Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Sedih


__ADS_3

Sepulang kantor, Rama tidak langsung pulang ke rumahnya. Sore ini dia akan pergi dulu untuk menemui Anna. Setelah dia di usir Safia waktu itu, sekarang Rama sering menemui Anna diam-diam tanpa sepengetahuan Safia.


"Aku kangen sama Anna," ucap Rama di sela-sela menyetirnya.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari kantor sampai ke rumah Anna. Akhirnya, Rama sampai juga di gang kecil rumah kontrakan Anna.


Seperti biasa, Rama menghentikan laju mobilnya dan berhenti tepat di pinggir gang itu.


Sebelum turun dari mobilnya Rama menatap sekeliling tempat itu.


"Duh, kenapa sore ini sepi sekali. Kemana anak-anak itu. Aku butuh bantuan mereka. Aku ingin ketemu Anna," ucap Rama.


Beberapa saat kemudian, Aura dan ketiga temannya lewat di depan mobil Rama. Rama buru-buru turun dari mobilnya dan mencegat langkah Aura dan teman-temannya.


"Aura..." ucap Rama setelah turun dari mobilnya.


Aura dan ketiga temannya menghentikan langkahnya saat dia bertemu dengan Rama.


"Om Rama," ucap Aura.


"Kalian habis dari mana? kenapa rame-rame gini?" tanya Rama.


"Kami baru pulang ngaji Om," jawab Aura.


"Anna nggak ikut ngaji bareng kalian?"


"Nggak Om. Tadi aku ke rumah Anna nyamperin dia. Tapi rumah Anna sepi," jelas Aura.


"Oh. Rumah Anna sepi? kemana memang Annanya?"


"Aku nggak tahu ke mana perginya Anna."


"Sekarang Om butuh bantuan Aura. Tolong ya, ke rumah Anna lagi. Barang kali sekarang Anna sudah ada di rumah."


"Iya Om." Aura dan ke tiga temannya pergi meninggalkan Rama.


Aura melangkah untuk ke rumah Anna. Sesampainya di teras depan rumah Anna, Aura kemudian mengetuk pintu rumah Anna.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum. Anna...!" ucap Aura.


"Anna... Anna... kamu ada di dalam nggak An?" seru Aura dari luar rumah.


Wati menatap ke arah Aura. Dia kemudian mendekat ke arah Aura.


"Aura. Kamu mau ngapain di sini?" tanya Wati.


"Aku mau main sama Anna," jawab Aura.

__ADS_1


"Anna udah nggak tinggal di sini."


"Maksud Mbak Wati?" tanya Aura menatap lekat Wati.


"Satu jam yang lalu Anna pergi sama ibunya. Katanya mereka mau pindah rumah kontrakan," jawab Wati.


"Apa!" Aura terkejut saat mendengar ucapan Wati.


"Mbak Wati bohong ya."


"Bohong? untuk apa saya bohong. Emang Anna sudah pergi kok. Dia dan ibunya sudah pindah rumah," ucap Wati ketus.


Aura tampak sedih saat mengetahui kalau sahabat dekatnya itu pergi dan tidak akan tinggal di dekat rumahnya lagi.


Aura kemudian melangkah pergi untuk menghampiri Rama yang masih ada di dekat gang rumahnya.


"Om Rama, Anna udah pergi dan nggak ada di rumahnya," ucap Aura menjelaskan.


"Kamu tahu Anna pergi ke mana?" tanya Rama.


"Tadi kata Mbak Wati, Anna dan Tante Safia sudah nggak tinggal di sini lagi. Katanya mereka sudah pindah rumah kontrakan."


Rama terkejut saat mendengar ucapan Aura.


"Apa! pindah rumah. Kok bisa? tapi kan kemarin Anna nggak bilang apa-apa sama Om."


"Anna pergi juga begitu aja Om. Dia juga nggak pamitan dulu sama aku."


"Aura, kamu tahu di mana Anna pindah?" tanya Rama.


