
"Jadi ternyata Anna adalah anak kandungku," ucap Rama yang ternyata sejak tadi mendengar percakapan Shakira dan Safia di luar rumah sakit.
Pantas aja, sejak pertama kali aku bertemu dengan Anna, aku merasa ada perasaan yang berbeda. Aku seperti mempunyai ikatan batin dengan anak itu. Ternyata Safia sudah merahasiakan semua ini dari aku karena dia takut aku mengambil Anna. Benar-benar menyebalkan kamu ya Safia, geram Rama dalam hati.
Setelah mendengar semua itu, Rama pun kemudian pergi masuk kembali ke dalam rumah sakit. Dia tidak jadi menemui Safia dan Shakira. Rama ingin pura-pura tidak tahu saja soal itu.
"Nak Rama, kemana Safia dan Shakira?" tanya Bu Astri.
"Mereka ada di depan Bu," jawab Rama.
"Lagi ngapain mereka Nak?"
"Saya juga tidak tahu Bu."
Beberapa saat kemudian, Safia dan Shakira menghampiri ibunya.
"Bu, ada kabar apa lagi Bu, dari dokter?" tanya Shakira pada Bu Astri.
"Tadi ada suster yang datang ke sini. Katanya bapak kamu akan segera dipindahkan ke ruang rawat."
"Ya syukurlah kalau begitu."
Rama mendekat ke arah Safia dan Shakira.
"Safia, Shakira, aku mau pulang dulu ya." Rama berpamitan untuk pulang.
"Lho, pulang? kamu kan baru datang Mas?" ucap Shakira.
"Iya. Aku mau ganti baju dulu. Nanti insya Allah kalau nggak ada halangan aku nanti malam ke sini lagi."
"Iya Mas. Hati-hati di jalan ya," ucap Shakira.
Sebelum pergi, Rama mencium tangan Bu Astri. Setelah itu dia mendekat ke arah Anna.
"Anna, Om Rama pulang dulu ya. Nanti Om Rama ke sini lagi," pamit Rama pada Anna.
"Katanya Om Rama mau ngajak aku dan Rio makan malam?" tanya Anna.
"Iya. Kalau ngga ada halangan, nanti Om Rama ke sini lagi. Nanti kita makan malam."
"Iya Om. Hati-hati di jalan ya Om."
"Iya."
Rama kemudian mendekati Safia yang sejak tadi masih diam.
"Safia. Aku pergi dulu ya."
Safia hanya mengangguk.
Setelah berpamitan pada Safia, Shakira dan Bu Astri, Rama pun kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
****
Rama sudah sampai di depan rumahnya. Rama turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum..."
Tak ada sahutan dari dalam rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Liza muncul dari dalam. Dia buru-buru menghampiri ayahnya dan memeluknya.
"Papa, udah pulang ya," ucap Liza sembari melepas pelukannya.
"Mama kamu mana?" tanya Rama menatap sekeliling.
__ADS_1
"Tadi mama pergi bawa mobil Pa."
"Pergi? pergi ke mana?"
Liza mengedikan bahunya..
"Nggak tahu. Mungkin dia lagi ada urusan sama teman di luar."
"Jadi kamu sendiri?"
"Iya."
"Kenapa kamu nggak ikut mama?"
"Aku nggak dibolehin ikut mama. Katanya aku di suruh jagain Oma di rumah."
"Ya udah, ayo kita masuk."
"Iya Papa."
Rama merangkul anaknya sampai masuk ke ruang tengah.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Rama tiba-tiba saja terdengar. Rama mengambil ponselnya yang ada di dalam saku kemejanya.
"Siapa Pa?" tanya Liza menatap Rama lekat.
"Mama kamu yang nelpon."
"Angkat Pa, angkat...!"
"Iya."
"Halo..."
"Halo Mas, kamu ada di mana? masih ada di kantor atau sudah ada di rumah?"
"Aku baru pulang Vik. Nih, baru nyampe tadi. Ada apa Vik?"
"Titip Liza sama mama ya Mas. Aku lagi ada urusan sama teman nih."
"Urusan apa?"
"Ya pokoknya urusan penting. Mungkin aku pulangnya agak sedikit malam. Nggak apa-apa kan Mas?"
"Nggak apa-apa."
"Oh ya. Kamu sudah jengukin ayahnya Mbak Shakira lagi?"
