Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kesedihan bu Tari


__ADS_3

Di sela-sela kunyahannya, Bu Tari menatap Vika lekat. Vika sejak tadi masih menatap ke atas meja. Namun fikirannya seperti sedang tidak bersamanya. Entah apa yang sedang Vika fikirkan saat ini, Bu Tari sama sekali tidak tahu.


"Vika, kamu kenapa sih, dari tadi ngelamun terus? apa yang sedang kamu fikirkan Nak?" tanya Bu Tari.


Vika yang ditanya hanya diam. Sepertinya dia memang tidak mendengar ucapan Bu Tari.


"Vika," Bu Tari mengeraskan suaranya yang membuat Vika tersentak.


"Eh, iya Ma. Ada apa?"


"Kamu kenapa Nak? kenapa kamu ngelamun aja. Dari tadi mama ajak bicara, kamu nggak dengerin ya?"


Vika tersenyum.


"Mama emang bicara apa tadi?" tanya Vika santai.


Bu Tari menghela nafas dalam.


"Mama tadi nyuruh kamu untuk ngambil minum. Mama pengin minum lagi," ucap Bu Tari.


Vika tersenyum saat melihat gelas ibunya sudah kosong.


"Oh. Bilang dong dari tadi," ucap Vika sembari menyambar gelas yang ada di atas meja.


Setelah itu, Vika bangkit dari duduknya. Dia pergi ke dapur untuk mengambilkan ibunya minum.


Beberapa saat kemudian, Vika sudah kembali ke ruang makan, dengan membawa segelas air putih.


"Ini Ma," ucap Vika sembari meletakan gelas yang berisi air putih itu di depan ibunya duduk.


"Makasih banyak ya Vik," ucap Bu Tari.


Vika mengangguk. Setelah itu dia duduk kembali di kursinya. Sementara Bu Tari meminum air itu sampai setengah gelas. Bu Tari kemudian meletakkan kembali gelas itu di atas meja.


"Vik, antar mama ke kamar yuk!"


"Oh iya Ma. Aku mau panggil Bik Ijah dulu ya. Mau nyuruh dia beresin meja makan."


Bu Tari menganggukan kepalanya." Iya Vik."


Vika kemudian pergi ke belakang untuk memanggil bik Ijah.

__ADS_1


"Bik Ijah... Bik Ijah...!" seru Vika.


Beberapa saat kemudian, bik Ijah menghampiri Vika yang sudah berdiri di dapur.


"Bik, tolong beresin meja makan ya. Nanti sisa makanannya, masukan ke kulkas aja seperti biasa."


Bik Ijah mengangguk.


"Baik Bu Vika."


Setelah memanggil Bik Ijah, Vika kemudian kembali ke ruang makan. Tanpa butuh waktu lama, dia sudah mendorong kursi roda ibunya sampai ke kamar ibunya.


Sesampainya di kamar, Vika membantu ibunya untuk naik ke atas tempat tidur. Setelah Bu Tari duduk di atas tempat tidurnya, Vika menatap wajah Bu Tari lekat.


"Mama, mama tidur aja ya. Mama nggak usah mikirin macam-macam. Biar mama cepat sembuh dan bisa berjalan normal lagi. Aku pengin mama kembali lagi seperti dulu, bisa jalan, bisa apa-apa sendiri, dan nggak perlu bantuan orang lain," ucap Vika sembari menatap wajah ibunya lekat.


Sangat besar harapan Vika untuk ibunya sembuh. Bu Tari sudah bertahun-tahun berada di atas kursi roda karena penyakit strokenya.


Sudah berbagai macam cara Vika lakukan untuk penyembuhan ibunya.


Mulai dari pengobatan alternatif sampai pengobatan dokter. Namun mungkin Tuhan belum menghendaki Bu Tari untuk sembuh.


Vika terkejut saat melihat ibunya meneteskan air matanya.


"Maafin mama ya, karena mama sudah banyak merepotkan kamu dengan Rama," ucap Bu Tari sedih.


"Mama jangan bicara seperti itu. Aku sama sekali nggak merasa direpotin kok. Sudah kewajiban aku sebagai seorang anak untuk merawat orang tuanya yang sakit," ucap Vika.


Vika terkejut saat tiba-tiba saja Bu Tari menangis sesenggukan di depannya.


