
Safia diam dan tampak berfikir.
Kenapa Mas Rama juga pergi dari rumah ya, dan sekarang di mana Mas Rama, batin Safia.
Safia memang tidak tahu kalau Rama dan Shakira akhirnya bercerai. Padahal Safia pergi juga demi keutuhan rumah tangga Rama dan Shakira. Namun, ternyata Rama dan Shakira memang sudah tidak ada jodoh. Sehingga setelah Safia pergi dari rumah, mereka malah bercerai.
"Jadi, Mas Rama juga nggak pernah pulang kampung ya Mas Fandi," ucap Safia.
Fandi mengangguk. "Iya Safia."
"Oh..." Safia hanya bisa ber'oh ria.
"Safia. Kamu kenapa nggak pulang kampung? kasihan orang tua kamu Safia," tanya Fandi.
"Aku nggak punya uang untuk ongkos ke kampung Mas Fandi," jawab Safia.
"Nggak punya uang? kampung kita kan dekat Safia. Kita masih di tanah jawa kok. Belum nyebrang ke pulau sebelah. Mana mungkin kamu nggak punya ongkos untuk pulang. Lagian, pulang setiap lebaran aja juga nggak apa-apa. Yang penting kita bisa ketemu sama orang tua. Jangan sampai kita nanti nyesel setelah orang tua kita ngga ada," ucap Fandi.
Safia diam setelah mendengar ucapan Fandi.
Benar apa yang dikatakan Mas Fandi. Aku bisa nyesel kalau bapak dan ibu sudah nggak ada. Tapi bagaimana dengan Anna. Kalau aku ajak dia pulang kampung, pasti dia minta untuk ke makam ayahnya. Mau sampai kapan aku berbohong terus. Bohong sama Anna, bohong sama orang-orang. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku yang sudah banyak membohongi orang-orang. Tapi aku malu, jika aku harus mengakui kebenaran kalau Anna adalah anak dari Mas Rama.
"Bunda...!" seru Anna mengejutkan Safia.
Safia menoleh ke arah anaknya yang sudah membawa kantong plastik yang berisi dua bungkus es buah.
Begitu juga dengan Fandi. Dia menatap Anna lekat.
"Itu anak kamu Safia, sudah nyariin kamu," ucap Fandi.
Safia hanya tersenyum.
"Sini dulu sayang..." Safia melambaikan tangannya dan menyuruh anaknya mendekat.
"Bunda, kenapa bunda ada di sini. Ayo bun. Katanya kita mau belanja ke pasar," ucap Anna.
Fandi menatap lekat anak gadis kecil yang merengek di dekat Safia.
"Ayo bun. Aku udah capek. Kalau nggak jadi ke pasar, ya kita pulang aja Bun..."
"Iya sayang. Kita ke pasar dulu ya."
Safia bangkit berdiri.
"Mas Fandi, aku pergi dulu ya." Safia berpamitan sebelum dia pergi.
Fandi tersenyum. "Iya Safia."
Safia kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Anak kecil itu cantik banget. Tapi aku merasa nggak asing lagi dengan wajahnya. Tapi mirip siapa ya wajah anak itu..." Fandi masih tampak berfikir.
"Ah, sudahlah. Istri aku pasti lagi nungguin aku nih di rumah. Aku belum beliin pesanan dia lagi."
__ADS_1
Setelah lama berada di tempat itu, Fandi pun pergi meninggalkan tempat itu.
****
Siang ini Rama masih berada di ruang meeting. Setelah meeting selesai, Rama masih tampak membereskan berkas-berkasnya. Rama bangkit berdiri dan langsung keluar dari ruang meeting dengan membawa berkas-berkas itu.
Rama pergi ke ruangannya dan masuk ke dalam ruangannya. Rama kemudian duduk di kursi kebesarannya.
Tiba-tiba Rama kefikiran dengan anak kecil penjual koran itu.
"Kenapa aku ke ingat sama anak itu lagi ya, kapan aku bisa bertemu dia lagi. Kemarin aku lewat jalan itu lagi, tapi nggak ada anak kecil itu," ucap Rama.
Entah kenapa, sejak pertemuan pertamanya dengan anak kecil itu, Rama jadi sering mengingatnya.
Kriuk...
Tiba-tiba saja, suara dalam perut Rama berbunyi. Rama memang sudah merasa lapar, karena sejak tadi pagi dia belum sarapan.
