
"Oya aku bawain cemilan sehat buat kamu bentar ya" khanza mengeluarkan pudingnya dan memberikannya pada daniel
"Waaawww enak banget kayaknya nih, makasi ya sayang, aku makan ya" ucap daniel dan khanza mengangguk
Daniel menyuapi khanza sesekali dan itu membuat khanza tersenyum senang, rasa cinta keduanya semakin tumbuh besar
Daniel sangat menyukai puding buah buatan khanza, dalam sekejab ia menghabiskan puding buatan kekasihnya itu
"Sayang rasanya mau nambah lagi, enak banget"
"Serius? Benera enak banget?" tanya khanza tak percaya
"Iya sayang enak banget, g sabar mau nikahin kamu" ucap daniel tersenyum, ia tanpa sadar mengucapkannya dan karena ucapannya membuat khanza terpancing untuk kembali bertanya
"Hehehee..." khanza terkekeh mendengar daniel menggodanya, namun sedetik kemudian wajah khanza berubah menjadi serius
"Sayang, aku capek loh ketemu ngumpet terus, bohong terus, kalau sering sering ketemu g dibolehin ayah, kita pergi kerja bareng aja ayah dan ibu g pernah tau" ucao khanza sedikit menunduk sambil mengayunkan kakinya yang sedikit menggantung dari dudukannya
"Iya sayang, aku usahain secepatnya ya, orang tua aku belum pulang dari luar kota, mungkin akhir bulan ini mereka akan kembali pulang" daniel kembali berbohong
"Baiklah, aku akan bersabar, kita sama sama berdoa ya sayang semoga semuanya dilancarkan" khanza kembali tersenyum melihat daniel dan daniel membalas senyuman khanza sambil membelai rambut indah khanza
"Aku g mau kehilanganmu sayang, aku akan berjuang" ucap daniel pelan dan khanza mendengarnya
"Berjuang kenapa?" tanya khanza
"Ya berjuang untuk rumah tangga kita nanti" jawab daniel yakin
"Kita sama sama berjuang" ucap khanza dan daniel mengangguk tersenyum, daniel kembali memainkan rambut indah khanza dan itu membuat khanza senang dan merasa sangat disayangi
Daniel tersenyum masam, ada kekhawatiran didalam hati daniel mengenai perbedaan mereka, ia ingin berbicara namun tidak tahu harus bagaimana, ia ingin jujur tapi takut kehilangan khanza, ia kembali memilih diam sampai nanti waktunya tiba
Mereka melanjutkan obrolan mereka, mereka bercanda dan bergurau serta pergi berjalan keliling taman, cinta dan kasih sayang mereka sama besarnya, dan semakin hari semakin tumbuh besar, tidak perlu waktu lama untuk seseorang merasa dicintai dan mencintai
...****************...
Disisi dunia ntah bagian mana, seorang pemuda tampan sedang dicerca dengan berbagai pertanyaan dari keluarganya
"Kenapa liatin umi terus sih waktu umi sedang berbicara dengan khanza?" tanya umi namun yang diberi pertanyaan tidak mengira bahwa pertanyaan itu untuknya
__ADS_1
"Mas atthar tahir alhusayn??" panggil umi lembut dan sipemilik nama langsung menoleh kearah umi
"Ya umi? Kenapa?" jawab atthar dengan wajah tanpa dosa
"Umi nanya loh nak" ucap umi, sementara keluarga yang lain memperhatikam dengan menahan senyum
"Nanya apa?" jawab atthar lagi
"Umi tanya kenapa kamu liatin umi terus saat umi berbicara sama khanza?" umi kembali mengulang pertanyaannya
"Atthar g liatin umi terus terusan, atthar hanya mendengarkan dan atthar melihat umi bukan hanya disaat umi sedang berbicara dengan khanza saja, atthar melihat umi setiap saat" jelas atthar
Umi mencibir mendengar penjelasan atthar, namun anggota keluarga atthar lainnya tertawa mendengar ucapan atthar, atthar tersenyum dengan senyum yang dibuat buat ia menunduk karena malu
"Ya sudah kalau begitu, sudah mau siang ayo kita bergerak kerumah aina" umi sengaja mengingatkan atthar dengan aina calon atthar
