Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Ingatan Rama


__ADS_3

Safia dan Bu Windi melangkah ke ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, mereka kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu.


Safia menatap Bu Windi lekat.


"Bu, kok sepi banget. Hari ini laundry libur ya. Kok aku nggak tahu ya kalau hari ini laundry libur?" tanya Safia.


"Safia, sebenarnya semua teman-teman kamu sudah tidak kerja lagi di sini. Saya sudah memberhentikan mereka semua dari laundry saya," ucap Bu Windi yang membuat Safia terkejut.


"Lho kok begitu? emang kenapa Bu?" tanya Safia.


"Sebenarnya saya ingin bicara ini sama kamu sejak kemarin. Tapi saya belum ada waktu Safia. Kalau teman-teman kamu itu sudah tahu, kalau saya sudah ingin menutup laundry ini."


"Apa! tutup?" pekik Safia.


"Iya Safia."


"Kenapa Laundry mau di tutup Bu?"


"Iya Safia. Laundry sudah tidak ramai lagi seperti dulu. Sekarang orang yang punya jasa laundry itu bukan cuma ibu. Tapi banyak. Dan kayaknya usaha Laundry ibu sudah tidak bisa berjalan lagi sejak banyaknya saingan di sini," ucap bu Windi.


"Oh. Terus bagaimana Bu?" tanya Safia.


"Saya sekeluarga mau pindah ke kampung dan mau usaha di kampung saja Safia. Mau nyoba usaha tani di kampung,"jawab Bu Windi.


Sebenarnya Bu Windi juga sedih harus menutup usaha laundrinya. Dan dia juga tidak tega harus memberhentikan karyawan-karyawannya. Tapi mau bagaimana lagi, usaha laundry Bu Windi sekarang sudah bangkrut dan dia sudah tidak bisa menggaji karyawan-karyawannya lagi. Jadi terpaksa dia menutup usaha laundrinya.


Kalau laundry Bu Windi tutup, lalu bagaimana dengan saya. Saya mau kerja apa kalau nggak kerja di laundry Bu Windi. Ini kan pekerjaan satu-satunya yang saya punya. Kasihan anak saya, kalau saya nggak punya kerjaan. Apalagi Anna ingin beli sepatu baru. Tapi saya nggak punya uang untuk membelikannya.


"Kalau Laundry ibu tutup, saya mau kerja apa Bu? dan saya mau mendapatkan penghasilan dari mana?" ucap Safia yang tampak bingung dengan ucapan Bu Windi.


"Ya kamu cari kerjaan lain Safia."


Tapi saya mau kerja apa dan kerja di mana? mencari kerjaan sekarang kan susah. batin Safia.


Bu Windi bangkit dari duduknya.


"Tunggu sebentar ya Safia," ucap Bu Windi.


Bu Windi kemudian melangkah pergi meninggalkan Safia di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian, Bu Windi menghampiri Safia dan duduk di sisi Safia. Bu Windi kemudian menyodorkan amplop coklat pada Safia.


"Apa ini Bu?" tanya Safia.


"Ini gaji kamu bulan yang lalu dan bulan ini. Dan di dalam amplop ini juga ada pesangon untuk kamu. Terimakasih ya Safia karena kamu sudah menjadi karyawan yang terbaik di sini. Dan maafkan saya karena saya sudah memberhentikan kamu kerja."


Safia tersenyum. Dia sangat mengerti kondisi Bu Windi saat ini. Dan Safia pun bisa memaklumi itu.

__ADS_1


"Makasih ya Bu Windi untuk semua kebaikan Bu Windi selama ini sama saya. Terus, kapan Bu Windi dan keluarga akan pergi ke kampung?" tanya Safia.


"Mungkin minggu ini Safia."


"Oh..."


"Ya udah Bu. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya Bu."


"Iya Safia."


Setelah berpamitan dengan Bu Windi, Safia kemudian pergi meninggalkan rumah Bu Windi. Dia kemudian berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya.


Sesampainya di depan rumahnya, Safia kemudian membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya. Safia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


"Ya Allah, bagaimana ini. Kenapa jadi seperti ini. Kalau aku nggak kerja di laundrinya Bu Windi, lalu aku mau kerja apa," gumam Safia.


Safia bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menyimpan uang pemberian Bu Windi itu ke dalam laci lemarinya.


