
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa umur pernikahan mereka sudah berjalan lebih dari satu tahun hampir menginjak dua tahun dan khanza yang belum kunjung hamil merasa sangat kecewa, ntah ia kecewa dengan siapa, hari harinya tidak seperti biasa, ia terlihat sedikit murung sehingga atthar sedikit bigung menghadapi istinya
Khanza juga masih rutin membeli alat test kehamilan, ia selalu menghitung hari menstruasinya dan ia selalu menuggu, jika ia tekat satu hati saja ia akan selalu menggunaan alat test kehamilan tersebut higga menstruasinya benar benar ada
Atthar mengikuti apapun yang diinginkan dan diucapkan istrinya, disatu sisi ia sedih melihat istringa seperti itu dan disisi lain ia sangat rindu dengan istrinya yang ceria seperti dulu, untuk layanan khanza terhadapat atthar tidak ada yang berubah, khanza tetap memasak seperti hari hari biasanya dan ia juga melayani suaminya dengan sepenuh hati, hanya saja dengan Allah menunda keinginannya ia menjadi sedikit lebih pendiam dan seperti terlalu memikirkan apa yang ia inginkan
"Sayang....boleh mas berbicara sesuatu?" ucap atthar disaat mereka hendak tidur
"Mau bicara apa mas?" jawab khanza lembut
Atthar memindahkan kepala istrinya kelengannya sebagai bantal untuk istrinya dan mereka memang biasa seperti itu, atthar memeluk istrinya
"Bagaimana jika besok kita kekota? Kita akan melakukan medical check up ke dokter spesial kandungan, kita juga bisa sekalian melakukan program anak sayang" atthar berbicara sangat hati hati sekali, ia takut jika istrinya tersinggung, untuk saat ini perasaan khanza sangat sensitif
"Kenapa harus periksa mas? Alhamdulillah kitakan sehat sehat aja berdua" khanza melihat kearah suaminya
"Bukan seperti itu sayang, Alhamdulillah kita memang sehat sayang, hanya saja mas kemaren baca baca aja, untuk mengetahui kualitas sp*rma dan indung telur kita bagus atau tidak kita bisa memeriksanya sayang" ucap atthar lembut
"Nanti setelah itu kita akan tahu, menurut mas itu sih sah sah aja, namanya juga usaha sayang, Allah juga g mau kita minta sama Dia tanpa usaha, Allah sedang menguji kesabaran kita berdua" sambung atthar
"Allah hanya sedang menguji kesabaran khanza mas, bukan mas, hanya khanza yang sangat menginginkannya" khanza bepindah posisi, dari tidur dilengan suaminya kini ia memberi jarak dan kembali tidur dibantal miliknya
"Astagfirullah apa aku salah ngomong ya, memangnya aku ngomong apa tadi" ucap atthar dalam hati, ia mengingat kembali apa yang ia ucapakan barusan
"Sayaaang..kok ngomongnya gitu, mas minta maaf ya kalau mas salah, mas juga sangat menginginkan zuriat sayang, anak soleh dan soleha yang akan mirip seperti umma dan abinya" atthar berusaha membujuk istrinya, ia memeluk istrinya dari belakang
"Umma?" ucap khanza, seketika marahnya reda mendengar ucapan atthar yang memanggil dirinya umma
Atthar mengganguk, khanza menoleh kearah suaminya dengan tersenyum
"Umma...." khanza kembali berucap dan ia juga kembali tersenyum
__ADS_1
"Panggilan yang bagus sayang, nanti kalau kita punya anak khanza mau dipanggil umma aja" khanza lagi lagi tersenyum dan ia memutar tubuhnya untuk memeluk suaminya
"Alhamdulillah ya Allah, kali ini tidak sulit untuk membujuknya" atthar bersyukur istrinya tidak lagi merajuk, ia membelai rambut istrinya
"Iya sayang, umma memang panggilan yang bagus, mas bagusnya apa ya? Abi atau ayah aja?" tanya atthar, ia berusaha merubah suasana hati istrinya
"Hmmmmm, bagusnya ayah aja deh mas, umma dan ayah bagus kok, kalau abi itu cocoknya sama ummi" ucap khanza bersemangat, atthar merasa kasihan melihat istrinya, ia sangat berharap Allah memberikannya zuriat
