
Vika masih berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan. Sementara Sodik, pemuda yang berpenampilan seperti preman itu, masih duduk di sisi Vika untuk menjadi saksi kecelakaan itu. Sejak tadi polisi masih mengintrogasi Vika dan Sodik.
"Ini nih Pak Polisi, orang-orang seperti ini yang paling aku benci. Gadis-gadis anak orang kaya seperti ini, yang suka banget sok sokan di jalan raya dengan bawa mobil kebut-kebutan," ucap Sodik di depan polisi dan Vika.
Vika menatap Sodik tajam. Dia geram sama lelaki yang ada di sampingnya itu. Sejak tadi dia masih terus saja menyalahkan Vika dan selalu menyudutkan Vika di depan polisi.
"Heh, jangan sok tahu Lu. Gue ngebut karena memang gue lagi ngejar seseorang. Bukan karena gua mau pamer dan sok sokan di tengah jalan."
Sodik dan Vika sejak tadi masih berdebat. Yang membuat polisi yang ada di depan mereka bingung.
"Cukup... cukup...! kenapa kalian malah berantem di sini. Ini bukan waktunya untuk kalian berantem."
"Pak polisi, saya janji saya akan tanggung jawab. Kalau bapak tidak percaya sama saya, saya bisa telpon ayah sekarang," ucap Vika.
"Kalau kamu mau telpon ayah kamu, silahkan. Biar saya akan jelaskan semuanya sama ayah kamu. Biar masalah ini semakin jelas dan bisa cepat selesai."
"Tolong Pak. Berikan saya waktu untuk nelpon ayah saya!"
Polisi mengangguk. "Ya, silahkan."
Setelah itu dia mempersilakan Vika untuk menelpon orang tuanya.
Vika bangkit berdiri. Setelah itu dia agak menjauh dari Sodik untuk menelpon ayahnya. Vika kemudian menekan nomer ayahnya.
Beberapa saat kemudian, suara ayah Vika sudah terdengar dari balik telpon. "Halo Vika..."
"Halo Papa, tolong aku Papa. Aku sekarang ada di dalam kantor polisi."
"Lho, apa yang terjadi Vik? kenapa kamu bisa ada di kantor polisi?"
"Papa, aku habis nabrak orang tadi sore Papa. Apa Papa bisa ke sini untuk membantu Vika..."
"Apa! menabrak orang. Kamu bagaimana sih Vika kalau bawa mobil. Papa sudah suruh kamu jangan kebut-kebutan di jalan. Sekarang begini kan akibatnya. Kamu harus berurusan sama polisi."
"Papa, tolong Vika.Vika nggak mau dipenjara Pa. Papa harus bantuin Vika. Vika takut... hiks...hiks..."
"Baiklah. Papa akan segera ke sana. Sudah, nggak usah nangis."
"Tapi aku takut Pa."
"Nggak usah takut, papa akan segera bebaskan kamu sekarang. "
Vika menutup saluran teleponnya. Setelah itu dia mendekat dan duduk kembali di samping Sodik.
__ADS_1
"Saya sudah menelpon Papa saya. Dan dia akan segera ke sini," ucap Vika pada polisi.
Polisi hanya mengangguk. Setelah itu dia kembali menatap layar monitornya.
Vika sejak tadi masih resah menunggu ayahnya datang. Sementara Sodik masih asyik bermain-main dengan ponselnya.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki berusia setengah abad lebih, masuk ke dalam kantor polisi.
Polisi itu terkejut saat melihat Pak Angga ayah Vika. Dia sepertinya kenal dengan Pak Angga.
Pak Angga mendekat ke arah Pak polisi. Pak polisi langsung mengajak Pak Angga bersalaman.
"Pak Angga Setiaji. Jadi Vika ini anak anda?" tanya polisi itu.
"Iya betul Pak. Vika ini anak saya satu-satunya. Dan anak saya ini, memang sedikit bandel Pak."