"Aku harus gunakan uang ini baik-baik. Aku harus ngirit sampai aku mendapatkan pekerjaan lagi," ucap Safia


****


Pagi ini, Vika masih berada di dapur bersama Mbak Ike asisten rumah tangganya. Setiap pagi, Vika membantu Mbak Ike memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Rama dan menyiapkan bekal makan siang Rama.


"Mama...Mama ..." seru Liza sembari mendekat ke arah ibunya.


"Mama, sepatu aku mana Ma?" tanya Liza pada Vika.


"Sepatu? tuh tanya sama Mbak Ike." Vika menunjuk ke arah Ike yang sedang menggoreng ikan.


"Mbak Ike, lihat sepatu Liza yang ada di ruang tengah nggak?" tanya Liza pada Ike assiten rumah tangganya.


"Oh, sepatunya mau di pakai lagi ya Non?" tanya Mbak Ike.


"Iya Mbak."


"Mbak taruh di rak belakang Non. Sebenarnya mau Mbak cuci sepatunya."


"Jangan Mbak. Aku mau pakai lagi. Kan belum kotor."


"Sana Mbak, ambilkan sepatu Liza. Biar aku yang gantiin Mbak goreng ikan." ucap Vika.


"Iya Bu."


Mbak Ike kemudian pergi ke belakang untuk mengambil sepatu Liza. Setelah itu, Mbak Ike kembali ke dapur dengan membawa sepatu Liza yang kemarin Liza pakai.


Di kamarnya, Rama masih berdiri di depan cermin. Rama sejak tadi masih menyisir rambutnya. Dia sudah rapi dengan baju kantornya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Rama teringat dengan seorang anak kecil yang kemarin dia temui di pinggir jalan.


"Kenapa aku ingat lagi sama gadis kecil itu ya. Aku benar-benar iba sama dia. Kapan ya aku bisa ketemu dia lagi," ucap Rama.


Beberapa saat kemudian, Vika masuk ke dalam kamar.


"Sayang, kamu kok masih di sini? Liza udah nungguin di bawah," ucap Vika.


Rama memutar tubuhnya dan menghadap ke arah istrinya.


"Liza sudah siap?" tanya Rama.


"Sudah Mas."


Vika menatap Rama lekat.


Mas Rama tampan banget sih kalau mau berangkat kerja. Dia juga wangi lagi. Membuat aku jadi semakin cinta aja sama dia, batin Vika


Vika kemudian mendekat ke arah Rama.


"Kamu belum pakai dasi kamu Mas?" tanya Vika.


Rama menggeleng.


"Aku bantu kamu pakaikan dasi ya?"


Rama tersenyum.


"Iya sayang."


Vika melangkah ke lemari untuk mengambilkan Rama dasi. Setelah itu Vika mengambil dasi dan kembali melangkah ke arah suaminya.


Setelah itu, Vika mengalungkan dasi itu ke leher Rama dan mulai memakaikan Rama dasi.


"Mas, kamu tampan banget Mas. kamu juga wangi banget. Aku benar-benar beruntung mendapatkan suami baik seperti kamu," ucap Vika di sela-sela memakaikan dasi suaminya.


Rama menatap Vika lekat.


"Aku bisa seperti sekarang itu karena kamu sayang. Karena kamu dan Liza yang menjadi penyemangat hidup aku selama ini," ucap Rama.


Setelah memakaikan dasi di leher suaminya. Vika tiba-tiba saja memeluk Rama dengan erat.


"Aku sayang banget Mas sama kamu. Tolong, setia lah sama aku, dan jangan pernah tinggalkan aku," ucap Vika di dalam pelukan Rama.


"Iya sayang. Aku cinta sama kamu dan anak kita. Aku nggak akan macam-macam sama kamu. Karena aku sudah janji sama almarhum ayah kamu, kalau aku akan selalu jagain kamu, ibu kamu, dan anak kita."


Liza terkejut saat melihat ke dua orang tuanya berpelukan. Liza langsung cemberut saat melihat mereka. Sementara Rama dan Vika sama sekali tidak merasakan kehadiran Liza.

__ADS_1


Ih, kenapa aku dicuekin sih. Kenapa aku tungguin mereka, mereka malah pelukan di sini, gerutu Liza dalam hati.


__ADS_2