Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kabar baik.


__ADS_3

Malam ini Safia masih berkutat di dapur. Dia akan menyiapkan makan malam untuk Anna. Sementara Anna, dia masih belajar di kamarnya.


"Hemm... wangi banget. Sepertinya bunda lagi masak deh," ucap Anna.


Anna bangkit dari duduknya. Setelah itu Anna pun pergi keluar dari kamarnya dan ke dapur untuk melihat ibunya.


"Bunda, masakan bunda baunya wangi banget Bun, baunya sampai ke kamar tadi," ucap Anna sembari mendekat ke arah ibunya.


"Bunda masak apa sih Bun?" tanya Anna sembari melongok penggorengan yang ada di depan Safia.


"Ini, bunda lagi bikinin kamu telur dadar. Sama bunda lagi angetin sayur tadi pagi. Sayang kalau dibuang."


"Makanya, bunda itu masaknya jangan banyak-banyak. Udah tahu kita cuma tinggal berdua. Kenapa masaknya banyak banget. Kecuali kalau ada ayah," ucap Anna.


Safia diam dan menatap Anna lekat.


"Ayah? Anna, kenapa lagi-lagi kamu bicara tentang ayah. Ayah kamu itu sudah nggak ada."


"Sekarang aku mau tanya sama bunda. Kenapa setiap aku ngomong soal ayah bunda marah. Sebenarnya ada apa sih Bun? ada dendam apa bunda sama ayah?" tanya Anna menatap ibunya tajam.


Pertanyaan Anna membuat Safia diam. Karena Safia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dari putrinya itu.


"Bun, kenapa bunda diam? jawab dong pertanyaan aku. Kenapa sepertinya bunda benci banget sama ayah."


Safia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Anna.


"Sayang, bunda mohon kamu jangan bahas ayah lagi. Ayah kamu itu cuma masa lalu bunda. Nggak penting untuk di bahas."


"Nggak penting buat bunda. Tapi sangat penting buat aku. Karena aku ingin tahu Bun, seperti apa ayah. Aku ingin tahu nama ayah aku, dan di mana dia sekarang. Kalau memang dia sudah meninggal, tunjukkan sama aku di mana makam ayah."


Safia benar-benar bingung untuk menjelaskan pada Anna. Semakin hari Anna semakin pintar bicara. Di usianya yang masih sepuluh tahun, dia bicaranya sudah seperti orang dewasa.


Anna memang anak yang tidak pernah Safia inginkan dalam hidupnya. Namun, dia mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain sepantarannya.


Sejak kelas satu SD, Anna juga sudah mendapatkan peringkat satu. Dia juga selalu menjuarai beberapa lomba. Safia bangga punya anak seperti Anna. Tapi, dia bingung untuk menjelaskan dan mengatakan siapa ayah kandung Anna sebenarnya.


Anna masih terlalu kecil, untuk tahu soal ayahnya. Aku nggak mau cerita apa pun sama Anna tentang ayahnya. Aku harus bisa menyembunyikan rahasia ini dari Anna sampai dia dewasa, batin Safia.


Safia meneteskan air matanya.


"Bunda, kenapa bunda nangis?" tanya Anna.


"Anna, bunda sedih kalau Anna masih saja mempertanyakan soal ayah Anna."


Anna terkejut saat melihat bundanya menangis. Anna paling tidak suka jika melihat Safia sedih. Karena Anna tidak mau membuat bundanya sedih.


"Bunda, maafin Anna udah buat bunda nangis. Bunda jangan nangis dong...!" ucap Anna sembari mengusap air mata Safia.


"Anna janji, mulai sekarang Anna nggak akan buat bunda nangis lagi. Anna janji Anna nggak mau tanya lagi soal ayah. Anna tahu sekarang kenapa bunda marah saat Anna tanya soal ayah Anna. Pasti, karena ayah Anna jahat kan Bun sama bunda? makanya bunda nggak mau ingat-ingat lagi soal ayah Anna."


Safia menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Sudahlah sayang. Ayah Anna adalah masa lalu bunda. Biarkan lah masa lalu itu berlalu. Sekarang cuma Anna masa depan bunda. Dan bunda janji kalau bunda akan selalu membahagiakan Anna."