Sebagai ibu umi merasakan jika anaknya tertarik kepada khanza namun umi tidak ingin mempertanyakannya kepada atthar, yang umi tahu jika khanza bukan jodoh atthar anaknya karena sebentar lagi khanza akan menikah
"Baikla umi, ayo kita kerumah ustad bahar" sambut atthar
Keluarga atthar pun pergi kerumah ustad bahar orang tua dari aina calon dari atthar tahir alhusayn, hanya khalisa saja yang tidak ikut karena khalisa ada tugas di pesantrennya
Tak lama mereka pun sampai dirumah ustad bahar, teman sekaligus calon besan abi
"Waalaikumussalam" jawab ustad bahar
"MasyaAllah kiyai alhusayn" sambung ustad bahar, ustad bahar langsung menyambut teman lamanya dengan pelukan, mereka tertawa dan saling menepuk pelan punggung mereka
Setelah abi dan ustad bahar melepas rindu, ustad bahar juga menyambut baim dan calon menantunya atthar
"MasyaAllah jadi ini nak atthar?" ucap ustad bahar
"Abi kenapa tamunya tidak disuruh masuk?" ucao istri ustad bahar yang baru saja muncul untuk melihat tamunya
"Astagfirullah, maaf pak kiyai, saking senengnya saya lupa mempersilahkan masuk" ucap ustad bahar
"Tidak apa apa, jangan panggil aku kiya, kamu ini seperti orang asing saja" jawab abi, mereka tertawa sambil menuju ruang tamu dirumah pak bahar
Istri ustad bahar berjalan menuju umi dan aluna, ia menyambut baik tamunya
__ADS_1
"Mari masuk mbak, maafkan suami saya" ucap istri bahar lembut, mereka berjalan menuju ruang tamu sambil mengobrol
"Tidak apa apa dek, oya ini menantu mbak dari nak baim" umi memperkenalkan aluna, aluna menyalami istrinustad bahar
"MasyaAllah cantik sekali, khalisa g ikut mbak?" ucap istri ustad bahar tersenyum dan aluna membalas senyumannya
"G dek, khalisa lagi ada tugas di pondok, jadi g bisa ikut" jawab umi
"Baiklah mbak dudukla dulu, saya bikinkan air minum" umi mengangguk tersenyum
"Jadi begini bahar, aku datang kesini ada maksud dan tujuan tertentu, kamu sudah tahu bukan? Hehehee" abi terkekeh memukul paha ustad bahar dan merekapun kembali tertawa
"Tentu saja aku tahu dan aku sangat senang sekali mendengarnya, semoga semuanya diizinkan oleh Allah SWT dan dimudahkan" ucap ustad bahar
"Aamiin ya robbal'alamiin" jawab abi dan lainnya
Tak lama kemudian ustad istri bahar muncul dengan membawa dua baki yang berisikan air dan beberapa cemilan, ia tidak sendiri, ia ditemani oleh putrinya aina yang digadang gadang akan menjadi calon dari atthar tahir
Umi aia dan aina meletakkan apa yang mereka bawa diatas meja tamu, umi aina mempersiahkan para tamunya untuk mencicipi hidangan
Aina menyalami umi atthar dan aluna, umi dan aluna tersenyum lembut menyambut aina, lalu iana duduk bersebelahan dengan umi di kursi yang berseberangan dengan atthar, ustad bahar menoleh ke arah putrinya lalu memperkenalkan putrinya
"Nah nak atthar, inilah anak saya, Aina Madina" ucap ustad bahar dan aina hanya sedikit menunduk
"MasayaAllah cantik sekali kamu nak" ucap umi tersenyum
"MasyaAllah tabarakallah terimakasih umi" ucap aina pelan, ia tersenyum lembut
Aina merupakan seorang gadis yang cantik, ia lembut dan berhijab seperti aluna, hijab yang aina kenakan hampir mencapai lututnya, ia sangat rajin mengikuti kegiatan kegiatan yang berbau agama, ia juga merupakan alumni dari pondok pesantren abi, namun jarak atthar dan aina cukup jauh yaitu 6 tahun jd sewaktu aina bersekolah disana atthar sudah menjalankan sekolahnya di Al Azhar
.
.
.
...Bersambung...
...Jangan lupa like, vote, koment dan hadiahnya...
__ADS_1
...Baca juga novelku yang lainnya yang tak kalah menarik...
...Terimakasih readers 🥰🙏...