Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kemarahan seorang suami


__ADS_3

Di dalam mobil, Vika masih menatap anaknya yang sejak tadi masih terlelap. Setelah perjalanan yang cukup jauh, Liza langsung terlelap di dalam mobil. Saat ini, mereka duduk di jok belakang mobil Bram.


"Sayang, bangun sayang. Udah nyampe sayang," ucap Vika sembari menepuk-nepuk pipi Liza, mencoba untuk membangunkan Liza.


Liza mengerjapkan matanya dan mengucek matanya. Dia kemudian menatap ibunya lekat. Setelah itu dia menatap ke sekeliling.


"Mama, kita udah nyampe?" tanya Liza.


Vika mengangguk.


"Iya sayang, ayo kita turun!" pinta Vika.


Bram menatap Vika dan Liza.


"Vik, boleh aku mampir ke rumah kamu? mumpung suami kamu tidak ada di rumah," tanya Bram.


Vika melotot ke arah Bram.


"Apa! mampir? nggak. Aku nggak akan ngizinin kamu mampir ke dalam. Lagian, di dalam ada suami aku. Kamu mau nyari mati ya," ucap Vika.


"Kata kamu, suami kamu nggak ada di rumah."


"Iya. Tapi sekarang dia sudah ada di rumah. Karena mobilnya juga ada di dalam."


"Oh."


"Kamu nggak usah ikutan turun Bram! aku nggak mau suami aku melihat kamu, dan mencurigai kita," ucap Vika.


"Oke."


Vika menatap Liza.


"Liza, ayo kita turun. Udah nyampe. Papa kamu, sepertinya juga sudah pulang," ucap Vika.


Liza mengangguk. "Iya Ma."


"Bawa juga, barang-barang kamu."


"Iya."


Liza kemudian membawa beberapa kantong barang-barang belanjaannya. Setelah itu mereka berdua turun dari mobil Bram.


"Om, makasih banyak ya Om, untuk semuanya," ucap Liza.


"Iya. Sama-sama."


Vika dan Liza kemudian masuk ke halaman depan rumahnya. Sementara Bram meluncur pergi meninggalkan rumah Vika.


Liza dan Vika sudah sampai di teras depan rumahnya. Sebelum masuk, Vika menatap Liza lekat.


"Liza, jangan bilang apa-apa ya sama papa kamu soal Om Bram," ucap Vika.

__ADS_1


"Kenapa Ma?"


"Mama nggak mau, terjadi salah paham sama mereka."


"Baik Ma."


Vika dan Liza kemudian masuk ke dalam rumahnya yang sudah tampak gelap. Karena Bik Ijah sudah mematikan lampu ruang tamu, setelah Bu Tari masuk ke kamarnya.


Vika terkejut saat tiba-tiba saja lampu ruang tamu menyala sendiri.


"Dari mana aja kalian berdua?" tanya Rama dengan tatapan dingin.


Vika terkejut saat melihat Rama sudah berdiri di depannya.


"Em, Eh. Mas Rama, kamu sudah pulang?" basa-basi Vika pada suaminya.


Rama mendekat ke arah Vika dan Liza. Dia kemudian menatap Liza dan menatap barang-barang yang ada di tangan Liza.


"Kamu dari mana Liza?" tanya Rama pada anaknya.


"Tadi aku sama mama habis jalan-jalan sama O..."


Vika langsung membekap mulut Liza. Dia tidak ingin Liza menyebut nama Bram di depan Rama.


Rama mengernyitkan alisnya heran. Vika kemudian melepaskan bekapan tangannya.


"Mas, maaf ya kalau kami pulang telat. Kami, baru belanja Mas. Biasalah, kebutuhan dapur juga udah pada habis. Liza juga minta baju-baju baru."


Vika terkejut saat mendengar ucapan Rama.


"Apa! kenapa Mas?" tanya Vika


"Yah, biar kamu bisa lebih ngirit lagi. Soalnya, kita itu tidak akan berada di atas terus Vika. Hidup itu ada pasang surutnya."


