
"Siapa Ma, papa yang nelpon?" tanya Liza pada Vika.
Vika menatap anaknya.
"Bukan. Teman mama sayang," jawab Vika.
"Oh. Aku kira papa."
"Liza tunggu di sini ya, mama mau angkat telpon dulu di luar."
"Iya mama."
Vika kemudian keluar dari kamar Liza untuk mengangkat panggilan dari Bram.
Kenapa ya dengan Mama. Kenapa dia nggak angkat telpon di sini aja. Kenapa dia harus keluar. fikir Liza.
Vika berjalan dan masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian mengangkat panggilan dari Bram.
"Halo..."
"Halo sayang... aku yakin, kalau kamu pasti akan angkat telpon aku. Aku tahu kalau kamu nggak akan bisa melupakan malam itu sayang "
"Bram. Kamu kenapa sih, harus telpon malam-malam begini. Dan untuk apa kamu nelpon aku."
"Aku kangen sayang sama kamu. Aku masih di Bali. Dan mungkin, lusa aku akan pulang."
"Bram. Mulai sekarang, kamu nggak usah hubungi aku lagi Bram. Aku nggak mau ketahuan suamiku."
"Lho, kenapa begitu. Katanya kita backstreet. Ya jangan sampai suami kamu tahu lah. Makanya aku telpon malam-malam begini. Karena aku yakin, suami kamu pasti sudah tidur kan."
"Bram. Aku mohon, lupakan saja aku dan hubungan satu malam kita. Sudahi saja hubungan ini. Aku nggak mau membuat dosa lagi dengan kamu Bram."
"Vika, oke. Aku nggak akan minta yang aneh-aneh lagi. Cukup malam itu saja. Tapi tolong Vik, jangan akhiri hubungan kita. Karena aku masih cinta sama kamu Vik. Dan kamu juga pernah bilang kan, kalau kamu masih punya rasa sama aku."
"Iya sih. Tapi, bagaimana kalau suami aku tahu hubungan kita Bram."
"Kita jalani saja dulu hubungan ini Vik. Katanya kamu sudah nggak nyaman sama suami kamu. Karena suami kamu cuek, dan nggak pernah perhatian sama kamu. Ya udah kalau gitu, biar aku aja yang akan sayangi dan manjain kamu. Aku pun tak kalah tampan dan tak kalah tajir dari suami kamu. Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau."
"Ya. Aku tahu itu Bram. Tapi sudah malam Bram. Aku udah ngantuk. Besok aja lagi ya telponnya."
"Oke sayang. I love you Vika."
Vika kemudian memutuskan saluran telponnya begitu saja. Dia masih kesal dengan Bram karena hubungan ranjang mereka yang kemarin.
"Ih ngeselin banget sih Bram ini," ucap Vika
Sebenarnya Vika takut, suaminya tahu dengan hubungannya dengan Bram. Vika memang berani bermain api dibelakang Rama. Namun hatinya takut untuk kehilangan Rama. Karena dia masih sangat mencintai Rama.
Kemana ya Mas Rama. Jangan-jangan, dia lagi nginap di rumah cewek lagi. fikiran buruk sudah memenuhi otak Vika.
"Nggak nggak nggak, aku nggak boleh berfikiran buruk seperti ini. Mas Rama pasti masih di kantor. Tapi bagaimana kalau Mas Rama , ternyata punya hubungan lagi dengan Shakira. Aku tahu, kalau cinta Mas Rama dulu itu sangat besar pada Shakira. Tidak menutup kemungkinan mereka CLBK."
__ADS_1
Vika sejak tadi benar-benar resah. Fikirannya penuh rasa curiga. Dia curiga kalau Rama selama ini, menjalin hubungan lagi dengan mantan istrinya.
Vika yang sudah merasa lelah menunggu suaminya pulang, akhirnya dia naik ke atas tempat tidurnya dan berbaring untuk tidur. Dia mencoba memejamkan matanya. Sejenak dia ingin melupakan semua masalah-masalahnya.
****
Ceklek...
Pintu ruangan Rama terbuka, seorang office girl masuk ke dalam ruangan Rama.
"Lho, si bos ternyata tidur di sini. Apa dia nggak pulang semalaman? laptop juga nyala terus. Kasihan banget sih," ucap Mbak Narti.
