
Malam ini, Anna Rama dan Safia masih berada di ruang tengah. Setelah makan malam, mereka masih tampak asyik menonton tivi. Dan Anna saat ini sudah duduk di tengah-tengah ke dua orang tuanya.
"Bunda, ayah, kenapa kalian nggak masuk-masuk ke kamar?" tanya Anna.
Safia dan Rama saling menatap. Rama kemudian tersenyum saat mendengar pertanyaan Anna.
"Lho, kenapa Anna yang bicara seperti itu? seharusnya ayah dong yang bicara seperti itu. Kenapa Anna nggak masuk-masuk ke kamar. Ini kan udah malam. Besok, Anna juga harus sekolah. Iya kan?"
Anna menatap ayahnya lekat.
"Ayah, ayah mau janji nggak sama Anna?" tanya Anna tiba-tiba.
"Janji Apa?"
Safia terkejut saat tiba-tiba saja Anna meraih tangannya. Anna juga meraih tangan Rama dan menyatukan tangan ke dua pasangan pengantin baru itu.
"Kalian janji ya, kalian nggak boleh berpisah setelah ini. Aku pengin melihat kalian bahagia. Ayah harus janji sama Anna kalau ayah nggak akan nyakitin bunda dan ninggalin bunda. Dan bunda juga harus janji sama Anna. Bunda nggak boleh marah-marah sama ayah, bunda harus selalu memaafkan ayah kalau ayah punya salah."
Safia dan Rama hanya tersenyum saat mendengar ucapan anak mereka.
"Dan ada satu permintaan aku ke kalian."
"Permintaan apa sayang?" tanya Rama lagi.
"Minggu depan, sekolah aku mau ngadain acara perpisahan kelas. Dan biasanya, teman-teman aku semua akan mengajak ayah dan bundanya ke acara itu. Kalian mau ya datang ke acara itu."
"Iya sayang. Bunda dan ayah pasti akan datang ke acara kamu. Iya kan ayah?" Safia menatap Rama meminta persetujuan suaminya.
"Iya bunda," ucap Rama menirukan gaya bicara Anna.
"Sekarang Anna tidur ya. Udah malam sayang. Besok Anna harus ke sekolah. Jangan sampai kesiangan ya," ucap Safia.
"Siap bunda..."
Safia mengecup pipi Anna. Begitu juga dengan Rama yang ikut mengecup pipi sebelah Anna. Dan Anna benar-benar bahagia karena bunda dan ayahnya sekarang sudah kumpul bersamanya .
Tuhan, inilah momen-momen yang aku tunggu-tunggu selama ini. Terimakasih Allah, Engkau telah mengabulkan doa-doa Anna selama ini.
__ADS_1
Setelah itu, Anna pun pergi meninggalkan ayah dan bundanya. Anna masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Sementara Safia dan Rama, masih berada di ruang tengah.
Rama menatap Safia lekat. Safia masih serius menatap layar tivi. Safia terkejut saat tiba-tiba saja layar tivi itu mati.
"Lho Mas, kok di matiin sih tivinya,"protes Safia.
Rama tersenyum.
"Kita ke kamar yuk!" ajak Rama.
"Mau ngapain ke kamar?"
"Kamu udah dewasakan, ya kamu tahulah kalau suami ngajak ke kamar, itu mau ngapain."
Ucapan Rama membuat wajah Safia merona merah. Safia benar-benar malu sekaligus takut, kalau Rama akan mengajaknya melakukan yang aneh-aneh.
Sebenarnya Safia belum siap melakukan hal itu. Dia masih trauma dengan kejadian malam itu.
"Em. Emang harus sekarang ya Mas?" Tanya Safia yang sudah salah tingkah.
"Lho, emang kenapa kalau aku minta sekarang. Nggak apa-apa kan sayang. Kita kan sudah sah. Kamu nggak dengar ustad ngomong apa. Kalau kita sudah sah dan sudah halal kita bebas kan melakukan apapun. Tuhan pun sudah nggak akan melarangnya."
