
Sepulang kerja, Safia tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia justru pergi ke apotik untuk membeli tes pack.
Safia ingin memastikan kalau gejala yang saat ini sedang dialaminya itu gejala hamil atau bukan.
Setelah membeli tes pack, Safia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Karena jarak tempat kerja dan rumah kontrakan Safia cukup dekat, jadi Safia selalu jalan kaki setiap pergi kerja.
Sore ini Safia sudah sampai di depan rumah kontrakannya. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.
Safia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Setelah itu dia mengambil tes pack yang ada di tas kecilnya.
Safia menatap tes pack itu lekat.
"Aku pakai dulu alat ini, apa besok aja ya," ucap Safia.
Dia masih bingung untuk memakai tes pack itu.
Tok tok tok...
Tiba-tiba, suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah Safia. Safia terkejut saat mendengar ketukan itu. Dia langsung menyembunyikan tes pack itu lagi ke dalam tas kecilnya.
Safia menatap ke arah pintu.
"Siapa ya yang datang. Apa itu Bu Maryam," ucap Safia.
Safia kemudian melangkah untuk membuka pintu. Safia terkejut saat melihat ibu kontrakan sudah berdiri di depan pintu.
"Eh, Bu Nining. Aku fikir Bu Maryam tadi yang datang," ucap Safia.
Bu Nining tersenyum.
"Safia, gimana kamu? betah tinggal di sini?" tanya Bu Nining menatap Safia lekat.
"Betah Bu," jawab Safia.
"Syukurlah kalau gitu."
"Ada apa ya Bu?"
"Nggak apa-apa. Cuma mau pinjam sapu aja."
__ADS_1
Oh, jadi Bu Nining mau pinjam sapu. Aku fikir, dia mau nagih uang kontrakan. Kan aku ngontrak di sini baru dua minggu belum ada satu bulan. Masa udah di tagih.
"Oh mau pinjam sapu. Tunggu sebentar ya Bu. Aku ambilkan sapunya di dalam," ucap Safia.
Safia kemudian masuk ke dalam untuk mengambil sapu. Setelah itu dia kembali keluar dengan membawa sapu.
"Ini Bu." Safia menyodorkan sapu itu pada Bu Nining.
"Makasih ya Safia," ucap Bu Nining sembari menerima sapu itu.
"Iya Bu."
Setelah menerima sapu itu, Bu Nining pun kemudian pergi meninggalkan rumah kontrakan Safia
Safia masuk kembali ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Dia mengambil kembali tas pack yang dia sembunyikan di tasnya.
"Aku harus simpan tes pack ini baik-baik. Aku nggak mau sampai ada orang yang tahu tentang hal ini"
Safia kemudian berjalan ke arah kamar. Dia menyimpan tes pack itu di laci lemarinya untuk dia pakai nanti.
****
Sore ini, Pak Junedi dan Bu Astri masih termenung di teras depan rumah. Shakira bingung melihat sikap ke dua orang tuanya. Sejak Safia pergi, mereka semua lebih banyak diam dari pada bicara.
Shakira sebenarnya juga sedih atas kepergian adiknya. Namun rasa itu terhempaskan saat dia mengingat kejadian waktu itu.
Kejadian yang sudah membuat hubungan rumah tangganya dengan Rama berantakan.
"Ibu, Bapak, udah sore, kalian masih ada di sini," ucap Shakira.
Pak Junedi dan Bu Astri menatap Shakira bersamaan.
"Shakira. Ada apa?" tanya Bu Astri.
"Kalian lagi ngapain di sini? Shakira menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang yang ada di teras depan rumah.
"Bapak lagi mikirin adik kamu Safia. Ke mana sebenarnya dia," ucap Pak Junedi.
"Kenapa bapak harus mikirin Safia sih. Safia itu udah dewasa Pak. Usianya juga udah dua puluh tahun. Dia pasti bisa kok menjaga dirinya sendiri."
