
Rama perlahan-lahan sudah bisa membuka matanya. Dia menatap satu persatu orang-orang yang ada di sisinya. Rama saat ini masih belum bisa bicara. Namun dia sudah bisa melihat kehadiran orang-orang yang ada di sisinya.
"Rama, akhirnya kamu sadar juga Rama. Mbak takut banget kehilangan kamu, Mbak dan ayahmu, berdoa siang malam agar kamu bisa membuka mata kamu lagi. Mbak ingin kamu sembuh dan berkumpul bersama kami lagi," ucap Intan.
Rama tersenyum kecil. Bibirnya tampak bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kamu mau bicara apa Rama?" tanya Pak Hendro pada anaknya. Dia sama sekali tidak mendengar suara Rama. Karena Rama memang masih kesulitan bicara karena alat bantu pernafasan masih menempel di mulutnya.
Beberapa saat kemudian, Vika bersama dua orang suster dan seorang dokter masuk ke dalam ruangan Rama.
"Dokter, Mas Rama sekarang sudah bisa membuka matanya. Dia sudah sadar Dok," ucap Vika tampak bahagia.
Rama melirik ke arah Vika.
Siapa gadis cantik ini, kenapa dia bisa ada di sini. Atau mungkinkah , gadis ini saudaranya Mas Hamdan atau temannya Mbak Intan. Rama hanya bisa bicara dalam hati.
"Kalian bisa tunggu di luar dulu. Saya akan memeriksa kondisi Rama."
"Baik Dok," ucap Pak Hendro.
Pak Hendro, Intan dan Vika kemudian keluar untuk menunggu dokter memeriksa Rama.
Beberapa saat kemudian, dokter dan dua orang suster itu keluar dari ruangan Rama.
"Bagaimana Dok, kondisi Rama anak saya?" tanya Pak Hendro.
"Rama saat ini, sudah bisa melewati masa kritisnya. Dan mungkin besok, dia sudah bisa dipindahkan ke ruangan perawatan. Tapi..." Dokter menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa Dok?" tanya Intan.
"Ada sesuatu yang sangat penting yang harus kalian tahu. Wajah Rama mengalami kerusakan. Dan sepertinya, kita harus melakukan tindakan operasi pada wajahnya," ucap Dokter.
"Apa! operasi?" Pak Hendro terkejut saat mendengar kata operasi dari dokter.
"Iya Pak, dan operasi ini membutuhkan sangat banyak biaya. Dan kaki Rama juga harus segera di operasi karena mengalami patah tulang. Jadi, kami akan melakukan dua tindakan operasi pada wajah dan kaki Rama," ucap dokter menjelaskan.
"Dokter, lakukan apa yang terbaik Dok. Masalah biaya, orang tua saya yang akan tanggung semuanya. Karena kami sudah janji kalau kami akan bertanggung jawab sepenuhnya atas musibah ini. Bila perlu lakukan sekarang operasinya biar Mas Rama bisa cepat-cepat sembuh."
__ADS_1
"Vika, kamu yakin akan membiayai operasi Rama. Rama harus melakukan dua tindakan operasi lho. Dan biayanya banyak banget Vik," ucap Intan.
Vika tersenyum.
"Aku akan telpon Papa Mbak. Mendingan Mbak yang bicara langsung sama papa aku, agar Mbak percaya kalau keluarga kami akan bertanggung jawab sepenuhnya."
Intan tersenyum dan menghela nafas dalam. Intan tahu sekarang kalau keluarga Vika adalah keluarga yang sangat bertanggung jawab. Walau mereka orang kaya, namun mereka tidak pernah semena-mena dengan orang-orang bawah seperti Rama dan keluarganya.
"Makasih banyak ya Vik, kalau kamu mau membiayai semua pengobatan Rama selama ada di rumah sakit ini," ucap Pak Hendro.
Vika tersenyum dan mengangguk.
"Iya Om, sama-sama. Saya juga menyesal dengan apa yang sudah saya lakukan pada Rama. Jika saja Rama nggak bisa jalan, saya juga siap kok, untuk merawat Rama sampai dia bisa jalan lagi. Biar kalian nggak repot."