"Iya. Silahkan duduk Pak Angga!" polisi itu mempersilahkan Pak Angga duduk.
"Terimakasih."
Pak Angga kemudian duduk di dekat Vika. Polisi itu kemudian menjelaskan semua permasalahan Vika pada Pak Angga.
"Pak polisi tenang saja. Saya akan tanggung jawab untuk semua masalah ini. Saya akan biayai pengobatan lelaki itu sampai sembuh," ucap Pak Angga mantap.
Dan polisi yakin, kalau Pak Angga pasti akan bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan yang sudah dilakukan putrinya. Karena Pak Angga itu orang kaya raya.
Apa saja bisa dia lakukan dengan uangnya, termasuk membayar biaya rumah sakit dan mengobati sampai sembuh orang yang sudah ditabrak putrinya.
"Saya janji, saya akan mengobati dan merawat lelaki itu sampai dia sembuh dan sehat kembali."
"Iya Pak. Saya percaya sama anda."
"Saya ingin melihat kondisi lelaki yang sudah anak saya tabrak tadi sore," ucap Pak Angga.
"Baiklah, kalau begitu, saya akan mengantar anda ke rumah sakit."
"Iya Pak polisi. Terimakasih."
Polisi, Pak Angga dan Vika kemudian pergi meninggalkan kantor polisi. Sementara Sodik yang sejak tadi dicuekin ketiga orang itu masih diam.
"Hah, ternyata gadis itu anak orang kaya raya. Pantas aja belagu dan sombong. Sepertinya, aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini."
Sodik bangkit berdiri. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan kantor polisi.
__ADS_1
****
"Duh, kemana sih Rama. Kenapa dia nggak pulang-pulang," ucap Intan.
Sejak tadi Intan masih resah. Dia masih memikirkan Rama yang sampai larut malam belum pulang juga. Intan masih bolak-balik di kamarnya. Membuat Hamdan bingung dengan sikap Intan.
"Ma, kenapa Ma?" tanya Hamdan pada istrinya. "Dari tadi Papa perhatikan kamu kayak orang bingung."
Intan memutar tubuhnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.
"Aku lagi kefikiran Rama. Dia pergi sejak tadi pagi, tapi sudah jam segini dia belum pulang. Aku takut, terjadi apa-apa sama dia."
"Emang dia pergi ke mana Ma?" tanya Hamdan.
"Dia pergi untuk cari kerja Pa."
"Cari kerja?"
"Iya. Dia malah sempat pinjam uang sama mama. Tapi sampai sekarang dia tidak ada kabarnya. Telponnya juga tidak aktif aktif dari tadi."
"Sabarlah Ma. Mungkin dia masih ada di jalan. Atau lagi mampir ke rumah temannya. Dia punya teman kan di Jakarta."
"Iya punya. Walau nggak banyak."
"Ya udah. Tungguin aja. Siapa tahu sebentar lagi dia pulang. Papa yakin kalau Rama itu nggak apa-apa. Dia cuma lagi nongkrong di mana gitu... Namanya anak muda dan dia juga belum punya anak. Ya pastilah kalau ketemu teman pasti akan ngobrol-ngobrol lama."
"Iya sih Pa. Tapi perasaan mama kok, jadi ngga enak begini Pa. Nomernya Rama nggak aktif aktif dari tadi."
"Sudahlah Ma, Rama itu laki-laki. Dia juga sudah punya banyak pengalaman. Nggak mungkin dia nyasar atau kenapa-kenapa di jalan. Dia sudah tahu daerah sini kok."
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar dari depan rumah Intan.
Intan dan Hamdan saling menatap.
"Mungkin itu adik kamu pulang. Coba sana kamu bukain pintunya"
"Iya Pa."
Intan keluar dari kamarnya. Setelah itu dia pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu.
Intan terkejut saat melihat dua orang polisi mendatangi rumahnya.
__ADS_1
"Em, Pak polisi. Ada apa ya Pak?" tanya Intan yang masih penasaran dengan maksud kedatangan polisi itu.