"Kamu yakin mau malam ini Mas. Tapi aku belum siap Mas. Besok aja ya. Aku takut Mas."
Safia memutar tubuhnya dan akan melangkah keluar. Namun Rama buru-buru mencegahnya.
"Apa yang kamu takutin sayang. Jika kamu belum siap, aku pun nggak akan memaksamu. Tapi nggak apa-apa kan, kalau kita tidur bareng di ranjang ini."
"Tapi, ranjang ini sempit banget Mas. Masih luas ranjang yang ada di kamar Anna."
"Ya nggak apa-apa kita sempit-sempitan. Semakin sempit, semakin enak bukan."
"Auh..." Pekik Rama yang sudah mendapat cubitan dari istrinya.
"Kamu kenapa cubit aku sih sayang. Apa aku salah ngomong."
Tanpa banyak bicara, Safia masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian duduk di sisi ranjangnya. Begitu juga dengan Rama, setelah dia menutup pintu kamarnya, Rama kemudian duduk di sisi Safia duduk.
__ADS_1
"Kamu cantik banget sayang. Aku suka wanita yang selalu berpenampilan cantik seperti ini," ucap Rama sembari menangkup wajah Safia.
Rama kemudian mencium kening dan ke dua pipi Safia.
"Sebenarnya malam ini, aku ingin menikmati malam pertama kita. Tapi kalau kamu masih takut dan belum siap, nggak apa-apa. Aku akan tunggu hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi, sampai kamu siap."
Deg deg deg...
Sejak tadi jantung Safia masih berdegup kencang. Dan setiap Safia di dekat Rama, jantung itu selalu berdetak kencang. Sepertinya Safia memang grogi. Dia gugup saat berdekatan dengan Rama. Maklumlah, malam ini adalah malam pertamanya. Lebih tepatnya malam ke dua setelah kejadian malam itu.
"Bukankah, seharusnya ini adalah malam ke dua untuk kita Mas. Apa kamu lupa dengan malam itu."
Rama tersenyum.
"Iya Safia. Hanya dengan waktu semalam, aku sudah bisa mendapatkan seorang anak cantik dan pintar seperti Anna. Bagaimana kalau kita bermalam-malam melakukannya. Berapa anak yang akan kita dapatkan."
Safia diam. Untuk malam ini dia merasa lelah, karena acara tadi pagi, cukup menguras tenaganya.
"Mas, boleh aku tidur duluan?" tanya Safia.
"Iya sayang. Silahkan."
Safia naik ke atas ranjang kecilnya. Diikuti Rama yang ikut naik juga ke atas ranjang kecil itu. Mereka kemudian berbaring bersama dia atas ranjang kecil itu.
Rama memeluk Safia sembari berbisik.
"Sayang, rasanya sekarang aku sudah mulai jatuh cinta sama kamu. Kamu cepat banget membuat aku jatuh cinta. Bagaimana perasaan kamu ke aku sayang?" tanya Rama.
Safia menghela nafas dalam. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Rama.
"Aku nggak tahu Mas. Aku merasa jadi serba salah sekarang. Aku merasa bersalah dengan istri dan anak kamu. Tidak seharusnya kita melakukan pernikahan diam-diam seperti ini Mas."
"Safia, ingat lagi tujuan kita menikah. Kita menikah demi untuk menjaga nama baik kit dan demi membahagiakan Anna. Dan nggak ada salahnya kan kalau kita belajar saling mencintai. Jika kamu belum bisa mencintai aku, aku akan buat kamu tergila-gila padaku."
"Emang kamu bisa?" tanya Safia.
"Bisa dong sayang. Aku yakin, setelah raga kita menyatu, cinta itu akan datang dengan sendirinya. Makanya, biarkanlah aku memberikan nafkah batin untuk kamu."
__ADS_1
"Iya. Tunggu besok. Aku capek."
"Iya sayang. Aku akan selalu ngertiin kamu."