Akhir-akhir ini, nafsu makan Rama berkurang karena dia banyak fikiran dan kerjaan di kantor juga sangat banyak.
Setelah membereskan semua berkas-berkasnya, Rama kemudian pergi meninggalkan ruangannya. Dia melangkah ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Rama kemudian meluncur pergi meninggalkan kantor.
Ring ring ring....
Di sela-sela menyetirnya, ponsel Rama berdering. Rama segera mengangkat panggilan dari istrinya.
"Halo Vik..."
"Halo Mas. Kamu ada di mana Mas?"
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau cari makan."
"Tuh kan, kamu mau cari makan. Tadi pagi, mau dibawain bekal makan siang nggak mau. Sarapan juga nggak. Nanti kamu bisa sakit lho Mas, kalau setiap hari kayak gitu terus."
"Vika, sudahlah, nggak usah khawatirin aku. Kamu itu fokus aja sama anak kita. Antar jemput Liza ke sekolah dan les."
"Setiap hari juga aku sudah antar jemput Liza kok. Tapi aku juga khawatir sama kamu. Kamu sekarang mau pulang dan mau makan di rumah?"
"Nggak sayang. Kelamaan kalau aku harus pulang dan makan di rumah. Aku mau cari cafe yang dekat aja dengan kantor aku. Karena waktu makan siang juga nggak lama. Sementara kerjaan aku aja masih numpuk banget."
"Oh... ya udah deh. Terserah kamu aja."
"Kamu nelpon mau apa sayang?"
"Sebenarnya aku mau nitip belanja Mas. Kemarin aku belanja. Tapi ada yang kelupaan. Bisa nggak nanti aku nitip ke kamu untuk beliin."
"Oke. Kamu tinggal catat aja sayang."
"Iya nanti aku kirim ke whats app ya. Cuma sedikit kok Mas."
"Iya. Nanti aku mampir ke supermarket."
__ADS_1
"Makasih ya Mas. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
****
Di sela-sela menyetirnya, pandangan Rama tiba-tiba tertuju pada seorang anak kecil yang memakai baju seragam merah putih. Dia mirip seperti gadis penjual koran yang waktu itu Rama temui.
Rama masih menatap ke sepion kaca mobilnya.
"Anna. Itu beneran Anna," ucap Rama setelah menghentikan laju mobilnya.
Rama buru-buru turun dari mobil dan melangkah mendekat ke arah anak itu.
Anna yang baru pulang sekolah, terkejut saat melihat Rama sudah berdiri di depannya.
"Anna," ucap Rama.
Anna mengerutkan keningnya. Dia tampak berfikir.
Aku seperti pernah kenal dengan orang ini. Bukankah ini Om yang waktu itu pernah ngasih aku uang, batin Anna.
"Om Rama," ucap Anna sembari melebarkan senyum.
"Anna, kamu masih ingat sama Om?" tanya Rama.
"Iya. Aku masih ingat dong sama Om. Om kan orang baik yang waktu itu aku temui saat aku jualan koran," ucap Anna.
"Wah, anak pintar. Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Rama.
Rama merasa bahagia saat bertemu dengan Anna lagi. Karena dari kemarin dia mencari Anna, tapi tidak ketemu. Dan siang ini, dia bertemu dengan Anna lagi.
"Aku mau pulang Om," jawab Anna.
"Pulang? emang rumah kamu di mana? Om antar kamu pulang ya?"
"Nggak usah Om. Rumah aku sudah dekat kok Om."
"Nggak apa-apa. Ayo kita naik mobil."
"Emang boleh Om, aku naik mobil Om?"
"Ya boleh dong."
Anna tersenyum. Biasanya Anna susah akrab dengan orang asing. Entah kenapa, dengan Rama Anna jadi lebih cepat akrab. Padahal mereka baru pernah bertemu satu kali. Mungkin itu semua , karena Rama dan Anna memang punya ikatan batin yang kuat di antara ayah dan anak.
Rama merangkul bahu Anna dan mengajak Anna masuk ke dalam mobilnya.
Rama membuka pintu depan mobilnya.
"Kamu duduk di depan aja ya An, di dekat Om," ucap Rama.
Anna mengangguk. "Iya Om."
__ADS_1
Anna kemudian masuk ke dalam mobil Rama. Setelah Anna masuk, Rama pun mengikuti Anna masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan tempat itu.