****
Malam ini, Safia masih duduk di teras depan rumahnya. Bu Nining sejak tadi masih menatap Safia dari kejauhan.
"Sebenarnya, gadis itu kenapa sih? aku penasaran banget sebenarnya sama dia. Kemarin katanya dia dari rumah sakit, apa dia lagi sakit," ucap Bu Nining tetangga Safia yang tak lain adalah ibu pemilik kontrakan rumah Safia.
Bu Nining tidak begitu dekat dengan Bu Maryam dan Safia, jadi dia tidak terlalu tahu masalah yang sudah menimpa Safia. Namun melihat Safia yang selalu sendiri, membuat Bu Nining menjadi iba padanya.
Bu Nining berjalan pergi untuk menghampiri Safia. Rumah Bu Nining memang sangat dekat dengan rumah kontrakan Safia. Mungkin hanya beberapa langkah saja untuk Bu Nining sampai ke rumah kontrakan Safia.
"Safia," ucap Bu Nining.
Safia menoleh ke arah Bu Nining. Dia tersenyum ke arah seorang wanita yang usianya sepertinya masih empat puluh tahunan itu.
"Safia, kamu lagi ngapain di sini sendiri?" tanya Bu Nining.
Safia bangkit berdiri dan menghampiri Bu Nining.
"Aku lagi cari angin. Di dalam gerah Bu."
"Oh."
"Ibu mau ngapain malam-malam ke sini?" tanya Safia.
__ADS_1
"Nggak. Tadi saya cuma kasihan lihat kamu sendirian saja di luar."
"Kalau ibu mau temani aku, duduk aja Bu."
"Iya Safia."
Safia dan Bu Nining kemudian duduk bersama di teras depan rumah kontrakan Safia.
Bu Nining menatap Safia lekat.
"Kemarin kamu dirawat di rumah sakit ya? sebenarnya kamu sakit apa sih?"
Jadi Bu Nining belum tahu, kalau aku di rawat di rumah sakit karena keguguran. Bagaimana caranya menjelaskan ke Bu Nining kalau aku sekarang sedang hamil. Apa aku harus bohongi Bu Nining juga. Semakin orang tahu kehamilan aku, semakin banyak orang yang aku bohongi. Tapi kalau aku nggak bohong, aku takut mereka jadi berubah sama aku gara-gara aib ini," batin Safia.
"Aku cuma kelelahan aja Bu kemarin. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi kok sekarang."
"Ya syukurlah kalau begitu. Kelihatannya kamu juga pucat banget Safia. Udah malam, dingin di luar. Kamu kan baru pulang dari rumah sakit, kenapa kamu nggak masuk aja ke dalam. Nanti saya takut kamu masuk angin Safia. Dan kamu bisa sakit lagi."
Safia menatap Bu Nining lekat.
Kebetulan banget kalau Bu Nining nggak tanya macam-macam sama aku. Biar saja Bu Nining tahu dari Bu Maryam tentang kehamilan aku. Aku nggak mau terlalu banyak mengarang cerita dan membohongi orang-orang yang ada di sini.
Safia bangkit berdiri. Dia kemudian menatap Bu Nining.
"Bu Nining, aku masuk dulu ya. Benar apa kata Bu Nining. Kalau lama-lama di sini, jadi dingin."
"Iya Safia. Masuk aja. Aku juga mau pulang."
Safia kemudian melangkah masuk ke dalan rumahnya dan meninggalkan Bu Nining.
Sementara sejak tadi Bu Nining masih diam dan belum mau beranjak dari teras depan rumah kontrakan Safia.
"Kenapa aku lihat Safia pucat banget ya wajahnya. Sebenarnya Safia kenapa ya. Kenapa dengan Safia. Masa cuma kelelahan sampai pucat dan lemes gitu sih."
Setelah Safia masuk ke dalam rumahnya, Bu Nining pun pergi meninggalkan rumah Safia.
Setelah sampai di dalam kamar, Safia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kecilnya. Dia kemudian menatap ke depan.
__ADS_1
"Untunglah Bu Nining tidak tanya macam-macam sama aku. Aku bingung untuk menjelaskan pada Bu Nining tentang kehamilan aku ini," ucap Safia.