"Nggak Om. Anna dan Tante Safia nggak pernah bilang apa-apa kok sama aku Om. Tadi juga mereka nggak pamitan sama aku."


"Ya udah Aura. Kalau begitu, Om pulang dulu ya. Kalau nanti kamu ketemu Anna di sekolahnya, tolong sampaikan salam Om untuk Anna. "


"Iya Om."


Rama masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia meluncur pergi meninggalkan tempat itu.


"Anna, kemana sebenarnya kamu pergi. Kenapa Safia tiba-tiba saja pindah rumah dan membawa Anna pergi. Apa yang ada di dalam fikiran wanita itu. Apa mungkin dia pindah rumah karena aku. Dia tidak mau aku ketemu dengan Anna. Dia ingin memisahkan aku dengan Anna. Aku kan sayang sama Anna. Dan aku nggak punya niat buruk apapun pada anaknya Safia. Justru aku ingin selalu membantu Anna," ucap Rama di sela-sela menyetirnya.


Rama saat ini benar-benar sedih. Dia masih tidak mengerti dengan sikap Safia. Setelah dia mengusir Rama waktu itu, sekarang dia membawa Anna pindah rumah.


"Aku yakin, Safia pindah rumah karena aku. Dia tidak mau aku dekat-dekat dengan Anna lagi. Tapi kenapa? apa karena masa lalu kita yang membuat Safia sebenci itu sama aku. Apakah Safia tidak bisa melupakan masa lalu kami itu."


Sesampainya Rama di depan rumahnya, Rama memarkirkan mobilnya di garasi. Dia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah sampai ke teras depan rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Rama sebelum masuk ke dalam rumah.


"Wa'alakiumsalam," ucapan Vika dari dalam rumah sudah terdengar. Rama kemudian buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Dia tersenyum saat melihat istrinya sudah menyambutnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Sayang, kamu udah pulang?' " ucap Vika sembari mendekati suaminya.


Vika mencium punggung tangan suaminya dan mengambil tas suaminya. Dia kemudian membawakan tas Rama.


"Sayang, rumah kok sepi banget. Pada kemana?" tanya Rama


"Ibu kan lagi sakit. Dia ada di kamar. Kalau Liza, dia lagi main di belakang sama Bik Ijah," jawab Vika.


"Kalau Shakira?"


"Shakira sudah pulang ke rumahnya tadi Mas."


"Oh..."


Rama kemudian melangkah naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Rama kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Vika sejak tadi hanya bisa mengikuti langkah suaminya.


Vika meletakan tas Rama di meja. Setelah itu dia ikut duduk di sisi Rama duduk.


"Mas, kamu kenapa lagi? kenapa kamu kelihatan sedih begitu?" tanya Vika.


"Aku nggak apa-apa. Aku cuma capek aja," ucap Rama sembari melepaskan dasinya.


"Kamu mau mandi dulu atau nanti saja?"


"Aku nanti saja mandinya. Aku haus. Kamu bisa nggak ambilin minum untuk aku?"


"Kamu mau minum apa?"


"Air putih saja Vik."


"Ya udah, aku ambilin ya."


Vika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamar untuk mengambilkan Rama air putih.


"Kemana ya Safia pergi membawa Anna. Kenapa dia pindah rumah. Untuk apa coba. Tapi aku janji, aku akan mencari mereka sampai ketemu. Dan aku pasti akan menemukan mereka lagi," ucap Rama.


Beberapa saat kemudian, Vika masuk ke dalam kamarnya sembari membawa satu gelas air putih untuk Rama.


Dia kemudian menyodorkan gelas itu pada Rama.


"Ini Mas," ucap Vika.


"Makasih," ucap Rama sembari meraih gelas yang ada di tangan istrinya.


Setelah menegak satu gelas air putih, Rama kemudian mengembalikan gelas itu pada istrinya.


"Makasih ya Vik," ucap Rama.


"Kamu habis satu gelas Mas? apa kamu haus ya?"

__ADS_1


Rama mengangguk. "Iya. Aku haus dari tadi."


__ADS_2