Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Bertemu di cafe


__ADS_3

Malam ini Rama dan Vika sudah berada di parkiran cafe. Mereka kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam cafe.


Vika memutar bola matanya untuk mencari sahabatnya, pemilik cafe itu.


"Ini cafe barunya sayang?" tanya Rama.


"Iya Mas. Ini cafe baru teman aku. Tapi teman aku mana ya, kok ngga ada di sini?"


"Kamu udah janjian belum sama teman kamu?"


"Belum Mas. Tapi aku kan udah chat dia kalau aku mau ke cafenya."


"Ya udahlah, ayo kita duduk. Jangan berdiri terus di sini."


Rama merangkul bahu Vika dan mengajaknya duduk.


"Duduk sini sayang," ucap Rama sembari menarik kursi untuk istrinya duduk.


"Makasih Mas," ucap Vika sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Liza duduk sini sayang, dekat papa," ucap Rama sembari menarik kursi untuk anaknya duduk.


"Iya Papa." Liza kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di kursi itu.


Rama memang lelaki yang sangat baik. Dia sayang sama Vika dan Liza. Walau dari awal Rama menikah dengan Vika, bukan karena cinta, namun selama ini dia selalu mencoba untuk mencintai istrinya itu. Apalagi sekarang di tengah-tengah mereka sudah ada Liza buah cinta mereka.


"Kalian tunggu di sini dulu ya," ucap Rama.


"Papa mau ke mana?" tanya Liza menatap ayahnya lekat.


"Papa mau pesan makanan dan minuman dulu untuk kalian."


Rama kemudian ke belakang untuk memesan makanan. Sementara istri dan anaknya menunggu di meja cafe.


Beberapa saat kemudian, Rama kembali dan duduk di sisi Liza.


"Papa sudah sekalian pesanin makanan untuk kalian.Kita tunggu saja ya."


Vika sejak tadi masih menatap sekeliling, berharap kalau sahabatnya ada di cafe itu.


"Kemana sih tuh orang," ucap Vika kesal saat tidak melihat sahabatnya ada di cafe itu.


"Kenapa sayang?" tanya Rama yang bingung saat melihat sikap istrinya.


"Aku mau telpon Ovi dulu Mas."


"Iya. Silahkan."


Vika kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Setelah itu dia menekan nomer Ovi sahabatnya yang punya cafe.


"Halo..."


"Halo Vik. Ada apa?"


"Ovi. Aku lagi ada di cafe baru kamu nih. Kamu di mana?"


"Duh, aku nggak bisa ke sana. Aku lagi di luar kota nih."

__ADS_1


"Lho, kok kamu nggak bilang sih kalau kamu mau ke luar kota. Katanya kamu mau meresmikan cafe baru kamu."


"Iya. Tapi bukan sekarang. Aku lagi ada di perjalanan ke Surabaya. Lagu ada urusan penting nih."


"Oh. Ya udah deh kalau gitu."


"Oh iya. Kamu di cafe sama siapa?"


"Sama suami dan anak."


"Ya udah, kamu nikmati aja makan malamnya di situ. Nanti kita ketemu kalau aku sudah pulang dari Surabaya."


"Ya udah deh. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah memutuskan saluran telponnya, Vika menatap Rama.


"Kenapa Vik?" tanya Rama.


"Ternyata Ovi lagi ada dalam perjalanan ke Surabaya Mas," jawab Vika yang tampak kecewa.


"Ya udah, kita lanjutkan aja makan malam."


"Iya Mas."


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan menghampiri meja Rama dan Vika.


Dia kemudian meletakan pesanan Rama di atas meja.


"Makasih ya Mbak," ucap Vika.


"Iya. Sama-sama Bu." Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan meja Rama dan Vika.


Rama menatap Vika.


"Vika, Liza, ayo kita makan."


"Iya," ucap Liza dan Vika bersamaan.


Liza, Rama dan Vika kemudian makan bersama. Tak ada satu katapun yang mereka ucapkan. Mereka tampak menikmati hidangan yang ada di cafe itu malam ini.


"Mama, Papa, makanan di sini enak-enak ya Ma," ucap Liza menatap Rama dan Vika bergantian.


Rama tersenyum dan mengangguk.


"Duh, Vika, Liza, papa ke toilet dulu ya. Tiba-tiba kok perut papa mules ya," ucap Rama.


