Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Panik


__ADS_3

Malam ini, Rama masih berada di dalam kamarnya. Sudah satu minggu dia berada di Jakarta. Dia saat ini tinggal bersama keluarga kakak sepupunya.


"Safia sebenarnya pergi ke mana ya. Sudah satu minggu aku mencarinya, tapi kenapa dia belum aku temukan juga," ucap Rama di sela-sela kesendiriannya.


"Aku yakin, kalau Safia ada di sini. Tapi aku nggak tahu di mana keberadaannya. Aku kasihan sama dia. Bagaimana kalau dia ketemu orang jahat," lanjut Rama.


Ya, Rama ke Jakarta, selain untuk mencari pekerjaan, dia juga sekaligus ingin mencari Safia. Dia masih merasa bersalah dengan kepergian adik iparnya itu.


Rama tahu, kalau Safia belum punya pengalaman apa-apa seperti Shakira dan dirinya yang sering bolak-balik ke Jakarta sendiri. Safia sejak lulus SMA, dia tidak pernah pergi kemana-mana.


Beberapa saat kemudian, Intan kakak sepupu Rama menghampiri kamar Rama.


"Rama, kamu belum makan kan, kita makan yuk! Mas Hamdan sudah pulang dan bawa makanan banyak. Sekalian kita makan bareng," ucap Intan.


Rama bangkit dari duduknya untuk menghampiri Intan.


"Mbak Intan, maaf ya Mbak. Aku udah ngerepotin Mbak. Tapi aku janji aku akan cari kerja dan akan cari kontrakan sendiri."


"Udah, nggak apa-apa Rama. Lagian Mas Hamdan juga udah membolehkan kok kamu tinggal di sini sama kami."


"Iya. Tapi aku nggak enak aja sama suamimu."


"Nggak usah nggak enak seperti itu. Ayo, kita keluar. Kita makan malam bareng."


"Iya Mbak."


Intan pergi keluar. Rama hanya bisa mengikuti Intan di belakangnya.


Di ruang makan, Hamdan suami Intan tampak sudah duduk bersama anak laki-lakinya yang masih berusia enam tahun.


"Om Rama mau makan bareng kita?" tanya Chiko anak Intan dan Hamdan.


Rama tersenyum dan menarik kursi.


"Iya. Nggak apa-apa kan Om makan bareng Chiko?" tanya Rama sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Nggak apa-apa kok Om," jawab Chiko.


Intan kemudian mengikuti Rama duduk. Dia duduk di samping suaminya.


Intan mengambil piring dan mencedokan nasi dan lauk untuk Hamdan dan Chiko. Setelah itu dia juga mengambilkan nasi dan lauk untuk Rama.


"Ayo Rama. Nggak usah malu-malu. Kita makan bareng," ucap Hamdan.


"Makasih ya Mas."


Hamdan hanya mengangguk.

__ADS_1


Rama, Hamdan, Intan dan Chiko kemudian makan bersama.


"Mas Hamdan, di tempat Mas, ada lowongan pekerjaan nggak Mas?" tanya Rama di sela-sela kunyahannya.


"Kalau dalam bulan-bulan ini kayaknya nggak ada lowongan kerja Ram."


"Yah, sayang sekali ya. Padahal aku pengin daftar ke kantor Mas."


"Kalau di kantorku, rata-rata butuhnya sarjana Ram. Kalau untuk SMA, jarang ada. Kalau ada, palingan juga gajinya sedikit."


"Ya nggak apa-apa Mas. Aku mau kok kerja apa aja. Walau gajinya sedikit, tapi yang penting halal."


"Rama, kamu belum cerita sama Mbak. Kenapa kamu tiba-tiba datang ke Jakarta dan mau cari kerja di sini. Katanya kamu di kampung sudah punya kerjaan," ucap Intan di sela-sela kunyahannya.


"Iya sih. Tapi gaji di kampung kecil. Aku mau cari kerjaan di kota yang gajinya agak gedean."


"Tuh kan, kamu juga ingin punya gaji gede. Dari pada kamu nungguin lowongan di kantorku, kenapa kamu nggak nyari pekerjaan di kantor lain saja Ram. Lowongan kerjaan di sini banyak kok," ucap Hamdan.


"Kamu kerja di sini, terus istri kamu gimana di kampung?" tanya Intan.