"Iya. Sudah tadi."
"Terus gimana kondisinya?"
"Dia sudah selesai dioperasi."
"Ya syukurlah kalau begitu. Kapan-kapan aku juga pengin jengukin ayahnya Mbak Shakira. Kasihan. Katanya Mbak Shakira itu kan punya anak kecil dan katanya suaminya Mbak Shakira itu juga sudah meninggal. Aku cuma kasihan aja sama Mbak Shakira. Kalau kelamaan nungguin ayahnya di rumah sakit, dia nggak akan bisa kerja-kerja dong. Aku juga kan yang repot."
"Iya. Makanya aku juga lagi bantu dia. Supaya ayahnya bisa cepat sembuh dan Mbak Shakira bisa kembali kerja di rumah kita."
"Ya udah, gitu aja ya Mas."
"Iya."
Setelah Vika memutuskan saluran telponnya, Rama kemudian menatap anaknya.
__ADS_1
"Sayang, kamu udah makan belum?" tanya Rama pada Liza.
Liza menggeleng.
"Mau nggak kalau malam ini, papa ajak makan kamu di luar?"
"Kita berdua?'
"Iya. Mama kamu kan nggak ada. Sekalian nanti papa akan kenalin kamu sama seseorang."
Liza tersenyum. "Seseorang siapa?"
"Ada deh, nanti Liza juga kenal sendiri kalau sudah ketemu dia."
"Kapan Pa? nanti malam ya?"
"Iya. Nanti malam ya sayang. Jam tujuh."
"Iya Pa."
**
Setelah operasi selesai, Pak Junedi di pindah ke ruang rawat rumah sakit. Pak Junedi saat ini sudah bisa di ajak bercakap-cakap. Sejak tadi dia masih bercakap-cakap dengan Safia.
"Safia, bapak kangen banget sama kamu Nak. Kemana aja kamu selama ini?" Pak Junedi menatap lekat wajah Safia.
"Maafkan aku ya Pak. Karena aku nggak pernah pulang ke rumah bapak dan ibu. Sebenarnya aku juga kangen sama kalian semua. Tapi aku nggak bisa pulang kampung karena aku juga nggak pernah punya ongkos untuk ke kampung. Selama ini hidup aku dan anak aku cuma pas-pasan saja untuk makan. Bisa menyekolahkan Anna saja itu sudah lebih dari cukup untuk aku."
Bu Astri dan Pak Junedi tersenyum mencoba mengerti dengan kondisi anaknya.
"Safia, sekarang kamu nggak boleh meninggalkan bapak dan ibu lagi. Kami sudah tua. Kami tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kami. Kami ingin, di saat-saat kami tua, kami ingin berkumpul bersama anak-anak kami," ucap Pak Junedi lagi.
Safia meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku janji Pak. Aku nggak akan pernah ninggalin bapak lagi. Karena aku sayang sama bapak, ibu dan Mbak Shakira."
"Safia, yang berlalu, biarkan saja berlalu. Jangan kamu ingat-ingat lagi soal yang sudah berlalu. Sekarang kita lihat saja ke depan. Kamu fikirkan saja masa depan anak kamu. Nggak usah mikirin apa-apa lagi."
"Iya Bu. Aku sudah nggak akan mengingat lagi ke belakang. Aku sekarang bahagia, karena aku sudah bisa berkumpul bersama kalian lagi."
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Pak Junedi terbuka. Safia dan Shakira terkejut saat melihat kedatangan Rama bersama anak kecil cantik yang berada di gandengannya.
Shakira buru-buru mendekat ke arah Liza.
"Lho, Non Liza ikut ke sini?" tanya
Shakira menatap Liza lekat.
Liza tersenyum.
"Mbak Shakira." Liza langsung mencium punggung tangan Shakira.
"Sayang, kamu Salim dulu sama bapak dan ibunya Mbak Shakira." pinta Rama pada anaknya.
Pak Junedi dan Bu Astri menatap Liza lekat.
"Ini anak kamu Rama?" tanya Bu Astri.
"Iya. Dia Liza anak aku Bu"
Liza kemudian mencium tangan Bu Astri dan Pak Junedi.
"Rama, mana istri kamu?" tanya Pak Junedi.
"Istri aku nggak ikut Pak. Dia lagi pergi sama temannya."
__ADS_1