
Siang ini, Pak Junedi dan Bu Astri masih berada di ruang keluarga.
Pak Junedi sejak tadi masih mencoba untuk menghubungi saudara-saudaranya untuk menanyakan keberadaan Safia saat ini.
Namun dari mereka semua, tidak ada yang tahu dimana keberadaan Safia. Pak Junedi mulai cemas dan mengkhawatirkan keadaan Safia.
"Bu, Safia tidak ada di mana pun. Bapak sudah nelpon saudara-saudara kita. Tapi tidak ada yang tahu di mana keberadaan Safia," ucap Pak Junedi menatap lekat wajah istrinya.
"Coba bapak telpon teman-temannya Safia. Siapa tahu mereka ada yang tahu dimana keberadaan Safia. Ngga mungkin kan Safia pergi jauh," ucap Bu Astri.
"Iya Bu."
Pak Junedi kemudian menelpon Asma teman yang cukup akrab dengan Safia.
"Halo. Assalamualaikum."
"Halo Wa'alakiumsalam Asma. Ini bapaknya Safia."
"Oh. Ada apa Pak?"
"Apakah Safia ada sama kamu?"
"Oh. Nggak ada Pak. Emang kenapa Pak?"
"Tadi pagi Safia pergi dari rumah. Bapak sudah nelpon ke semua saudara Safia. Tapi Safia tidak ada di sana. Dan mereka semua juga tidak tahu keberadaan Safia."
"Ya ampun. Safia nggak izin dulu sama bapak. Dia nggak bilang dulu kalau dia mau pergi kemana."
"Nggak. Safia pergi begitu saja. Dia pergi dengan membawa semua baju-bajunya dan meninggalkan sebuah surat."
"Duh, jangan-jangan Safia pergi jauh Pak. Apa Safia sedang ada masalah di rumah sehingga membuatnya pergi?"
"Iya. Safia memang lagi punya masalah. Tolong ya Nak Asma, tolong telpon teman-teman Safia yang lain dan tanyakan keberadaan Safia pada mereka. Nanti Nak Asma hubungi bapak lagi."
"Iya Pak. Nanti aku akan bantu cari Safia. Bapak tenang saja ya."
Setelah menelpon Asma teman dekat Safia, Pak Junedi kemudian meletakkan telponnya di atas meja.
"Gimana Pak?" tanya Bu Astri.
"Safia nggak ada sama Asma. Tapi bapak sudah bilang sama Asma, bapak minta dia untuk ikut menanyakan Safia ke teman-teman yang lain."
Dari kejauhan Shakira masih mengintip dari balik dinding percakapan ke dua orang tuanya. Shakira sejak tadi masih menatap ke dua orang tuanya tajam dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.
"Ibu dan bapak panik banget saat Safia pergi dari rumah. Apakah mereka akan panik juga, kalau yang pergi dari rumah itu aku," gumam Shakira.
__ADS_1
****
Sore ini, Safia sudah sampai di salah satu terminal yang ada di kota Jakarta. Safia turun dari bis dan menatap sekeliling. Baru kali ini dia menginjakan kakinya di kota metropolitan itu.
Tidak ada saudara atau teman satu pun yang ada di Jakarta. Namun dengan tekad yang kuat, Safia memberanikan dirinya untuk pergi ke kota itu.
Safia melangkah untuk mencari makanan. Dia merogoh saku bajunya. Hanya tinggal beberapa uang recehan di dalam saku. Sudah sejak tadi pagi Safia belum makan. Dan saat ini, dia merasakan perutnya sakit karena sejak tadi dia masih menahan lapar.
Safia menyebrang jalan untuk sampai ke sebuah rumah makan yang ada di dekat terminal.
"Bu, saya mau beli makan," ucap Safia pada ibu pemilik warung makan.
"Oh, iya Neng. Mau dibungkus atau mau dimakan di sini?" tanya ibu pemilik warung makan itu.
"Makan di sini aja Bu," jawab Safia.
"Silahkan duduk dulu Neng." ibu itu mempersilahkan Safia untuk duduk.
"Iya Bu."
