
Bram menatap Liza tanpa menghiraukan ucapan Vika.
"Liza, kamu mau ikut Om nggak?" tanya Bram mencoba membujuk anaknya Vika.
"Ikut ke mana Om?" tanya Liza.
"Jalan-jalan."
Liza membulatkan matanya. Tampak bahagia dengan ucapan Bram.
"Om mau ngajak aku jalan-jalan ke mana?" tanya Liza yang begitu antusias.
"Om mau ngajak kamu jalan-jalan ke mana ya? kamu mau jalan-jalan ke mana? ke mall, nonton film, atau ke mana?"
"Om mau ngajakin aku ke mall? serius Om. Aku pengin banget ke mall. Papa aku nggak pernah ngajakin aku ke mall. Udah lama aku nggak ke mall. Dan aku pengin banget jalan-jalan ke mall. Mama juga kalau jalan-jalan cuma sendiri doang. Nggak pernah ngajakin aku," ucap Liza menuturkan.
Bram tersenyum. Dan bagi Bram, ini adalah kesempatan untuk mendekati Vika lagi lewat anak cantiknya itu.
"Kamu mau ke mall? baiklah, Om akan ajak kamu ke mall. Ayo, sekarang kita berangkat!"
Bram sudah mengulurkan tangannya ke depan Liza. Liza langsung meriah tangan Bram dan menggenggamnya erat. Bram dan Liza kemudian berjalan ke arah mobilnya dan meninggalkan Vika.
"Hei Bram. Kamu nggak bisa dong, sembarangan ngajak anak aku jalan," ucap Vika kesal.
Bram menatap Vika.
"Sekali-kali nggak apa-apa lah Vik. Kita kan mau ke mall aja. Nggak akan lama kok. Liza nya aja mau, kenapa kamu kelihatan kesal begitu."
Liza meraih tangan Vika dan menggenggamnya erat.
"Mama. Aku pengin jalan-jalan. Selama ini papa dan mama nggak pernah ngajak aku jalan-jalan. Biarin aku ikut Om Bram jalan-jalan. Kali ini aja ya Mama," bujuk Liza.
Vika tidak bisa menahan Liza untuk tidak ikut dengan Bram. Vika juga merasa iba dengan anaknya itu. Memang sudah lama juga Vika belum pernah mengajak Liza jalan-jalan lagi. Apalagi dengan Rama. Dia juga tidak pernah mengajak Liza jalan-jalan.
Liza anak orang kaya, namun hidupnya tidak semanis apa yang orang-orang bayangkan selama ini.
Ke dua orang tua Liza, tidak pernah akur. Vika tidak pernah mengajak anaknya jalan. Dia hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
Sementara Rama semakin hari, semakin cuek saja dengan Liza. Boro-boro Rama mengajak Liza jalan-jalan, mengajak Liza ngobrol sekarang pun enggan. Karena sekarang Rama sibuk dengan keluarga barunya.
"Baiklah. Mama izinkan kamu untuk pergi dengan Om Bram," ucap Vika pada akhirnya.
__ADS_1
Liza tersenyum bahagia.
"Asyik...Mama, mama juga harus ikut ya."
Vika mengangguk.
Ternyata, mudah juga untuk aku dekatin anaknya Vika. Kenapa aku nggak dekatin Liza aja. Kalau Liza dekat dengan aku, otomatis ibunya juga akan ikut dekat dengan aku.
Bram tersenyum licik. Merasa jalannya untuk merebut Vika dari tangan Rama semakin luas saja.
****
Ting
Sebuah notifikasi masuk ke dalam hape Safia. Safia membuka chat dari suaminya.
(Sayang, aku nggak bisa pulang ke rumah kamu. Aku mau nginap di rumah Liza dulu untuk malam ini. Malam ini aja kok sayang. Nggak apa-apa kan?)
Safia tampak sedih saat melihat chat dari Rama. Pasalnya, Rama akan pulang ke rumah istri pertamanya untuk malam ini.
Kenapa aku sedih gini ya, mau ditinggal Mas Rama nginap di rumah Liza. Seharusnya aku nggak boleh sedih, batin Safia.
