Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Khilaf


__ADS_3

"Mbak Shakira jangan pulang ya. Mbak Shakira temani aku aja di sini. Mama pergi ke Bali, dan papa semalaman nggak pulang. Aku takut sendirian Mbak," ucap Liza.


Sejak kemarin Liza menahan Shakira agar dia tidak pulang. Liza sangat kesepian. Ayah yang seharusnya menemaninya, tidak tahu dimana keberadaannya saat ini.


Shakira bingung, sejak tadi Rio sudah menelponnya. Dia sudah menyuruh mamanya untuk pulang.


Ring ring ring...


Suara ponsel Shakira berdering.


"Mbak angkat telpon dulu ya Non."


"Iya Mbak."


Shakira bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah pergi menjauh dari Liza untuk mengangkat panggilan dari nomer Bu Astri.


"Halo..."


"Halo Shakira. Kenapa kamu semalam nggak pulang? Rio nangis tuh semalaman. Dia minta ibu untuk bawa dia ke tempat kerja kamu."


"Duh, aku nggak bisa pulang Bu. Aku lagi nungguin Liza. Mamanya Liza itu sekarang lagi ada di Bali. Dan Mas Rama juga semalaman nggak pulang. Aku bingung mau ninggalin Liza sendiri. Sekarang Liza aja nggak berangkat sekolah."


"Emang di situ nggak ada orang lagi."


"Ada sih. Bik Ijah. Tapi dia juga lagi repot sendiri dengan pekerjaannya. Dan Omanya Liza juga kan dia nggak bisa apa-apa Bu."


"Terus Rio bagaimana? tadi dia nanyain kamu lagi."


"Iya aku akan pulang nanti. Kalau ayahnya Liza sudah pulang."


"Emang kemana Rama?"


"Aku nggak tahu. Tadi aku telpon ke nomernya, tapi nomernya juga nggak aktif."


"Ya ampun, kemana sih Rama. Kenapa dia nggak pulang semalaman. Ibu juga kan di sini capek Shakira. Harus ngurus Rio, dan ngurus bapak kamu juga. Apalagi Rio kan anaknya aktif banget. Lari sana , Lari sini."


"Sabar Bu. Nanti aku pulang kok. Nunggu Mas Rama pulang. Ya udah ya Bu, bilang sama Rio ya. Mamanya belum bisa pulang sekarang."


"Ya udah kalau gitu."


"Iya Bu."


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah mematikan saluran telponnya, Shakira kemudian kembali mendekat ke arah Liza. Dia kemudian duduk di sisi ranjang.


"Non nggak mau mandi sama Mbak?"


Liza menggeleng.

__ADS_1


"Nggak mau. Aku lagi malas mandi."


"Kalau Non nggak mau sekolah, tapi Non harus tetap mandi Non."


"Aku nggak mau mandi. Aku mau nunggu papa pulang."


"Non, tadi Mbak sudah telpon papanya Non. Tapi nomer papanya Non nggak pernah aktif."


"Papa aku ke mana ya Mbak."


"Nggak tahu Non."


Liza menundukan kepalanya . Dia tampak sedih dengan kepergian ke dua orang tuanya itu.


"Non Liza, kita makan yuk. Non Liza kan dari semalam belum makan."


"Aku nggak mau makan. Aku mau nunggu papa pulang."


"Non Liza. Papa kamu mungkin lagi ada urusan penting di luar. Makanya dia pulangnya lama. Non Liza makannya di temani Mbak dulu ya sama Oma."


"Nggak mau. Aku tetap mau nunggu Papa."


Sebenarnya Mas Rama kemana sih. Mau pergi nggak ngabarin apa-apa ke aku. Nggak tahu anaknya rewel begini, batin Shakira.


***


Siang ini, Safia sudah rapi dengan baju seragamnya. Dia akan berangkat ke cafe untuk bekerja.


Safia melangkah ke ruang tengah di mana Rama duduk.


"Iya Mas. Hari ini kan aku masuk siang. Jadi aku berangkat setelah Anna pulang sekolah. Aku juga mau nunggu Anna pulang."


Safia mendekat ke arah Rama. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di sisi Rama.


