
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 wib, aluna dan baim sudah tiba dikediaman abi dan umi, seperti biasa umi dan abi menyambut anak dan menantunya dengan riang gembira
Umi dan abi belum mengetahui soal kehamilan aluna, rencananya mereka akan memberi kabar gembira pada abi dan umi hari ini, karena mereka ingin melihat langsung ekspresi bahagia umi dan abi yang telah lama menantikan cucu pertama mereka
"Apa kabar anak umi?" tanya umi memeluk aluna
"Alhamdulillah sehat umi, umi bagaimana?" tanya aluna balik
"Alhamdulillah kami semua sehat disini"
"Dimana khanza dan atthar umi?" tanya baim
"Mereka sedang memasak dirumahnya, makan siang ini mereka mengajak kita makan bersama" jawab umi
"Ayo kita masuk dulu umi abi, baim ingin mengatakan sesuatu" ucap baim
Baim memimpin abi untuk masuk, abi masih senantiasa menggunakan tongkatnya, walaupun sudah lebih baik dari sebelumnya
"Kabar apa nak?" tanya abi
Umi juga menanyakannya pada aluna dengan mengangkat dagu dan alis matanya sebagai isyarat, dan aluna menjawab dengan senyuman dan rangkulan saja
"Kabar yang sangat baik abi, ayo abi duduk dulu"
Baim menuntun abi untuk duduk dikursi diruang tamu mereka begitu pun aluna, ia membawa umi untuk duduk diruang tamu
Tak lama khalisa datang membawa nampan yang berisikn air serta cemilan, ya begitula keluarga umi dan abi melayani anaknya, walaupun anak mereka sendiri umi dan abi tetap melayaninya sebagaimana mereka melayani para tamu yang datang
Khalisa meletakkan nampak diatas meja dan menatanya, kemudian ia menyalami masnya dan juga memeluk kakak iparnya, ia memilih duduk disamping kakak iparnya
Baim tersenyum sebelum memberitahukan kabar gembiranya, ia meminta maaf jika terlamat memberi tahu
"Sebelumnya baim minta maaf abi, umi bukan bermaksud tidak memberitahu, rasanya tidak enak jika mmberitahu kabar gembira ini melalui telefon, jadi kami memilih untuk memberitahu umi dan abi disaat kami pulang, yaaaa walaupun sesdikit terlambat" ucap baim
"Jadi abi umi......" baim menjeda ucapannya
Umi dan abi dengar sabar menunggu dan mendengarkan, kecuali khalisa
__ADS_1
"Cepetan donk mas" ucap khalisa, umi memukul pelan tangan khalisa yang berada dilengan aluna
"Mbok yo sabar toh ndok" ucap umi
Baim terkekeh melihat khalisa yang selalu saja tidak sabaran
"Alhamdulillah abi, umi.....kami dititipkan rejeki dari Allah, rejeki yang selama ini kita semua tunggu tunggu, aluna hamil umi, abi" ucap baim penuh haru
Abi dan umi tak kalah terharunya, umi langsung mengucap syukur kepada Allah SWT dan ia memeluk menantunya dengan air mata bahagianya, begitupun khalisa, khalisa memeluk aluna sambil mengusap perut kakak iparnya
"MasyaAllah nak, Alhamdulillah Allah mengabulkan doa kita" ucap abi memeluk baim
"Sudah berapa bulan sayang?" tanya umi sedikit terisak
"Umi bahagia sekali nak, Allah telah mengabulkan doa kita dan ini buah dari kesabaran kalian" sambung umi, aluna yang juga larut dalam keharuan mengangguk berusaha tersenyum dideraian air mata
Umi menghapus air mata menantunya, ia mencium dahi aluna dan kembali memeluknya
"Sudah berapa bulan nak?" umi kembali menanyakannya, ia melepas pelukannya pada menantunya
"Sudah 9 minggu umi, doakan aluna sehat sehat ya umi" jawab aluna dan umi mengangguk tersenyum mengusap perut aluna, umk membacakn doa untuk calon cucunya, doa jika mngetahui kehamilan
