
"Istriku, biarin ajalah. Seandainya aku nikah sama kamu, dia juga nggak akan tahu."
"Mas sudahlah. Nggak usah bercanda. Aku itu nggak mau nikah sama lelaki yang masih punya istri. Aku nggak mau di kata-katain pelakor."
"Ya udah, nanti aku ceraikan istri aku. Biar aku bisa nikah sama kamu."
"Nggak usah mengada-ada deh Mas. Kalau kamu ceraikan istri kamu, kasihan anak kamu Mas. Kamu tega apa, membiarkan Liza menjadi korban perceraian ke dua orang tuanya."
"Terus, aku harus gimana dong Saf. Kenapa aku merasa jadi serba salah ya. Aku pengin nikahin kamu, karena aku pengin jadi ayahnya Anna. Aku tahu, kalau selama ini, Anna itu butuh kasih sayang seorang ayah."
"Nggak perlu kamu nikahin aku Mas. Kamu sudah mau menganggap Anna anak kamu, itu sudah lebih dari cukup untuk aku dan Anna. Tuh kan, gara-gara kamu aku jadi lupa bangunin Anna. Minggir, aku mau bangunin Anna dulu."
Safia buru-buru berjalan untuk ke kamar Anna. Dia kemudian membangunkan Anna yang saat ini masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Anna. Bangun yuk sayang. Itu Om Rama sudah ada di sini. Semalam, Om Rama main ke sini kan. Dan dia datang lagi ke sini untuk ketemu Anna," ucap Safia.
Anna yang dibangunin hanya menggeliat. Safia fikir, setelah Anna tahu kalau Rama ada di rumahnya, dia akan semangat bangun. Tapi ternyata tidak. Anna malah semakin lelap.
Safia tidak tinggal diam. Dia mendekat ke jendela kamarnya dan membuka korden jendela.
Anna yang merasakan silau, mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap ibunya.
"Lihat, udah siang An. Matahari aja udah bersinar. Mau sampai kapan kamu tidur An? emang kamu nggak mau sekolah?" tanya Safia sembari mendekati Anna.
"Bun, kepala aku sakit Bun," ucap Anna sembari memegangi kepalanya.
"Lho, kamu sakit?" tanya Safia. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi tempat tidur Anna.
Anna mengangguk. Safia langsung memegang kening Anna.
"Kamu nggak demam kok sayang," ucap Safia.
"Tapi kepala aku sakit Bunda. Aku nggak bohong."
"Bunda tahu sekarang. Pasti semalaman kamu mainan hape ya. Bunda kan udah bilang, jangan main hape kalau waktu-waktu sekolah. Boleh main hape kalau Anna lagi libur. Jadi sakit begini kan kepalanya."
"Bunda, nggak apa-apa kan, kalau Anna libur dulu sekolahnya?" tanya Anna menatap bundanya lekat.
"Kalau kamu benar-benar lagi sakit, ya udah. Nggak apa-apa kalau nggak mau berangkat dulu. Tapi kamu harus bangun. Mandi, terus kita sarapan ya. Om Rama sudah nungguin kita di ruang makan."
Lagi-lagi Anna menggeleng yang membuat Safia lelah.
"Bunda aja yang makan sama Om Rama. Anna lagi malas makan."
"Ya udahlah kalau gitu. Bunda keluar dulu ya."
"Iya Bun."
__ADS_1
Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia keluar dari kamar Anna. Dia kemudian berjalan ke ruang makan di mana Rama berada.
"Gimana Safia, Anna mau bangun?" tanya Rama yang sudah duduk di ruang makan.
"Anna sakit Mas. Dia pusing katanya. Aku yakin, itu karena dia mainan hape sampai malam. Ini semua itu gara-gara kamu Mas. Harusnya kamu nggak usah beliin dia hape. Apalagi sampai dua. Bisa ganggu belajar Anna Mas," gerutu Safia.
"Tujuan aku belikan hape kan hanya untuk telpon Saf. Apa aku salah."
"Nggak salah. Tapi Anna aja yang bandel. Dia nggak mau dibilangin"
"Sabar lah Saf. Namanya juga anak-anak."
"Ya udah, kamu tunggu di sini ya Mas. Aku mau nyiapin makanan dulu untuk kita."
