
Malam ini, Safia masih berada di tempat kerjanya. Sejak tadi dia ingin pulang, namun cafe malam ini masih sangat ramai. Pengunjung masih berdatangan silih berganti.
Duh, Anna pasti sudah nungguin aku nih di rumah sendiri.
Fikiran Safia sejak tadi masih tertuju pada anaknya. Dia tidak fokus kerja, sampai-sampai dia menumpahkan jus di atas meja pengunjung cafe.
"Eh, Mbak. Kok ditumpahin sih. Gimana sih, bisa kerja nggak sih Mbak...!" ucap Vika pada Safia wanita yang saat ini ada di depannya.
Safia terkejut saat melihat ke meja Vika. Air jus sudah tumpah kemana-mana. Sampai-sampai jus itu mengenai gaun putih Vika.
"Duh Mbak, maaf. Aku nggak sengaja tadi,"
"Makanya. Kerja tuh yang benar dong. Yang fokus jangan sambil ngelamun.." ucap Vika dengan nada tinggi.
"Tuh kan, gaun aku jadi kotor," ucap Vika sembari mengusap-usap gaunnya.
Safia tidak tinggal diam. Dia mengambil tisu dan langsung ikut membersihkan bagian gaun Vika yang basah karena tumpahan air itu.
Vika langsung menghempaskan tangan Safia.
"Nggak usah pegang-pegang. Aku bisa bersihin sendiri," ucap Vika melotot ke arah Safia.
"Maaf Mbak, saya nggak sengaja. Tadi gelasnya tidak sengaja kesenggol."
"Makanya, kalau kerja mata tuh di pakai dong."
Semua pengunjung yang ada di dalam cafe, lantas menatap ke arah Safia dan Vika. Mereka masih tampak menonton kejadian itu.
Rama yang barusan dari toilet, mendekat ke arah Vika dan Safia.
"Vika, ada apa ini?" tanya Rama pada istrinya.
"Ini nih, pelayan rese. Kenapa sih Ovi masih saja mempekerjakan karyawan seperti ini di sini," gerutu Vika.
Rama terkejut saat melihat Safia.
Safia, apa yang sudah terjadi di antara Safia dan istriku," batin Rama.
__ADS_1
"Papa, tadi Mbak ini nggak sengaja menumpahkan jus di atas meja. Dan jus itu mengenai baju mama. Jadi mama marah sama Mbak ini karena bajunya kotor."
Rama menatap sekeliling. Sejak tadi Vika masih memaki-maki Safia di depan orang banyak. Membuat Rama malu sendiri dengan sikap istrinya.
"Sayang, sudah dong jangan marah-marah di sini. Baju itu kan bisa di cuci."
"Tapi Mas, ini kan gaun mahal. Gaji dia satu bulan aja belum tentu bisa untuk mengganti gaun ini."
"Sayang, ini cuma masalah sepele. Jangan diperbesar di sini sayang."
Beberapa saat kemudian, Ovi pemilik cafe datang menghampiri Vika dan Safia.
"Ada apa ini?" tanya Ovi menatap Vika dan Safia bergantian.
"Ini nih, karyawan kamu. Ceroboh banget kerjanya. Masa iya dia numpahin jus di gaun aku."
"Duh maaf ya Vik. Mungkin Safia nggak sengaja Vik, maafin Safia ya"
"Ih, kamu. Bukannya belain aku, malah belain wanita ini yang udah jelas-jelas salah. Dia udah numpahin jus di baju aku sampai baju aku kotor."
"Saya mau minta maaf Bu Ovi. Saya benar-benar tidak sengaja menumpahkan minuman itu di baju Mbak ini."
Ovi menatap Safia. Dia bukannya iba pada Vika sahabatnya, melainkan dia malah iba pada Safia karyawannya.
Ovi tahu betul bagaimana sikap Vika. Dia itu wanita yang keras kepala dan maunya menang sendiri. Dia tidak mau menerima kesalahan orang dan sulit untuk memaafkan kesalahan orang.
"Safia, kamu kembali saja kebelakang."