"Okelah. Terserah kamu. Aku dan Liza capek. Kami ke kamar dulu ya."


"Iya. Silahkan."


Vika dan Liza kemudian berjalan untuk ke kamar mereka. Sementara Rama kembali untuk ke kamarnya.


****


Vika saat ini sudah berada di dalam kamarnya. Vika sudah duduk di sofa. Sepertinya dia sangat lelah setelah seharian menemani anaknya jalan-jalan.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka lebar. Rama masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kembali.


Rama kemudian mendekat ke arah istrinya.


"Vika, mobil siapa tadi?" tanya Rama dengan sorot mata tajam.


"Tadi..." Vika tampak bingung untuk menjawab.

__ADS_1


"Itu teman aku Mas," jawab Vika sekenanya.


"Cowok?"


Vika menggeleng.


"Cewek," bohong Vika.


"Kenapa kamu pulang malam sekali. Dan kata Mama, kamu pergi dari tadi pagi. Pergi ke mana aja sih kamu sama Liza?" tanya Rama.


Rama kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya masih tertuju ke istrinya.


"Nggak usah kepo Mas. Aku dan Liza pergi dan pulang terlambat cuma malam ini aja kok. Seharusnya aku yang tanya sama kamu. Kamu dari mana aja selama satu minggu ini?"


"Aku dari luar kota."


"Kenapa ke luar kota, nggak izin dulu sama aku dan Liza."


"Yah, kenapa harus minta izin. Keluar kota juga dekat, dan cuma sebentar."


"Sebentar kamu bilang? satu minggu Mas, satu minggu kamu pergi. Satu minggu itu bukan waktu yang sebentar. Sebenarnya kamu keluar kota itu ada urusan apa sih? apa jangan-jangan, dugaan aku selama ini benar, kalau kamu punya selingkuhan."


Rama mengepalkan tangannya geram. Saat mendengar ucapan Vika, Rama langsung terlintas pada sosok lelaki yang bernama Bram.


Rama bangkit dari duduknya.


"Selingkuh kamu bilang? kamu nuduh aku selingkuh?" tanya Rama menatap Vika nanar.


"Yah, siapa tahu. Kamu aja nggak pulang selama satu minggu."


"Kamu nggak bisa Vika nuduh aku tanpa bukti."


"Sekarang sih iya nggak ada bukti. Tapi jangan macam-macam ya Mas kamu sama aku. Kalau aku tahu kamu selingkuh dibelakang aku, aku nggak akan pernah maafin kamu," ancam Vika.


Rama menatap Vika tajam.


"Sekarang, aku mau tanya sama kamu. Waktu kamu satu minggu ke Bali, apa yang kamu lakukan di sana. Dan apa benar, kalau kamu ke Bali dengan teman-teman cewek kamu?" Rama sudah menyerang Vika dengan pertanyaan yang pasti akan sulit untuk Vika jawab.


Vika tampak gelagapan untuk menjawab pertanyaan Rama yang satu ini. Dia memang sudah membohongi Rama selama ini. Vika fikir, Rama tidak tahu apa yang Vika sembunyikan selama ini.


Vika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah Rama. Vika kemudian meraih tangan Rama dan menggenggamnya erat.


"Mas, aku sayang sama kamu. Maafin aku ya, udah nuduh kamu selingkuh. Aku janji, aku nggak akan nuduh kamu lagi," ucap Vika mencoba untuk meredakan emosi suaminya.


Rama terkejut saat tiba-tiba saja, Vika memeluk tubuhnya dengan erat.


"Mas Rama, maafkan aku. Aku cinta sama kamu Mas. Aku nggak mau kehilangan kamu."


Rama yang merasa risih dengan pelukan Vika, segera menghempaskan tubuh Vika dan mendorong Vika sampai Vika jatuh ke atas tempat tidurnya.


Vika terkejut saat tiba-tiba saja Rama mendorongnya. Vika tidak menyangka kalau suaminya akan semarah itu padanya.

__ADS_1


Kenapa Mas Rama jadi kasar banget sama aku. Apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Rama.


__ADS_2