"Ok baiklaaa, berarti mas anti dipanggil ayah aja ya?" dan kanza mengangguk
"Sayang, jadi gimana? Apa mau kekota seperti yang mas ucapkan tadi?" atthar kembali bertanya, ia bertanya juga sangat hati hati
Khanza mengangguk dipelukan suaminya, dan atthar tersenyum senang, ia ingin memeriksakan keadaan mereka berdua, semoga saja sehat dan dengan penjelasan dari dokter semoga saja istrinya bisa mengerti jika itu bukan kuasa manusia
Khanza tidur dipelukan suaminya, melihat khanza yang tidur pulas, atthar tersenyum, ia membelai dan mencium istrinya
"Kenapa kamu jadi seperti ini sayang, ini bukan khanza yang mas kenal, mas g bisa liat kamu bersedih terus setiap hari, mas ingin kamu ceria seperti dulu lagi, mas kangen kamu dek" atthar semakin mengeratkan pelukannya, ia sedih melihat istrinya yang terus murung dan ia juga tidak tahu harus berbuat apa
Atthar pun tertidur sambil memeluk istrinya, dan begitu juga khanza yang tidur dengan nyenyak di tempat ternyamannya yaitu pelukan suaminya
Seperti yang telah dijanjikan oleh suaminya, hari ini mereka akan pergi kekota dan menemui dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan, sebelum mereka kedokter mereka terlebih dulu berkunjung kerumah aluna dan baim untuk melihat ponaan semata wayang mereka
"Assalamuaaikum" ucap atthar dan khanza
"Waalaikumussalam" ucap aluna sambil menggendong uwais anaknya, tak butuh waktu lama khanza dan atthar menunggu didepan pintu apartement milik saudaranya
"MasyaAllah ada onty dan uncle, mari silahkan masuk, kenapa g ngabarin sih kalau mau datang?" ucap aluna
"G apa apa mbak, kita cuma sebentar kok" ucap khanza, matanya berbinar beralih ke uwais
Usia uwais saat ini sudah menginjak sepuluh bulan, lagi gemesh gemeshnya dan sangat aktif
__ADS_1
"Mbak mau pakeim uwais baju ya? boleh aku aja g mbak yang pakein?" sambung khanza
"MasyaAllah boleh banget donk onty, uwais sayang bunda sama onty dan uncle dulu ya, bunda mau bikin minuman dulu" ucap aluna dan ia pergi menuju dapur yang tidak jauh dari ruang tengahnya
Mata khanza berbinar melihat uwais, ia mengajak uwais berbicara dan uwais mengoceh menjawab apa yang diucpkan khanza, melihat uwais yang begitu imut tanpa sengaja air mata khanza mengalir
"Sayang kenapa menangis?" tanya atthar panik
Khanz menggelengkan kepalanya
"uwais terlalu gemesh mas" khanza tersenyum namun mengeluarkan air mata, didalam benaknya ia sudah berandai andai jika ia juga memiliki buah hati secerdas uwais pasti ia sangat bahagia
"Ya Allah dek, mas kirain kenapa lagi, mas bantuin mbak una dulu ya dek" atthar menyusul aluna yang berada didapur, ia igin bercerita sedikit kepada aluna yang dari dulu sudah menjadi sahabat dari istrinya, ditambah lagi mereka sama sama wanita jadi mungkin saja aluna lebih mengerti bagaimana perasaan khanza
"Ada apaaa?" tanya aluna begitu melihat atthar mendatanginya, seolah tahu jika adik iparnya dan sahabatnya sedang ada masalah
Atthar tersenyum kecut
"Mbak tau aja....mbak" atthar mulai menceritakan kondisi khanza saat ini, dark yang sering murung hingga saat khanza menangis karena terlalu gemesh melihat uwais, atthar menceritakan segalanya tanpa ada yang terlewati
Atthar berharap aluna bisa membantunya sehingga atthar tahu bagaimana ia harus bersikap untuk menghadapi istrinya
.
.
.
...Bersambung ...
...Terimakasi readers...
__ADS_1
...Maaf belum bisa sering upload..jahitan othor bermasalah readers..masih perlu penyembuhan...
...Mohon doanya ya 🥰🙏...