Anna tersenyum dan lantas memeluk bundanya.


"Aku sayang sama bunda," ucap Anna.


"Bunda juga sayang sama Anna," ucap Safia sembari mengusap-usap rambut anaknya.


Safia melepaskan pelukannya. Setelah itu dia mengajak Anna ke meja makan.


"Anna duduk di sini ya. Tungguin bunda masak."


Anna mengangguk. "Iya Bun."


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar dari luar rumah Safia.


"Bunda, ada orang bunda di depan," ucap Anna


"Coba sayang, kamu lihat siapa yang datang...!" seru Safia.


"Iya Bun."


Anna bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke depan untuk membuka pintu.


"Tante Resti," ucap Anna saat melihat Resti sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Bunda ada di dalam Tante," jawab Anna.


"Lagi ngapain bundanya Anna?"


"Bunda lagi di dapur Tan. Lagi masak."


Beberapa saat kemudian, Safia melangkah untuk menyusul Anna ke ruang tamu. Safia tersenyum saat melihat Resti.


"Eh, ada Tante Resti ya An. Kenapa nggak di suruh masuk An Tante Restinya?" tanya Safia.


"Mbak Safia. Lagi sibuk ya? Maaf yah, kalau aku ganggu malam-malam begini."


"Oh, nggak ganggu sama sekali kok. Ayo masuk Res."


"Iya Mbak."


Setelah Safia mempersilahkan Resti masuk, Resti kemudian masuk ke dalam rumah Safia.


"Silahkan duduk dulu Res!" pinta Safia.


Resti kemudian duduk di sofa ruang tamu rumah Safia.


"Tunggu di sini dulu ya Res. Aku mau matiin kompor dulu."

__ADS_1


"Iya Mbak."


Safia kemudian melangkah ke dapur untuk mematikan kompornya. Sementara Anna masih berada di ruang tamu menemani Resti.


"Anna, Anna belum tidur?" tanya Resti.


"Aku nggak bisa tidur sore Tan. Aku biasanya tidurnya malam. Soalnya aku harus belajar dulu."


"O..." Resti mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.


"Tante Resti mau ngapain ke sini?"


"Tante ada urusan penting sama ibu kamu."


"Oh. Tante, aku tinggal ke dalam dulu ya Tan. Aku mau lihat bunda."


"Iya."


Anna melangkah masuk dan menyusul ibunya ke dapur. Anna tersenyum saat melihat ibunya sudah menghidangkan semua makanannya di atas meja makan.


"Anna, sini sayang. Kalau kamu mau makan dulu, makan dulu aja. Bunda mau temui Tante Resti dulu ya di depan."


"Iya Bun."


Anna kemudian duduk di ruang makan. Sementara Safia kembali ke ruang tamu untuk menemui Resti.


Safia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan duduk di dekat Resti duduk.


"Res, kamu sudah makan? kalau belum, kita masuk ke dalam yuk makan malam bareng-bareng sama Anna."


"Oh, aku udah kenyang Mbak. Baru makan tadi waktu mau ke sini.


"Oh...kamu mau minum apa? saya ambilkan minum ya?"


"Nggak usah Mbak. Saya masih kenyang. Nggak usah repot-repot. Saya ke sini cuma mau bicara penting sama Mbak Safia soal kerjaan."


"Kerjaan?"


"Iya. Katanya Mbak Safia butuh kerjaan. Mbak Safia belum dapat kerjaannya kan?"


Safia menggeleng. "Belum Res."


"Aku baru dapat info tadi dari teman. Katanya ada cafe yang lagi butuhin karyawan banyak. Nyoba saja nanti Mbak daftar di situ."


"Di mana? jauh apa dekat dari sini?"


"Lumayan dekat kok Mbak. Cuma, kerjaanya kayaknya full sampai malam. Apa Mbak Safia mau?" tanya Resti.


"Ya udah nggak apa-apa. Saya sih mau kerja apa aja, yang penting halal dan terjangkau tempatnya. Tapi saya kan belum pengalaman kerja di cafe."


"Nggak apa-apa Mbak. Cafe ini, butuh banyak karyawan yang pengalaman dan non pengalaman kok. Jadi coba aja daftar. Siapa tahu ada rezekinya."

__ADS_1


__ADS_2