"Dan kita g kepikiran buat tes kehamilan umi, hehehee, alhamdulillah janinnya sehat umi, abi dan umi bantu doa ya agar una dan calon bayinya sehat sehat" sambung una
"Iya nak, pasti umi dan abi doakan anak anak umi semuanya, kamu jaga kesehatan, makannya harus yang bergizi dan terlalu capek dan banyak pikiran ya nak" umi mengelus punggung menantunya
"Alhamdulillah khalisa dapat ponaan, selamat ya mbak dan mas baim" khalisa kembali memeluk aluna
Umi abi dan khalisa sangat bersyukur baim dan aluna telah dititipkan oleh Allah rejeki yang luar biasa, mereka akan terus berdoa agar aluna dan calon bayi mereka sehat selalu
Umi mengajak abi dan lainnya untuk pergi kerumah atthar, dikarenakan akan makan siang disana jadi mereka akan membantu sepasang pengantin baru itu untuk menyiapkan makanan
Dirumah atthar, khanza sedang mengulek sambal yang sangat lezat menurut suaminya, masakan lainnya sudah siap disajikan, hanya tersisa tinggal mengulek sambal yang belum diselesaikan, khanza tidak mengizinkan atthar untuk menguleknya, suaminya itu sudah membantunya banyak dan kali ini ia yang akan mengulek sambal sendiri
Walaupun khanza tidak mengizinkan atthar untuk membantunya tetapi atthar tetap setia menemani istrinya, ia berada disamping istrinya
Khanza mengulek dengan bercucuran keringat, atthar yang melihat keringat istrinya langsung berinisiatif untuk mengelap keringat istrinya
__ADS_1
Khanza tertawa renyah, suaminya tidak kehabisan akal membuatnya tertawa
"Hahahaa mas ngapain sih?" khanza tertawa, ia bertanya lembut
"Kasian istri mas kerja keras sampe keringetan" ucap atthar
Atthar juga menyelipkan rambut rambut istrinya yang terurai menutupi mata, khanza kembali tertawa
"Kenapa sih dek ketawa terus?" tanya khanza
"Mas yang bikin khanza ketawa, ngapain disini kalau hanya bantuin lap lap keringat dan nyelipin rambut, ntar g selesai loh khanza nguleknya, ketawa terus soalnya" jelas khanza
"Habisnya mas bantuin g dibolehin, ya uda mas bantu lapin keringatnya aja" mereka tertawa bersama, khanza kembali melanjutkan ulekkannya, mereka bekerja dengan penuh kasih sayang dan canda tawa sehingga tidak ada lelah diantara mereka
Setelah selesai, khanza membersihkan dirinya, karena menurutnya ia bau masakan begitu juga dengan atthar, disaat khanza hendak membuka pakaiannya, atthar tiba tiba masuk tanpa aba aba, biasanya atthar selalu mengetuk pintu terlebih dahulu
"Astagfirullahal'adzim" ucap attar yang spontan menutup matanya
Ia masih berada didalam kamar namun dengan membelakangi istrinya
"Maaf dek, mas lupa ketok pintu, buru buru soalnya takut umi dan abi sudah datang, adek masuk aja kekamar mandi, mas g liat kok" ucap atthar
"Baik mas, khanza jalan ni ya" ucap khanza, khanza jalan dengan sedikit berlari menuju kamar mandi, dikamar mandi ia tersenyum malu, ia berdiri didepan kaca kamar mandi melihat dirinya
"Apa aku berdosa tidak memberikan hak suamiku? Tapi ia juga tidak memintanya" khanza menghela nafasnya, ia sedang berpikir, ia berbicara pada dirinya sendiri melalui kaca kamar mandi
"Aku harus cari tau melalui internet....eh atau aku baca aja buku yang ia berikan kemaren, baikla aku akan membacanya" sambung khanza, ia pun melanjutkan untuk membersih tubuhnya
.
.
.
...Bersambung...
...Terimakasih readers 🥰...
__ADS_1
...Jangan lupa like, koment, follow, dan vote...