Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pisah ranjang


__ADS_3

Vika meneteskan air matanya. Dia kemudian menatap Rama.


"Mas, kamu kok dorong aku sih. Aku kan udah minta maaf sama kamu," ucap Vika.


"Tapi aku nggak akan pernah bisa memaafkan semua perbuatan kamu ke aku Vik. Sekarang kamu nggak usah berpura-pura lagi di depan aku Vik. Karena aku sudah tahu semuanya," ucap Rama yang sudah tidak bisa membendung lagi amarahnya pada istrinya.


Memang sudah lama, Rama ingin menanyakan soal ini pada Vika. Dan sudah lama juga, Rama memendam kekesalannya itu pada istrinya. Dan mungkin, inilah saatnya untuk Rama melampiaskan kemarahannya itu pada istrinya.


"Apa maksud kamu Mas?" tanya Vika yang masih belum mengerti apa yang membuat Rama bisa semarah ini.


"Tadi Bram kan, yang ngantar kamu dan Liza pulang. Kamu ke Bali sama Bram, dan kamu bermalam satu minggu juga sama Bram kan di Bali. Dan aku tahu siapa Bram. Bram itu mantan pacar kamu. Kamu udah nggak bisa mengelak sekarang Vika," ucap Rama.


Apa! Mas Rama tahu semua ini dari mana. Tidak mungkin dia tahu kalau aku dan Bram pernah selingkuhin dia, batin Vika.


Bak tersambar petir di siang bolong. Vika terkejut dan tidak menyangka kalau diam-diam ternyata suaminya tahu, dengan hubungannya dengan Bram.


"Mas Rama, ka...kamu..."


"Kamu apa? kamu fikir aku bodoh? Kamu fikir aku nggak tahu, kalau tadi kamu jalan sama Bram. Kamu fikir, kamu bisa bohongin aku terus terusan?"


"Aku memang jalan sama Bram Mas. Tapi kami nggak punya hubungan apa-apa kok Mas. Percayalah sama aku Mas, kalau aku sama Bram, cuma berteman aja. Nggak lebih dari itu. Dan tadi kami jalan-jalan juga sama Liza."


"Kamu fikir, aku akan percaya. Kalau kamu nggak punya hubungan apa-apa sama lelaki itu."


Rama mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Setelah itu dia menyerahkan ponsel itu ke istrinya.


"Kamu bisa lihat sendiri Vika, foto-foto Bram dan kamu di hape aku."


Vika mengambil ponsel Rama dari tangan Rama. Setelah itu Vika membukanya. Vika terkejut saat melihat banyak foto-foto mesra dirinya waktu bersama Bram di Bali. Bahkan, ternyata di ponsel itu ada foto Vika dan Bram tadi siang.


"Kamu dapat foto-foto ini dari mana Mas? apa jangan-jangan selama ini kamu sudah menyewa detektif untuk mata-matain aku, iya? atau kamu sudah ngikutin aku? Jahat banget sih Mas kamu."


"Jahat? seharusnya aku yang bilang seperti itu sama kamu. Kamu yang jahat. Kamu udah nuduh aku selingkuh, padahal kamu sendiri yang sudah selingkuh dibelakang aku bersama Bram."


"Mas, kamu udah salah paham Mas. Aku dan Bram nggak punya hubungan apa-apa. Aku nggak pernah Mas, selingkuhin kamu. Aku itu sayang dan cinta banget sama kamu."


Vika sudah tidak bisa menyangkal atau mengelak lagi. Dia hanya bisa menangis dan meminta maaf pada Rama.


"Mas, maafin aku Mas. Waktu ke Bali, aku memang sama Bram. Tapi aku nggak macam-macam sama dia kok Mas. Dan sekarang aku udah nggak punya hubungan apa-apa lagi sama lelaki itu."


Rama tersenyum kecut. Apakah dia akan semudah itu untuk percaya pada istrinya.


"Vika, aku udah nggak bisa menyentuh wanita yang sudah tersentuh lelaki lain. Dan mulai sekarang, kita pisah ranjang. Kita tidak usah tidur satu kamar lagi," ucap Rama.

__ADS_1


"Apa! kok gitu Mas."


Rama sudah tidak mau berlama-lama di kamar bersama istrinya. Dia mengambil ponsel yang ada di tangan Vika. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamarnya.


