
Ring ring ring.
Suara ponsel Rama berdering. Rama merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Bik Ijah, ngapain Bik Ijah nelpon.
"Halo Bik. Ada apa?"
"Halo Pak Rama. Ini Pak, Non Liza, barusan dia keserempet mobil di depan."
"Apa! Liza keserempet mobil?"
"Iya Pak Rama."
"Terus, bagaimana keadaannya Liza sekarang?"
"Nggak apa-apa Pak Rama. Tapi Non Liza kakinya kesakitan. Dia nggak bisa jalan Pak Rama."
"Apa! kok bisa seperti itu sih. Kemana memang Vika?"
"Bu Vika pergi dari tadi pagi. Dia belum pulang Pak."
"Pergi ke mana? terus siapa yang nganter Liza sekolah."
"Saya juga kurang tahu Pak Rama Bu Vika pergi kemana. Tadi pagi saya yang antar Non ke sekolah. Dan Bu Vika tadi pagi itu pergi sama temannya. Dia pakai mobil temannya."
Vika kok lama-lama jadi ngeselin ya. Kemarin dia udah pergi, sekarang dia pergi lagi. Pergi kemana sih sebenarnya dia, gerutu Rama dalam hati.
"Ya udah Bik, tunggu aku Bik. Nih aku mau meluncur pulang."
"Iya Pak Rama."
Rama kemudian memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia menatap keluarga Shakira.
"Shakira, Safia, Bu, Pak, saya pamit pulang dulu ya."
"Pak Rama, kenapa Non Liza?" tanya Shakira.
"Kata Bik Ijah, Liza barusan keserempet mobil waktu lagi main di depan rumah."
"Ya ampun. Terus bagaimana kondisinya Pak?"
"Liza baik-baik saja. Cuma kata Bik Ijah kakinya masih kesakitan. Dan dia belum bisa jalan."
"Itu sih harus di urut. Sepertinya, anak kamu itu keseleo."
"Iya Bu."
Sebelum pergi, Rama menatap Anna dan Safia.
"Safia, Anna, kamu nggak mau ikut pulang bareng aku? kalian mau nginap di sini? kalau kalian mau pulang ke rumah kontrakan kalian, kalian bisa ikut aku. Aku akan antar kalian pulang."
Safia dan Anna saling menatap. Setelah itu Safia menatap Rama tajam.
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri Mas."
"Safia, kenapa kamu nggak pulang bareng Mas Rama saja. Nunggu taksi juga kan lama Safia. Mendingan kamu pulang bareng Mas Rama saja. Tapi kalau kalian mau nginap di sini, nggak apa-apa sih. Cuma di sini tempatnya kecil. Aku takutnya kalian nggak nyaman tidur di sini," ucap Shakira.
"Bun, aku capek Bun. Besok, aku juga mau sekolah. Aku mau pulang aja lah Bun. Kita ikut Om Rama aja ya Bun."
__ADS_1
Safia tampak berfikir. Sebenarnya Safia juga sudah cukup lelah karena sudah beberapa hari ini dia harus bergilir menjaga ayahnya dengan Shakira dan ibunya.
Setelah lama berfikir, akhirnya mengiyakan saja ucapan Shakira.
"Baiklah. Saya mau ikut Mas Rama pulang."
Rama tersenyum.
"Ya udah, ayo kita berangkat sekarang. Aku tunggu kalian di depan ya."
Rama kemudian keluar dari rumah Shakira. Sementara sebelum pergi, Safia berpamitan dulu dengan Shakira dan ke dua orang tuanya. Setelah Safia dan Anna pamit pada Shakira, Pak Junedi dan Bu Astri, mereka kemudian pergi keluar rumah untuk menemui Rama di luar.
Rama sudah masuk ke dalam mobil. Safia dan Anna kemudian mendekat ke arah Rama.
"Ayo masuk!"
"Iya Mas."
Safia dan Anna kemudian duduk di jok belakang mobil. Setelah itu, Rama pun menyalakan mesin mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Shakira.
Ring ring ring...
Ponsel Rama berdering. Bik Ijah kembali menelpon Rama.
"Halo Bik. Ada apa Bik?"
"Pak Rama sudah sampai mana? ini Non Liza dari tadi nangis terus. Dan Bu Vika sejak tadi juga nomernya nggak aktif Pak."