Rama diam saat mendengar pertanyaan Intan. Sejak kedatangannya ke rumah Intan, Rama belum cerita apapun tentang masalahnya pada Intan.


"Istri aku, ya biarkan saja dia di kampung. Toh, dia juga kan di kampung masih punya orang tua."


Sebenarnya, Shakira sudah mengajukan gugatan perceraiannya ke pengadilan. Sejak tahu soal itu, Rama pergi. Dia pergi karena dia ingin menghindari masalah dengan istrinya.


Setelah menghabiskan makanannya, Rama kemudian bangkit berdiri.


"Kamu mau ke mana?" tanya Intan.


"Aku mau ke kamar Mbak. Aku udah ngantuk. Besok aku mau bangun pagi-pagi dan mau nyoba daftar-daftar kerja."


"Oh. Ya udah."


"Makasih ya Mbak."


Intan mengangguk. Sementara Rama melangkah pergi meninggalkan ruang makan.


****


Siang ini, Safia masih berada di tempat kerjanya. Sejak tadi, Safia masih memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.


"Duh, kenapa perut aku jadi sakit banget begini ya," ucap Safia.


Beberapa saat kemudian, Bu Windi bos Safia menghampiri Safia yang ada di Luar rumah.


"Safia. Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Bu Windi.

__ADS_1


"Maaf Bu. Aku belum bisa kerja. Soalnya perut aku lagi sakit banget," ucap Safia yang sejak tadi masih memegangi perutnya.


Bu Windi membelalakkan matanya saat melihat kaki Safia. Dia terkejut saat melihat darah mengalir di kaki Safia.


"Safia, kaki kamu ada darah. Kamu kenapa Safia? kamu pendarahan."


Safia terkejut saat melihat di kakinya ada darah.


Ya ampun, apa jangan-jangan, aku pendarahan karena aku banyak mengangkat beban berat. Kalau begini, semua orang bisa tahu kalau aku ini hamil.


"Safia. Kamu harus ke rumah sakit Safia. Ibu takut akan terjadi apa-apa sama kamu." Bu Windi tampak sangat panik.


Dia tidak mau terjadi apa-apa sama karyawannya.


"Tidak usah Bu. Aku nggak apa-apa kok," ucap Safia yang masih memegangi perutnya.


"Nggak apa-apa gimana? orang dari tadi kamu kesakitan kok bilang nggak apa-apa. Tapi ibu nggak bisa ngantar kamu ke rumah sakit Safia. Ibu telpon Bu Maryam dulu ya. Suruh nemenin kamu ke rumah sakit."


Bu Windi yang panik, langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya. Setelah itu dia menelpon Bu Maryam untuk memberi tahu kondisi Safia.


Beberapa saat kemudian, suara Bu Maryam sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo Bu Maryam. Sekarang ibu ada di mana?"


"Saya lagi di warung Bu Windi. Ada apa?"


"Bisa datang ke sini nggak?"


"Ada apa emang Bu Windi?"


"Safia pendarahan. Dan saya lagi sibuk nggak bisa mengantar dia ke rumah sakit. Apa Bu Maryam bisa menemani Safia ke rumah sakit."


"Tapi saya nggak punya kendaraan. Saya ke rumah sakit mau pakai apa."


"Kalau kendaraan, saya kan ada mobil. Biar nanti karyawan saya yang mengantar ibu dan Safia ke sana."


"Baiklah Bu Windi. Sekarang saya ke rumah ibu."


"Iya."


Bu Windi kemudian mematikan saluran telponnya. Setelah itu dia keluar menghampiri Safia.


"Safia. Kok kamu bisa pendarahan sih. Apa kamu hamil?" tanya Bu Windi.


Safia yang ditanya hanya diam. Mungkinkah dia harus jujur pada Bu Windi kalau dia hamil. Bagaimana kalau Bu Windi tahu Safia hamil tanpa seorang suami.


"Saya nggak tahu Bu. Tapi saya tidak mau ke rumah sakit," ucap Safia.

__ADS_1


"Nggak. Kamu harus ke rumah sakit pokoknya. Bu Maryam lagi datang ke sini, mau menemani kamu ke rumah sakit. Nanti pakai mobil ibu aja ke rumah sakitnya."


__ADS_2