Mbak Narti mendekati Rama. Dia kemudian mencoba membangunkan Rama.
"Pak bos, Pak Bos..."
Rama mengerjapkan matanya. Dia mengucek matanya dan lantas menatap Mbak Narti.
"Eh, Mbak."
"Maaf Pak Rama. Saya mau membersihkan ruangan bapak."
"Oh iya."
"Bapak kenapa bisa tidur di sini. Dan laptopnya juga masih nyala."
Rama menatap layar monitornya.
"Jadi bapak semalam nggak pulang?"
"Iya. Saya belum pulang dari semalam. Pekerjaan saya sangat banyak. Makanya saya semalam lembur, dan akhirnya saya ketiduran di sini."
"Oh..."
"Mbak mau ngepel?" tanya Rama.
"Iya Pak. Apa bapak bisa keluar sebentar?"
"Oh baik. Saya keluar."
Rama mematikan laptopnya. Dia memakai jasnya dan melangkah keluar dari ruangannya.
Rama tiba-tiba saja teringat dengan ponselnya.
"Oh iya. Aku belum ngecek ponsel dari semalam," ucap Rama.
Rama mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya. Setelah itu dia mengecek beberapa panggilan tak terjawab termasuk panggilan tak terjawab dari istrinya.
"Ngapain ini Vika nelpon sampai banyak banget panggilan tak terjawab seperti ini," ucap Rama.
Rama yang masih kesal dengan istrinya, tidak menelpon balik, namun dia hanya mengabaikannya begitu saja.
__ADS_1
Ring ring ring...
Ponsel itu tiba-tiba saja berdering. Rama buru-buru mengangkat panggilan dari seseorang.
"Halo..."
"Halo Pak Rama. Hasil tes DNA nya sudah keluar. Pak Rama bisa ambil sekarang di rumah sakit,"
"Ini dokter Edo ya."
"Iya Pak Rama."
"Baik. Saya akan segera ke sana."
Tanpa banyak waktu lama, Rama kemudian melangkah keluar dari kantornya. Dia ke parkiran untuk mengambil mobilnya.
Setelah itu Rama masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan kantor.
Pagi ini, dia akan ke rumah sakit untuk menemui dokter Edo. Sudah beberapa hari memang Rama menunggu hasil tes DNA itu keluar. Rama memang sengaja diam-diam tes DNA Anna. Karena dia ingin memastikan kebenaran kalau Anna adalah anak kandungnya.
Sesampainya di depan rumah sakit, Rama turun dari mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui dokter Edo.
Sesampainya di depan ruangan dokter Edo, Rama pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi dokter."
"Oh Pak Rama, silahkan duduk Pak."
"Iya Dok."
Rama kemudian duduk setelah Dokter itu mempersilahkannya duduk.
Beberapa saat kemudian, Dokter Edo memberikan selembar kertas hasil tes DNA.
Rama membaca isi kertas itu. Dia terkejut saat melihat hasilnya. Di kertas itu tertulis kalau 98 persen menyatakan kalau Anna adalah anak kandung dari Rama.
Tangan Rama bergetar saat mengetahui hasilnya. Tiba-tiba saja, setetes air mata Rama tumpah dari pelupuk matanya. Rama tidak menyangka kalau ternyata Anna benar-benar anak kandungnya.
Rama segera mengusap air matanya dengan kasar dan menatap dokter Edo lekat.
"Tidak ada yang salah kan Dok, dengan hasilnya?" tanya Rama.
"Oh, tentu saja tidak Pak Rama. Tidak ada yang bisa memanipulasi hasil tes seperti ini, di rumah sakit ini."
"Jadi, Anna adalah anak kandung saya?"
"Iya. Bapak bisa baca baik-baik isi surat itu."
"Iya. Kalau begitu saya permisi dulu Dok. Saya masih punya banyak urusan."
"Iya Pak Rama."
__ADS_1
Sebelum pergi, Rama bersalaman dengan Dokter. Setelah berpamitan pada Dokter Edo, Rama pun kemudian pergi meninggalkan ruangan dokter Edo dengan membawa kertas hasil tes DNA itu.