Safia kemudian duduk untuk menunggu makanan pesanannya datang.
"Minumnya apa Neng?"
"Iya. Tunggu ya."
Beberapa saat kemudian, makanan dan minuman pesanan Safia datang. Ibu pemilik warung makan itu, kemudian meletakan segelas teh manis hangat dan nasi ke atas meja.
"Silahkan Neng dinikmati."
"Iya Bu makasih."
Safia kemudian mulai melahap makanannya.Kebetulan di warung makan itu sepi. Mungkin karena sudah sore dan warung itu juga sebentar lagi mau tutup.
"Sudah mau tutup ya Bu warungnya?" tanya Safia di sela-sela kunyahannya.
"Iya Neng. Sebentar lagi akan saya tutup warungnya. Saya jualan juga sudah dari tadi pagi. Kalau jam segini ya udah capek. Cuma mau ngabisin makanan ini aja."
"Oh, ibu orang mana? udah lama ya jualan di sini?" tanya Safia.
"Kalau saya asli orang Tegal. Saya sudah hampir sepuluh tahun jualan di sini. Dulunya sih sama suami. Setelah suami meninggal saya jualan sendiri."
"Oh. Barang kali ibu butuh orang untuk bantu-bantu Bu. Saya siap kok kerja di sini. Nggak apa-apa kalau ibu cuma mau ngasih makan saya saja. Saya cuma butuh tempat tinggal saja sebenarnya Bu," ucap Safia berharap ibu pemilik warung makan itu mau membantu kesulitannya.
Ibu itu mendekat ke arah Safia. Dia kemudian menatap Safia dan tas baju yang ada di sisi Safia duduk.
__ADS_1
"Kamu mau kemana sebenarnya Neng?"
"Saya dari kampung juga Bu. Saya baru menginjakan kaki saya di sini. Saya ingin merubah nasib saya dengan merantau di sini."
"Oh begitu? Punya saudara di sini?"
Safia menggeleng. "Nggak punya Bu."
Ibu pemilik warung itu menatap Safia Iba.
"Saya ingin cari kontrakan dan saya ingin cari kerjaan Bu."
"Duh, kalau nggak punya saudara susah juga hidup di sini Neng. Ini tuh Jakarta. Kehidupan orang-orang di sini sangat keras. Kamu mau kemana setelah ini?"
"Aku nggak tahu mau kemana. Aku nggak punya tempat tujuan."
"Maaf ya, keadaan ibu juga lagi begini Neng. Warungnya banyak saingan dan sepi pembeli. Jadi ibu nggak bisa bayar karyawan. Dan kebetulan anak-anak ibu kan perempuan semua. Jadi setiap hari mereka ke sini bantuin ibu. Maaf ya Neng, ibu nggak bisa mempekerjakan neng di sini."
Safia tampak sedih. Sebenernya dia hanya butuh orang yang mau menolongnya. Tapi sepertinya ibu pemilik warung itu tampak keberatan menerima Safia untuk kerja di warungnya. Padahal Safia tidak minta gaji. Dia hanya minta tempat tinggal dan makan saja.
"Oh iya. Nama kamu siapa?" tanya ibu itu.
"Safia Bu," jawab Safia singkat.
"Oh. Kalau nama ibu Maryam. Kamu bisa panggil ibu dengan sebutan Bu Maryam."
Safia mengangguk.
"Iya Bu."
"Sebenarnya ibu punya kenalan. Dia punya laundry sendiri. Kalau kamu butuh kerjaan, nanti saya bisa ajak kamu untuk ke sana. Siapa tahu di sana ada lowongan kerja."
Safia membelalakkan matanya dan langsung menatap ke arah Bu Maryam.
"Oh iya? benarkah itu Bu? aku mau Bu kerja di sana."
"Iya. Nanti ibu antar kamu ke sana ya. Nanti setelah ini kamu ikut ibu pulang ya. Untuk sementara boleh kok kamu tinggal dulu di rumah ibu."
"Oh iya Bu. Makasih banyak ya Bu."
"Iya."
Safia bahagia karena ternyata masih ada orang baik yang mau menolongnya.
****
__ADS_1