Safia berusaha untuk tidak memikirkan Rama. Safia tahu diri, kalau dia hanya istri kedua. Dan dia juga cuma istri siri. Dia tidak mungkin memaksa Rama untuk selalu bersamanya. Karena itu tidak akan mungkin.
Setetes air mata Safia tiba-tiba saja mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
Duh, kenapa dengan hatiku. Apa jangan-jangan aku sudah mulai mencintai lelaki itu. Nggak, perasaan ini nggak boleh dibiarin begitu saja. Aku nggak boleh jatuh cinta beneran sama Mas Rama. Dia itu masih suami orang. Dan suatu saat, tidak menutup kemungkinan kalau dia pasti akan kembali lagi ke pelukan istrinya.
Safia masih ingat dengan kata-kata Rama kemarin. Jika ke dua tubuh sudah menyatu, maka cinta itu akan perlahan menghampiri.
Dan benar saja apa yang dikatakan Rama kemarin. Setelah Safia dan Rama melakukan malam pertama, malam ke dua, dan malam-malam seterusnya, akhirnya Rama sudah bisa membuat Safia jatuh cinta dan sulit untuk melupakannya.
Rama memang jago, memanjakan istrinya untuk masalah ranjang. Dan mungkin hubungan yang selama seminggu ini mereka jalin, sudah menumbuhkan rasa cinta di hati Safia.
Safia masih menepis bayang-bayang Rama dalam fikirannya.
"Kenapa hati aku jadi nggak enak begini ya. Aku merasa nggak rela, Mas Rama pulang ke rumah istri pertamanya. Apa jangan-jangan, aku cemburu. Nggak, aku nggak boleh cemburu."
Tok tok tok....
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Suara ketukan dan salam dari pintu depan membuyarkan lamunan Safia. Safia segera mengusap air matanya saat mendengar suara putri kecilnya. Safia bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah untuk membuka pintu.
"Wa'alakiumsalam. Udah pulang sayang?" tanya Safia.
Dia tersenyum saat melihat putri kecilnya sudah pulang dari mengaji.
Anna mencium tangan bundanya. Setelah itu dia buru-buru masuk ke dalam rumahnya.
Anna menghempaskan tubuhnya dan duduk di sofa ruang tamu. Dia kemudian menatap ke sekeliling.
"Bunda, ayah mana? kok jam segini ayah belum pulang. Biasanya mobil ayah, udah terpakir di depan."
"Ayah kamu nggak pulang ke sini malam ini Nak," jawab Safia.
"Terus ayah ke mana dong?"
"Ayah kamu pulang ke rumahnya Liza."
Anna cemberut saat mendengar nama Liza. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi ibunya.
"Ayah nggak akan pulang ke sini lagi?" tanya Anna dengan menyilangkan ke dua tangannya menatap Safia intens.
"Ayah mau ke sini lagi kok."
"Kapan?"
"Nggak tahu kapan."
"Kenapa sih, ayah harus kembali lagi ke sana. Aku nggak suka Bun."
Safia tersenyum. Mencoba untuk memberi pengertian pada anaknya kalau ayahnya tidak akan selamanya bersamanya.
"Sayang, kita itu nggak boleh egois. Kita tidak boleh menghalangi ayah untuk ketemu dengan anak dan istrinya. Karena ayah kamu juga masih punya tanggung jawab yang besar terhadap mereka."
Anna mencoba untuk mencerna semua ucapan ibunya.
"Sayang, kita itu sudah terbiasa mandiri tanpa ayah. Jadi kita nggak boleh ketergantungan terus sama ayah. Kita harus bisa ngertiin ayah."
"Iya Bunda. Aku tahu maksud bunda."
Safia mengusap kepala anaknya yang saat ini masih memakai jilbab dan gamis lengkap. Safia tahu kalau anaknya adalah anak yang pintar dan bisa mengerti keadaan. Anna memang anak kebanggaan Safia dan Rama. Harta pangling berharga milik mereka.
__ADS_1
****