"Duh, sebenarnya saya mau ngantar teman saya dulu pulang Bik."
"Duh, Pak Rama mendingan pulang dulu aja. Tenangin Non Liza dulu. Apa Pak Rama tega sama Non Liza."
"Iya. Cepat ya Pak Rama. Kasihan Non Liza."
"Iya Bik."
Rama kemudian menutup saluran telponnya.
"Siapa Om?"
"Ini telpon dari Bik Ijah. Katanya Liza nangis terus dan nggak mau diam."
"Emang Liza kenapa Om?"
"Tadi kan Om udah bilang, kalau Liza keserempet mobil di depan rumahnya. Tapi dia udah nggak apa-apa kok. Dia cuma kesakitan aja kakinya."
"Kasihan banget ya Liza."
"Oh iya Safia. Kalau kita ke rumah aku dulu gimana?"
"Ke rumah kamu? mau ngapain? kamu kan katanya mau nganterin kita pulang. Kok ke rumah kamu."
"Maksud aku begini Safia. Aku mampir dulu untuk tenangin Liza. Setelah itu, aku antar kalian pulang."
"Tahu kayak gitu aku naik taksi aja tadi."
"Nggak apa-apa Bun. Sekalian aku juga pengin lihat rumahnya Liza. Aku pengin main ke rumahnya Om Rama."
"Tuh kan, anak kamu aja setuju."
__ADS_1
"Ya udah, terserah kamu aja."
Setelah sampai di depan rumah, Rama memarkirkan mobilnya di garasi. Rama Safia dan Anna kemudian turun dari mobilnya.
"Safia, Anna, kalian mau ikut masuk ke dalam ?"
"Kita tunggu di sini aja Mas."
"Nggak apa-apa Safia, masuk aja. Tunggu di dalam. Soalnya, aku juga mau mandi, dulu sekalian ganti baju."
"Mandi dulu? terus kapan kamu ngantar aku pulang?"
"Ya nanti, setelah aku selesai mandi dan nenangin Liza."
"Ya udah Bun. Kita masuk aja ke dalam. Aku juga pengin ketemu sama Liza."
"Ya udah lah."
Safia sudah tidak bisa menolak lagi kalau itu sudah menjadi permintaan Anna. Safia dan Anna kemudian masuk ke dalam rumah Rama yang besarnya berkali-kali lipat dari besar rumahnya.
Anna dan Safia menatap sekeliling setelah mereka sampai di ruang tamu rumah Rama.
"Wah, rumah Om Rama besar banget. Seperti rumah yang ada di tivi-tivi itu lho."
Rama hanya tersenyum mendengar celotehan Anna.
Huhuhuhu...
Tangisan Liza sudah terdengar sampai ke ruang tamu.
"Anak kamu nangis Mas. Istri kamu belum pulang ya?" tanya Safia.
"Belum. Kalau ada Vika sih, aku nggak bingung gini Saf."
Rama, Safia dan Anna kemudian mendekati Liza yang saat ini sudah berada di ruang tengah bersama Bik Ijah dan Omanya.
"Rama, anak kamu dari tadi nangis terus. Kakinya terluka. Dia juga nggak bisa jalan Rama," ucap Bu Tari.
Safia dan Anna menatap Bu Tari yang saat ini, duduk di kursi roda dan berada di sisi Liza duduk.
Apa itu mertuanya Mas Rama. batin Safia.
Rama mendekat ke arah Liza dan duduk di sisi Liza.
"Liza, kamu kenapa sayang? kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Rama.
"Papa. Sakit...hiks...hiks..."
"Apanya yang sakit sayang?'" tanya Rama.
"Ini..." Liza menunjukkan bagian kakinya yang terluka.
"Itu tadi sudah bibi bersihkan lukanya Pak Rama. Dan bibi juga sudah memperban luka Non Liza."
"Sini coba papa lihat lukanya."
Rama memeriksa bagian kaki anaknya. Rama melihat luka di kaki Liza cuma sedikit. Namun yang Rama heran, kenapa kaki Liza tidak bisa untuk jalan.
"Ini sih harus di urut Pak Rama. Nanti panggil aja tukang urut ke sini. Tadi kaki Non Liza juga kan terkilir."
__ADS_1