"Kamu mau ke toilet Mas? ya udah sana, kalau mau toilet. Jangan di tahan-tahan kalau udah kebelet."


"Iya sayang."


Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke belakang untuk ke toilet.


Setelah beberapa saat Rama berada di toilet, Rama kemudian keluar dari toilet. Dia akan melangkah kembali untuk ke tempat istrinya. Namun dia melihat pemandangan yang tidak mengenakan di belakang.


"Kamu gimana sih? baru satu hari kerja di sini, sudah bikin masalah. Kamu tahu, berapa harga piring yang kamu pecahin itu? harganya mahal. Mau, gaji kamu saya potong...! " ucap seorang lelaki sembari berkacak pinggang di hadapan seorang pelayan wanita.

__ADS_1


Pelayan wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah karena sudah memecahkan piring yang ada di cafe itu.


"Maafkan saya Pak. Saya tidak sengaja."


"Kamu harus ganti piring yang kamu pecahin itu. Kalau sekali lagi kamu berbuat ceroboh lagi, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kamu dari sini ...!"


Lelaki berkacamata itu menatap satu persatu pelayannya.


"Ini pelajaran untuk kalian semua. Saya tidak mau dengar lagi, masalah seperti ini. Kalau sampai ada yang berbuat ceroboh seperti wanita ini, saya tidak akan segan-segan untuk memecat kalian. Ngerti...!"


"Ngerti Pak." ucap para pelayan itu serempak.


"Dan kamu...! kamu harus ganti piring yang udah kamu pecahkan itu." Lelaki itu menunjuk wajah pelayan itu.


"Tapi Pak. Saya kan nggak punya uang untuk ganti piring itu Pak."


"Pokoknya saya tidak mau tahu. Kamu harus ganti piring itu atau gaji kamu akan saya potong...!"


Rama yang penasaran langsung mendekat ke arah lelaki itu.


"Berapa harga piring yang wanita ini pecahkan? biar saya yang akan menggantinya," ucap Rama sembari merogoh dompet yang ada di dalam saku jasnya.


Lelaki itu menatap Rama lekat.


"Tidak usah Pak. Dia kan yang memecahkan piring itu. Seharusnya dia yang ganti piring itu. Bukan anda yang harus menggantinya."


"Tapi saya akan membantu dia untuk mengganti rugi piring yang sudah dia pecahkan. Dan Tolong ya Pak. Jangan kasar-kasar sama karyawan, kalau mau karyawan anda betah kerja di sini."


"Maaf Pak. Saya cuma menjalankan perintah saja dari atasan."


"Tapi jangan seperti ini anda memperlakukan karyawan anda. Kalau seperti ini, saya yakin nggak akan ada orang yang betah kerja di sini."


Rama kemudian memberikan beberapa lembar uang ratusan pada lelaki berkacamata itu.


"Ini, buat ganti rugi piring yang tadi wanita ini pecahkan. Dan tolong, izinkan dia untuk kembali kerja dan berhentilah untuk memarahinya. Saya yakin, kalau dia tidak bersalah. Mungkin dia memang tidak sengaja memecahkan piring itu."


Lelaki berkaca mata itu menatap uang itu lekat.


"Tapi ini kebanyakan Pak."


"Ambil saya. Uang itu, bisa untuk membeli banyak piring yang pecah."


Lelaki itu tampak malu, saat mendengar ucapan Rama. Dia kemudian meninggalkan tempat itu begitu saja. Begitu juga dengan pelayanan yang lain. Mereka juga ikut pergi meninggalkan tempat itu.


Rama menatap wanita yang ada di dekatnya berdiri.


"Kamu tenang aja. Nggak usah takut ya, aku sudah mengganti rugi piring yang kamu pecahkan tadi. Dan semoga setelah itu kamu bisa kerja lebih fokus lagi," ucap Rama pada wanita yang sejak tadi masih menundukan kepalanya itu.


"Makasih," ucap wanita itu sembari mengangkat kepalanya dan menatap Rama.


Rama terkejut saat melihat wanita yang sangat dikenalnya itu. Begitu juga dengan Safia yang terkejut saat melihat Rama.


"Safia..." ucap Rama.


Safia menatap Rama tanpa berkedip. Dia tidak pangling dengan wajah Rama. Namun dia pangling dengan penampilan Rama saat ini.


Mas Rama, kenapa dia bisa ada di sini, batin Safia.

__ADS_1


__ADS_2