
Sinar mentari di pagi ini, sudah merambat dan masuk ke dalam celah-celah jendela kamar Safia. Safia saat ini masih berada di dalam kamarnya. Dia masih menatap ke luar jendela kamarnya.
Satu bulan setelah kejadian di malam itu, tidak membuat Safia lupa dengan apa yang sudah Rama lakukan terhadapnya.
Sampai detik ini, Safia masih memikirkan kejadian itu, yang membuat hubungan Safia dengan kakaknya berantakan.
"Semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Apalagi hubungan aku dengan Mbak Shakira," ucap Safia.
Safia memutar tubuhnya dan duduk di sisi ranjangnya.
"Untunglah, di sini aku bisa kenal dengan Bu Maryam. Dia baik banget sama aku."
Ya, setelah Safia sampai di kota besar, dia dipertemukan dengan ibu yang baik hati seperti Bu Maryam.
Bu Maryam sudah mencarikan Safia pekerjaan dan rumah kontrakan. Bahkan, Bu Maryam juga sering sekali datang ke rumah kontrakan Safia. Dia sering membawakan makanan untuk Safia.
Sejak pertama kali bertemu Safia, Bu Maryam merasa iba pada Safia. Karena di Jakarta, Safia tidak punya siapa-siapa. Makanya Bu Maryam dengan ikhlas mau menolong Safia.
Tok tok tok...
Suara ketukan dari luar rumah kontrakan Safia terdengar. Safia keluar dari kamarnya dan melangkah ke ruang tamu untuk membuka pintu.
Safia tersenyum saat melihat Bu Maryam sudah berdiri di depan rumah kontrakannya.
"Wa'alakiumsalam. Eh, Bu Maryam."
"Safia, kamu libur kerja kan hari ini?" tanya Bu Maryam.
"Iya Bu. Ayo masuk Bu!" Safia mempersilahkan Bu Maryam masuk.
Bu Maryam pun kemudian masuk ke dalam rumah kontrakan Safia setelah Safia mempersilahkan dia masuk.
"Duduk Bu!" Safia mempersilahkan Bu Maryam duduk.
"Ini Safia, ibu bawakan kamu makanan," ucap Bu Maryam sembari meletakan rantang yang berisi makanan di atas meja.
"Duh, nggak usah repot-repot Bu. Pakai bawa-bawa makanan ke sini segala."
Bu Maryam kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa mengikuti Safia duduk.
"Nggak apa-apa Safia. Hari ini, ibu masak banyak kok. Kamu kan tahu kalau ibu cuma tinggal berdua aja sama Resti. Jadi kalau masak ibu nggak pernah habis."
"Ibu nggak jualan?"
"Nggak. Ibu libur dulu. Jualan lagi sepi."
Safia manggut-manggut.
"Ibu mau minum apa? biar Safia buatin."
__ADS_1
"Nggak usah repot-repot Safia. Ibu cuma mau bawakan makanan ini aja kok."
"Harusnya, ibu itu tidak usah repot-repot Bu. Aku juga lagi nggak nafsu makan."
Hoek...Hoek ..Hoek...
Perut Safia tiba-tiba mual. Safia langsung berlari untuk ke kamar mandi. Safia mengeluarkan semua isi perutnya di sana.
"Safia kenapa ya, apa dia sakit," ucap Bu Maryam.
Bu Maryam bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah untuk melihat Safia di kamar mandi.
Bu Maryam mengetuk pintu kamar mandi Safia.
Tok tok tok ..
"Safia. Kamu nggak apa-apa kan Saf...!" seru Bu Maryam.
Beberapa saat kemudian, Safia keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak pucat. Dari kemarin Safia memang sudah merasakan pusing dan mual.
"Saf, kamu sakit? wajah kamu kok pucat banget?" ucap Bu Maryam memegang ke dua bahu Safia.
"Aku nggak apa-apa Bu " Safia mengusap bibirnya yang basah.