"Kamu nggak lapar Mas? dari tadi kamu nggak makan. Kamu nggak mau makan di sini?" tanya Safia.


Rama menatap Safia lekat.


Kenapa Safia jadi perhatian banget begini ya sama aku.


"Mas, kalau mau makan, aku ambilin. Kamu mau makan di sini?"


"Aku mau nunggu Anna saja. Aku mau makan bareng Anna."


"Ya udah."


Rama meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat.


"Kamu cantik banget Saf, kalau dandan seperti ini," puji Rama.


Apa sih maksud Mas Rama ngomong gitu.

__ADS_1


Safia melepaskan genggaman tangan Rama.


"Em, Mas. Aku udah cuci dan udah jemur baju kamu. Mungkin sebentar lagi baju kamu kering. Dan kamu bisa pakai untuk pulang ke rumah kamu." Safia mengalihkan pembicaraan.


"Safia, kamu jangan berangkat kerja ya hari ini. Aku pengin lebih banyak waktu bersama kamu. Jujur aku merasa tenang dan nyaman saat ada di dekat kamu seperti ini. Aku jadi bisa melupakan sejenak masalah aku dan istri aku "


"Mas, kamu jangan mabuk-mabukan lagi ya. Mas Rama yang sekarang itu berbeda dari Mas Rama yang dulu. Kamu sekarang seorang pengusaha. Seorang direktur. Jangan mengotori nama baik kamu dengan mabuk-mabukan Mas."


"Iya Safia. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi "


"Mabuk itu, nggak akan bisa menyelesaikan masalah Mas. Malah akan semakin membuat masalah semakin runyam."


"Iya Safia."


"Oh ya. Setelah ini kamu mau ke mana? mau ambil mobil kamu?"


"Iya Safia. Sepertinya, hape aku juga ketinggalan di mobil. Aku juga harus temani Liza. Dia pasti saat ini lagi sendiri di rumah."


"Iya Mas."


****


Sinar mentari sudah menembus masuk ke celah-celah jendela kamar hotel. Vika masih berada di atas ranjang bersama Bram.


Mereka masih bertubuh polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka. Setelah Vika mempertahankan kesuciannya selama satu minggu ini, akhirnya runtuh juga pertahanan itu.


Vika dam Bram akhirnya khilaf melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.


Vika sejak tadi masih diam. Dia sepertinya menyesal dengan semua perbuatan yang sudah dia lakukan dengan Bram semalam.


Maafkan aku Mas Rama. Aku nggak bisa jaga diri aku. Aku sudah melakukan kekhilafan dengan Bram.


"Vika. Kenapa kamu nangis? apa yang kamu tangisi?" tanya Bram menatap Vika lekat.


"Seharusnya kita tidak melakukannya Bram . Aku masih punya suami. Aku merasa sangat hina sekali Bram dengan semua perbuatan aku. Aku menyesal sudah melakukan ini sama kamu."


"Vika, kita semalam melakukan itu karena sama-sama suka. Untuk apa kamu sesali. Dan kamu nggak akan mungkin hamil anak aku, karena semalam aku pakai pengaman."


Vika menatap Bram tajam.


"Kamu jahat Bram. Kamu jahat. Kenapa sih, kamu harus ngajakin aku seperti itu. Aku benci Bram sama kamu."


Vika mengambil bajunya yang tergeletak di atas lantai. Dia kemudian buru-buru memakainya kembali.


Vika bangkit berdiri. Dia kemudian menatap Bram tajam.


"Aku mau pulang Bram. Rasanya aku sudah cukup lama berada di sini."


"Tapi Vik. Aku kan masih punya banyak urusan di sini. Tugasku masih banyak. Kenapa kamu tidak nunggu satu minggu lagi aja. Biar kita pulang bareng."


"Aku nggak mau terlalu lama di sini. Aku nggak mau melakukan hal yang semalam lagi. Lebih baik lupakan hubungan kita yang semalam. Anggap saja semalam kita tidak melakukan apapun."

__ADS_1


"Terus kamu mau pulang sama siapa?"


"Aku bisa pulang sendiri Bram."


__ADS_2