"Mama ini, memang ibu nggak berguna. Dari dulu sampai sekarang, selalu saja merepotkan kamu Vika."


"Mama, jangan nangis Ma. Vika sayang sama mama. Mama itu orang tua yang aku punya satu-satunya. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain mama. Aku ingin mama cepat sembuh. karena aku belum siap kehilangan mama," ucap Vika sembari mengusap air mata ibunya.


Bu Tari tersenyum. Dia merasa terharu dengan kata-kata Vika. Jarang sekali Vika mengatakan hal-hal seperti ini. biasanya Vika juga selalu cuek sama ibunya.


Bu Tari terkejut saat tiba-tiba saja melihat ekspresi wajah Vika berubah. Tadi dia tampak ceria, namun tiba-tiba saja dia menjadi murung.


"Kamu kenapa?" tanya Bu Tari pada Vika.


Vika tiba-tiba meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa kok Ma. Aku cuma lagi sedih aja."


"Sedih kenapa?"


"Mas Rama sudah berubah Ma. Dia sudah nggak seperti dulu lagi," ucap Vika sembari mengusap air matanya.


"Berubah gimana? sepertinya hubungan kamu dengan Rama baik-baik aja kan." Bu Tari menatap Vika lekat.


"Nggak Ma. Sebenarnya ada sesuatu yang membuat Mas Rama berubah banget sama aku. Tapi aku nggak tahu sesuatu apa yang sudah membuat Mas Rama berubah," ucap Vika menjelaskan.


"Sejak aku pulang dari Bali, dia berubah banget sama aku. Dia jadi dingin banget sama aku Ma. Dia jarang banget ngajak aku ngobrol. Sampai detik ini, dia juga masih dingin banget," lanjut Vika.


"Sabarlah Vik, mungkin Rama itu capek. Kamu harus ngertiin dia dong. Dia kan setiap hari harus kerja di kantor. Mengurus ini dan itu. Sama seperti papa kamu dulu. Dia juga begitu. Tapi mama selalu memakluminya. Kadang mama sering tanya ke papa kamu, kenapa dia lebih banyak diam kalau di rumah, katanya dia lelah. Ya udah, mama pijit aja papa kamu. Sekali-kali kamu berikan Rama perhatian Vik."


"Gitu ya Ma." Vika mencoba untuk mencerna semua ucapan ibunya.


"Iya. Atau bisa juga Rama masih kesal sama kamu. Karena dia sudah sering kamu tinggal. Apalagi di tinggal jalan-jalan ke Bali sampai seminggu. Mestinya kamu itu harus introspeksi diri Vika. Kamu lihat diri kamu, apa kamu sudah memberi perhatian lebih sama suami kamu atau belum? mungkin Rama ngambek karena kamu pergi ke Bali sampai satu minggu," lanjut Bu Tari memberi nasihat ke Vika.


Vika cemberut.


"Itu sih, Mas Rama nya aja yang nggak punya waktu untuk aku. Aku di rumah bosen tapi Mas Rama sama sekali nggak peka jadi laki-laki. Ya udah, aku tinggalin aja dia liburan ke Bali."


"Ya udah, sekarang kamu tidur sana Vik. Udah malam. Mama juga udah ngantuk Vik."


"Iya. Kalau begitu mama juga tidur ya."


Bu Tari mengangguk. Dia kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Vika meraih selimut dan mengangkat selimut itu sampai menutupi dada Bu Tari.


Sebelum pergi meninggalkan kamar Bu Tari, Vika mencium kening Bu Tari. Setelah itu dia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan kamar ibunya.


Vika menutup pintu kamar ibunya. Setelah itu dia naik ke lantai atas untuk ke kamarnya.


Vika membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya kembali. Vika menatap ke sekeliling. Tak dilihatnya Rama ada di dalam kamar.


"Mas Rama kemana. Aku fikir dia udah tidur. Tapi kenapa dia nggak ada di kamar ya,"


Gemericik air sudah terdengar dari dalam kamar mandi. Vika tersenyum saat tahu kalau suaminya itu sekarang ada di dalam kamar mandi.


"Aku fikir Mas Rama sudah nyenyak. Tapi ternyata dia ada di kamar mandi," ucap Vika.

__ADS_1


Dia kemudian berjalan untuk naik ke atas tempat tidurnya sembari menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


__ADS_2