Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Harga diri


__ADS_3

Huhuhuu...


Liza masih menangis di dalam kamarnya. Sejak tadi Bik Ijah masih mencoba untuk menenangkan anak majikannya itu.


"Non, ayo Non. Non harus sekolah, Non nggak boleh nangis terus seperti ini," ucap Bik Ijah. Sejak tadi dia masih mencoba membujuk Liza agar Liza berhenti menangis dan mau berangkat sekolah.


Liza mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Bik Ijah lekat.


"Papa dan mama sekarang udah nggak ada yang peduli denganku. Papa sekarang jarang pulang ke rumah aku semenjak dia nikah sama mamanya Anna. Dan mama juga sekarang ada di mana. Dia semalaman nggak pulang ke rumah. Dia pergi tanpa kabar," ucap Liza.


"Sabar ya Non, mama Non pasti pulang kok. Dan papa Non, juga pasti akan datang ke sini."


Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu dari luar rumah Liza terdengar.


"Nah, mungkin itu Mama Non udah pulang. Bibi ke depan dulu ya. Mau buka pintu."


Liza mengangguk. Setelah itu Bik Ijah melangkah ke ruang tamu, untuk membuka pintu.


Bik Ijah terkejut saat melihat Rama bersama seorang wanita cantik dan anak kecil cantik sepantaran Liza. Bik Ijah yakin, kalau wanita itu adalah istri barunya Rama.


Bik Ijah tersenyum.


"Eh, Pak Rama. Bibi fikir, Bu Vika," ucap Bik Ijah.


"Vika? emang dia lagi pergi?" tanya Rama.


"Iya. Dari kemarin Bu Vika pergi. Dan semalaman dia nggak pulang."


"Pergi ke mana?"


"Saya juga nggak tahu. Bu Vika nggak bilang dulu dia mau pergi ke mana. Dan dia juga belum ngabarin ke rumah."


"Kalau Liza?"


"Dia lagi di ruang tengah. Lagi ngambek karena mamanya nggak pulang."


"Oh ya Bik, kenalin. Ini Safia istri aku. Dan ini Anna anak aku." Rama mengenalkan Safia dan Anna ke Bik Ijah.


"Dan Safia, Anna. Ini Bik Ijah. Dia udah lama kerja di sini. Dan saya sudah menganggap Bik Ijah ini, seperti keluarga saya sendiri."


Bik Ijah tersenyum ramah pada Anna dan Safia.


"Ayo Bu, Non, masuk. Jangan berdiri saja di sini. Non Lizanya ada di dalam sekarang."

__ADS_1


Rama, Safia dan Anna kemudian masuk ke dalam rumah untuk menemui Liza di ruang tengah.


Liza terkejut saat melihat Rama bersama dengan Anna dan Safia.


"Kenapa papa bawa mereka ke sini?" tanya Liza menatap Rama tajam.


"Emang kenapa? Liza nggak suka ya papa ajak main Tante Safia dan Anna ke rumah."


"Nggak. Aku nggak suka Papa ajak mereka ke sini. Karena aku benci sama mereka."


Rama, Safia dan Anna terkejut saat mendengar ucapan Liza.


"Liza, Liza nggak boleh bicara seperti itu," ucap Rama. Dia kemudian mendekat ke arah Liza dan duduk di samping Liza.


Liza mengusap sisa-sisa air matanya.


"Liza, kamu nggak boleh membenci Anna dan Tante Safia. Karena bagaimana juga, Anna itu saudara kamu. Dia masih anaknya Papa."


"Tapi aku nggak suka sama Tante Safia. Dia udah merebut papa dari mama."


Safia hanya bisa menegak ludahnya. Dia tidak menyangka anak sekecil Liza bisa bicara seperti itu. Membuat Safia merasa tidak enak, berada di rumahnya Vika.


Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah Liza.


Bram tersenyum.


"Seandainya kita sudah menikah nanti, bawa aja Liza ke rumah aku Vika. Biar kita bisa sama-sama merawat dan membesarkan Liza bersama."


Vika tersenyum.