Safia mengangguk.
"Iya Bu."
Safia kemudian melangkah pergi meninggalkan meja Vika.
"Vika, maafkan karyawan saya tadi ya. Dia nggak sengaja numpahin jus di baju kamu," ucap Ovi.
Vika tampak kesal karena sejak tadi Ovi masih membela Safia. Rama yang masih berdiri di sisi istrinya, langsung meraih tangan Vika dan menyeretnya keluar dari cafe itu. Sementara Liza hanya bisa mengikuti ayah dan ibunya keluar..
__ADS_1
Ovi menatap sekeliling.
"Untuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di sini, saya selaku pemilik cafe ini, mau minta maaf yang sebesar-besarnya dengan kejadian tadi. Dan kalian bisa kembali menikmati makan malam kalian," ucap Ovi.
Setelah itu, Ovi pergi kembali untuk ke belakang.
"Mas, lepaskan aku Mas, sakit tangan aku Mas," ucap Vika yang sejak tadi masih meminta untuk Rama melepaskan cengkeramannya.
Cengkeraman Rama Kali ini sangat menyakiti pergelangan tangan Vika.
Setelah Rama dan Vika sudah sampai di dekat mobilnya, Rama melepaskan cengkeramannya.
Vika menatap pergelangannya yang memerah.
"Kamu kenapa sih Mas. Kenapa kamu marah sama aku. Seharusnya kamu marah sama pelayan tadi. Dia sudah numpahin jus di gaun mahal aku."
"Gaun terus yang kamu fikirin. Sekali-kali kamu mikirin perasaan aku. Aku malu Vik, kalau kamu maki-maki karyawan Ovi di depan orang-orang. Kamu itu seharusnya bisa bersikap lebih sopan lagi pada pelayan itu. Pelayan itu sudah minta maaf sama kamu. Tapi kamu malah bicara yang nggak karuan. Ngatain dia bodoh lah, cerobohlah... "
"Mas, seharusnya kamu belain aku dong istri kamu. Kenapa kamu malah jadi belain pelayan itu. Kamu kan nggak kenal sama pelayan itu."
"Vika, tapi sikap kamu itu sudah membuat aku malu. Kamu itu wanita berpendidikan. Seharusnya kamu bisa jaga ucapan kamu. Kamu tidak boleh semena-mena sama orang lain. Kamu lihat, Ovi saja bisa bersikap lembut dan memaklumi kesalahan karyawannya, tapi kamu malah maki-maki orang sembarangan."
Sejak tadi Liza masih menatap ayah dan ibunya yang sedang bertengkar. Liza sebenarnya sedih kalau melihat Vika dan Rama berantem. Tapi Liza anak kecil itu bisa berbuat apa dan bisa bilang apa pada ke dua orang tuanya. Untuk melerai mereka pun Liza tidak bisa. Sejak tadi Liza hanya bisa menjadi penonton.
Vika yang merasa kesal dengan Rama, buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Vika masuk, Rama menatap Liza lekat.
"Liza, masuk mobil. Kita pulang sekarang," ucap Rama.
Liza hanya mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang dekat Vika. Sementara Rama, dia duduk di depan sendiri. Setelah semua masuk ke dalam mobil, mereka pun meluncur pergi meninggalkan cafe.
Di perjalanan pulang ke rumahnya, Vika dan Rama masih saling diam. Vika yang sejak tadi masih kesal dengan Rama masih mendiami Rama.
Sementara, Rama juga ikutan diam. Dia merasa lelah untuk menasihati istrinya. Tidak sekali dua kali Vika bersikap seperti ini. Udah sering sekali Vika bersikap seperti ini.
Kadang kalau emosinya tidak terkontrol, Vika sering sekali meluapkan emosinya pada Bik Ijah atau ibunya.
__ADS_1
Liza sejak tadi masih menatap ke luar jendela mobil. Liza tampak sedih saat melihat pertengkaran ke dua orang tuanya tadi.
Sebenarnya aku sedih kalau lihat mama dan papa berantem. Mereka sering banget berantem seperti ini. batin Liza