Safia kemudian berjalan ke dapur untuk kembali melakukan aktivitasnya.
Safia menyajikan masakannya ke dalam piring dan membawanya ke ruang makan.
Dia kemudian meletakkan makanan itu di atas meja.
"Kamu mau aku buatin susu hangat Mas?" tanya Safia.
"Nggak usah," jawab Rama singkat.
"Tapi kamu mau temani aku sarapan kan Mas?
Setelah semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan, Safia mengambil piring untuk Rama dan untuknya. Dia kemudian mencedokan nasi dan lauk ke dalam ke dua piring itu.
"Ini Mas, udah aku ambilin," ucap Safia sembari meletakan piring itu di depan Rama.
"Makasih ya Saf."
"Iya Mas. Maaf ya Mas. Aku cuma masak menu seadanya."
"Nggak apa-apa Safia."
"Ya udah, ayo kita makan Mas."
"Iya."
Safia dan Rama mulai makan. Mereka tidak bicara apapun saat makan. Mereka sepertinya tampak menikmati sarapannya di pagi ini.
Setelah Rama menghabiskan makanannya, dia kemudian mengambil gelasnya dan meminum air putih yang sudah Safia siapkan.
"Makasih ya Safia," ucap Rama sembari meletakan gelasnya kembali.
Rama tersenyum saat melihat Safia. Dia kemudian mendekati Safia.
__ADS_1
"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Safia saat wajah Rama sudah dekat dengan wajahnya.
"Aku cuma mau ambil ini," ucap Rama sembari menunjuk nasi yang menempel di pipi Safia.
"Oh..."
Rama kemudian menegakan kembali tubuhnya.
"Safia, aku mau ngasih kamu sesuatu," ucap Rama.
Safia menghentikan kunyahannya dan menatap Rama lekat.
"Tapi kamu janji ya, kamu harus mau menerima pemberian aku."
"Kamu mau ngasih aku apa lagi mas? semalam kan kamu sudah ngasih hape untuk Anna."
Rama mengambil dompet yang ada di saku jasnya. Setelah itu dia mengambil beberapa lembar uang ratusan dan meletakan uang itu di depan Safia.
"Uang untuk apa Mas?" tanya Safia.
"Untuk bantu bayar sekolah anak kamu," jawab Rama.
"Tapi Mas,"
"Terimalah Safia. Sebenarnya aku ingin menebus semua kesalahan aku di masa lalu. Aku ingin membantu membiayai kehidupan Anna anak kamu. Sampai saat ini, aku masih dihantui rasa bersalah karena dulu aku sudah menodai mu sampai hubungan kamu dan Shakira hancur. Begitu juga hubungan aku dengan Shakira. Semua hancur karena malam itu."
Rama meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat.
"Mulai sekarang, biarkan aku membantu kamu dan Anna. Dan kamu juga jangan sungkan, untuk meminta bantuan aku. Jika kamu mau, aku pun sanggup jika aku harus menafkahi dua istri sekaligus."
"Maksud kamu? kamu punya niatan untuk menjadikan aku istri ke dua kamu?"
Rama tersenyum.
"Yah, begitulah Safia."
Safia melepaskan tangan Rama.
"Aku kan udah bilang, kalau aku nggak mau jadi istri ke dua. Aku nggak mau jadi bahan gunjingan semua orang karena aku menjadi istri ke dua. Kalau kamu sayang sama Anna, dan ingin membantu kami, silahkan saja, aku tidak akan melarangnya. Tapi kalau untuk nikah sama kamu, aku akan berfikir ribuan kali untuk menerima kamu."
"Ya udah, aku akan kasih kesempatan kamu untuk berfikir."
"Mas, pernikahan itu bukan untuk main-main lho. Dan pernikahan itu, harus di landasi cinta. Kita aja nggak saling cinta untuk apa kita nikah."
"Kalau menurutmu pernikahan itu harus ada cinta, ya udah, kalau gitu buat aku jatuh cinta sama kamu. Dan aku akan buat kamu jatuh cinta juga sama aku. Biar kita bisa punya ikatan cinta. Dan kamu nggak akan nolak lagi untuk menikah denganku."
'
__ADS_1