"Iya Bram. Aku janji, aku akan segera urus perceraian aku dengan suamiku. Agar kita bisa cepat-cepat menikah. Aku nggak butuh apa-apa untuk sekarang. Yang aku butuh , hanya kasih sayang seorang suami."


Bram tersenyum.


"Aku mau langsung ke kantor sayang. Jangan lupa ya, telpon aku kalau kamu kangen. Masalah perceraian kamu, aku akan bantu kamu untuk mencari pengacara. Agar hak asuh Liza bisa jatuh ke tangan kamu."


"Iya Bram. Makasih banyak ya Bram. Aku turun dulu ya."


"Iya."


Vika kemudian turun dari mobil Bram. Entah kenapa, sejak bertemu Bram, hatinya jadi lebih tenang sekarang. Vika tidak menyangka, kalau Bram mau menikahinya setelah dia bercerai dengan Rama.


Sebelum pergi, Bram melambaikan tangannya ke arah Vika.

__ADS_1


"Hati-hati ya Bram."


"Iya sayang."


Bram kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Vika.


"Nggak apa-apa kalau harta Papa ada di tangan Mas Rama. Yang penting aku bakalan dapat calon suami yang jauh lebih kaya dari Mas Rama. Aku nggak perlu khawatir lagi masalah uang sekarang. Dan aku akan rebut kembali harta papa aku lewat Liza dari tangan Mas Rama."


Vika kemudian masuk ke halaman depan rumahnya. Vika terkejut saat melihat mobil Rama sudah berparkir di depan rumahnya.


"Mas Rama ada di rumah. Untuk apa coba dia pulang. Muak aku lihat dia."


Vika kemudian masuk ke dalam rumahnya. Dia terkejut saat melihat Safia dan Anna ada di dalam rumahnya.


"Apa-apaan ini. Kenapa kamu ngajak pelakor ini datang ke rumah ini," ucap Vika yang membuat semua orang terkejut. Termasuk Safia yang merasa tidak nyaman hatinya saat di kata-katain pelakor oleh Vika.


"Vika," ucap Rama.


Liza tersenyum saat melihat ibunya. Dia bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Vika. Liza kemudian memeluk Vika erat.


"Mama, mama dari mana aja. Kenapa mama baru pulang. Kenapa mama ninggalin aku semalam," ucap Liza.


"Maafkan mama ya sayang. Mama udah ninggalin kamu sendiri. Tapi mama janji, mama nggak akan pernah ninggalin Liza lagi."


Vika menatap Rama tajam.


"Mas, untuk apa kamu bawa mereka ke sini. Kamu sengaja, bawa Safia ke sini, agar aku cemburu sama kedekatan kalian. Kamu mau ngajakin aku perang?"


Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah Vika.


"Kenapa emang kalau aku bawa Safia ke sini? dia juga istri aku, dan Anna juga anak kandung aku. Dan rumah ini, juga rumah aku. Seharusnya aku bebas dong, mau bawa siapa aja ke rumah aku."


"Dasar lelaki licik. Aku benci lama-lama sama kamu mas. Benci...! aku nggak mau Mas, terus-menerus kamu injak-injak seperti ini. Aku juga punya harga diri. Aku akan cepat-cepat gugat cerai kamu Mas. Dan aku akan bawa Liza pergi dari rumah ini."


Rama terkejut saat mendengar ucapan Vika.


"Apa! gugat cerai? kamu yakin mau gugat cerai aku? kamu nggak akan mendapat kan apa-apa Vika kalau kamu gugat cerai aku."


"Aku udah nggak perduli harta papa. Aku udah nggak perduli dengan perusahaan papa dan rumah ini. Jika aku cerai sama kamu, aku akan membawa mama dan anak aku pergi dari rumah ini. Silahkan , kamu kuasai harta papa aku bersama wanita ini. Aku nggak perduli...!"


Rama terkejut saat mendengar ucapan Vika.


Kenapa Vika jadi seberani ini ya. Apa yang sudah membuat Vika berubah, batin Rama.

__ADS_1


__ADS_2