"Kamu yakin , kamu nggak apa-apa. Kalau kamu sakit, kamu periksa ke dokter. Nanti ibu antar."
"Nggak usah Bu. Mungkin aku cuma masuk angin aja."
Safia menggeleng.
"Ya udah. Kita makan dulu yuk!" Bu Maryam merangkul bahu Safia dan mengajaknya sampai ke depan.
Mereka kemudian duduk di sofa.
"Safia, ibu kebetulan masak banyak, dan ini ibu bawakan kamu makanan lumayan banyak. Biar buat setok kamu sampai nanti sore."
Bu Maryam membuka rantang yang berisi makanan. Dia kemudian bangkit berdiri.
"Ibu mau ke mana?" tanya Safia.
"Ibu mau ambilkan kamu piring untuk makan. Sekaligus mau buatin kamu teh manis hangat."
"Duh, nggak usah repot-repot Bu. Aku jadi nggak enak. Seharusnya kan aku Bu yang buatin minuman untuk ibu."
"Safia. Ibu kan sudah bilang. Di sini kan kamu jauh dari keluarga dan orang tua. Anggap saja saya ini orang tua kamu sendiri. Jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ke ibu. Nanti ibu bantu."
Safia tersenyum.
"Makasih banyak ya Bu."
__ADS_1
Bu Maryam kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Safia.
Beberapa saat kemudian, Bu Maryam datang dengan membawakan Safia teh manis hangat, piring dan juga sendok. Bu Maryam kemudian meletakkannya di atas meja.
"Safia, kamu sarapan dulu ya. Mungkin itu kamu masuk angin. Karena kamu jarang makan."
"Iya Bu. Makasih banyak ya Bu."
Bu Maryam kemudian mencedokan nasi dan lauk ke atas piring. Setelah itu dia memberikannya pada Safia.
"Ini kamu makan. Biar kamu nggak sakit."
"Sebenarnya, aku lagi nggak enak makan Bu dari kemarin. Kalau makan, rasanya mual dan ingin muntah."
Bu Maryam tersenyum..
"Itu namanya masuk angin. Karena kamu kalau berangkat kerja jarang sarapan. Masuk angin juga gejalanya sama kayak orang hamil muda."
Deg.
Safia terkejut saat mendengar ucapan Bu Maryam.
Apa mungkin, kalau gejala yang aku rasakan akhir-akhir ini adalah gejala kehamilan. Atau jangan-jangan aku memang lagi mengandung benihnya Mas Rama. Nggak mungkin, itu semua nggak mungkin. Mana mungkin hubungan satu malamku dengan Mas Rama membuat aku hamil. Mbak Shakira yang sudah berhubungan lama dengan Mas Rama saja belum hamil.
Safia diam. Sejak tadi dia masih larut dalam lamunannya.
"Safia, kamu kenapa? kenapa kamu diam aja? apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Bu Maryam.
"Eh, aku nggak apa-apa kok Bu. Aku nggak lagi mikirin apa-apa."
"Safia. Ayo di makan."
Safia mengangguk. Dia kemudian mengambil piring itu dan menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
"Safia, ibu pulang dulu ya. Tadi ibu lupa minta izin dulu ke Resti kalau ibu mau ke sini."
"Iya Bu. Makasih banyak ya untuk makanannya."
"Iya Safia. Sama-sama."
Bu Maryam bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan rumah kontrakan Safia.
Setelah Bu Maryam pergi, Safia menghentikan kunyahannya. Dia kemudian kembali berfikir.
Besok, aku harus beli tespack. Aku akan cek benar tidak kalau mual dan pusingku adalah gejala kehamilan. Tapi kalau benar bagaimana.
Safia sejak tadi masih tampak resah. Dia takut kalau kejadian di malam itu akan membuatnya hamil.
"Mudah-mudahan, gejala yang sedang aku alami ini, bukan gejala kehamilan. Tapi sampai sekarang saja aku belum haid. Bagaimana kalau benar aku hamil. Apa yang akan aku katakan sama orang-orang," ucap Safia.
__ADS_1
****