Rama sudah tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya. Sudah sejak lama, dia memendam kekecewaannya itu pada istrinya. Dan sekarang, Rama sudah lega, karena dia sudah bisa membuat Vika mengakui kesalahannya dan sudah membuat Vika tidak bisa berkutik lagi.


"Papa, papa mau ke mana?" tanya Liza yang sudah berdiri di depan pintu kamar Rama.


"Papa nggak mau ke mana-mana. Papa lapar, pengin makan. Papa mau masak mie instan di dapur."


"Oh. Tapi papa dan mama nggak berantem lagi kan?" tanya Liza.


Rama tersenyum dan menggeleng. Tanpa banyak bicara, Rama pun pergi meninggalkan Liza.


Setelah Rama pergi, perlahan-lahan Liza membuka pintu kamar ibunya. Liza terkejut saat melihat Vika menangis. Liza buru-buru menghampiri ibunya. Dia kemudian duduk di sisi ibunya.


"Mama, mama kenapa? kenapa mama nangis?" tanya Liza.


Vika mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Liza lekat.


"Mama nggak apa-apa sayang."


"Mama, jangan bohong sama Liza. Mama berantem lagi sama papa? apa semua ini karena Liza?" tanya Liza. Liza jadi ikut merasa bersalah, seandainya pertengkaran yang terjadi pada orang tuanya itu karena dia.


Vika tersenyum. Berusaha untuk menutupi kesedihannya dari Liza.


"Mama, apa mama capek? mau Liza pijat?"


"Kamu bisa pijat?"


"Bisa dong."


"Ya coba, sekarang kamu pijatin mama."


Liza kemudian mencoba untuk memijat ibunya. Selama ini, dia memang lebih dekat dengan Vika dari pada dengan Rama. Liza lebih sayang dengan ibunya karena selama ini Rama selalu sibuk dan jarang ada waktu untuk anaknya.


***


Saat ini, Rama masih berada di dapur. Dia mengambil mie instan untuk dia masak. Dari sepulang kerja, Rama memang belum makan. Dan saat ini, dia sudah merasakan lapar.


"Pak Rama, lagi ngapain?" tanya Bik Ijah yang tiba-tiba saja datang menghampiri Rama.


Rama menoleh ke arah Bik Ijah dan tersenyum.

__ADS_1


"Ini bik, mau buat mie instan. Bibik belum tidur?" tanya Rama.


"Belum Pak Rama. Bibi tadi lupa mau matiin lampu dapur. Pas bibi ingat, bibi balik lagi ke sini, eh ada Pak Rama di sini."


"Saya lapar, pengin makan. Jadi saya mau buat mie instan."


"Lho, Pak Rama belum makan? bibi fikir Pak Rama udah makan. Jadi bibi beresin lauk-lauknya dan masukin ke kulkas."


"Nggak apa-apa Bik."


"Non Liza udah pulang Pak Rama?"


"Udah. Dia ada di kamar sama ibunya."


"Biar bibi aja Pak Rama yang buatin mie instannya. Pak Rama tunggu aja di ruang makan."


"Nggak usah Bik. Ini udah waktunya bibi istirahat. Bibi sana, istirahat aja."


"Baiklah kalau begitu. Bibi ke kamar dulu ya Pak Rama."


Rama mengangguk. Setelah itu Bik Ijah melangkah ke belakang untuk ke kamarnya. Sementara Rama kembali melanjutkan memasak mie instannya.


Setelah mie instan matang, Rama melangkah ke meja makan dan meletakan mangkuk yang berisi mie itu di atas meja makan.


Rama tersenyum saat mengingat Safia dan Anna.


"Istri dan anak aku, udah tidur belum ya. Aku telpon mereka aja deh, barang kali mereka belum tidur."


Rama mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian menekan nomer Safia.


Tak lama kemudian, suara Safia dari balik telpon terdengar.


"Halo..."


"Halo sayang, lagi ngapain? kamu belum tidur?"


"Hoaaamm... aku terbangun Mas, gara-gara kamu telpon."


"Oh, sayang. Maafin Mas ya udah bangunin kamu."


"Kenapa nelpon? seharusnya sekarang kan kamu lagi kangen-kangenan sama mamanya Liza. Karena satu minggu kalian nggak ketemu."


Uhuk...uhuk...uhuk..

__ADS_1


Rama terbatuk-batuk tersedak mie instannya saat mendengar ucapan Safia.


"Mas, halo Mas. Kamu kenapa Mas? kamu nggak apa-apa kan?"


__ADS_2