__ADS_1
"Shakira. Safia itu tidak pernah pergi kemana-mana. Dia itu beda sama kamu. Kalau kamu kan udah pengalaman. Kerja ke Jakarta juga udah pernah. Lah adik mu, dia kan sejak lulus SMA cuma di rumah aja. Nggak pernah pergi jauh-jauh."
"Iya Shakira. Bapak khawatir sama adik kamu. Karena sampai sekarang dia susah untuk dihubungi. Dia juga belum menghubungi kami."
"Sudahlah Pak. Lagian kalau dia di sini juga akan bikin malu kalian. Karena perbuatan kotornya itu pasti suatu saat akan diketahui orang. Aku juga ikut malu kalau ada orang yang tahu tentang kejadian itu."
"Shakira. Bapak takut Safia akan bertemu orang jahat di luar sana. Bagaimana kalau dia pergi ke kota besar. Di sana kan rawan kejahatan. Di sana kan banyak begal, banyak copet, dan Safia tidak membawa uang sepeserpun. Dan dia juga mau tinggal sama siapa di sana. Di sana dia tidak punya saudara," ucap Pak Junedi panjang lebar.
Shakira menghela nafas dalam.
"Safia pergi, yang aku lihat kalian sangat khawatir. Tapi kalau aku yang pergi, aku yakin kalian pasti nggak akan sekhawatir ini," ucap Shakira.
"Shakira.Kamu itu bicara apa sih? kalian berdua sama-sama anak ibu. Kalau kamu itu kan sudah pengalaman dan sering pergi kerja jauh. Jadi ibu nggak begitu khawatir."
"Lah, apa bedanya sama Safia. Dia itu juga udah lulus SMA. Sudah dewasa dan dia sudah bukan anak kecil lagi. Jadi untuk apa kalian khawatirkan berlebihan seperti itu. Biarkan dia pergi dan cari pengalaman. Biarkan dia mandiri."
Pak Junedi bangkit berdiri. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia kemudian masuk ke dalam rumahnya. Begitu juga dengan Bu Astri. Dia mengikuti Pak Junedi masuk ke dalam meninggalkan Shakira sendiri.
"Ih... ibu sama bapak lebay amat sih. Aku yakin kok, kalau Safia itu
baik-baik saja. Dia pergi pasti karena dia malu dengan aibnya. Siapa suruh dia mau tidur sama Mas Rama. Jadi perempuan kok gampangan banget sih, mau-maunya dia tidur sama suami orang. Apa lagi itu suami kakak kandungnya sendiri."
****
Malam ini, Safia masih berada di dalam kamarnya. Dia masih bingung untuk memakai tes pack yang tadi sore dibelinya.
"Aku harus pakai tes pack ini sekarang. Aku harus tahu, apa benar kalau gejala mual ku karena gejala hamil," ucap Safia.
Safia bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan untuk ke kamar mandi. Dia akan menggunakan tes pack itu untuk memastikan kalau dirinya hamil atau tidak.
"Apa! garis dua. Nggak, ini nggak mungkin," Safia terkejut saat melihat garis dua merah terpampang dengan jelas di dalam benda kecil pipih itu.
Tangan Safia bergetar dan tes pack itu langsung dia jatuhkan ke lantai kamar mandi.
Setetes air mata Safia mengalir dari pelupuk matanya.
"Nggak mungkin, nggak mungkin aku hamil, nggak mungkin aku sekarang sedang mengandung benihnya Mas Rama. Ini sangat tidak mungkin. pasti hasil dari tes pack itu salah," ucap Safia yang masih menatap lekat tes pack yang tergeletak di atas lantai kamar mandi.
Safia masih tidak percaya dengan hasil yang ada di dalam tes pack itu.
__ADS_1
"Mbak Shakira saja yang sudah bertahun-tahun berhubungan dengan Mas Rama tidak langsung hamil. Kenapa aku yang baru sekali berhubungan dengan dia, langsung hamil. Kenapa bisa seperti ini," ucap Safia.