bu" ucap khanza pelan
"Astagfirullahal'adzim" ucap ibu terkejut
Ibu berucap sedikit keras sehingga ayah dan atthar yang berada didepan menoleh kearah mereka, perjalan mereka yang mengelilingi pesantren terhenti sejenak
"Ada apa bu?" tanya ayah heran
Ibu mendatangi ayah dan menceritakannya kepada ayah, ibu sangat terkejut mendengarnya
__ADS_1
"Si daniel yah, daniel yang akan kita nikahkan sama anak kita, ia ternyata berbeda keyakinan dengan yah" ucap ibu
"Astagfirullahal'adzim, benarkah nak?" tanya ayah dan khanza mengangguk pelan
"Sudahlah tidak apa apa, perbedaan itu biasa nak, yang penting jangan membencinya, kita harus menghargai agama lain nak, Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik untukmu" ucap ayah mendatangi anaknya dan mengusap punggung khanza
"Jadikan ini pelajaran nak, Allah sedang menegurmu, dan Allah akan menggantikan yang jauh lebih baik dari daniel, asalkan kamu juga berubah untuk menjadi lebih baik lagi, seperti memakai hijab ini, ayah senang anak ayah sudah menutup auratnya, istiqomahlah" sambung ayah
"Untuk jodohmu ayah yakin Allah sudah mempersiapkannya, jodoh itu cerminan diri sayang, jadila baik agar mendapatkan yang baik" ayah tersenyum, ia memegang dagu anaknya yang terus menunduk, ia mengangkat dagu anaknya untuk melihatnya kearahnya
Ternyata anaknya sedang menangis, ayah tersenyum ringan sambil menghapus air mata anaknya, sedangkan ibu memeluk anaknya erat dan mengusap punggung anaknya untuk menenangkan khanza, atthar hanya memperhatikan keluarga tersebut, ia mendengar semuanya
"Sudah, jangan menangis, anak ibu kuat kok, daniel bukan jodohmu sayang, bersabarlah dengan ujian Allah nak maka nikmat yang Allah berikan akan jauh lebih besar dari rasa kecewamu" ucap ibu
"Jangan pernah marah dan menyalahkan siapapun, apalagi pada Allah, berhusnudzonlah kepada Allah, mungkin dengan ujiannya ini anak ibu akan mejadi lebih baik, contohnya ini dengan hijab yang kamu pakai sekarang, dulu tidak berhijab sekarang Alhamdulillah berhijab dan bahkan ingin tinggal dipondok" ucap ibu
Ucapan ibu didengar oleh atthar
"Khanza ingin tinggal dipondok? Dan ia sudah berhijab? Alhamdulillah, semoga istiqomah" ucap atthar dalam hati
"MasyaAllah benarkah anak ayah ingin tinggal dipondok?" tanta ayah
"Ya sudah ayo kita jalan lagi melihat lihat pesantren, kasian tuh atthar sudah menunggu" sambung ibu sambil menghapus air mata anaknya dan melepaskan pelukannya
"Apa g malu sama atthar nangisin seseorang yang belum menjadi suami?" ledek ayah
Mendengar ledekan ayah, khanza menghapus air matanya, ia melihat kearah atthar yang juga melihatnya, tatapan mereka bertemu sejenak, lalu dengan cepat keduanya mengalihkan pandangan mereka
"Ya sudah ayo jalan lagi nak atthar" ucap ayah kepad atthar
"Baik pak, mari" atthar mempersilahkan ayah untuk jalan, lalu sekilas ia melihat kearah ibu dan juga khanza, lagi lagi tatapan mereka bertemu, tetapi dengan cepat pula mereka mengalihkan pandangannya, atthar yang langsung mengalihkan pandangannya kembali mengarah kehadapan, sedangkan khanza menunduk melihat kearah bawah
Mereka melanjutkan perjalanan mereka berkeliling melihat pesantren serta tumbuhan hijau yang memukau
...****************...
Perjalanan atthar dan ayah serta yang lainnya sudah selesai, mereka sudah kembali kerumah dan beristirahat, ternyata abi dan mas baim sudah menunggu mereka, sementara aluna dan umi sudah menyiapkan beberapa cemilan yang akan disuguhkan pada tamunya
"Assalamualaikum" ucap ayah dan atthar serta umj dan khanza
__ADS_1
"Waalaikumussalam" jawab abi dan baim
"MasyaAllah sungguh indah pesantren ini, dan sangat luas sekali" ucap ayah yang sudah duduk bersebelahan dengan abi
"Alhamdulillah, semoga pesantren ini akan ramai diminati sampai kapanpun, agar anak anak muda zaman sekarang tetap dekat dengan Allah tanpa melupakanNya sedikitpun" ucap abi
Ucapan abi diaminkan oleh seluruh penghuni rumah, mereka pun melanjutkan obrolan mereka
Khanza berpindah tempat duduk, ia duduk bersebelahan dengan aluna, ia akan menceritakan semuanya kepada aluna
"Mbak, kedapur yuk, aku ingin cerita" ucap khanza berbisik menghormati para orang tua yang sedang berbicara
Aluna mengangguk dan merekapun menuju dapur, didapur terdapat pintu belakang menuju kebun sayur sayuran milik umi, dan disanalah mereka duduk dikursi kayu
"Ada cerita apa dek? Eh gimana sama daniel? Uda semingguan mbak g mendengar cerita kamu, apa kalian sudah melupakan satu sama lain?" tanya aluna memulai
Khanza menghela nafasnya, ia menunduk sejenak sambil menggoyangkan kakinya
"Itu dia mbak, dia selalu ngikutin aku mbak, sekarang aku uda berusaha menjauh mbak dari dia, aku uda kerja naik buss seperti semula, tapi mbak tau g apa yang dia lakuin?" tanya khanza dan aluna menggeleng
"Memangnya apa?" tanya aluna
"Setiap hari dia ngikutin aku mbak dengan mobilnya sampai kekantor dan begitu juga pulang kantor, dia ngikutin aku sampai kedepan rumah, katanya untuk memastikan aku baik baik saja, aku....aku g bisa mbak dia gitu terus sama aku, gimana aku ngelupain dia coba?" jelas khanza
"Dia juga terkadang nelfonin dan ngirimin aku pesan dan yang paling bikin aku ingat mbak ini" khanza menunjukkan ponsel pemberian daniel
"Aku uda coba balikin mbak tapi dia g mau, dia bilang kalau aku g mau ya udah dibuang aja, gimana donk mbak, aku harus apa? bisa bisa aku beneran g bisa lupain dia" khanza merengek seakan hendak menangis
.
.
.
...Bersambung...
...Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya ya...
...Terimakasih readers 🥰🙏...
__ADS_1